<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 16:12:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Apakah Daya Beli Turun Jika Redenominasi Rupiah, dilaksanakan..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 11:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Redenominasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sanering]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Uang1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-682" title="Uang1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Uang1.jpg" alt="" width="245" height="206" /></a>Redenominasi, akhir-akhir ini menjadi sebuah bahasan menarik di kalangan ekonom di negeri ini, begitu Bank Indonesia memunculkan tentang Redenominasi terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat akan perlu tidaknya kebijakan ini harus di keluarkan, sejauhmana positif dan negarifnya jika kebijakan moneter ini benar-benar di berlakukan di negeri ini. Hal ini dipicu salah satunya adalah karena nilai uang ktia sudah begitu gemuk-nya dan menjadikan transaksi keuangan tidak efisien lagi. Sebenarnya redenominasi mata uang (<em>currency redenomination</em>)  adalah <em>menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang  menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol)  tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1, hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang dan jasa, <span style="text-decoration: underline;">sehingga daya belu masyarakat tidak berubah.</span></em><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-678"></span>Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan <strong>Sanering</strong> , karena Sanering adalah <em>pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan  nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang,  sehingga daya beli masyarakat menurun.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi dan Sanering dapat kita bedakan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berdasa</strong><strong>rkan pada tujuan pelaksanaannya; </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika Redenominasi dilaksanakan memiliki tujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien  dan nyaman dalam  melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan  kesetaraan ekonomi  Indonesia dengan negara regional. SEDANGKAN Sanering  bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan   harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat   tinggi).</p>
<p><strong>Pengaruh Nilai uang terhadap barang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada redenominasi  nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan  dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan. SEDANGKAN pada Sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.</p>
<p><strong>Kapan pelaksanaannya..??</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Untuk Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa transisi pelaksanaan kebijakan </strong><br />
Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat. SEDANGKAN Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.</p>
<p><strong>Bagaimana redenominasi dilaksanakan .?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh harga 1 kg beras  seharga Rp 10.000;<br />
Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka  nol), maka dengan uang sebanyak Rp 10 tetap dapat membeli 1 kg beras. Karena harga 1 kg beras juga dinyatakan dalam satuan pecahan  yang sama (baru). SEDANGKAN pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya  dapat membeli  1/1000 atau 0,001,   1 Kg Beras.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dampak bagi masyarakat.</strong><br />
Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama. Dan pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara matematika, redenominasi rupiah tidak memiliki implikasi yang  berarti bagi masyarakat. Masyarakat yang memiliki uang Rp 1.000.000 diganti  dengan uang Rp 1.000. Masyarakat tidak perlu khawatir soal uang tersebut.  Sebab, keduanya memiliki nilai intrinsik atau daya beli yang sama.  Misal, merek <em>handphone</em> tertentu seharga Rp 1.000.000 sebelum  redenominasi sama dengan Rp 1.000 setelah redenominasi. Jadi, daya beli  Masyarakat secara matematika tak berubah karena redenominasi rupiah.</p>
<p>Tetapi,  secara psikologis, kebijakan itu bisa mengakibatkan daya beli uang  berbeda antara sebelum dan sesudah redenominasi. Dampak psikologis  merupakan reaksi pelaku bisnis terhadap redenominasi rupiah. Jika pelaku  bisnis yakin bahwa ekonomi berkinerja baik, redenominasi bisa berjalan  sesuai dengan harapan. Tetapi, redenominasi mengakibatkan angka inflasi  meningkat apabila pelaku bisnis berpersepsi ekonomi melambat atau  memburuk ketika kebijakan itu diterapkan.</p>
<p>Melejitnya  angka inflasi itulah yang membuat daya beli keluarga berkurang dengan drastis. Di samping  itu, stabilitas politik sangat dibutuhkan untuk memunculkan dampak  psikologis yang positif kepada pelaku bisnis dalam menyikapi  redenominasi. Ekonomi yang kuat dan politik yang stabil akan memudahkan  proses redenominasi. Alhasil, nilai mata uang sama, baik sebelum atau  sesudah redenominasi. Karena itu, BI harus menyamakan persepsi dengan  pelaku bisnis dalam menentukan periode (<em>timing</em>) kinerja ekonomi dikatakan baik. Tujuannya, redenominasi rupiah tidak menurunkan daya beli masyarakat Indonesia.</p>
<p>Redenominasi jelas berbeda dengan <em>sanering</em>. <em>Sanering</em> merupakan upaya memotong rupiah karena melejitnya angka inflasi yang  tak kunjung turun atau inflasi tidak terkendali. Indonesia memiliki  pengalaman tiga kali melakukan <em>sanering</em>. Pertama, <em>sanering</em> dilakukan pada 19 Maret 1950 dengan memangkas Rp 5 menjadi Rp 2. <em>Sanering</em> kedua dilakukan pada 25 Agustus 1959 dengan memangkas Rp 1000 menjadi Rp 100. <em>Sanering</em> terakhir terjadi pada 13 Desember 1965 dengan memotong Rp 1000 menjadi  Rp 1. Pengalaman pahit masa lalu itu jelas merugikan keluarga Indonesia.  Semoga pengalaman <em>sanering</em> masa lalu tidak membuat masyarakat Indonesia trauma terhadap redenominasi rupiah.</p>
<p>Masyarakat  Indonesia harus memahami bahwa <em>sanering</em> dan redenominasi dilakukan pada angka inflasi yang berbeda. <em>Sanering</em> dilakukan saat angka inflasi tinggi, sedangkan redenominasi diterapkan saat angka inflasi rendah. <em>Sanering</em> dilakukan saat kinerja ekonomi memburuk, sedangkan redenominasi  dijalankan saat kinerja ekonomi prima. Perbedaan itulah yang perlu  dipahami masyarakat  Indonesia, jadi perlukah kita khawatir jika Bank Indonesia me-redenominasi Rupiah kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bisa dipergunakan sebagai bahan perenungan bersama, sekian dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak-anak Bukan Burung Beo &#8230; !!!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-anak-bukan-burung-beo/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-anak-bukan-burung-beo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/08/Anak-Burung.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-464" title="Anak Burung" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/08/Anak-Burung.jpg" alt="" width="133" height="88" /></a>Melihat, menyimak dan mencoba mengikuti serta sedikit banyak telah merasakan serta mengenyam pendidikan di negeri ini setidaknya ada perasaan bangga dan bahagia, namun tidak bisa di pungkiri bahwa terselip juga sebuah pertanyaan besar yang perlu ada jawaban dan tindak lanjut yang nyata dari orang-orang yang memiliki kewenangan serta tanggungjawab akan masa depan anak bangsa di negeri ini. Dan tanggungjawab itu tidak hanya terletak pada orang tua, guru, insan pendidik akan tetapi juga pengambil kebijakan dan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-295"></span>Pernahkah secara sadar atau tidak kita sewaktu masih dibangku sekolah dulu sering kali di-driil menjadi mesin penghafal, masih ingatkan dulu ketika kita sekolah selalu diwajibkan untuk mengikuti apa kata guru, yang cenderung meninabobokan daya kreatifitas kita. Jika ada pertanyaan entah dari orang tua atau guru tidak bisa kita jawab dengan persis maka akan disalahkan. Walau sebenarnya jawaban kita tidak-lah salah, hanya memang belum sesuai atau pas dengan isi pertanyaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika, ada pertanyaan sebagai berikut, &#8220;Masyarakat Indonesia terkenal akan ke &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;, apa yang akan terjawab dari mulut mungil anak-anak se-usia SD,.. tentunya jawaban yang meluncur akan beragam dan bervariasi, bisa jadi jawaban yang muncul adalah &#8230;</p>
<ol>
<li>Ke-sopanannya</li>
<li>Ke-santunannya</li>
<li>Ke-beraniannya</li>
<li>Ke-beragamannya</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Contoh jawaban itu akan dianggap <strong>salah</strong>, karena tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dalam buku pelajaran atau dengan harapan si penanya, karena jawaban yang benar adalah <strong>KERAMAHTAMAHANNYA</strong>. Padahal ke-empat jawaban tersebut tidaklah mutlak salah, akan tetapi belum sesuai atau belum pas dengan pertanyaan yang dimaksud. Jika hal itu berulang kali terjadi dan terus berlanjut, maka yang terjadi adalah terbunuh-nya daya imajinasi, daya kreativitas anak-anak kita. Bisa jadi hal ini akan menjadikan anak-anak akan kehilangan semangat belajar, merasa dongkol, frustasi dan secara perlahan menumbuhkan <strong>budaya beo</strong> pada anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya untuk menghindari agar anak-anak kita memiliki budaya foto copy, tidak mengembangkan budaya mengikuti dan mengekor adalah dengan :</p>
<ol>
<li>Menumbuhkan logika;</li>
<li>Pemikiran kritis;</li>
<li>Daya kreativitas;</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Misalkan dari contoh pertanyaan diatas, kemudian dijawab.. sama, maka si penanya seharusnya tidak memvonis jawaban itu salah akan tetapi, mungkin bisa sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masyarakat Indonesia terkenal akan ke &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;,</p>
<p style="text-align: justify;">Ke-sopanannya</p>
<p>&#8220;&#8221;Benar, jawaban apalagi yang cocok..&#8221;"</p>
<p>Ke-santunannya &#8211;&#62;&#62; ok, bagus ada lagi yang lain..</p>
<p>Ke-beraniannya &#8211;&#62;&#62; ya.. betul sekali.. coba apa lagi</p>
<p>Ke-beragamannya &#8211;&#62;&#62; Benar.. hayo ada yang lain lagi tidak..</p>
<p>Ke-jahatannya.. nah ini, jawaban betul atau salah..</p>
<p style="text-align: justify;">Maka si anak akan dengan serentak akan menjawab salah.., yang satu lagi adalah <strong>Keramahtamahannya</strong>.., dengan demikian maka anak-anak kita akan berusaha untuk mengembangkan daya imajinasi, daya nalar dan saya kreasi serta kreativitas-nya seiring dengan perkembangan pola pikirnya dengan sehat dan baik. Dan ingat bahwa anak-anak kita bukan burung beo yang harus mengikuti apa yang kita inginkan dan sampaikan, akan tetapi berilah kebebasan agar mereka bisa berkarya dan menemukan jatidirinya. Jangan terlalu banyak dilarang dan diatur akan tetapi arahkan mereka dan berilah contoh pada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan ini bermanfaat dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-anak-bukan-burung-beo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliah, Nikah Atau Kerja..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hidup adalah pilihan, mungkin sebagian dari kita akan menyadari dan merasakan hal itu, karena memang kita harus mampu dan berani menentukan satu dari sekian banyak pilihan dalam kehidupan ini, karena akan menjadi satu kesulitan bagi kita jika kita harus menjalani berbagai hal dalam satu kesempatan, menentukan skala prioritas dalam pilihan hidup mungkin itu sebuah tindakan yang bijaksana. Beberapa waktu yang lalu sudah diperolah hasil akhir dari sebuah perjuangan bagi rekan-rekan yang menempuh pendidikan menengah, yang pada akhirnya harus menentukan mesti kemana setelah lulus nanti.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-281"></span>Ada 3 pilihan yang dapat dilakukan, oleh mereka yang baru lulus SMU, MA, SMK dan yang sederajat, tiga pilihan itu antara lain adalah :</p>
<ol>
<li>Nikah</li>
<li>Kuliah</li>
<li>Kerja</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ketiga-nya memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda yang tentunya di-imbangi dengan sebuah pendewasaan berpikir dan kebijaksanaan bertindak dalam menentukan pilihan ini, karena ketiganya juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Namun jika bicara ideal setelah lulus SMU/MA/SMK sebenarnya hanya dua pilihan yaitu kuliah atau kerja. Namun tidak sedikit pula yang setelah lulus sekolah menengah atas yang memutuskan untuk menikah. Dianggap sebuah pilihan yang sulit tidak juga, jika kita sudah memiliki tujuan dan arah dari kehidupan kita, sudah memiliki rencana-rencana matang dalam menjalani kehidupan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga pilihan yang ada tentunya menjadikan kita berpikir sebelum memutuskan mana yang akan kita lakukan, yang jelas keputusan untuk NIKAH, akan menjadi alternatif pilihan jika sudah mapan atau katakanlah bekerja dan lebih lengkap lagi sudah siap lahir dan bathin. Jadi kita harus memilih yang mana antara Kuliah atau Kerja. Hal ini akan tergantung dari banyak faktor karena-nya banyak indikator yang dipergunaka untuk menentukan mau Kuliah atau Kerja. Jika kita memutuskan untuk Kuliah tentunya akan muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>mau kuliah dimana ?</li>
<li>ambil jurusan apa ?</li>
<li>menghabiskan biaya berapa ?</li>
<li>menempuh program apa ?</li>
<li>setelah lulus nanti apakah bisa dapat pekerjaan ?</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tentunya kita harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik dan bijaksana, satu hal jangan sampai jawaban tersebut kita dapatkan dari orang lain dan bukan dari diri kita sendiri, hal ini untuk menghindari ketidaksesuaian apa yang kita tempuh dibangku kuliah dengan minat dan bakat kita, maka jawaban tersebut harus datang dari diri kita sendiri. Dengan demikian minimal jika kita ingin kuliah harus bisa menentukan hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li>Pilihan Perguruan Tinggi dengan beberapa pilihan tentunya;</li>
<li>Jurusan yang akan kita pilih;</li>
<li>Estimasi biaya untuk kuliah;</li>
<li>Diploma atau Sarjana program yang akan kita ambil;</li>
<li>Informasi tingkat kebutuhan lapangan kerja pada 3 atau 4 tahun mendatang setelah kita lulus kuliah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Jika lima hal diatas sudah kita selesaikan, maka melangkah untuk melanjutkan studi (KULIAH) tentunya dengan semangat dan motivasi yang kuat maka kuliah tidak sekedar ikut saran teman, mengikuti keinginan orang tua atau alasan lain-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika kita memilih untuk bekerja, sudah barang tentu kita harus menyiapkan diri untuk mampu bersaing dengan kompetitor-kompetitor lainnya dalam lapangan pekerjaan, hal yang paling penting di negeri ini dalam mencari pekerjaan adalah :</p>
<ol>
<li>Kita harus memiliki skill lebih dibandingkan kompetitor lainnya;</li>
<li>Kita harus memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja;</li>
<li>Kita harus siap untuk berkompetisi setelah diterima kerja nanti;</li>
<li>Kita harus menentukan target pribadi dalam waktu 5 tahun mendatang tentang pekerjaan kita;</li>
<li>Kita harus menentukan bekerja pada orang lain (karyawan) atau menciptakan lapangan kerja sendiri (usaha mandiri).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena jangan sampai kita kerja hanya dengan alasan daripada menganggur, karena jika memutuskan bekerja karena alasan tersebut, sudah dapat dipastikan kita tidak memiliki motivasi kerja dan tidak memiliki target bagaimana kehidupan kita kelak. Dan tentunya bersiap-lah untuk terus menjadi orang yang sulit untuk berkembang dan mengembangkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitupun jika memutuskan untuk langsung menikah setelah lulus SMK/MA/SMU, ada beberap hal yang harus diperhatikan, karena menikah tidak hanya memandang dan merasakan nikmat-nya saja, akan tetapi banyak hal yang harus kita kondisikan sejak awal, karena menikah itu kita harus :</p>
<ol>
<li>Siap lahir dan batin;</li>
<li>Siap untuk menafkahi dan dinafkahi;</li>
<li>Siap untuk menjadi orang tua;</li>
<li>Siap untuk melepas masa-masa kebebasan;</li>
<li>Siap untuk bertanggungjawab atas semua langkah dan perbuatan kita.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal diatas hanyalah sebuah gambaran sederhana yang tidak terlepas dari tingkat pemahaman dan landasan berpikir setiap individu, dan pilihan akan tetap pada pribadi kita masing-masing, semoga sedikit tulisan ini mampu memberikan sebuah gambaran dalam wacana berpikir kita. Dan silakan anda untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupan kita kedepan. Terima kasih semoga bermanfaat.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>