Ketika Roh Pendidikan Terabaikan .. !!

“Pendidikan adalah proses harmonisasi antara alam wiraga (dunia tindakan) dan alam wirama (dunia pengendalian)”  (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, 2 Mei 1889 – 26 April 1959). Inilah fundamental pendidikan yang ditanamkan Ki Hajar Dewantoro waktu itu, sehingga dalam lambang dan” ruh” pendidikan Indonesia memiliki semboya Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso TUTWURI HANDAYANTI, jika insan-insan pendidik di negeri ini, pengambil kebijakan (Kemendiknas) dan juga manusia-manusia yang terhormat (DPR Komisi X)  mengembalikan akar pendidikan negeri ini ke fundamental pendidikan yang ditancapkan oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, maka keadaan negeri ini akan tetap bersatu padu tidak tercerai berai oleh perbedaan pendapat, ras, partai status sosial dan lain sebagainya. Karena mereka hanya bertujuan pada pencapaian visi dan misi bersama Indonesia Raya, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Lalu bagaimana sebenarnya potret pendidikan Indonesia, dulu, kini dan mendatang.

Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso TUTWURI HANDAYANTI, merupakan salah satu penjabaran yang begitu cerdas dari dasar negara Pancasila, tidak sesederhana yang kita bayangkan dan baca, diperlukan kecerdasan dan kedalaman berpikir sehingga muncul “Ruh” pendidikan tersebut. Arti dari semboyan ini adalah: Ing ngarsa sung tuladha (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), Ing madya mbangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Dulu .. dulu sekali para pendidik di negeri ini begitu cerdik dan cerdas dalam mengarahkan dan mendidik insan-insan calon pemimpin negeri ini. Dengan semboyan pendidikan yang ada dengan tetap berdasarkan pada Pancasila. Namun saat ini para petinggi negeri seakan tidak peduli dengan konsep pendidikan yang begitu indah dan agung. Reformasi yang diinginkan dan dijalankan sudah salah arah, tidak ada lagi pembatasan konseptual yang pasti, karena kebijakan yang diambil akan berganti dan beralih setelah 5 tahun berjalan se-umur pemimpin negeri ini dan yang menjadi korban adalah tunas-tunas bangsa karena kebijakan. karena egoisme dan karena idealisme sebagian golongan yang tidak memahami dan mengerti dengan sebenarnya “ruh” dari pendidikan itu sendiri.

Di Pemberhentian Terakhir

Negeriku gemah ripah loh jinawi, nusantaraku adalah jamrud katulistiwa mimpikah itu ..??, Bukan itu bukan mimpi negeri ini begitu kaya, Indonesia-ku begitu mempesona tidak ada rakyat negeri ini yang akan membantah ini… karena memang kenyataannya seperti ini, namun ketika kita melihat banyak sisi-sisi lain negeri ini yang perlu diketahui, perlu dipahami dan perlu tindakan nyata untuk bisa mengatasinya, tidak sekedar konsep dan teori. Beberapa waktu yang lalu ketika melakukan perjalanan dari Blitar ke Malang, begitu tertegun dengan adanya pengamen disampingku, walau biasanya banyak pengaman di Bus, namun yang satu ini sedikit berbeda, entah mengapa tiba-tiba aku keluarkan ponsel untuk mengabadikannya. Maaf sobat kecilku..

Menghitung Kemampuan Usaha Dengan Analisis Break Event Point

Dalam menjalankan usaha, tentunya kita harus memahami dan tahu hasil dari pekerjaan yang telah kita lakukan dengan susah payah, sehingga diperlukan analisis dari usaha kita dengan demikian diharapkan kita akan mampu menyikapi dan mengambil tindakan secepat mungkin jika kemudian ditemukan kejanggalan dan ketidaksesuaian dalam perhitungan kita, karena apa yang kita dapatkan belum tentu menjadikan usaha kita berjalan dengan sehat dan baik . Salah satu cara menilai kinerja usaha adalah dengan analisis BEP (Break Even Point) atau titik impas, yakni  tidak ditemuinya keuntungan maupun kerugian pada usaha kita dengan kata lain kita dapat mengetahui volume penjualan yang diperlukan agar bisa menutup semua biaya produksi yang dikeluarkan. Jika diperlukan, Anda juga bisa menghitung BEP yang baru ketika terjadi perubahan biaya tetap, misalnya karena Anda melakukan renovasi tempat usaha atau membeli peralatan kantor yang baru.