Dalam menjalankan usaha, tentunya kita harus memahami dan tahu hasil dari pekerjaan yang telah kita lakukan dengan susah payah, sehingga diperlukan analisis dari usaha kita dengan demikian diharapkan kita akan mampu menyikapi dan mengambil tindakan secepat mungkin jika kemudian ditemukan kejanggalan dan ketidaksesuaian dalam perhitungan kita, karena apa yang kita dapatkan belum tentu menjadikan usaha kita berjalan dengan sehat dan baik . Salah satu cara menilai kinerja usaha adalah dengan analisis BEP (Break Even Point) atau titik impas, yakni  tidak ditemuinya keuntungan maupun kerugian pada usaha kita dengan kata lain kita dapat mengetahui volume penjualan yang diperlukan agar bisa menutup semua biaya produksi yang dikeluarkan. Jika diperlukan, Anda juga bisa menghitung BEP yang baru ketika terjadi perubahan biaya tetap, misalnya karena Anda melakukan renovasi tempat usaha atau membeli peralatan kantor yang baru.

BEP bisa dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

  1. Harga per unit – Biaya variabel per unit = Margin kontribusi per unit
  2. Margin kontribusi per unit : Harga per unit = Rasio margin kontribusi
  3. Break Even = Biaya tetap : Rasio margin kontribusi

Sebuah Ilustrasi :

Diketauhi dari sebuah laporan keuangan Perusahaan “Kripik Belalang” menunjukkan, biaya tetap usaha itu (dalam ribuan) adalah Rp 49.000, dan biaya variabel per 1 bungkus “kripik belalang” adalah Rp 0,3. Jika harga jual tiap sebungkus kripik belalang adalah Rp 1, maka setelah dikurangi biaya variabel, tiap sebungkus kripik belalang menyumbang Rp 0,7 untuk menutup pengeluaran tetap.

BEP bisa diketahui dengan membagi biaya tetap dengan kontribusi tiap sebungkus kripik belalang yang dijual itu, yakni  Rp 49.000 : 0,7 = 70.000 bungkus kripik belalang.  Jika penjualan melampaui 70.000 bungkus kripik belalang, maka Perusahaan “Kripik Belalang”  memperoleh keuntungan. Sebaliknya jika penjualan kurang dari 70,000, Perusahaan “Kripik Belalang” akan mengalami kerugian. Kita juga bisa melihat bahwa peningkatan penjualan 10.000 bungkus kripik belalang di atas BEP (sehingga menjadi 80.000 bungkus kripik belalang) akan menghasilkan keuntungan Rp 7.000, dan peningkatan 30.000 bungkus kripik belalang menjadi 100.000 bungkus kripik belalang akan menghasilkan keuntungan Rp 21.000. Di lain pihak, saat penjualan hanya 60.000 bungkus kripik belalang, Perusahaan “Kripik Belalang” masih rugi Rp 7.000, dan pada saat penjualan baru 40.000 bungkus kripik belalang, Perusahaan “Kripik Belalang” masih rugi Rp 21.000.

Yang dapat di gambarkan dalam grafik sebagai berikut :

Dari ilustrasi tersebut diatas diketahui bawah peningkatan penjualan 25% (dari 80.000 ke 100.000 bungkus kripik belalang) akan menghasilkan peningkatan keuntungan dari Rp 7.000 ke Rp 21.000. Hal yang sama terjadi sebaliknya, penurunan sedikit saja pada penjualan juga menghasilkan kerugian yang cukup besar. Denga mengetahui kenyataan tersebut pada akhirnya perusahaan dapat memperhitungkan berapa banyak yang harus diproduksi untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan, disisi lain sejauhmana kemampuan keuangan perusahaan dalam mengelola kegiatan usaha tersebut akan dapat dipergunakan untuk mengambil kebijak dalam menentukan kapasitas produksi dengan mempertimbangkan aspek biaya yang harus dikeluarkan, yang akhirnya kita mampu mengukur kemampuan kita dalam menjalankan usaha.

Semoga bermanfaat dan terima kasih.

Comments (2)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.