<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Ketika Roh Pendidikan Terabaikan .. !!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 01:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Patung-Bung-Karno.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-971" title="Patung Bung Karno" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Patung-Bung-Karno-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Pendidikan adalah proses  harmonisasi antara alam wiraga (dunia tindakan) dan alam wirama (dunia  pengendalian)”  (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, 2 Mei 1889 – 26 April  1959).</strong> Inilah fundamental pendidikan yang ditanamkan Ki Hajar  Dewantoro waktu itu, sehingga dalam lambang dan” ruh” pendidikan  Indonesia memiliki semboya <em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em> <strong>TUTWURI HANDAYANTI, </strong>jika  insan-insan pendidik di negeri ini, pengambil kebijakan (Kemendiknas)  dan juga manusia-manusia yang terhormat (DPR Komisi X)  mengembalikan  akar pendidikan negeri ini ke fundamental pendidikan yang ditancapkan  oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, maka keadaan negeri ini akan  tetap bersatu padu tidak tercerai berai oleh perbedaan pendapat, ras,  partai status sosial dan lain sebagainya. Karena mereka hanya bertujuan  pada pencapaian visi dan misi bersama Indonesia Raya, satu nusa, satu  bangsa dan satu bahasa Indonesia. Lalu bagaimana sebenarnya potret  pendidikan Indonesia, dulu, kini dan mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em> <strong>TUTWURI HANDAYANTI</strong>,  merupakan salah satu penjabaran yang begitu cerdas dari dasar negara  Pancasila, tidak sesederhana yang kita bayangkan dan baca, diperlukan  kecerdasan dan kedalaman berpikir sehingga muncul “Ruh” pendidikan  tersebut. Arti dari semboyan ini adalah: <strong>Ing ngarsa sung tuladha</strong> (<em>di depan, seorang pendidik harus  memberi teladan atau contoh tindakan yang baik</em>), <strong>Ing madya mbangun karsa</strong> (d<em>i tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan  ide</em>), dan <strong>Tut wuri handayani</strong> (<em>dari belakang seorang  guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan)</em>.  Dulu .. dulu sekali para pendidik di negeri ini begitu cerdik dan  cerdas dalam mengarahkan dan mendidik insan-insan calon pemimpin negeri  ini. Dengan semboyan pendidikan yang ada dengan tetap berdasarkan pada  Pancasila. Namun saat ini para petinggi negeri seakan tidak peduli  dengan konsep pendidikan yang begitu indah dan agung. Reformasi yang  diinginkan dan dijalankan sudah salah <strong>arah</strong>, tidak ada  lagi pembatasan konseptual yang pasti, karena kebijakan yang diambil  akan berganti dan beralih setelah 5 tahun berjalan se-umur pemimpin  negeri ini dan yang menjadi korban adalah tunas-tunas bangsa karena  kebijakan. karena egoisme dan karena idealisme sebagian golongan yang  tidak memahami dan mengerti dengan sebenarnya “ruh” dari pendidikan itu  sendiri.<span id="more-970"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan telah diubah layaknya  Perseroan Terbatas dengan semangat komersialisasi dengan harapan akan  mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, padahal keuntungan dari  pendidikan adalah kecakapan, kepintaran dan kemampuan anak tunas-tunas  bangsa dalam menyelesaikan semua persoalan dengan baik yang berpegang  pada budi pekerti dan nurani. Namun ternyata anak didik kita disodori  konsep-konsep pendidikan yang jauh dari semboyan  dan dasar pendidikan  itu sendiri. Tidak ada lagi pemahaman dan pendidikan tentang budi  pekerti, moral dan sosial untuk tunas-tunas bangsa, karena Pendidikan  Moral Pancasila telah hilang dari pendidikan wajib di negeri ini.  Tidak  ada lagi kewajiban bagi anak-anak negeri untuk menghayati dan memahami  Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Hal ini karena ketakutan  kaum reformis terhadap PANSILA itu sendiri, karena dianggap PANCASILA  adalah bawaan orde sebelumnya sehingga harus di tinggalkan karena  dianggap tidak sesuai dengan semangat reformasi. Yang menjadi pertanyaan  apakah reformasi itu harus merubah semuanya, mengapa tidak yang baik  dilanjutkan dan yang jelek di tinggalkan, apakah semua yang dilakukan  oleh orde-orde sebelumnya adalah jelek..??</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan terkejut jika nanti akan banyak  dihasilkan anak-anak cerdas dan pandai akan tetapi tidak memiliki  kemampuan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, karena yang kemudian  akan tercipta robot-robot hidup, mereka cerdas dan pintar akan tetapi  tidak akan memiliki jiwa sosial dengan moralitas yang rendah. Karena  pintar hasil dari indoktrinasi dari sebuah konsep. Bukan cerdas karena  pengembangan dan penggalian bakat yang didasarkan pada budi pekerti dan  kedalaman nurani dari setiap anak didik.  Anak-anak sekarang jarang  sekali yang memiliki kemampuan menganalisa dengan daya nalar, karena  penalaran se-akan dimatikan oleh aktualisasi kecepatan berpikir dan  bertindak saja,  Secara sederhana jika ditanya 1 + 1 = 2, mereka akan  menjawab dengan cepat namun ketika dilanjutkan pertanyaannya, mengapa  dan kenapa kok bisa  2,  mereka akan menjawab pokok-nya jawabannya itu.  Padahal sebenarnya 1 + 1 tidak harus 2 karena jawaban 2 hanya untuk ilmu  pasti. Lalu apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan kita saat  ini ..??</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah barang tentu jika kita  berkeinginan untuk menjadikan pendidikan benar-benar bermanfaat bagi  tunas bangsa dan keberadaan bangsa ini kedepan, tentunya harus  dikembalikan “ruh” dari pendidikan itu sendiri, pendidikan tidak boleh  lepas dari fundamental bangsa ini yaitu Pancasila, dan tentunya Guru  tidak hanya sebatas mendidik karena guru harus mampu menjadi teladan dan  mampu mendorong anak didiknya untuk terus maju dan berkembang sesuai  dengan kemampuan masing-masing. Tulisan ini hanyalah sebuah keprihatinan  atas kondisi pendidikan kita sekarang, dimana hampir semua bangsa  begitu mengagungkan dan menganggap penting dasar dan ideologi negaranya,  negeri ini bergerak mundur dengan mengabaikan ideologi-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah yang mungkin bisa ditempuh adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Memasukkan Pancasila pada kurikulum pendidikan dari pendidikan dasar  hingga pendidikan tinggi dan tidak sekedar mendompleng pada salah satu  mata pelajaran, (ada issue bahwa Pancasila akan dimasukkan pada mata  Pelajaran Pendidikan Agama), tentu ini akan menjadi bias karena bisa  jadi hanya Sila Pertama yang akan terbahas dan bukan Pancasila secara  utuh.</li>
<li>Melaksanakan dan mengaplikasikan dalam sistem pendidikan kita semboyan <em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em><strong>TUTWURI HANDAYANTI, </strong>secara  utuh juga dan tidak sekedar simbol-simbol dalam hiasan bibir dan  dinding, namun harus menjadi hiasan hati setiap insan pendidik;</li>
<li>Mengembangkan softskill untuk mengasah kemampuan berpikir dan nalar  tidak hanya sekedar memperkaya hafalan dan daya ingat saja, karena hal  ini hanya akan menjadi beban bagi tunas bangsa.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan sederhana ini ada manfaat-nya, terima kasih</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini saya tuliskan juga di http://arahkita.com</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Pemberhentian Terakhir</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/dipemberhentian-terakhir/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/dipemberhentian-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 22:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=944</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto076.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-947" title="Foto076" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto076-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Negeriku gemah ripah loh jinawi, nusantaraku adalah jamrud katulistiwa mimpikah itu ..??, Bukan itu bukan mimpi negeri ini begitu kaya, Indonesia-ku begitu mempesona tidak ada rakyat negeri ini yang akan membantah ini&#8230; karena memang kenyataannya seperti ini, namun ketika kita melihat banyak sisi-sisi lain negeri ini yang perlu diketahui, perlu dipahami dan perlu tindakan nyata untuk bisa mengatasinya, tidak sekedar konsep dan teori. Beberapa waktu yang lalu ketika melakukan perjalanan dari Blitar ke Malang, begitu tertegun dengan adanya pengamen disampingku, walau biasanya banyak pengaman di Bus, namun yang satu ini sedikit berbeda, entah mengapa tiba-tiba aku keluarkan ponsel untuk mengabadikannya. Maaf sobat kecilku.. <span id="more-944"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto073.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-945" title="Foto073" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto073-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a> Umur bocah ini antara 6 sampai dengan 8 tahun, mengamen di Bus hanya bermodalkan tutup botol yang dikaitkan lalu di kasih pegangan kayu, yang lebih ironis lagi dia bersama adek perempuannya yang tidak lebih dari umur 5 tahun. Mengais rupiah per rupiah tidak sekedar untuk menghidupi dirinya karena mungkin juga untuk keluarganya, yang ada kemudian adalah muncul pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut,  ketika melihat kenyataan seperti ini, Benar memang negeri-ku kaya raya, bahkan menurut Koes Plus tonggak-pun bisa jadi tanaman, namun kenyataannya masih ada sisi lain dari negeri ini yang masih membutuhkan kepedulian dan membutuhkan tindakan nyata dari pemimpin negeri ini.  Setelah duduk lalu aku mencoba mendekati dua bocah kecil ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dik..  kok siang gini sudah ngamen, apakah tidak sekolah&#8221;,. tanyaku dengan hati-hati, karena takut juga jika nanti tersinggung.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun dengan enteng dan cukup bersahabat, ia menjawab &#8220;, tidak Om, tidak ada biaya untuk sekolah, makanya saya ngamen Om,&#8221;&#8230; blar&#8230; blar &#8230;  Begitu mahalkah pendidikan di negeri ini, sehingga anak bangsa yang memiliki hak untuk memperoleh pendidikan dan perlakuan yang sama sebagai warga negara tidak mendapatkan haknya&#8230; ini kenyataan  dan realita yang terjadi di masyarakat.  Belum lagi ku lanjutkan pertanyaanku siapakah nama-nya, dimanakah rumah-nya dan dimana orang tua-nya&#8230; perjalanan Bus sudah sampai pemberhentian terakhir perjalananku di Terminal Arjosari &#8211; Malang.</p>
<p style="text-align: center;"><img style="border:0;" src="http://www.cincopa.com/media-platform/api/thumb.aspx?fid=+AkIABlahCKZR&#038;size=large" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menuruni bus, aku menggadeng si adek perempuannya, dan begitu menginjakkan kaki di aspal  terminal kakaknya  sudah berlari kearah samping bus lalu si adek melepaskan diri dari gengaman tanganku untuk menyusul sang kakak, <a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto088.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-946" title="Foto088" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto088-225x300.jpg" alt="" width="225" height="266" /></a>mataku nanar mencari-cari ke samping bus kemana anak-anak ini sebenarnya, dan gubrak &#8230;. sesosok wanita yang masih relatif muda telah menunggu dua bocah itu di ujung pemberhentian bus; tertegun sejenak saya melihatnya ketika kantong uang yang dipergunakan untuk mengumpulkan uang mengamennya diberikan pada si Ibu tadi, ketika kesadaranku kembali ke ambil kembali ponselku dengan harapan bisa mengabadikan hal itu, namun yang terjadi Ibu dan kedua anak tadi sudah melangkah menjauh. Jika memang itu Ibu-nya kok sebegitu teganya membiarkan anak-anaknya mengais rejeki dengan seperti itu dan dia hanya menunggu  hasil dari mengamen kedua anaknya, dan mengapa tidak disekolahkan.. apakah sekolah murah di negeri ini adalah IMPIAN. Terbayang dalam anganku dua buah hatiku dirumah, Oh.. anakku betapa berdosa-nya Ayah.. jika kalian seperti apa yang aku lihat tadi. Terasa sesak di dada ketika hak-hak dari anak-anak telah terhempaskan dan  terampas oleh keadaan dan kehidupan dari kedua oarang tuanya.  Mengapa musti anak-anak yang menjadi korban dari sebuah keadaan.  Semoga pengalaman dan tulisan ini bermanfaat terima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#160;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/dipemberhentian-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Kemampuan Usaha Dengan Analisis Break Event Point</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/menghitung-kemampuan-usaha-dengan-analisis-break-event-point/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/menghitung-kemampuan-usaha-dengan-analisis-break-event-point/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 09:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-884" title="BEP" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a>Dalam menjalankan usaha, tentunya kita harus memahami dan tahu hasil dari pekerjaan yang telah kita lakukan dengan susah payah, sehingga diperlukan analisis dari usaha kita dengan demikian diharapkan kita akan mampu menyikapi dan mengambil tindakan secepat mungkin jika kemudian ditemukan kejanggalan dan ketidaksesuaian dalam perhitungan kita, karena apa yang kita dapatkan belum tentu menjadikan usaha kita berjalan dengan sehat dan baik . Salah satu cara menilai  kinerja usaha adalah dengan analisis BEP (<strong><em>Break Even Point</em></strong>) atau <em><strong>titik impas</strong></em>, yakni   tidak ditemuinya keuntungan maupun kerugian pada usaha kita dengan kata lain kita dapat mengetahui volume penjualan yang diperlukan agar bisa menutup semua  biaya produksi yang dikeluarkan. Jika diperlukan, Anda juga bisa  menghitung BEP yang baru ketika terjadi perubahan biaya tetap, misalnya  karena Anda melakukan renovasi tempat usaha atau membeli peralatan  kantor yang baru.<br />
<span id="more-883"></span><br />
BEP bisa dihitung dengan menggunakan rumus berikut:</p>
<ol>
<li>Harga per unit &#8211; Biaya variabel per unit = Margin kontribusi per unit</li>
<li>Margin kontribusi per unit : Harga per unit = Rasio margin kontribusi</li>
<li>Break Even = Biaya tetap : Rasio margin kontribusi</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sebuah Ilustrasi :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Diketauhi dari sebuah laporan keuangan <strong>Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221;</strong> menunjukkan, biaya tetap  usaha itu (dalam ribuan) adalah Rp 49.000, dan biaya variabel per 1 bungkus &#8220;kripik belalang&#8221; adalah Rp 0,3. Jika harga jual tiap sebungkus kripik belalang adalah Rp 1, maka setelah  dikurangi biaya variabel, tiap sebungkus kripik belalang menyumbang Rp 0,7 untuk menutup  pengeluaran tetap.</p>
<p style="text-align: justify;">BEP bisa diketahui dengan membagi biaya tetap  dengan kontribusi tiap sebungkus kripik belalang yang dijual itu, yakni  Rp 49.000 : 0,7 =  70.000 bungkus kripik belalang.  Jika penjualan melampaui 70.000 bungkus kripik belalang, maka Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221;  memperoleh keuntungan. Sebaliknya jika penjualan kurang dari  70,000, Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221; akan mengalami kerugian. Kita juga bisa melihat  bahwa peningkatan penjualan 10.000 bungkus kripik belalang di atas BEP (sehingga menjadi  80.000 bungkus kripik belalang) akan menghasilkan keuntungan Rp 7.000, dan peningkatan  30.000 bungkus kripik belalang menjadi 100.000 bungkus kripik belalang akan menghasilkan keuntungan Rp  21.000. Di lain pihak, saat penjualan hanya 60.000 bungkus kripik belalang, Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221; masih  rugi Rp 7.000, dan pada saat penjualan baru 40.000 bungkus kripik belalang, Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221; masih rugi Rp 21.000.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dapat di gambarkan dalam grafik sebagai berikut :</p>
<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP-dua.jpg"><img class="size-full wp-image-885 aligncenter" title="BEP dua" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP-dua.jpg" alt="" width="278" height="181" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dari ilustrasi tersebut diatas diketahui bawah peningkatan penjualan  25% (dari 80.000 ke 100.000 bungkus kripik belalang) akan menghasilkan peningkatan  keuntungan dari Rp 7.000 ke Rp 21.000. Hal yang sama terjadi sebaliknya,  penurunan sedikit saja pada penjualan juga menghasilkan kerugian yang  cukup besar. Denga mengetahui kenyataan tersebut pada akhirnya perusahaan dapat memperhitungkan berapa banyak yang harus diproduksi untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan, disisi lain sejauhmana kemampuan keuangan perusahaan dalam mengelola kegiatan usaha tersebut akan dapat dipergunakan untuk mengambil kebijak dalam menentukan kapasitas produksi dengan mempertimbangkan aspek biaya yang harus dikeluarkan, yang akhirnya kita mampu mengukur kemampuan kita dalam menjalankan usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga bermanfaat dan terima kasih.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/menghitung-kemampuan-usaha-dengan-analisis-break-event-point/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Stress Perlu Untuk Menjaga Kualitas Hidup</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/manajemen-stress-perlu-untuk-menjaga-kualitas-hidup/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/manajemen-stress-perlu-untuk-menjaga-kualitas-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 03:57:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/Stress-and-Sex.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-872" title="Stress and Sex" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/Stress-and-Sex.jpg" alt="" width="238" height="212" /></a>Stress adalah sebuah respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang dalam upaya penyesuaian diri terhadap tekanan  yang sifatnya internal (<strong><em>psikologis</em></strong>) maupun eksternal (<em><strong>lingkungan</strong></em>). Dan manusia sebagai makhluk sosial dan juga makhluk yang dinamis dalam sebuah kehidupan sudah dapat dipastikan mengalami STRESS, karena itu Stress adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, karena manusia dituntut untuk selalu bisa menyesuaikan  diri. Stress merupakan reaksi awal dari penyesuaian diri tersebut.  Sedikit stress membuat manusia menjadi waspada dan ini dibutuhkan agar  kita mampu memotivasi diri, menyesuaikan diri, dan segera mencari cara  untuk mengatasi stress tersebut. Stress jenis ini dinamakan <em>eustress</em>, yaitu stress  yang membuat seseorang jadi bertambah kuat dan mampu menyesuaikan diri.  Jadi wajar kalau kita dalam kondisi stres jenis yang ini. Lalu bagaimana kita bisa menyikapi dan melewati masa-masa STRESS tersebut dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-871"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu yang lalu saya dapat email dari rekan sekolah di SMK N 1 Wonosari Gunungkidul, yang isi-nya kurang lebih seperti ini :</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu memberikan perkuliahan Manajemen, seorang dosen membahas masalah MANAJEMEN STRESS, dalam  pembahasan tersebut dosen itu mengangkat gelas yang berisi air  dan bertanya kepada Mahasiswanya &#8220;Kira-kira seberapa berat kah segelas air ini ..?&#8221;, banyak ragam jawaban mahasiswa ketika itu,</p>
<p>&#8220;Itu sih ringan,&#8221; jawab salah satu mahasiswa.</p>
<p>&#8220;Tidak lebih dari 30 gram&#8221;, jawab yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tidak lebih berat dari dua buah buku manajemen yang ada disebelah bapak,&#8221; Jawab Mahasiswa lainnya.  Dan masih banyak jawaban lainnya yang intinya bahwa gelas itu tidak-lah berat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang dosen kemudian menjelaskan bahwa ini bukanlah berat absolut segelas air yang dimaksudkan melainkan  berat air itu memang tidak akan membebani kita jika hanya memegang beberapa saat lalu meletakkan kembali, namun  ketika mengangkat gelas dalam waktu 1 jam, atau sehari, atau seminggu, dan bahkan mungkin sebelum atau setahun sekalian, maka tentunya tangan kita akan saya sakit, bahkan bila satu hari penuh maka saya bisa pingsan, bila satu minggu, maka anda harus segera memanggil ambulan untuk saya. Sebenarnya beratnya sama namun semakin lama kita memegangnya, beban akan semakin berat, Hal yang terbaik yang harus kita lakukan adalah  segera tuangkan isi gelas tersebut maka kemudian beban dalam gelas itu akan berkurang,&#8221;&#8216; tutur sang Dosen.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaitan dengan Stess tadi, hampir setiap hari kita selalu memiliki dan terbebani berbagai macam persoalan, entah itu pekerjaan, keluarga atau bahkan mungkin dalam bermasyarakat, kemudian secara sengaja atau tidak membawa beban hidup kita terus menerus, sudah barang tentu akan menjadikan kita cenderung selalu khawatir, susah, resah dan hidup terasa berat yang terjadi kemudian adalah STRESS akan menjadi beban yang menekan kita. Semakin hari beban itu semakin berat karena kita khawatir esok hari. Lalu apa yang bisa kita lakukan, ada beberapa hal yang dapat kita laksanakan sehingga STRESS itu dapat kita manage atau kita kelola, sehingga disinilah kemudian ada MANAJEMEN STRESS, <strong></strong>yaitu sebuah kemampuan pada diri manusia dalam  penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental  dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari  manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup  individu itu agar menjadi lebih baik. Tentunya kita selalu berharap kualitas hidup kita terus meningkat menjadi lebih baik, sehingga STRESS yang terjadi pada diri kita harus dapat kita kelola dengan baik pula. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan, antara lain :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Berusaha untuk bisa sharing dengan orang lain, tentang apa yang menjadi beban dan permasalahan kita, tentunya dengan orang-orang yang benar-benar kita percaya.</li>
<li style="text-align: justify;">Melaksanakan refleksi atau pemijitan tubuh (body massage), untuk sekedar melancarkan peredaran darah yang akan  memulihkan lebih baik keletihan anda.</li>
<li style="text-align: justify;">Berolahraga teratur merupakan hal yang sangat penting dalam  memerangi stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Laksanakan hobi anda secara kontinue dan teratur karena melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini dapat menghilangkan pikiran yang menyebabkan stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Hindari minuman beralkhohol dan perbanyak minum air putih akan membantu memulihkan tubuh kita dari  kekurangan cairan, karena kekurangan cairan dapat menimbulkan keletihan.</li>
<li style="text-align: justify;">Luangkan waktu untuk melaksanakan menditasi, walau sedekdar berdiam diri sejenak, pejamkan mata dan atur nafas, karena meditasi akan sangat membantu anda melupakan hal-hal yang dapat menyebabkan stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Tetap menjaga pula makan, karenanya jangan sampai melampiaskan dengan mengkonsumsi makanan yang berlebihan.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Seks</strong> dengan teratur karena SEKS adalah penyembuhan yang sangat baik untuk menghilangkan stress. Banyak dokter mengatakan bahwa seks adalah cara yang luar biasa dalam meredam kemarahan dan stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Jaga pola tidur kita tetap teratur sesuai dengan kebutuhan kita bahwa tidur tidak sekedar mengistirahatkan badan dari kelelahan akan tetapi juga menuntun otak kita untuk rileks.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sobat, Allah selalu mengingatkan kita agar kita menyerahkan segala beban hidup kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Kemampuan berserah diri kepada Allah inilah yang mampu membuat kita terhindar dari tekanan hidup yang berlebihan. Sebagaimana firmanNya <strong>&#8220;Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? dan Kami pun telah menurunkan beban darimu yang memberatkan punggungmu dan Kami tinggikan sebutanmu bagimu. Sebab sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (urusan dunia)  maka bersungguh-sungguhlah (dalam beribadah). Dan hanya kepada TuhanMulah kamu berharap. (QS. al-Insyirah : 1-8)&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan terimakasih. Dan saya sampaikan terima kasih terkhusus untuk sahabat saya Mbak Sulastri (makasih kiriman emailnya). <strong><br />
</strong></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/manajemen-stress-perlu-untuk-menjaga-kualitas-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Tabu Bicara Masalah Sex..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/mengapa-harus-tabu-bicara-masalah-sex/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/mengapa-harus-tabu-bicara-masalah-sex/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 05:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/01/hamil-diek.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-815" title="hamil diek" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/01/hamil-diek.jpg" alt="" width="219" height="230" /></a>Berbicara masalah Sex pada masyarakat kita masih menjadi hal tertutup (baca tabu) dan belum bisa ada keterbukaan, apalagi memberikan pemahaman dan pengetahuan masalah SEX terhadap anak, hal inilah yang menjadi salah satu pemicu  anak-anak untuk mencari tahu tentang SEX dari berbagai sumber, baik itu orang lain, buku dan internet.  Rasa ingin tahu yang begitu besar akan pengetahuan dan pemahaman tentang SEX anak-anak dan remaja saat ini sudah begitu mengkhawatirkan, beberapa kasus dan kejadian yang diakibatkan rasa ingin tahu dan tanpa kontrol menjadikan anak-anak dan remaja terbawa arus yang endingnya terjepak pada pergaulan bebas, sudah barang tentu akibat dari hal tersebut akhirnya terjadilah <strong>Maried By Accident (alias MBA)</strong> atau mungkin lebih familiar di telinga kita dengan <strong>HAMIL DILUAR NIKAH</strong> adalah  sesuatu yang bagi masyarakat kita sulit untuk diterima, dan tentunya  hal itu selain juga menimbulkan dan memunculkan rasa malu bagi keluarga juga akan mencoreng nama besar keluarga; dan dari sisi agama dan keyakinan apapun tentunya juga tidak dibenarkan; bahkan dalam Islam tergolong <strong>Dosa Besar</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-811"></span>Dalam sebuah penelitan dari sekitar 1000 remaja peserta konsultasi (curhat) dan polling  yang dilakukan Sahara Indonesia, tempat mereka melakukan hubungan  seksual terbesar dilakukan di tempat kos (51,5%). Menyusul kemudian  di rumah (30%), di rumah perempuan (27,3%), di hotel (11,2%), di taman  (2,5%), di tempat rekreasi (2,4%), di kampus (1,3%), di mobil (0,4%) dan tak diketahui (0,7%).Agus  (ketua Sahara Indonesia) juga menambahkan, sebanyak 72,9 persen  responden mengaku hamil. Sebanyak 91,5 persen diantaranya mengaku telah  melakukan aborsi lebih dari satu kali. Aborsi umumnya dilakukan dengan  bantuan dukun/nonparamedik (94,8%) dan hanya 5,2% dilakukan dengan  bantuan paramedic. Sementara 33,2 persen (perempuan) dan 16,8%  (laki-laki) mengaku menderita penyakit kelamin akibat hubungan seks  bebas itu. Hal inilah yang harus menjadikan keprihatinan bersama jangan sampai hamil diluar nikah menjadi sebuah trend kehidupan, karena hamil diluar nikah adalah sebuah aib.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu semua keluarga akan berusaha untuk terhindar dari kejadian tersebut; banyak faktor yang memang bisa mendorong terjadinya hal tersebut, dan jika memang hal itu sudah terjadi siapakah yang perlu disalahkan dan siapa yang benar ?<strong> </strong>dua pertanyaan yang tidak akan ada jawabannya dan sulit untuk menjawabnya. Hanya saja tentunya perlu adanya sikap yang bijaksana dari orang tua dalam menyikapinya; dan <span style="text-decoration: underline;">menuru</span><span style="text-decoration: underline;">t saya sikap yang bisa diambil orang tua jika memang anaknya mengalami hal seperti itu </span> adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Jangan emosi secara berlebihan</strong>; Karena hal itu akan berdampak buruk bagi si anak (karena bisa jadi akan  melakukan tindakan nekat; aborsi atau bahkan bunuh diri yang rugi orang  tua juga khan).</li>
<li><strong>Berikan motivasi dan dukungan; </strong>Bagaimanapun kecewa dan marah kita pada anak atau saudara sudah jamak  jika kita harus tetap memberikan motivasi dan dukungan terhadap-nya.</li>
<li><strong>Jangan pernah menyalahkan-nya secara berlebihan (jangan timpakan kesalahan hanya pada-nya); </strong>Karena peran orang tua tentunya akan sangat besar pengaruhnya; dan  memang jelas bahwa si anak salah, akan tetapi kita kembalikan pada  pangkal permasalahannya, kenapa si anak hingga berbuat seperti itu, bisa  jadi orang tua-lah yang bersalah (kurang perhatian, kasih sayang, dan  tidak memberikan pendidikan tentang sex yang cukup) pada si anak mungkin  menjadi salah satu penyebab-nya.</li>
<li><strong>Bimbinglah untuk mohon pengampunan</strong>; Ajak si anak untuk merenung dan mohon ampun pada <strong>Sang Khalik</strong> atas kesalahannya. karena dengan demikian si anak akan merasa tenteram,  dan semakin mengerti akan kesalahan dan bagaimana ia harus bersikap.</li>
<li><strong>Jangan pernah mengucilkan-nya</strong>; Tentunya bukan merupakan jalan keluar yang baik jika kita  mengucilkannya, tetap berikan perhatian yang sama tidak berubah dan akan  lebih baik lagi jika kita memberikan kasih sayang yang lebih.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang menyebabkan dan mendorong hal itu terjadi, hanya saja  hal awal yang perlu diperhatikan untuk dapat mencegah hal tersebut  adalah peran orang tua dalam memperhatikan tumbuh kembang anak dan  memberikan <strong>pendidikan seksual</strong> terhadap anak karena tujuannya <em>adalah  untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah  seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat  dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dimaksudkan agar mereka <span style="text-decoration: underline;">tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor</span>. Tetapi lebih sebagai <strong>bawaan  manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk  kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar  menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut  untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan tentunya mencegah akan lebih baik khan.. karena-nya kita <strong>usahakan untuk memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus dan ikhlas pada anak-anak dan remaja-remaja kita;</strong> dan yang paling penting lagi adalah <strong>berikan bekal Agama dan Ke-Iman-an maka itu merupakan benteng yang paling ampuh.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/mengapa-harus-tabu-bicara-masalah-sex/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Daya Beli Turun Jika Redenominasi Rupiah, dilaksanakan..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 11:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Redenominasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sanering]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Uang1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-682" title="Uang1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Uang1.jpg" alt="" width="245" height="206" /></a>Redenominasi, akhir-akhir ini menjadi sebuah bahasan menarik di kalangan ekonom di negeri ini, begitu Bank Indonesia memunculkan tentang Redenominasi terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat akan perlu tidaknya kebijakan ini harus di keluarkan, sejauhmana positif dan negarifnya jika kebijakan moneter ini benar-benar di berlakukan di negeri ini. Hal ini dipicu salah satunya adalah karena nilai uang ktia sudah begitu gemuk-nya dan menjadikan transaksi keuangan tidak efisien lagi. Sebenarnya redenominasi mata uang (<em>currency redenomination</em>)  adalah <em>menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang  menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol)  tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1, hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang dan jasa, <span style="text-decoration: underline;">sehingga daya belu masyarakat tidak berubah.</span></em><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-678"></span>Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan <strong>Sanering</strong> , karena Sanering adalah <em>pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan  nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang,  sehingga daya beli masyarakat menurun.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi dan Sanering dapat kita bedakan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berdasa</strong><strong>rkan pada tujuan pelaksanaannya; </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika Redenominasi dilaksanakan memiliki tujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien  dan nyaman dalam  melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan  kesetaraan ekonomi  Indonesia dengan negara regional. SEDANGKAN Sanering  bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan   harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat   tinggi).</p>
<p><strong>Pengaruh Nilai uang terhadap barang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada redenominasi  nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan  dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan. SEDANGKAN pada Sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.</p>
<p><strong>Kapan pelaksanaannya..??</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Untuk Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa transisi pelaksanaan kebijakan </strong><br />
Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat. SEDANGKAN Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.</p>
<p><strong>Bagaimana redenominasi dilaksanakan .?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh harga 1 kg beras  seharga Rp 10.000;<br />
Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka  nol), maka dengan uang sebanyak Rp 10 tetap dapat membeli 1 kg beras. Karena harga 1 kg beras juga dinyatakan dalam satuan pecahan  yang sama (baru). SEDANGKAN pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya  dapat membeli  1/1000 atau 0,001,   1 Kg Beras.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dampak bagi masyarakat.</strong><br />
Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama. Dan pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara matematika, redenominasi rupiah tidak memiliki implikasi yang  berarti bagi masyarakat. Masyarakat yang memiliki uang Rp 1.000.000 diganti  dengan uang Rp 1.000. Masyarakat tidak perlu khawatir soal uang tersebut.  Sebab, keduanya memiliki nilai intrinsik atau daya beli yang sama.  Misal, merek <em>handphone</em> tertentu seharga Rp 1.000.000 sebelum  redenominasi sama dengan Rp 1.000 setelah redenominasi. Jadi, daya beli  Masyarakat secara matematika tak berubah karena redenominasi rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi,  secara psikologis, kebijakan itu bisa mengakibatkan daya beli uang  berbeda antara sebelum dan sesudah redenominasi. Dampak psikologis  merupakan reaksi pelaku bisnis terhadap redenominasi rupiah. Jika pelaku  bisnis yakin bahwa ekonomi berkinerja baik, redenominasi bisa berjalan  sesuai dengan harapan. Tetapi, redenominasi mengakibatkan angka inflasi  meningkat apabila pelaku bisnis berpersepsi ekonomi melambat atau  memburuk ketika kebijakan itu diterapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Melejitnya  angka inflasi itulah yang membuat daya beli keluarga berkurang dengan drastis. Di samping  itu, stabilitas politik sangat dibutuhkan untuk memunculkan dampak  psikologis yang positif kepada pelaku bisnis dalam menyikapi  redenominasi. Ekonomi yang kuat dan politik yang stabil akan memudahkan  proses redenominasi. Alhasil, nilai mata uang sama, baik sebelum atau  sesudah redenominasi. Karena itu, BI harus menyamakan persepsi dengan  pelaku bisnis dalam menentukan periode (<em>timing</em>) kinerja ekonomi dikatakan baik. Tujuannya, redenominasi rupiah tidak menurunkan daya beli masyarakat Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi jelas berbeda dengan <em>sanering</em>. <em>Sanering</em> merupakan upaya memotong rupiah karena melejitnya angka inflasi yang  tak kunjung turun atau inflasi tidak terkendali. Indonesia memiliki  pengalaman tiga kali melakukan <em>sanering</em>. Pertama, <em>sanering</em> dilakukan pada 19 Maret 1950 dengan memangkas Rp 5 menjadi Rp 2. <em>Sanering</em> kedua dilakukan pada 25 Agustus 1959 dengan memangkas Rp 1000 menjadi Rp 100. <em>Sanering</em> terakhir terjadi pada 13 Desember 1965 dengan memotong Rp 1000 menjadi  Rp 1. Pengalaman pahit masa lalu itu jelas merugikan keluarga Indonesia.  Semoga pengalaman <em>sanering</em> masa lalu tidak membuat masyarakat Indonesia trauma terhadap redenominasi rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat  Indonesia harus memahami bahwa <em>sanering</em> dan redenominasi dilakukan pada angka inflasi yang berbeda. <em>Sanering</em> dilakukan saat angka inflasi tinggi, sedangkan redenominasi diterapkan saat angka inflasi rendah. <em>Sanering</em> dilakukan saat kinerja ekonomi memburuk, sedangkan redenominasi  dijalankan saat kinerja ekonomi prima. Perbedaan itulah yang perlu  dipahami masyarakat  Indonesia, jadi perlukah kita khawatir jika Bank Indonesia me-redenominasi Rupiah kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bisa dipergunakan sebagai bahan perenungan bersama, sekian dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak-anak Bukan Burung Beo &#8230; !!!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-anak-bukan-burung-beo/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-anak-bukan-burung-beo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/08/Anak-Burung.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-464" title="Anak Burung" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/08/Anak-Burung.jpg" alt="" width="133" height="88" /></a>Melihat, menyimak dan mencoba mengikuti serta sedikit banyak telah merasakan serta mengenyam pendidikan di negeri ini setidaknya ada perasaan bangga dan bahagia, namun tidak bisa di pungkiri bahwa terselip juga sebuah pertanyaan besar yang perlu ada jawaban dan tindak lanjut yang nyata dari orang-orang yang memiliki kewenangan serta tanggungjawab akan masa depan anak bangsa di negeri ini. Dan tanggungjawab itu tidak hanya terletak pada orang tua, guru, insan pendidik akan tetapi juga pengambil kebijakan dan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-295"></span>Pernahkah secara sadar atau tidak kita sewaktu masih dibangku sekolah dulu sering kali di-driil menjadi mesin penghafal, masih ingatkan dulu ketika kita sekolah selalu diwajibkan untuk mengikuti apa kata guru, yang cenderung meninabobokan daya kreatifitas kita. Jika ada pertanyaan entah dari orang tua atau guru tidak bisa kita jawab dengan persis maka akan disalahkan. Walau sebenarnya jawaban kita tidak-lah salah, hanya memang belum sesuai atau pas dengan isi pertanyaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika, ada pertanyaan sebagai berikut, &#8220;Masyarakat Indonesia terkenal akan ke &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;, apa yang akan terjawab dari mulut mungil anak-anak se-usia SD,.. tentunya jawaban yang meluncur akan beragam dan bervariasi, bisa jadi jawaban yang muncul adalah &#8230;</p>
<ol>
<li>Ke-sopanannya</li>
<li>Ke-santunannya</li>
<li>Ke-beraniannya</li>
<li>Ke-beragamannya</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Contoh jawaban itu akan dianggap <strong>salah</strong>, karena tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dalam buku pelajaran atau dengan harapan si penanya, karena jawaban yang benar adalah <strong>KERAMAHTAMAHANNYA</strong>. Padahal ke-empat jawaban tersebut tidaklah mutlak salah, akan tetapi belum sesuai atau belum pas dengan pertanyaan yang dimaksud. Jika hal itu berulang kali terjadi dan terus berlanjut, maka yang terjadi adalah terbunuh-nya daya imajinasi, daya kreativitas anak-anak kita. Bisa jadi hal ini akan menjadikan anak-anak akan kehilangan semangat belajar, merasa dongkol, frustasi dan secara perlahan menumbuhkan <strong>budaya beo</strong> pada anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setidaknya untuk menghindari agar anak-anak kita memiliki budaya foto copy, tidak mengembangkan budaya mengikuti dan mengekor adalah dengan :</p>
<ol>
<li>Menumbuhkan logika;</li>
<li>Pemikiran kritis;</li>
<li>Daya kreativitas;</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Misalkan dari contoh pertanyaan diatas, kemudian dijawab.. sama, maka si penanya seharusnya tidak memvonis jawaban itu salah akan tetapi, mungkin bisa sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Masyarakat Indonesia terkenal akan ke &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;,</p>
<p style="text-align: justify;">Ke-sopanannya</p>
<p>&#8220;&#8221;Benar, jawaban apalagi yang cocok..&#8221;"</p>
<p>Ke-santunannya &#8211;&#62;&#62; ok, bagus ada lagi yang lain..</p>
<p>Ke-beraniannya &#8211;&#62;&#62; ya.. betul sekali.. coba apa lagi</p>
<p>Ke-beragamannya &#8211;&#62;&#62; Benar.. hayo ada yang lain lagi tidak..</p>
<p>Ke-jahatannya.. nah ini, jawaban betul atau salah..</p>
<p style="text-align: justify;">Maka si anak akan dengan serentak akan menjawab salah.., yang satu lagi adalah <strong>Keramahtamahannya</strong>.., dengan demikian maka anak-anak kita akan berusaha untuk mengembangkan daya imajinasi, daya nalar dan saya kreasi serta kreativitas-nya seiring dengan perkembangan pola pikirnya dengan sehat dan baik. Dan ingat bahwa anak-anak kita bukan burung beo yang harus mengikuti apa yang kita inginkan dan sampaikan, akan tetapi berilah kebebasan agar mereka bisa berkarya dan menemukan jatidirinya. Jangan terlalu banyak dilarang dan diatur akan tetapi arahkan mereka dan berilah contoh pada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan ini bermanfaat dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-anak-bukan-burung-beo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliah, Nikah Atau Kerja..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hidup adalah pilihan, mungkin sebagian dari kita akan menyadari dan merasakan hal itu, karena memang kita harus mampu dan berani menentukan satu dari sekian banyak pilihan dalam kehidupan ini, karena akan menjadi satu kesulitan bagi kita jika kita harus menjalani berbagai hal dalam satu kesempatan, menentukan skala prioritas dalam pilihan hidup mungkin itu sebuah tindakan yang bijaksana. Beberapa waktu yang lalu sudah diperolah hasil akhir dari sebuah perjuangan bagi rekan-rekan yang menempuh pendidikan menengah, yang pada akhirnya harus menentukan mesti kemana setelah lulus nanti.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-281"></span>Ada 3 pilihan yang dapat dilakukan, oleh mereka yang baru lulus SMU, MA, SMK dan yang sederajat, tiga pilihan itu antara lain adalah :</p>
<ol>
<li>Nikah</li>
<li>Kuliah</li>
<li>Kerja</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ketiga-nya memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda yang tentunya di-imbangi dengan sebuah pendewasaan berpikir dan kebijaksanaan bertindak dalam menentukan pilihan ini, karena ketiganya juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Namun jika bicara ideal setelah lulus SMU/MA/SMK sebenarnya hanya dua pilihan yaitu kuliah atau kerja. Namun tidak sedikit pula yang setelah lulus sekolah menengah atas yang memutuskan untuk menikah. Dianggap sebuah pilihan yang sulit tidak juga, jika kita sudah memiliki tujuan dan arah dari kehidupan kita, sudah memiliki rencana-rencana matang dalam menjalani kehidupan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga pilihan yang ada tentunya menjadikan kita berpikir sebelum memutuskan mana yang akan kita lakukan, yang jelas keputusan untuk NIKAH, akan menjadi alternatif pilihan jika sudah mapan atau katakanlah bekerja dan lebih lengkap lagi sudah siap lahir dan bathin. Jadi kita harus memilih yang mana antara Kuliah atau Kerja. Hal ini akan tergantung dari banyak faktor karena-nya banyak indikator yang dipergunaka untuk menentukan mau Kuliah atau Kerja. Jika kita memutuskan untuk Kuliah tentunya akan muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>mau kuliah dimana ?</li>
<li>ambil jurusan apa ?</li>
<li>menghabiskan biaya berapa ?</li>
<li>menempuh program apa ?</li>
<li>setelah lulus nanti apakah bisa dapat pekerjaan ?</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tentunya kita harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik dan bijaksana, satu hal jangan sampai jawaban tersebut kita dapatkan dari orang lain dan bukan dari diri kita sendiri, hal ini untuk menghindari ketidaksesuaian apa yang kita tempuh dibangku kuliah dengan minat dan bakat kita, maka jawaban tersebut harus datang dari diri kita sendiri. Dengan demikian minimal jika kita ingin kuliah harus bisa menentukan hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li>Pilihan Perguruan Tinggi dengan beberapa pilihan tentunya;</li>
<li>Jurusan yang akan kita pilih;</li>
<li>Estimasi biaya untuk kuliah;</li>
<li>Diploma atau Sarjana program yang akan kita ambil;</li>
<li>Informasi tingkat kebutuhan lapangan kerja pada 3 atau 4 tahun mendatang setelah kita lulus kuliah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Jika lima hal diatas sudah kita selesaikan, maka melangkah untuk melanjutkan studi (KULIAH) tentunya dengan semangat dan motivasi yang kuat maka kuliah tidak sekedar ikut saran teman, mengikuti keinginan orang tua atau alasan lain-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika kita memilih untuk bekerja, sudah barang tentu kita harus menyiapkan diri untuk mampu bersaing dengan kompetitor-kompetitor lainnya dalam lapangan pekerjaan, hal yang paling penting di negeri ini dalam mencari pekerjaan adalah :</p>
<ol>
<li>Kita harus memiliki skill lebih dibandingkan kompetitor lainnya;</li>
<li>Kita harus memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja;</li>
<li>Kita harus siap untuk berkompetisi setelah diterima kerja nanti;</li>
<li>Kita harus menentukan target pribadi dalam waktu 5 tahun mendatang tentang pekerjaan kita;</li>
<li>Kita harus menentukan bekerja pada orang lain (karyawan) atau menciptakan lapangan kerja sendiri (usaha mandiri).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena jangan sampai kita kerja hanya dengan alasan daripada menganggur, karena jika memutuskan bekerja karena alasan tersebut, sudah dapat dipastikan kita tidak memiliki motivasi kerja dan tidak memiliki target bagaimana kehidupan kita kelak. Dan tentunya bersiap-lah untuk terus menjadi orang yang sulit untuk berkembang dan mengembangkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitupun jika memutuskan untuk langsung menikah setelah lulus SMK/MA/SMU, ada beberap hal yang harus diperhatikan, karena menikah tidak hanya memandang dan merasakan nikmat-nya saja, akan tetapi banyak hal yang harus kita kondisikan sejak awal, karena menikah itu kita harus :</p>
<ol>
<li>Siap lahir dan batin;</li>
<li>Siap untuk menafkahi dan dinafkahi;</li>
<li>Siap untuk menjadi orang tua;</li>
<li>Siap untuk melepas masa-masa kebebasan;</li>
<li>Siap untuk bertanggungjawab atas semua langkah dan perbuatan kita.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal diatas hanyalah sebuah gambaran sederhana yang tidak terlepas dari tingkat pemahaman dan landasan berpikir setiap individu, dan pilihan akan tetap pada pribadi kita masing-masing, semoga sedikit tulisan ini mampu memberikan sebuah gambaran dalam wacana berpikir kita. Dan silakan anda untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupan kita kedepan. Terima kasih semoga bermanfaat.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

