<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Nikah</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/nikah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dari Perbedaan Itu Kita Wujudkan Pelangi Pernikahan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 08:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-898" title="Pelangi Pernikahan" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan-300x99.jpg" alt="" width="300" height="99" /></a>Ketika sesorang memasuki usia siap menikah, tentunya akan muncul beragam pertimbangan untuk membentuk sebuah keputusan dan pernyataan sikap &#8220;SIAP MENIKAH&#8221; menikah tidak hanya didasarkan dari kesiapan usia saja namun lebih jauh dan mendalam bahwa menikah membutuhkan pemahaman dan pengertian akan beberapa hal, minimal mengerti dan memahami empat hal berikut, maka menikah  bukan satu hal yang menakutkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-897"></span>Sebuah pernikahan terjadi terkadang didasarkan karena telah merasa  menemukan kecocokan, keserasian atau karena memang merasa satu visi dan  misi serta mememiliki kesamaan tujuan dalam memandang dan menjalani hidup ?.. ataukah  bahkan merasa  ada kesamaan dalam sifat, kesenangan dan cara pandang ?  namun bisakah hal itu  dijadikan pedoman bahwa pernikahan bisa langgeng abadi, mawadah wa  rohmah, hingga kakek-kakek nenek-nenek.  Semuanya akan terjawab&#8230; dengan  menyimak beberapa hal dibawah ini ?&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bisa <strong>bertepuk tangan</strong> memerlukan <em>dua tangan</em> (<strong>kiri dan kanan</strong>), dan  irama musik terdengar begitu indah dan syahdu ketika tercipta sebuah harmonisasi dari sekumpulan alat musik dengan nada-nada dalam sebuah  simfoni dan ternyata <strong>pernikahan</strong> itu adalah <em>penyatuan dua manusia (lekaki dan perempuan)</em>, dari <span style="text-decoration: underline;">dua bentuk yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang</span>, belum lagi hati, jiwa dan rasa, jelas berbeda. Jika demikian maka <strong>keserasihan, kecocokan dan kesamaan belum menjadikan jaminan semua akan berjalan lancar</strong> khan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/nikah1.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-899" title="nikah1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/nikah1.jpeg" alt="" width="245" height="206" /></a>Karena  menikah adalah <strong>sebuah proses pendewasaan diri</strong>. Agar bisa menghadapi dan memenangkan pertarungan dibutuhkan <strong>kekuatan dan keberanian</strong>,  yaitu sebuah kekuatan untuk menemukan jalan keluar dan keberanian dalam  menghadapi semua problema kehidupan. Karena kenyataannya untuk <span style="text-decoration: underline;">bisa menuju jenjang pernikahan</span> ini mesti  :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong> Ada komunikasi dua arah, se-imbang tidak ada dominasi salah satu;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada kerelaan mendengar kritik dan saran membangun;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada keikhlasan meminta maaf dan memaafkan;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada ketulusan melupakan kesalahan dan keberanian untuk mengemukakan pendapat secara <span style="text-decoration: underline;">JUJUR</span>.</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Menikah tentunya bukan <span style="text-decoration: underline;">sebatas upacara</span> yang disemarakkan oleh lagu cinta, tidak juga karena rancangan gaun  pengantin ala putri salju dan juga bukan rangkaian mobil undangan  bagaikan rangkaian gerbong kereta api yang panjang.  Mesti kita sadari dan pahami bahwasannya <strong>pernikahan</strong> itu adalah <strong>sebuah keberanian untuk memutuskan bersandar pada satu pelabuhan hati dan bukan bersandar pada dua atau tiga pelabuhan hati</strong>, <em>ketika  jutaan bahtera yang indah gemerlap dan memikat yang berusaha untuk  mendekat dan mengajak  kita untuk terus mengarungi samudra kehidupan yang  tidak bertepi</em>.  Pun pernikahan itu adalah <strong>sebuah  proses penggabungan dua orang dengan kesombongannya, egoisme dan idealisme serta dua pikiran  dalam satu biduk dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan cinta. Karena sebenarnya persamaan dan keserasian sikap dan sifat hanyalah akan menjadi sebuah jeda dan setetes kenikmatan sesaat saja.</strong></p>
<p>Tidak  penting menikah dengan anak siapa (mau anak jenderal, anak menteri atau  bahkan anak tukang kebun, tukang sayur bahkan anak pengemis sekalipun),  berapa pula harta, emas permata dan intan berlian yang dimilikinya,  bukan juga rangkaian melati yang harum mewangi, dan bahkan sebuah  perencanaan matang dengan kepanitian yang lengkap, jika pada akhirnya  hanya akan membuat keluarga cerai berai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/menikah1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-900" title="menikah1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/menikah1.jpeg" alt="" width="181" height="144" /></a>Yang perlu dipahami dan dimengerti bahwa menikah adalah suatu proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita</strong>.  Karena tanpa kenal diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang  lain..? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa  memperhatikan pasangan hidup..?  Tentunya kita tahu dan mengerti bahwa pelangi begitu indah karena beragam warna menyatu dan membentuk sebuah perpaduan yang serasi. Demikian halnya dengan sebuah pernihakan akan tercipta begitu indah dan membahagiakan jika kita bersama pasangan mampu menyatukan dan memadukan perbedaan-perbedaan itu menuju sebuah keserasian dan keselarasan serta keseimbangan diantaranya tidak ada yang paling dominan antara keduanya, maka <strong>Pelangi Pernikahan</strong> itu akan dapat kita ciptakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menikah sangat <span style="text-decoration: underline;">membutuhkan  keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudera, serta jiwa besar  untuk bisa saling ^-^menerima dan memaafkan^-^</span>, yang <span style="text-decoration: underline;">bukan sekedar</span> menerima kritikan atau memaafkan kesalahan semata <strong>akan tetapi</strong> menerima dan memaafkan dalam arti yang luas dan mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka  jika sudah memiliki keinginan untuk menikah, sebelum melangkah tumbuhkan  dulu sebuah keberanian dan kekuatan bahwa anda memang mampu dan siap  melangkah mengarungi samudra kehidupan dalam sebuah bahtera rumah  tangga dengan orang yang benar-benar <em><strong>anda mengerti dan pahami</strong></em> demikian  juga sebaliknya. Jadi sebenarnya kapan waktu yang pas kita memutuskan untuk menikah, jawabannya adalah ketika usia sudah cukup dan disaat kita merasa siap dan berani menerima berbagai macam perbedaan dari pasangan hidup kita. Akhirnya selamat kepada mereka yang telah berani menerima perbedaan dan berhasil mengerti dan memahami masing-masing pasangan hidup karena dari sanalah sebenarnya awal kebahagian dalam rumah tangga itu terbentuk.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Tabu Bicara Masalah Sex..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/mengapa-harus-tabu-bicara-masalah-sex/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/mengapa-harus-tabu-bicara-masalah-sex/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 05:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/01/hamil-diek.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-815" title="hamil diek" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/01/hamil-diek.jpg" alt="" width="219" height="230" /></a>Berbicara masalah Sex pada masyarakat kita masih menjadi hal tertutup (baca tabu) dan belum bisa ada keterbukaan, apalagi memberikan pemahaman dan pengetahuan masalah SEX terhadap anak, hal inilah yang menjadi salah satu pemicu  anak-anak untuk mencari tahu tentang SEX dari berbagai sumber, baik itu orang lain, buku dan internet.  Rasa ingin tahu yang begitu besar akan pengetahuan dan pemahaman tentang SEX anak-anak dan remaja saat ini sudah begitu mengkhawatirkan, beberapa kasus dan kejadian yang diakibatkan rasa ingin tahu dan tanpa kontrol menjadikan anak-anak dan remaja terbawa arus yang endingnya terjepak pada pergaulan bebas, sudah barang tentu akibat dari hal tersebut akhirnya terjadilah <strong>Maried By Accident (alias MBA)</strong> atau mungkin lebih familiar di telinga kita dengan <strong>HAMIL DILUAR NIKAH</strong> adalah  sesuatu yang bagi masyarakat kita sulit untuk diterima, dan tentunya  hal itu selain juga menimbulkan dan memunculkan rasa malu bagi keluarga juga akan mencoreng nama besar keluarga; dan dari sisi agama dan keyakinan apapun tentunya juga tidak dibenarkan; bahkan dalam Islam tergolong <strong>Dosa Besar</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-811"></span>Dalam sebuah penelitan dari sekitar 1000 remaja peserta konsultasi (curhat) dan polling  yang dilakukan Sahara Indonesia, tempat mereka melakukan hubungan  seksual terbesar dilakukan di tempat kos (51,5%). Menyusul kemudian  di rumah (30%), di rumah perempuan (27,3%), di hotel (11,2%), di taman  (2,5%), di tempat rekreasi (2,4%), di kampus (1,3%), di mobil (0,4%) dan tak diketahui (0,7%).Agus  (ketua Sahara Indonesia) juga menambahkan, sebanyak 72,9 persen  responden mengaku hamil. Sebanyak 91,5 persen diantaranya mengaku telah  melakukan aborsi lebih dari satu kali. Aborsi umumnya dilakukan dengan  bantuan dukun/nonparamedik (94,8%) dan hanya 5,2% dilakukan dengan  bantuan paramedic. Sementara 33,2 persen (perempuan) dan 16,8%  (laki-laki) mengaku menderita penyakit kelamin akibat hubungan seks  bebas itu. Hal inilah yang harus menjadikan keprihatinan bersama jangan sampai hamil diluar nikah menjadi sebuah trend kehidupan, karena hamil diluar nikah adalah sebuah aib.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu semua keluarga akan berusaha untuk terhindar dari kejadian tersebut; banyak faktor yang memang bisa mendorong terjadinya hal tersebut, dan jika memang hal itu sudah terjadi siapakah yang perlu disalahkan dan siapa yang benar ?<strong> </strong>dua pertanyaan yang tidak akan ada jawabannya dan sulit untuk menjawabnya. Hanya saja tentunya perlu adanya sikap yang bijaksana dari orang tua dalam menyikapinya; dan <span style="text-decoration: underline;">menuru</span><span style="text-decoration: underline;">t saya sikap yang bisa diambil orang tua jika memang anaknya mengalami hal seperti itu </span> adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Jangan emosi secara berlebihan</strong>; Karena hal itu akan berdampak buruk bagi si anak (karena bisa jadi akan  melakukan tindakan nekat; aborsi atau bahkan bunuh diri yang rugi orang  tua juga khan).</li>
<li><strong>Berikan motivasi dan dukungan; </strong>Bagaimanapun kecewa dan marah kita pada anak atau saudara sudah jamak  jika kita harus tetap memberikan motivasi dan dukungan terhadap-nya.</li>
<li><strong>Jangan pernah menyalahkan-nya secara berlebihan (jangan timpakan kesalahan hanya pada-nya); </strong>Karena peran orang tua tentunya akan sangat besar pengaruhnya; dan  memang jelas bahwa si anak salah, akan tetapi kita kembalikan pada  pangkal permasalahannya, kenapa si anak hingga berbuat seperti itu, bisa  jadi orang tua-lah yang bersalah (kurang perhatian, kasih sayang, dan  tidak memberikan pendidikan tentang sex yang cukup) pada si anak mungkin  menjadi salah satu penyebab-nya.</li>
<li><strong>Bimbinglah untuk mohon pengampunan</strong>; Ajak si anak untuk merenung dan mohon ampun pada <strong>Sang Khalik</strong> atas kesalahannya. karena dengan demikian si anak akan merasa tenteram,  dan semakin mengerti akan kesalahan dan bagaimana ia harus bersikap.</li>
<li><strong>Jangan pernah mengucilkan-nya</strong>; Tentunya bukan merupakan jalan keluar yang baik jika kita  mengucilkannya, tetap berikan perhatian yang sama tidak berubah dan akan  lebih baik lagi jika kita memberikan kasih sayang yang lebih.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang menyebabkan dan mendorong hal itu terjadi, hanya saja  hal awal yang perlu diperhatikan untuk dapat mencegah hal tersebut  adalah peran orang tua dalam memperhatikan tumbuh kembang anak dan  memberikan <strong>pendidikan seksual</strong> terhadap anak karena tujuannya <em>adalah  untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah  seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat  dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dimaksudkan agar mereka <span style="text-decoration: underline;">tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor</span>. Tetapi lebih sebagai <strong>bawaan  manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk  kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar  menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut  untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan tentunya mencegah akan lebih baik khan.. karena-nya kita <strong>usahakan untuk memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus dan ikhlas pada anak-anak dan remaja-remaja kita;</strong> dan yang paling penting lagi adalah <strong>berikan bekal Agama dan Ke-Iman-an maka itu merupakan benteng yang paling ampuh.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/mengapa-harus-tabu-bicara-masalah-sex/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Perlu Prenuptial Agreement Dilaksanakan.. ??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/378/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/378/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 00:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/wedding.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-379" title="wedding" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/wedding.jpg" alt="wedding" width="127" height="95" /></a>Prenuptial Agreement</strong></span><span style="color: #000000;"> secara singkat dapat kita definisikan sebagai <em>perjanjian yang dibuat oleh calon pasangan suami isteri yang akan menuju pada jenjang pernikahan</em>; Dan mungkin diantara kita </span><span style="color: #000000;">belum melakukannya</span><span style="color: #000000;"> atau bahkan </span><span style="color: #000000;"><strong>tabu untuk melakukannya.</strong></span><span style="color: #000000;">; tentunya sebelum melangkah pada jenjang pernikahan tanpa kita sadari sudah ada perjanjian pranikah tersebut meskipun secara tidak tertulis, nggak akan mungkin terjadi pernikahan tanpa ada kesepahaman dan kesepakatan antara calon pengantin khan. Nah.. yang dimaksudkan disini adalah perjanjian secara tertulis.<br />
<span id="more-378"></span><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Tomy-tata.jpg"><img class="size-full wp-image-380 alignright" title="Tomy tata" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Tomy-tata.jpg" alt="Tomy tata" width="124" height="99" /></a>Mungkin jika kita simak dan kita amati pada pemberitaan baik media elektronik atau surat kabar, banyak memberitakan tentang bagaimana para selebritis kita mengalami kegagalan dalam rumah tangga-nya sehingga berakhir pada perceraian; dan ternyata tidak berhenti sampai disitu saja, setelah cerai masih menyisakan masalah </span> <span style="color: #000000;"><strong>pembagian harta, hak pengasuhan anak,</strong></span><span style="color: #000000;">; Bisa jadi perceraian terjadi karena </span><span style="color: #000000;"><strong>ada kekerasan dalam</strong></span><span style="color: #000000;"><strong> rumah tangga merasa dikhianati dan sebagainya</strong></span><span style="color: #000000;"> mungkin hal ini tidak terjadi jika dibuat </span><span style="color: #000000;"><strong>prenuptial agreement.</strong></span><span style="color: #000000;">, tentunya masih hangat dalam ingatan kita kasus Pasha Ungu  dan Oky; Ahmad Dhani VS Maia; Anang VS  Krisdayanti, atau bahkan kasus-kasus para selebritis kita yang lainnya dan masih banyak lagi, dimana hal tersebut bisa dihindari dan diselesaikan jika ada kesepakatan antara kedua-nya sebelum menikah;</span></p>
<p style="text-align: justify;">Yang jelas  <span style="color: #000000;"><strong>Perjanjian Pranikah</strong></span><span style="color: #000000;"> tersebut dapat dipergunakan sebagai landasan dan rambu-rambu bagi setiap pasangan dalam mengarungi bahtera rumah tangga selain cinta, kasih dan sayang tentunya.  Jadi secara garis besar sebenarnya perlukah </span> <span style="color: #000000;"><strong>Prenuptial Agreement</strong></span><span style="color: #000000;"> dibuat : Jawabnya ada pada diri masing-masing individu khan; </span><span style="color: #000000;"><strong>May Be (Yes) May Be (No)</strong></span><span style="color: #000000;">, akan tetapi yang jelas dengan adanya <strong>Perjanjian Pranikah <em style="color: #ffff00;"></em></strong>menimal setiap pasangan mampu menjalani bahtera rumah tangga dan akan terhindar dari masalah-masalah yang terkadang mengganggu pada perjalanan bahtera itu, sehingga adanya <em>prenuptial agreement</em> dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada pernikahan (cerai contohnya).</span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apa yang bisa dimasukkan dalam  <span style="color: #000000;"><strong>perjanjian pranikah (prenuptial agreement)</strong></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Tentang perlindungan hukum pada harta dan benda bawaan masing-masing;</li>
<li>Kesepakatan untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga;</li>
<li>Kesempatan untuk menghindari adanya poligami;</li>
<li>Hak perwalian anak jika terjadi perceraian;</li>
<li>Bisa juga berisi tentang kemungkinan perkembangan karier masing-masing.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Yang terpenting adalah isi yang dimasukkan dalam prenuptial agreement antara lain : <strong><span style="color: #000080;">&#8220;&#8221;semua hal yang menjadi kesepakatan antara dua pihak yang ingin menikah, yang tidak bertentangan dengan hukum agama, adat istiadat, kesusilaan dan tentunya tidak bertentangan dengan Undang-undang Perkawinan yang ada di negeri ini&#8221;"</span></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun pada kenyataannya  <span style="color: #000000;"><strong>prenuptial agreement</strong></span><span style="color: #000000;"> belum membudaya dinegeri ini, hal ini terjadi mungkin sebagian masyarakat di negeri ini memiliki beberapa alasan antara lain </span><span style="color: #000000;"><strong>karena masih dianggap kasar, materialistik, dan tidak etis pada adat ketimuran, belum mengganggap sebagai satu kebutuhan dan masih beranggapan bahwa hal itu hanya menumbuhkan rasa egoisme pribadi</strong></span><span style="color: #000000;">. Yang tentunya benar tidaknya </span><span style="color: #000000;"><strong>prenuptial agreement suatu kebutuhan dalam pernikahan atau memang hanya menifestasi egoisme pribadi akan tergantung pada masing-masing individu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah.. tentunya bagaimana kita menyikapi dan melaksanakannya akan tergantung pada masing-masing individu.. mau mencoba&#8230; jika demi kebaikan  <span style="color: #000000;"><strong>Why Not.</strong></span><span style="color: #000000;"> Semoga memberi manfaat dan terima kasih</span></p>
<p><a rel=”nofollow” href=”javascript:window.print()”>Print This!</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/378/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliah, Nikah Atau Kerja..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hidup adalah pilihan, mungkin sebagian dari kita akan menyadari dan merasakan hal itu, karena memang kita harus mampu dan berani menentukan satu dari sekian banyak pilihan dalam kehidupan ini, karena akan menjadi satu kesulitan bagi kita jika kita harus menjalani berbagai hal dalam satu kesempatan, menentukan skala prioritas dalam pilihan hidup mungkin itu sebuah tindakan yang bijaksana. Beberapa waktu yang lalu sudah diperolah hasil akhir dari sebuah perjuangan bagi rekan-rekan yang menempuh pendidikan menengah, yang pada akhirnya harus menentukan mesti kemana setelah lulus nanti.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-281"></span>Ada 3 pilihan yang dapat dilakukan, oleh mereka yang baru lulus SMU, MA, SMK dan yang sederajat, tiga pilihan itu antara lain adalah :</p>
<ol>
<li>Nikah</li>
<li>Kuliah</li>
<li>Kerja</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ketiga-nya memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda yang tentunya di-imbangi dengan sebuah pendewasaan berpikir dan kebijaksanaan bertindak dalam menentukan pilihan ini, karena ketiganya juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Namun jika bicara ideal setelah lulus SMU/MA/SMK sebenarnya hanya dua pilihan yaitu kuliah atau kerja. Namun tidak sedikit pula yang setelah lulus sekolah menengah atas yang memutuskan untuk menikah. Dianggap sebuah pilihan yang sulit tidak juga, jika kita sudah memiliki tujuan dan arah dari kehidupan kita, sudah memiliki rencana-rencana matang dalam menjalani kehidupan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga pilihan yang ada tentunya menjadikan kita berpikir sebelum memutuskan mana yang akan kita lakukan, yang jelas keputusan untuk NIKAH, akan menjadi alternatif pilihan jika sudah mapan atau katakanlah bekerja dan lebih lengkap lagi sudah siap lahir dan bathin. Jadi kita harus memilih yang mana antara Kuliah atau Kerja. Hal ini akan tergantung dari banyak faktor karena-nya banyak indikator yang dipergunaka untuk menentukan mau Kuliah atau Kerja. Jika kita memutuskan untuk Kuliah tentunya akan muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>mau kuliah dimana ?</li>
<li>ambil jurusan apa ?</li>
<li>menghabiskan biaya berapa ?</li>
<li>menempuh program apa ?</li>
<li>setelah lulus nanti apakah bisa dapat pekerjaan ?</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tentunya kita harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik dan bijaksana, satu hal jangan sampai jawaban tersebut kita dapatkan dari orang lain dan bukan dari diri kita sendiri, hal ini untuk menghindari ketidaksesuaian apa yang kita tempuh dibangku kuliah dengan minat dan bakat kita, maka jawaban tersebut harus datang dari diri kita sendiri. Dengan demikian minimal jika kita ingin kuliah harus bisa menentukan hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li>Pilihan Perguruan Tinggi dengan beberapa pilihan tentunya;</li>
<li>Jurusan yang akan kita pilih;</li>
<li>Estimasi biaya untuk kuliah;</li>
<li>Diploma atau Sarjana program yang akan kita ambil;</li>
<li>Informasi tingkat kebutuhan lapangan kerja pada 3 atau 4 tahun mendatang setelah kita lulus kuliah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Jika lima hal diatas sudah kita selesaikan, maka melangkah untuk melanjutkan studi (KULIAH) tentunya dengan semangat dan motivasi yang kuat maka kuliah tidak sekedar ikut saran teman, mengikuti keinginan orang tua atau alasan lain-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika kita memilih untuk bekerja, sudah barang tentu kita harus menyiapkan diri untuk mampu bersaing dengan kompetitor-kompetitor lainnya dalam lapangan pekerjaan, hal yang paling penting di negeri ini dalam mencari pekerjaan adalah :</p>
<ol>
<li>Kita harus memiliki skill lebih dibandingkan kompetitor lainnya;</li>
<li>Kita harus memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja;</li>
<li>Kita harus siap untuk berkompetisi setelah diterima kerja nanti;</li>
<li>Kita harus menentukan target pribadi dalam waktu 5 tahun mendatang tentang pekerjaan kita;</li>
<li>Kita harus menentukan bekerja pada orang lain (karyawan) atau menciptakan lapangan kerja sendiri (usaha mandiri).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Karena jangan sampai kita kerja hanya dengan alasan daripada menganggur, karena jika memutuskan bekerja karena alasan tersebut, sudah dapat dipastikan kita tidak memiliki motivasi kerja dan tidak memiliki target bagaimana kehidupan kita kelak. Dan tentunya bersiap-lah untuk terus menjadi orang yang sulit untuk berkembang dan mengembangkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitupun jika memutuskan untuk langsung menikah setelah lulus SMK/MA/SMU, ada beberap hal yang harus diperhatikan, karena menikah tidak hanya memandang dan merasakan nikmat-nya saja, akan tetapi banyak hal yang harus kita kondisikan sejak awal, karena menikah itu kita harus :</p>
<ol>
<li>Siap lahir dan batin;</li>
<li>Siap untuk menafkahi dan dinafkahi;</li>
<li>Siap untuk menjadi orang tua;</li>
<li>Siap untuk melepas masa-masa kebebasan;</li>
<li>Siap untuk bertanggungjawab atas semua langkah dan perbuatan kita.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hal diatas hanyalah sebuah gambaran sederhana yang tidak terlepas dari tingkat pemahaman dan landasan berpikir setiap individu, dan pilihan akan tetap pada pribadi kita masing-masing, semoga sedikit tulisan ini mampu memberikan sebuah gambaran dalam wacana berpikir kita. Dan silakan anda untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupan kita kedepan. Terima kasih semoga bermanfaat.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kuliah-nikah-atau-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

