Surat Cinta Dari Kantor Pajak

Tahun 90-an sabtu sore dapat surat itu sesuatu sekali, hati berbunga gembira padahal belum tahu isi suratnya apa, karena tahun – tahun itu sarana komunikasi yang menjadi andalan adalah via surat, adanya masih pager itu saja masih untuk kalangan tertentu, apalagi handphone … masih menjadi barang langka. Dan hari ini saya sehari dapat surat dari Kantor Pajak tidak tanggung – tanggung langsung dua surat cinta dari Kantor Pajak, sebenarnya ada rasa bingung juga, karena selama ini sudah berusaha taat pajak agar bisa menjadi warga negara yang baik, kok masih juga dapat surat cinta.

Uang, Mengapa Begitu Menggiurkan

Siapa yang tidak mengenal uang, rasanya suatu hil yang mustahal manusia hidup tidak mengenal uang, bahkan karena uang juga manusia bisa bertindak “BODOH” yang terkadang sudah diluar nalar. Namun hal itu bagi orang-orang yang begitu mendewakan uang sebagai segalanya.  Memang dari sisi manfaat dan keperuntukannya uang mendominasi sektor ekonomi dimana uang akan memiliki peran dan andil yang besar terhadap kestabilan perekonomian, karena mulai anak kecil hingga orang tua akan membutuhkan uang, dari desa hingga kota perlu uang. UANG, begitu terkenalnya sampai dalam keseharian kita tidak akan terlepas dari sosok ini. Sedangkan pemahaman kita akan uang tentu masih sebatas fisiknya saja dan sebatas nominal uang itu. Lebih jauh pada tulisan ini sengaja ingin saya sampaikan secara sederhana apakah itu uang.

Ketika Roh Pendidikan Terabaikan .. !!

“Pendidikan adalah proses harmonisasi antara alam wiraga (dunia tindakan) dan alam wirama (dunia pengendalian)”  (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, 2 Mei 1889 – 26 April 1959). Inilah fundamental pendidikan yang ditanamkan Ki Hajar Dewantoro waktu itu, sehingga dalam lambang dan” ruh” pendidikan Indonesia memiliki semboya Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso TUTWURI HANDAYANTI, jika insan-insan pendidik di negeri ini, pengambil kebijakan (Kemendiknas) dan juga manusia-manusia yang terhormat (DPR Komisi X)  mengembalikan akar pendidikan negeri ini ke fundamental pendidikan yang ditancapkan oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, maka keadaan negeri ini akan tetap bersatu padu tidak tercerai berai oleh perbedaan pendapat, ras, partai status sosial dan lain sebagainya. Karena mereka hanya bertujuan pada pencapaian visi dan misi bersama Indonesia Raya, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Lalu bagaimana sebenarnya potret pendidikan Indonesia, dulu, kini dan mendatang.

Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso TUTWURI HANDAYANTI, merupakan salah satu penjabaran yang begitu cerdas dari dasar negara Pancasila, tidak sesederhana yang kita bayangkan dan baca, diperlukan kecerdasan dan kedalaman berpikir sehingga muncul “Ruh” pendidikan tersebut. Arti dari semboyan ini adalah: Ing ngarsa sung tuladha (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), Ing madya mbangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Dulu .. dulu sekali para pendidik di negeri ini begitu cerdik dan cerdas dalam mengarahkan dan mendidik insan-insan calon pemimpin negeri ini. Dengan semboyan pendidikan yang ada dengan tetap berdasarkan pada Pancasila. Namun saat ini para petinggi negeri seakan tidak peduli dengan konsep pendidikan yang begitu indah dan agung. Reformasi yang diinginkan dan dijalankan sudah salah arah, tidak ada lagi pembatasan konseptual yang pasti, karena kebijakan yang diambil akan berganti dan beralih setelah 5 tahun berjalan se-umur pemimpin negeri ini dan yang menjadi korban adalah tunas-tunas bangsa karena kebijakan. karena egoisme dan karena idealisme sebagian golongan yang tidak memahami dan mengerti dengan sebenarnya “ruh” dari pendidikan itu sendiri.