Mengukur Kinerja UKM Dengan Balance Scorecard, Mengapa Tidak ??

UKM BSCBanyak faktor yang menyebabkan lemahnya daya saing UKM di Indonesia. Salah satunya adalah rendahnya produktivitas dan kinerja UKM. Masalah ini telah dihadapi UKM sejak lama. Selain itu, keterbatasan tenaga ahli dan kesadaran terhadap dampak lingkungan dapat menimbulkan masalah lingkungan di sekitar UKM, Kinerja masih sering diabaikan UKM, padahal untuk bisa mengetahui sejauhmana keberhasilan dalam melaksanakan kegiatannya harus diketahui bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, yang telah ditetapkan dalam Visi dan Misi-nya. Pengukuran tersebut merupakan suatu hasil dari suatu penilaian yang sistematis dan didasarkan pada kelompok indicator kinerja kegiatan berupa masukan, keluaran, hasil. Dan Penilaian yang dimaksud tidak terlepas dari kegiatan mengolah dan masukan untuk diproses menjadi keluaran penting dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran.

Di Bronjong Desi Tidak Hanya Slondok Namun Ada Setumpuk Cita-cita

Desi PriDesi Priharyana pemuda 17 tahun kelahiran tahun 1995, warga Dusun Taino, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta; memiliki sebuah semangat dan motivasi hidup yang “luar biasa”, begitu sederhana ia memahami kehidupan, menjadikan ia “tidak punya malu” (selama tidak mencuri, merampok atau korupsi dan halal). Banyak orang mengatakan bahwa ini sebuah kisah nyata yang inspiratif; Desi begitu biasa ia di panggil harus mengayuh sepeda sepanjang 12 KM setiap hari dari rumanya menuju ke SMK Negeri 2 Yogyakarta sebagai tempat ia menuntut ilmu, yang luar biasa disini adalah dengan berseragam abu-abu putih ia mengayuh sepeda dengan barang dangannya berupa krupuk slondok di dalam bronjong-nya; dengan tetap tersenyum Desi menikmati setiap kayuhan pedal sepedanya, tidak pernah terucap keluhan dari mulutnya karenanya terus berdoa semoga dagangannya hari ini laris dimana rata-rata perhari sekitar 25 bungkus slondok di dalam bronjong-nya. Per hari rata-rata Desi mampu menjual 10-25 bungkus slondok. Untuk satu bungkus slondok dijual Rp 7.000 bisa mendapatkan uang Rp. 200.00 – Rp. 250.000/bulan; 

Branchless Banking, Salah Satu Upaya Mensukseskan Financial Inclusion

images1Branchless Banking, mungkin belum semua-nya tahu apakah itu .. ??; sebenarnya branchless banking sudah mulai di ujicoba oleh Bank Indonesia pada bulan Mei 2013 kemaren, yang pelaksanaan ujicoba ini di akhiri pada bulan Nopember 2013; dengan harapan pada akhir tahun ini akan diterbitkan aturan yang pasti mengenai pelaksanaan Branchless Banking. Sejauh ini beberapa perbankan sudah menerapkan dan melaksanakan kegiatan ini. Branchless Banking adalah jaringan distribusi yang digunakan untuk memberi layanan finansial di luar kantor-kantor cabang bank melalui teknologi dan jaringan alternatif dengan biaya efektif, efisien, dan dalam kondisi yang aman dan nyaman. Dalam transaksi perbankan tidak tergantung keberadaan kantor-kantor bank, karena layanan dan kegiatan keuangan dapat dilakukan hanya dengan menggunakan ponsel atau bentuk lainnya.