<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Motivasi</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Sep 2010 12:31:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Cermin, Refleksi Sebuah Kejujuran</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 22:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/cermin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-597" title="cermin" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/cermin.jpg" alt="" width="116" height="136" /></a>Cermin, siapa yang tidak tahu dan mengenal benda yang satu ini, karena dalam setiap ruang, setiap sisi-sisi rumah akan selalu ada benda ini, tiada habisnya kita mamatut diri didepan cermin untuk sekedar bisa melihat apa yang kurang pantas pada diri kita, karena jelas bawah pengertian cermin sendiri adalah permukaan memantul yang cukup  licin untuk membentuk imej. Cermin dikenali ramai sebagai sejenis benda  yang boleh memantulkan cahaya ataupun bayang-bayang. <a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin" target="_blank">(http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin)</a>. Ach.. itu hanyalah sebuah definisi dan pengertian, namun pernahkah kita sedikit memahami fungsi cermin itu lebih jauh dan lebih dalam lagi, bahwa cermin tidak sekedar pemantul bayang-bayang, bahwa cermin tidak sekedar alat untuk melihat sudah pantaskah dandanan kita. Pernahkah kita menyadari bahwa <strong>cermin begitu jujur</strong> pada kita. Karena apa yang ada pada diri kita akan dipantulkan demikian apa adanya oleh cermin.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-596"></span>Sebuah kesadaran dan rasa mawas diri dapat kita dapatkan dari cermin ini, ada sebuah ungkapan dalam bahasa jawa   <strong>&#8220;Ngiloa Githoke Dhewe&#8221;, </strong>yang secara harfiah adalah <em><span style="text-decoration: underline;">bercerminlah pada tengkuknya  sendiri, </span></em>dengan<em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em>arti sebagai berikut  :</p>
<ul>
<li>Ngilo : bercermin</li>
<li>Ngiloa : bercerminlah</li>
<li>Githok :  tengkuk</li>
<li>Githoke : tengkuknya</li>
<li>Dhewe : Sendiri.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Arti yang tersirat dari ungkapan itu adalah<em> kita diajak untuk melihat dan mengetahui tentang diri k</em><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/cermin2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-602" title="cermin2" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/cermin2.jpg" alt="" width="138" height="202" /></a><em>ita  leb</em><em>ih jauh. Selain ada kebaikan ada juga kekurangan dan kelemahannya.</em> Kita diajak untuk menyadari akan kekurangan dan kelemahan kita sendiri dengan sebuah nilai  yang diajarkan bahwa <em>ungkapan</em><em> ini mengajarkan agar setiap orang mau  mawas diri. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejauhmana kita menggunakan cermin selama ini, apakah sebatas kita bercermin untuk badaniah kita..?? sudah pernahkan kita mematut diri di cermin kemudian mencoba untuk melihat dan menyelami diri kita yang sebenarnya, yach.. &#8220;<strong>Cermin Hati</strong>&#8220;.. sering kita lupakan ketika kita berada di depan cermin, karena kita hanya sebatas bercermin untuk badan kita. Mematut diri dan membetulkan dandanan yang kurang pas, namun kita hampir tidak pernah mencoba untuk bisa memahami dan membetulkan sikap, perilaku, tindakan serta ucapan-ucapan kita yang dipantulkan oleh &#8220;<strong>cermin hati</strong>&#8220;<em>, </em>karena kita terkadang kurang respek terhadap <em>&#8220;Kejujuran&#8221;</em> dari Cermin itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Cermin akan mengatakan apa adanya tentang diri kita, cermin itu tidak pernah bohong, cermin itu jujur, cermin itu apa adanya tidak ada yang ditutupi cermin apa yang ada pada diri kita itulah yang akan dipantulkan oleh cermin<em>. </em>Sudah sewajarnya jika kita menjadikan cermin adalah sahabat sejati<em> </em>bagi kita karena cermin akan bilang jelek jika kita jelak dan akan bilang baik jika kita baik. Dan karena cermin adalah refleksi sebuah kejujuran sangat tepat dan pas jika cermin kita gunakan sebagai alat untuk instropeksi diri dimana kekurangan dan kelebihan kita dalam menjalani kehidupan ini. Semoga dengan demikian kita dapat menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi kehidupan, dengan terus bercermin dengan &#8220;CERMIN HATI&#8221;.. semoga bermanfaat terima kasih <em><br />
</em></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Mengapa Saya Begitu Menyukai Ketokohan Yudishtira</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 14:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Njowo]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-4.png" alt="" /> <img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-5.png" alt="" /><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-590" title="Yudis" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg" alt="" width="87" height="124" /></a>Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu  tokoh protagonis  dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang  raja yang memerintah  kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di  Hastinapura. Ia merupakan  yang tertua di antara lima Pandawa, atau para  putera Pandu. Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu”  dan memiliki  julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan  nama Kerajaan  Amarta.    <strong> </strong>Nama Yudistira dalam  bahasa  Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Ia juga  dikenal  dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena  ia  selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-589"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Beberapa  julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:</p>
<ul>
<li>Ajatasatru,  “yang tidak memiliki musuh”.</li>
<li>Bharata, “keturunan Maharaja  Bharata”.</li>
<li>Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa  Dharma”.</li>
<li>Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”.</li>
<li>Kurunandana,  “kesayangan Dinasti Kuru”.</li>
<li>Kurupati, “raja Dinasti Kuru”.</li>
<li>Pandawa,  “putera Pandu”.</li>
<li>Partha, “putera Prita atau Kunti”.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Beberapa di antara nama-nama di atas juga  dipakai oleh tokoh-tokoh  Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma,  dan Duryodana. Selain  nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa  masih terdapat beberapa  nama atau julukan yang lain lagi untuk  Yudistira, misalnya:</p>
<ul>
<li>Puntadewa,  “derajat keluhurannya setara para dewa”.</li>
<li>Yudistira, “pandai  memerangi nafsu pribadi”.</li>
<li>Gunatalikrama, “pandai bertutur  bahasa”.</li>
<li>Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.</li>
</ul>
<p><strong>Sifat  dan kesaktian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sifat-sifat  Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya,  sebagaimana telah  disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol  adalah adil, sabar,  jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya  diri, dan berani  berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata  terutama dalam hal  memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi  pewayangan Jawa lebih  menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia  pernah dikisahkan  menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan  hanya meraba  kepala mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dalam  pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus  Kalimasada, Tunggulnaga,  dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa  kitab, sedangkan  Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka  utama kerajaan  Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud  kalung yang  terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah  pemberian  Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman  pemerintahan Pandu.  Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia  pun meraba kalung  tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi  raksasa besar  berkulit putih bersih.</p>
<p><strong>Kelahiran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira adalah putera tertua pasangan  Pandu dan Kunti. Kitab  Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa  mengisahkan tentang kutukan  yang dialami Pandu setelah membunuh  brahmana bernama Resi Kindama tanpa  sengaja. Brahmana itu terkena panah  Pandu ketika ia dan istrinya sedang  bersanggama dalam wujud sepasang  rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi  Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa  kelak ia akan mati ketika mengawini  istrinya. Dengan penuh penyesalan,  Pandu meninggalkan tahta Hastinapura  dan memulai hidup sebagai pertapa  di hutan demi untuk mengurangi hawa  nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti  dan Madri dengan setia mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada  suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak.  Kunti yang  menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan  suaminya  itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk  mendapatkan  putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil  mendatangkan Dewa  Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa  melalui  persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan   demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian   Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah  yang  kemudian diwarisi oleh Yudistira sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Versi pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda.  Menurut versi ini,  Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di  istana Hastinapura.  Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong  kelahiran Puntadewa  dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa  tersebut, Puntadewa  lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan  Jawa, nama Puntadewa  lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira  baru digunakan setelah ia  dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan  Puntadewa sebagai seorang  manusia berdarah putih, yang merupakan  kiasan bahwa ia adalah sosok  berhati suci dan selalu menegakkan  kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa kecil dan  pendidikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dan  keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal  dunia.  Adapun kelima putera Pandu itu terkenal dengan sebutan para  Pandawa,  yang semua lahir melalui mantra Adityahredaya. Kedatangan para  Pandawa  membuat sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin Duryodana  merasa  cemas. Putera-putera Dretarastra itu takut kalau Pandawa sampai   berkuasa di kerajaan Kuru. Dengan berbagai cara mereka berusaha   menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat.   Di lain pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya   tidak membalas perbuatan para Korawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan  tata  negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira  tampil  sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila  tahta  Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu,  Pandawa  dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam  pendidikan kedua  ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai,  terutama dalam  ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih  terampil dalam  menggunakan senjata tombak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Konflik memperebutkan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya  meninggal dunia, tahta  Hastinapura untuk sementara dipegang oleh  kakaknya, yaitu Dretarastra,  ayah para Korawa. Ketika Yudistira  menginjak usia dewasa, sudah tiba  saatnya bagi Dretarastra untuk  menyerahkan tahta kepada Yudhisthira,  selaku putera sulung Pandu.  Sementara itu putera sulung Dretarastra,  yaitu Duryodana berusaha keras  merebut tahta dan menyingkirkan Pandawa.  Dengan bantuan pamannya dari  pihak ibu, yaitu Sangkuni, Duryodana  pura-pura menjamu kelima sepupunya  itu dalam sebuah gedung di  Waranawata, dimana gedung itu terbuat dari  bahan yang mudah terbakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat para Pandawa  dan Kunti,  ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri  karena  rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu  Widura adik  Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos  dari maut.  Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman  sulit.</p>
<p><strong>Pernikahan dengan Dropadi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lolos dari jebakan maut Korawa,  para Pandawa dan Kunti pergi  melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal  sementara di kerajaan Panchala.  Arjuna berhasil memenangkan sayembara  di kerajaan tersebut dan  memperoleh seorang puteri cantik yang bernama  Dropadi. Tanpa sengaja  Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima.  Akibatnya, Dropadi pun  menjadi istri kelima Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi  melahirkan Pratiwindya,  dari Bima lahir Sutasoma, dari Arjuna lahir  Srutasena, dari Nakula lahir  Satanika, dan dari Sadewa lahir  Srutakirti.</p>
<p style="text-align: justify;">Versi Jawa menyebut  Dropadi dengan nama “Drupadi”. Menurut pewayangan  Jawa, setelah  memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu  kepada Puntadewa  selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun  setelah didesak  oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia  menikahi  Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putera bernama  Pancawala.  Jadi, menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima  Pandawa,  sedangkan menurut versi Jawa, ia hanya menikah dengan  Yudistira  seorang.</p>
<p><strong>Raja Indraprastha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa  kembali ke Hastinapura dan  memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari  pihak Duryodana. Persaingan  antara Pandawa dan Korawa atas tahta  Hastinapura kembali terjadi. Para  sesepuh akhirnya sepakat untuk  memberi Pandawa sebagian dari wilayah  kerajaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Korawa yang licik mendapatkan istana  Hastinapura, sedangkan Pandawa  mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai  tempat untuk membangun istana  baru. Meskipun daerah tersebut sangat  gersang dan angker, namun para  Pandawa mau menerima wilayah tersebut.  Selain wilayahnya yang seluas  hampir setengah wilayah kerajaan Kuru,  Kandawaprastha juga merupakan  ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum  Hastinapura. Para Pandawa  dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan  Baladewa, dan berhasil membuka  Kandawaprastha menjadi pemukiman baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Pandawa kemudian memperoleh  bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli  bangunan dari kahyangan, dan juga  Anggaraparna dari bangsa Gandharwa.  Maka terciptalah sebuah istana  megah dan indah bernama Indraprastha,  yang bermakna “kota Dewa Indra”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemerintahan Yudistira versi  pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembangunan  kerajaan Amarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/upacararajasuyadiindraprastha.jpg?w=225&#38;h=303" alt="Upacara Rajasuya di Indraprastha" hspace="4" width="225" height="303" align="right" />Dalam versi  pewayangan Jawa, nama Indraprastha  lebih terkenal dengan sebutan  kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan  yang dibuka para Pandawa bukan  bernama Kandawaprastha, melainkan  bernama Wanamarta.</p>
<p>Versi Jawa  mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak  kembali ke  Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat  mereka  yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang  bersimpati pada  pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka  kawasan hutan tak  bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan  baru. Hutan Wanamarta  dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin  oleh lima bersaudara,  bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad,  dan Sapulebu.  Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami  banyak  rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para  makhluk  halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke  alam  nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat  adiknya  menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing  menyatu ke  dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja  Amarta setelah  didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk  mengenang dan  menghormati raja jin yang telah memberinya istana,  Puntadewa pun memakai  gelar Prabu Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anugerah Ketentraman</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa  berusaha keras untuk  memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita  bahwa barang siapa yang  bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang  bernama Dewi  Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi  makmur dan  sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk  memiliki seorang  istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya  menikah lagi demi  kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju  Kerajaan Slagahima. Di  istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak  raja dan pangeran yang  datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri  hanya sudi menikah  dengan seseorang yang berhati suci, dan ia  menemukan kriteria itu dalam  diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten  tiba-tiba musnah dan menyatu ke  dalam diri Puntadewa. Sebenarnya  Kuntulwinanten bukan manusia asli,  melainkan wujud penjelmaan anugerah  dewata untuk seorang raja adil yang  hanya memikirkan kesejahteraan  negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima  yang asli bernama  Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa  dan diangkat  sebagai patih di kerajaan Amarta.</p>
<p><strong>Upacara  Rajasuya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kitab Mahabharata  bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat  Yudistira untuk  menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan  dharma dan  menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha  (India  Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara  agung  tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat yang sama,  seorang raja angkara murka juga mengadakan  upacara mengorbankan seratus  orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda  dari kerajaan Magadha.  Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan  didampingi Kresna sebagai  penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya,  melalui sebuah  pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah semua persyaratan terpenuhi,  Yudistira melaksanakan upacara  Rajasuya yang dihadiri sekian banyak  kaum raja dan pendeta. Dalam  kesempatan itu, Yudistira ditetapkan  sebagai Maharajadhiraja. Kemudian  muncul seorang sekutu Jarasanda  bernama Sisupala yang menghina Kresna di  depan umum. Setelah melewati  penghinaan ke-100, Krishna akhirnya  memenggal kepala Sisupala di depan  umum.</p>
<p><strong>Kehilangan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/permainandaduantarapandawadankorawa.jpg?w=360&#38;h=265" alt="permainan dadu antara Pandawa dan  Korawa" hspace="4" width="360" height="265" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan dari  Punjab, dibuat sekitar abad ke-18,  menggambarkan suasana aula permainan  dadu antara Pandawa dan Korawa.  Tampak dalam gambar, Dropadi yang  berusaha ditelanjangi oleh Dursasana.  Di sebelah kiri bawah, tampak  kelima Pandawa sedang diam menerima  kekalahannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya,  Duryodana sangat kagum  sekaligus iri menyaksikan keindahan istana  Indraprastha. Timbul niatnya  untuk merebut kerajaan itu, apalagi  setelah ia tersinggung oleh ucapan  Dropadi dalam sebuah pertemuan.  Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan  memanfaatkan kegemaran  Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira  memang seorang ahli agama,  namun di sisi lain ia sangat menyukai  permainan tersebut. Undangan  Duryodana diterimanya dengan baik.  Permainan dadu antara Pandawa  melawan Korawa diadakan di istana  Hastinapura. Mula-mula Yudistira  hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun  semuanya jatuh ke tangan Duryodana  berkat kepandaian Sakuni dalam  melempar dadu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua   hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun dengan   susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap   mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya   pun jatuh pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya   Yudistira sendiri. Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah   kehilangan kemerdekaannya untuk melanjutkan permainan, dengan   mempertaruhkan Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan  umum terdengar oleh  Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar  Duryodana menghentikan  permainan dan mengembalikan semuanya kepada  Pandawa. Dengan berat hati,  Duryodhana terpaksa mematuhi perintah  ibunya itu. Duryodana yang kecewa  kembali menantang Yudistira beberapa  waktu kemudian. Kali ini  peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah  harus menyerahkan negara  beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan  selama 12 tahun serta  menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan.  Apabila penyamaran itu  terbongkar, maka wajib mengulangi lagi  pembuangan selama 12 tahun dan  menyamar setahun, begitulah seterusnya.  Akhirnya berkat kelicikan  Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan  untuk yang kedua kalinya.  Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi  menjalani masa pembuangan mereka  di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kehidupan dalam Pembuangan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam  menjalani masa pembuangan  selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada  jilid ketiga kitab Mahabharata  yang dikenal dengan sebutan Wanaparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira yang merasa paling  bertanggung jawab atas apa yang menimpa  keluarga dan negaranya berusaha  untuk tetap tabah dalam menjalani  hukuman. Ia sering berselisih paham  dengan Bima yang ingin kembali ke  Hastinapura untuk menumpas para  Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap  tunduk dan patuh terhadap  perintah Yudistira supaya menjalani hukuman  sesuai perjanjian.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika para Korawa datang ke dalam  hutan untuk berpesta demi  menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka  justru berselisih dengan  kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam  peristiwa itu Duryodana  tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi,  Yudistira justru mengirim Bima  dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia  mengancam akan berangkat sendiri  apabila kedua adiknya itu menolak  perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu  berhasil membebaskan Duryodana.  Niat Duryodana datang ke hutan untuk  menyiksa perasaan para Pandawa  justru berakhir dengan rasa malu luar  biasa yang ia rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa lain yang terjadi adalah  penculikan Dropadi oleh Jayadrata,  adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna  berhasil menangkap Jayadrata dan  hampir saja membunuhnya. Yudistira  muncul dan memaafkan raja kerajaan  Sindu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peristiwa telaga beracun</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari menjelang berakhirnya  masa pembuangan, Yudistira dan  keempat adiknya membantu seorang  brahmana yang kehilangan peralatan  upacaranya karena tersangkut pada  tanduk seekor rusa liar. Dalam  pengejaran terhadap rusa itu, kelima  Pandawa merasa haus. Yudistira pun  menyuruh Sadewa mencari air minum.  Karena lama tidak kembali, Nakula  disuruh menyusul, kemudian Arjuna,  lalu akhirnya Bima menyusul pula.  Yudistira semakin cemas karena  keempat adiknya tidak ada yang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai  mereka  telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang  mengaku  sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat  Pandawa tewas  keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab  pertanyaan sang  raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan  Sang Raksasa untuk  bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan  berhasil ia jawab.  Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia  hanya sanggup  menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira  memilih Nakula  untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula  adalah adik tiri,  bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya  harus berlaku adil.  Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri.  Karena Yudistira lahir  dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup  kembali harus putera yang  lahir dari Madri, yaitu Nakula.</p>
<p style="text-align: justify;">Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira.  Ia pun kembali ke wujud  aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya  dengan menyamar sebagai rusa  liar dan raksasa adalah untuk memberikan  ujian kepada para Pandawa.  Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira,  maka tidak hanya Nakula yang  dihidupkan kembali, melainkan juga Bima,  Arjuna, dan Sadewa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira  dalam masa penyamaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan  Dropadi  kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat   persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh   Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau   Wirataparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira menyamar  dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai  kusir kereta Raja Wirata.  Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak,  Arjuna menjadi Wrihanala  sebagai banci guru tari, Nakula menjadi  Damagranti sebagai tukang kuda,  Sadewa menjadi Tantripala sebagai  penggembala sapi, sedangkan Dropadi  menjadi Sailandri sebagai dayang  istana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa  serangan  kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan  kerajaan  Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha,  sekutu  Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam  keadaan  terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata  yang  ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna)  sebagai  kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil  menghadapi  pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil  memukul  mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu,  pasukan Wirata  juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata  dengan bangga  memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan  para Korawa  seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci  kemenangan  Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung  dan memukul  kepala Kanka sampai berdarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan,  bukan nama  orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan  tersebut,  Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu  kota  bernama Dwijakangka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat  batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan  Dropadi  pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat   menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan   menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta   Indraprastha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira saat  Bharatayuddha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika para  Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang  seharusnya mereka  terima, Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia  tidak mau  menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai   dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan,   Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa   saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana berusaha   membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang antara Pandawa dan Korawa tidak  dapat lagi dihindari. Para  pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan  nama Bharatayuddha.  Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar  tersebut ditemukan  pada jilid keenam sampai kesepuluh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Awal pertempuran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa  sebelum perang hari pertama  dimulai, Yudistira turun dari keretanya  berjalan kaki ke arah pasukan  Korawa yang berbaris di hadapannya.  Duryodana mengejeknya sebagai  pengecut yang langsung menyerah begitu  melihat kekuatan Korawa dan  sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudistira  bukan untuk menyerah,  melainkan meminta doa restu kepada empat sesepuh  yang berperang di pihak  lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa, Drona, dan  Salya. Keempatnya  mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu  saja membuat  Duryodana sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira  kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang  ingin pindah  pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang  pindah justru  adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama  Yuyutsu, yang  bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama  Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertempuran melawan Drona</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bisma memimpin pasukan Korawa selama  sepuluh hari. Setelah ia  tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona,  yang mendapat amanat dari  Duryodana supaya menangkap Yudistira  hidup-hidup. Drona senang atas  tugas tersebut, padahal niat Duryodana  adalah menjadikan Yudistira  sebagai sandera untuk memaksa para  pendukungnya menyerah. Berbagai cara  dilancarkan Drona untuk menangkap  Yudistira. Tidak terhitung banyaknya  sekutu Pandawa yang tewas di  tangan Drona karena melindungi Yudistira,  misalnya Drupada dan Wirata.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya pada hari ke-15, penasihat  Pandawa, yaitu Kresna menemukan  cara untuk mengalahkan Drona, yaitu  dengan mengumumkan berita kematian  seekor gajah bernama Aswatama.  Aswatama juga merupakan nama putera  tunggal Drona. Kemiripan nama  tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk  menipu Drona. Atas perintah  Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan  berteriak mengumumkan  kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian  Aswatama. Ia segera  mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai  manusia paling jujur  untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut.  Yudistira terpaksa  bersikap tidak jujur. Ia membenarkan berita kematian  Aswatama tanpa  berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan  putera Drona.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban Yudistira itu membuat Drona  jatuh lemas. Ia membuang semua  senjatanya dan duduk bermeditasi.  Tiba-tiba saja Drestadyumna putera  Drupada mendatanginya dan kemudian  memenggal kepalanya dari belakang.  Drona pun tewas seketika. Dalam  peristiwa ini yang paling merasa  bersalah adalah Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi Jawa, nama gajah yang dibunuh  Bima bukan Aswatama,  melainkan Hastitama. Ketika Drona menanyakan hal  itu, Puntadewa menjawab  bahwa yang mati adalah Hastitama, namun dengan  suara yang sangat pelan.  Akibatnya, terdengar oleh Drona bahwa yang  mati adalah Aswatama.  Selanjutnya, Drona yang lengah pun tewas  dipenggal Drestadyumna.</p>
<p><strong>Pertempuran  melawan Salya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salya adalah  kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena  tipu daya  mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh  Duryodana.  Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno  mengisahkan bahwa Salya  memakai senjata bernama Rudrarohastra,  sedangkan Yudistira memakai  senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka  Yudistira yang berupa kitab itu  dilemparkannya dan tiba-tiba berubah  menjadi tombak menembus dada Salya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara  itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu  Candabirawa  berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai  jumlahnya justru  bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta.  Candabirawa  lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi  Bagaspati,  yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa  melepaskan  Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya  pun tewas  seketika.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tantangan bagi  Duryodana</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kehabisan  pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga.  Kelima Pandawa  didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu.  Duryodana pun naik ke  darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus.  Yudistira menolak  tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat  pengecut dengan  cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika  membunuh Abimanyu  pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan  bertarung satu  lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa.  Apabila ia  kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa.  Sebaliknya  apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira  yang seolah-olah memberi  kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi,  padahal kemenangan Pandawa  tinggal selangkah saja. Dalam hal ini  Yudistira justru menyalahkan Bima  yang dianggap kurang percaya diri.  Duryodana meskipun bersifat angkara  murka namun ia juga seorang  pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan  perang tanding, yang paling  gagah di antara kelima Pandawa. Setelah  pertarungan sengit terjadi  cukup lama, akhirnya menjelang senja  Duryodana berhasil dikalahkan dan  kemudian menemui kematiannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Maharaja  dunia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah perang  berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk  memuliakan  mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja  Hastinapura  sekaligus raja Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima   Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang   adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para Korawa   tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian  menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu  upacara pengorbanan  untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh  dunia. Pada upacara  ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama  setahun. Arjuna  ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal  kuda tersebut.  Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda  tersebut harus  memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya semuanya memilih membayar upeti.  Sekali lagi Yudistira pun  dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah  Upacara Rajasuya dahulu.</p>
<p><strong>Lengser  lalu naik ke sorga</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/yudhishthhira-leaves.jpg?w=300&#38;h=233" alt="Yudhishthhira-leaves" hspace="4" width="300" height="233" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan Yudistira yang sedang  mendaki gunung  Himalaya sebagai perjalanan terakhirnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan  wafatnya Kresna, Yudistira dan  keempat adiknya mengundurkan diri dari  urusan duniawi. Mereka  meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat  keterikatan untuk  melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi  Bharatawarsha lalu menuju  puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya,  Yudistira menemukan anjing dan  kemudian hewan tersebut menjdi  pendamping perjalanan Pandawa yang  setia. Saat mendaki puncak, satu per  satu mulai dari Dropadi, Sadewa,  Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal  dunia. Masing-masing terseret oleh  kesalahan dan dosa yang pernah  mereka perbuat. Hanya Yudistira dan  aningnya yang berhasil mencapai  puncak gunung, karena kesucian hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput  Yudistira  untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun,  Indra  menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan  tersebut  tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira  menolak masuk  swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra  merasa heran  karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan  Dropadi tanpa  mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun  lebih memilih  untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira  menjawab bahwa  bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah  yang meninggalkan  dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesetiaan  Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli  yaitu Dewa  Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta  Indra.  Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada  justru  Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara  murka.  Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya   sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk   neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang   disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya  ngeri.  Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil  menguasai  diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil.  Yudistira  memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik  hidup tersiksa  bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada  bergembira di sorga  namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba  pemandangan berubah  menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa  sekali lagi Yudistira  lulus ujian. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu,  Pandawa Lima dan para  pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni  Surga, sementara para  korawa akan menjalani siksaan yang kekal di  neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi pewayangan  Jawa, kematian para Pandawa terjadi  bersamaan dengan Kresna ketika  mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar.  Namun, versi ini kurang begitu  populer karena banyak dalang yang lebih  suka mementaskan versi  Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana  dikisahkan di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Salinan dari :  http://tokohwayang.wordpress.com &#8212;&#62;&#62; terima kasih kepada pemilik  situs atas tulisannya.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SKRIPSI, Mengapa Masih Menghantui Sebagian Mahasiswa..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/skripsi-mengapa-masih-menghantui-sebagian-mahasiswa/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/skripsi-mengapa-masih-menghantui-sebagian-mahasiswa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 07:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Thesis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=572</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/skripsi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-573" title="skripsi" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/skripsi.jpg" alt="" width="115" height="122" /></a>SKRIPSI, menjadi hantu yang begitu menakutkan bagi sebagian mahasiswa yang sedang menyelesaikan semester akhirnya, rasa ketakutan dan kekhawatiran TIDAK MAMPU menyusun skripsi seharusnya tidak terjadi, karena jika sudah berada di semester terakhir secara akademik berarti sudah memiliki kemampuan untuk menyusun dan membuat skripsi itu sendiri, karena bekal untuk menyusun dan membuat skripsi sudah diperoleh di semester-semester sebelumnya.  Jadi, skripsi bukan HANTU yang menakutkan, karena membuat dan menyusun skripsi begitu mengasyikan, baca <strong><span style="color: #ff0000;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/menulis-skripsi-ternyata-tidak-sulit-dan-mengasyikkan/" target="_blank"><span style="color: #ff0000;">di sini</span> </a></span></strong>, namun tentunya masih diperlukan beberapa hal agar kita benar-benar enjoy dalam menyusun skripsi namun hasilnya memuaskan dan sesuai dengan waktu yang telah diisyaratkan oleh pihak perguruan tinggi. Intinya adalah Skripsi harus disikapi dengan serius namun jangan sampai dijadikan<em> sebagai mimpi buruk dan beban berat.</em> Yakinlah bahwa manusia diberi waktu yang sama 24 jam sehari, kesempatan hidup yang sama sehingga jika Si Pulan mampu seharusnya kitapun bisa,  yang diperlukan adalah : <strong><span style="color: #ff0000;">KERJA KERAS dan MAU BERUSAHA</span></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-572"></span>Mengapa, SKRIPSI menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa, ada beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi pada diri mahasiswa yang sedang menyusun skripsi karena hal ini akan menjadi satu kendalah besar nantinya, hal-hal tersebut  adalah :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan <em>relationships</em> yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.</li>
<li style="text-align: justify;">Pemilihan topik yang kurang sesuai/tidak dikuasai, masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara <em>ngalor ngidul</em> dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.</li>
<li style="text-align: justify;">Penentuan metode penelitian dan alat analisis yang tidak sesuai, hal ini juga perlu diperhatikan bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (<em>scientific approach</em>) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak <em>grounded theory</em>. Sebaliknya, pendekatan naturalis (<em>naturalist approach</em>) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan <em>grounded theory</em>.</li>
</ol>
<p>Setelah ketiga hal diatas dapat kita atasi dan mampu kita sikapi dengan baik dan bijaksana maka dalam menyusun dan membuat skripsi kita-pun harus memperhatikan dan melaksakan hal-hal berikut ini :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Mempersiapkan Diri.</strong> Hal wajib yang mesti dilakukan, persiapan yang paling penting adalah dari sisi MENTAL dan tentunya ke bahan pendukung lainnya, waktu dan financial juga tidak kalah penting dan ini harus benar-benar kita siapkan. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Doa dan Restu.</strong> Berusaha saja tanpa diimbangi dengan berdoa makan pencapain tidak akan sempurna atau bahkan kita tidak akan mencapai satu kepuasan dalam pekerjaan, percaya atau tidak doa restu orang tua adalah tiada duanya. Niscaya kemudahan dan kelancaran dalam menyusun dan membuat skripsi akan kita dapatkan.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Membuat </strong><em><strong>Time Line</strong></em><strong>.</strong> Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu <em>time-consuming</em>. Buat <em>planning </em>yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.  Hal ini akan menjadikan kegiatan kita berjalan dengan sistematis dan sesuai dengan jadual. Dan jangan sekali-sekali keluar dari <em>Time Line </em>yang telah kita buat sendiri</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jadilah Orang Yang  Proaktif (Membuka Diri).</strong> Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya.  Disisi lain kita juga harus mampu dan bisa share informasi dengan rekan-rekan yang juga sedang menyusun skripsi.</li>
<li style="text-align: justify;"><em><strong>Be Flexible</strong></em><strong>.</strong> Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Disatu sisi kita sudah merasa benar dan yakin bahwa skripsi kita bagus namun ternyata di tengah perjalanan Dosen Pembimbing memutuskan untuk ganti topik (mungkin saja terjadi), atau katakanlah sulitnya menemui Dosen Pembimbing, perbedaan pandangan dan latar belakang berpikir antara manusia itu akan menjadi kendala besar, jadi kita  harus bisa fleksible dan tidak mudah sakit hati.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Jujur.</strong> Hindari keterantungan dengan  jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Siapkan Duit.</strong> Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada <em>sponsorships</em>). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Hmmm..</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Yakin Pada Diri Sendiri</strong>, ini sangat diperlukan karena jangan sampai kita terjebak pada sebuah keadaan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Tujuh point diatas harus sudah kita persiapkan sejak dini, karena keterlambatan dalam menentukan dan menyikapi hal ini akan menjadikan kita berada pada <strong>keterbatasan </strong>dan<strong> kemalasan</strong>, keterbatasan dari sisi waktu, biaya dan relationship karena semakin hari waktu akan selalu mengejar kita sehingga kita tidak bisa jalan ditempat yang ending-nya muncul sebuah kemalasan untuk melakukan dan mengerjakannya karena kita sudah terdesak. Keterbatasan dan Kemalasan itulah HANTU yang sebenarnya karena memiliki pengaruh yang luar biasa pada sebuah <strong>KEGAGALAN.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kesiapan dan kematangan berpikir serta mentalitas mahasiswa akan dipertaruhkan pada saat menyusun skripsi ini sehingga untuk bisa menyusun dan menelorkan sebuah karya ilmiah dari pikiran kita memang dibutuhkan pengorbanan, kesiapan mental, kerja keras dan tetap dengan semangat tinggi. Karena sebenarnya masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menuju sebuah kesuksesan dalam menyusun skripsi ini. Dan mudah-mudahan tulisan sederhana ini ada manfaatnya amiin.. !!!</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/skripsi-mengapa-masih-menghantui-sebagian-mahasiswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekurangan Kita Adalah Anugrah Yang Indah&#8230;</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kekurangan-kita-adalah-anugrah-yang-indah/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kekurangan-kita-adalah-anugrah-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 16:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/kekurangan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-567" title="kekurangan" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/kekurangan.jpg" alt="" width="137" height="137" /></a>Dengan memiliki sebuah kesadaran bahwa kita adalah sebuah makhluk yang  memiliki banyak kekurangan maka kita akan selalu berusaha untuk menutupi  kekurangan-kekurangan itu dengan mengubah kekurangan itu menjadi sebuah  kelebihan, dan jika tidak mampu maka kita cari kelebihan yang ada pada  diri kita untuk kemudian kita kelola dan kembangkan potensi itu untuk  menggapai sebuah kesuksesan dalam hidup, karena Allah AWT menciptakan  manusia lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang  mengandung maksud d<em>iantara manusia itu untuk saling melengkapi satu sama  lain yang akhirnya tercipta suatu hubungan dan silaturahim antara  manusia di muka bumi ini</em>. Namun terkadang <strong>egoisme dan idealisme</strong> pribadi yang membungkus sebuah kesadaran bahwa kita adalah <strong>manusia yang penuh kekurangan, manusia yang tidak bisa sempurna dan manusia yang selalu khilaf dalam tindakan dan perbuatan</strong>.  <strong>Egoisme dan Idealisme itu telah menutup mata hati kita</strong> untuk bisa menyadari dan mengakui bahwa kita adalah manusia yang banyak kekurangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-566"></span>Jika kita rasakan banyak orang yang begitu menyukai dan menghargai kita karena kelebihan yang kita miliki adalah sebuah kewajaran.  Dan ketika kita menemukan dan mendapati bahwa seseorang begitu menyukai dan menghargai kita karena kekurangan yang ada pada diri kita alangkah indah dan berharganya kehidupan ini. Namun hal tersebut akan begitu sulit untuk kita dapatkan. MENGAPA..??? karena sebagian orang masih beranggapan bahwa kekurangan adalah sebuah MUSIBAH, kekurangan adalah MELAPETAKA padahal dibalik kekurangan yang ada tersimpan dan tersembunyi kelebihan yang begitu luar biasa. Ada beberapa contoh orang-orang yang memiliki kekurangan namun ternyata mampu berprestasi dan memiliki pengaruh yang luar biasa, karena mereka mampu mengurai kekurangan itu menjadi sebuah Anugrah dan kelebihan yang luar biasa.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Mark Inglis</strong>, mengalami kecelakaan saat pendakian gunung,  mengakibatkan  kedua kakinya harus diamputasi. Tetapi setelah kejadian  itu, ia mendaki  gunung Everest – gunung terganas di dunia.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Hellen Keller</strong>, pada usia 19 bulan tiba-tiba jatuh sakit dan kemudian  kehilangan indera pendengaran dan penglihatannya, dimana saat itu ia  sedang aktif-aktifnya belajar berbicara sebagaimana balita seusianya. Ia  akhirnya menjadi pembicara dan motivator yang terkenal di dunia dan  menjadi pengacara untuk banyak kasus-kasus sosial.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Wilma Rudolph,</strong> semenjak kecil menderita karena campak, cacar air,  gondok, radang paru-paru dan bahkan polio. Akibat polio, kakinya menjadi  sangat lemah dan bentuknya berubah. Dokter mengatakan bahwa ia tidak  akan pernah bisa berjalan lagi. Wilma Rudolph kemudian tercatat sebagai  peraih 3 medali emas olimpiade 1960 dalam perlombaan lari.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ringo Starr,</strong> pemain drum grup musik the Beatle. Ia berasal dari  keluarga yang sangat miskin. Hidup masa kecilnya selalu ditemani dengan  penyakit dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ke-empat orang diatas hanya sebagian kecil dari gambaran orang-orang yang ada kekurangan akan tetapi mampu bangkit dan menunjukkan pada dunia bahwa kekurangan yang ada pada dirinya bukan sebuah hambatan untuk terus berjuang dan berkarya demi kemajuan dan keberhasilan diri kita. Lalu bagaimanakah kita bisa menyikapi dan menjadi lebih kuat menghadapi kehidupan dengan segala keterbatasan dan segala kekurangan yang ada pada diri kita sebagai manusia.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Sadar Diri, </strong>hal terpenting adalah kita harus mampu dan mau menyadari bahwa kita memiliki banyak kekurangan dan sedikit kelebihan, dengan demikian kita bisa menghargai orang lain tanpa memandang orang itu dari strata sosial, tingkat pendidikan dan kemampuan diri-nya, akan tetapi di landasi rasa sosial dan jiwa kemanusiaan.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Selalu Bersyukur (Berdoa)</strong>, dengan mensyukuri apa yang telah kita raih dan kita nikmati adalah sebagai sebuah ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta;</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Menggali Potensi Diri</strong>, kita harus berusaha dan mampu memunculkan potensi yang ada pada diri kita dan harus berusaha untuk mengembangkan potensi itu;</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Pupuk Rasa Percaya Diri</strong>, jauhkan rasa minder dan rendah diri yang ada pada diri kita, kepercayaan diri sangat kita perlukan jika kita ingin sukses dan berhasil.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Menghargai Orang Lain,</strong> dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya sehingga kita-pun akan dihargai dan dicintai orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita;</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Membuka Diri</strong>, kita harus selalu belajar dan berusaha untuk membuka diri bagi orang lain, dengan demikian kita akan selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran dari orang lain demi kemajuan dan perkembangan kita sendiri.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian kita harus mampu menerima dan meyakini bahwa kekurangan kita adalah sebuah anugrah yang begitu indah, karena dengan kekurangan itu kita akan terus dan selalu berusaha untuk berkembang agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Semoga kita selalu bisa menjadikan kekurangan itu sebagai motivasi untuk terus menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri kita , semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/kekurangan-kita-adalah-anugrah-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Kedewasaan dan Mentalitas Pada Sebuah Keberhasilan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/pengaruh-kedewasaan-dan-mentalitas-pada-sebuah-keberhasilan-2/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/pengaruh-kedewasaan-dan-mentalitas-pada-sebuah-keberhasilan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 01:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=560</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<p style="text-align: justify;">Pertama  selamat kepada Belanda dan para fans serta pendukungnya, karena semalam  telah mampu mengalahkan berhasil untuk melajut ke-babak berikutnya  dalam ajang Piala Dunia 2010, sehingga Belanda akhirnya yang lolos ke  semifinal. Pertandingan yang mempertemukan Belanda VS Brazil  dilaksanakan di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth berjalan  cukup menarik, walau di babak pertama Belanda se-akan sulit untuk bisa  menggedor pertahanan Brazil, justeru kebobolan oleh sontekan Robinho  yang lepas dari kawalan pemain-pemain belakang Team Orange karena memang  terlihat kurang solid di babak pertaman. Hingga peluit babak pertama  usia skor 1 – 0 untuk Brazil tidak berubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Berawal dari umpan silang dari sektor  kanan, Julio Cesar yang berusaha meninju bola tidak mengenai sasaran.  Melo yang di saat bersamaan ingin membuang bola justru mengarahkan si  kulit bundar ke dalam gawang sendiri. Kedudukan pun menjadi imbang 1-1.  Gol itu melecut motivasi pemain Belanda. Sneijder sukses merobek jala  Cesar melalui sundulan kepala setelah bola liar dari Kuyt diselesaikan  dengan baik pada menit ke-67.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-560"></span><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/u1djcbWRdDc" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/u1djcbWRdDc"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;">Upaya Brasil untuk menyamakan kedudukan semakin berat  setelah harus bermain dengan sepuluh orang di menit ke-73, karena Melo  diganjar kartu merah akibat perbuatan tidak terpujinya menginjak Arjen  Robben. Bahkan Belanda Nyaris dua kali menjebol gawang Brasil di sepuluh  menit terakhir lewat Kuyt dan Sneijder. Namun peluang ini terbuang  percuma. Hingga laga usai, skor 2-1 untuk kemenangan Belanda tetap  bertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pertandingan semalam begitu  terlihat bahwa Belanda terlihat lebih siap dan dewasa dalam menghadapi  Brazil dan juga terlihat mentalitas pemain jauh lebih bagus daripada  Brazil, dan mungkin salah satu faktor keberhasilan Belanda semalam  adalah kedewasaan dan mentalitas memberikan kontribusi yang cukup  signifikan terhadap keberhasilan Belanda dalam mengalahkan Brazil,  karena jika dilihat dari kualitas pemain kedua team bisa dianggap  berimbang, sebenarnya Brazil lebih solid di lini belakang, namun Brazil  tidak mampu memanfaatkan sisi kelemahan lini belakang dari Belanda,  ekspresi pemain dan emosi pemain begitu terlihat Brazil lebih  meledak-ledak dibandingkan dengan Belanda. Karena Belanda terlihat lebih  tenang, hikmah yang dapat diambil dari pertandingan semalam adalah,  kedewasaan dalam mengendalikan diri dan emosi serta mental yang mampu  kita kendalikan dengan baik akan mampu mempengaruhi kita dalam  bertindak, berbuat dan melakukan tindakan.</p>
</div>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/pengaruh-kedewasaan-dan-mentalitas-pada-sebuah-keberhasilan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>An Article From a Friend</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/an-article-from-a-friend/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/an-article-from-a-friend/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 11:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Sammy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=529</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#8220;I&#8217;ve learned that you cannot make someone love you. All you can do is be someone who can be loved. The rest is up to them.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how much I care, some people just don&#8217;t care back.<br />
I&#8217;ve learned that it&#8217;s not what you have in your life, but who you have in your life that counts.<br />
I&#8217;ve learned that you can get by on charm for about 15 minutes. After that, you&#8217;d better know<br />
something.</p>
<p><span id="more-529"></span>I&#8217;ve learned that you shouldn&#8217;t compare yourself to the best others can do, but to the best you can do.<br />
I&#8217;ve learned that it&#8217;s not what happens to people that&#8217;s important. It&#8217;s what they do about it.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how thin you slice it, there are always two sides.<br />
I&#8217;ve learned that it&#8217;s taking me a long time to become the person I want to be.<br />
I&#8217;ve learned that it&#8217;s a lot easier to react than it is to think.<br />
I&#8217;ve learned that you should always leave loved ones with loving words. It may be the last time you see them.<br />
I&#8217;ve learned that you can keep going long after you think you can&#8217;t.</p>
<p>I&#8217;ve learned that we are responsible for what we do, no matter how we feel.<br />
I&#8217;ve learned that either you control your attitude or it controls you.<br />
I&#8217;ve learned that regardless of how hot and steamy a relationship is at first, the passion fades and there had better be something else to take its place.<br />
I&#8217;ve learned that heroes are the people who do what has to be done when it needs to be done, regardless of the consequences.<br />
I&#8217;ve learned that learning to forgive takes practice.<br />
I&#8217;ve learned that there are people who love you dearly, but just don&#8217;t know how to show it.<br />
I&#8217;ve learned that money is a lousy way of keeping score.<br />
I&#8217;ve learned that my best friend and I can do anything or nothing and have the best time.</p>
<p>I&#8217;ve learned that sometimes the people you expect to kick you when you&#8217;re down may be the ones to help you get back up.<br />
I&#8217;ve learned that I&#8217;m getting more and more like my grandma, and I&#8217;m kinda happy about it.<br />
I&#8217;ve learned that sometimes when I&#8217;m angry I have the right to be angry, but that doesn&#8217;t give me the right to be cruel.<br />
I&#8217;ve learned that true friendship continues to grow, even over the longest distance. Same goes for true love.<br />
I&#8217;ve learned that just because someone doesn&#8217;t love you the way you want them to doesn&#8217;t mean they don&#8217;t love you with all they have.</p>
<p>I&#8217;ve learned that maturity has more to do with what types of experiences you&#8217;ve had and what you&#8217;ve learned from them and less to do with how many birthdays you&#8217;ve celebrated.<br />
I&#8217;ve learned that you should never tell a child her dreams are unlikely or outlandish. Few things are more humiliating, and what a tragedy it would be if she believed it.<br />
I&#8217;ve learned that your family won&#8217;t always be there for you. It may seem funny, but people you aren&#8217;t related to can take care of you and love you and teach you to trust people again. Families aren&#8217;t biological.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how good a friend someone is, they&#8217;re going to hurt you every once in a while and you must forgive them for that.<br />
I&#8217;ve learned that it isn&#8217;t always enough to be forgiven by others. Sometimes you have to learn to forgive yourself.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how bad your heart is broken the world doesn&#8217;t stop for your grief.</p>
<p>I&#8217;ve learned that our background and circumstances may have influenced who we are, but we are responsible for who we become.<br />
I&#8217;ve learned that sometimes when my friends fight, I&#8217;m forced to choose sides even when I don&#8217;t want to.<br />
I&#8217;ve learned that just because two people argue, it doesn&#8217;t mean they don&#8217;t love each other. And just because they don&#8217;t argue, it doesn&#8217;t mean they do.<br />
I&#8217;ve learned that sometimes you have to put the individual ahead of their actions.<br />
I&#8217;ve learned that we don&#8217;t have to change friends if we understand that friends change.</p>
<p>I&#8217;ve learned that if you don&#8217;t want to forget something, stick it in your underwear drawer.<br />
I&#8217;ve learned that you shouldn&#8217;t be so eager to find out a secret. It could change your life forever.<br />
I&#8217;ve learned that the clothes I like best are the ones with the most holes in them.<br />
I&#8217;ve learned that two people can look at the exact same thing and see something totally different.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how you try to protect your children, they will eventually get hurt and you will hurt in the process.<br />
I&#8217;ve learned that there are many ways of falling and staying in love.<br />
I&#8217;ve learned that no matter the consequences, those who are honest with themselves, get further in life.</p>
<p>I&#8217;ve learned that many things can be powered by the mind, the trick is self-control.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how many friends you have, if you are their pillar, you will feel lonely and lost at the times you need them most.<br />
I&#8217;ve learned that your life can be changed in a matter of hours by people who don&#8217;t even know you.<br />
I&#8217;ve learned that even when you think you have no more to give, when a friend cries out to you, you will find the strength to help.<br />
I&#8217;ve learned that writing, as well as talking, can ease emotional pains.<br />
I&#8217;ve learned that the paradigm we live in is not all that is offered to us.<br />
I&#8217;ve learned that credentials on the wall do not make you a decent human being.</p>
<p>I&#8217;ve learned that the people you care most about in life are taken from you too soon.<br />
I&#8217;ve learned that although the word &#8220;love&#8221; can have many different meanings, it loses value when overly used.<br />
I&#8217;ve learned that it&#8217;s hard to determine where to draw the line between being nice and not hurting people&#8217;s feelings and standing up for what you believe.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how fast or how far you go, you can&#8217;t outrun God.<br />
I&#8217;ve learned that no matter how far away I&#8217;ve been, He&#8217;ll always welcome me back.<br />
I&#8217;ve learned that love is not for me to keep, but to pass on to the next person I see.<br />
I&#8217;ve learned that even if you do the right thing for the wrong reason, it&#8217;s still the wrong thing to do.&#8221;</p>
<p>Special thanks for Mbak Sammy Samini atas tulisan-nya.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/an-article-from-a-friend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Sang Semut.. !!!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/belajar-dari-sang-semut/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/belajar-dari-sang-semut/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 12:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Semut-Salaman.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-511" title="Semut Salaman" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Semut-Salaman.jpg" alt="" width="127" height="66" /></a>Semut, serangga satu ini adalah satu ciptaan Allah SWT yang menurut saya begitu gigih dalam memperjuangkan dan meraih suatu keberhasilan dalam hidup,  begitu rukun dan ramah antara satu dengan yang lainnya. Jika kita amati secara mendalam perilaku semut, sangat bagus untuk kita jadikan filosofi dalam hidup kita, apakah yang terbersit dalam alam pikir kita ketika melihat semut, dalam sekilas kita akan merasa sebal dengan semut, karena semut akan mengganggu makanan dan terlihat kotor, namun dibalik itu semua dapat kita ambil sebuah pelajaran berharga dari sosok semut ini.   <span id="more-508"></span>Filosofi itu antara lain :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Semut selalu menyapa ketika berpapasan dengan sesama semut, dan dia tidak memandang semut itu siapa, asal dari mana, keturunan siapa, pekerjaannya apa dan sebagainya dan sebagainya. Setiap bertemu tanpa pikir panjang akan saling menyapa. Manusia belum tentu bertemu dengan manusia lain akan saling menyapa apalagi belum kenal, padahal dengan saling menyapa kita akan semakin menambah teman dan mempererat tali silaturahim, lalu mengapa terkadang kita sering mengabaikan hal ini, banyak hal dan faktor yang menjadi penyebabnya, mungkin merasa minder, tidak setingkat, merasa lebih rendah atau bahkan sebaliknya. Sobat tidakkah kita malu dengan semut yang hanya binatang namun memiliki kerendahan hati yang dalam untuk saling menyapa ketika bertemu.</li>
<li>Semut adalah sosok binatang yang gigih dan pantang menyerah, ia tidak akan pernah mundur walau halangan dan rintangan menghadang dia, karena ketika mereka terhalang dan Anda berusaha menghentikan langkahnya, maka semut akan mencari jalan yang lain.  Bahkan mereka akan terus berbaris beriringan mengikuti langkah pemimpinnya sampai pada tujuannya.   Semut akan berjalan naik ke atas, berjalan turun ke bawah dan bahkan berkeliling sampai menemukan jalan.   Dan manusia terkadang cepat putus asa jika apa yang ia lakukan menemukan jalan buntu tidak ada keinginan untuk mencari jalan keluar yang lain, dan rasa putus asa inilah yang kadang menjadi penyebab kegagalan dari sebuah cita-cita, Sobat mengapa kita tidak berusaha untuk bisa lebih sabar dan berusaha lebih keras lagi untuk meraih cita-cita kita, jangan pernah menyerah untuk mencari jalan keluar sampai tujuan tercapai.</li>
<li style="text-align: justify;">Semut selalu berasumsi bahwa musim dingin adalah musim panas, yang mengadung makna bahwa semut mengumpulkan makanan mereka untuk di musim dingin pada saat pertengahan musim panas, tidak ada kamus berhenti mencari dan mengusung makanan pada diri semut, ketika makanan dan sumber kehidupan masih ada, akan ia ambil sampai habis baru mencari sumber-sumber kehidupan yang lainnya. Namun pada diri manusia terkadang tidak begitu mempertimbangkan dan memperhatikan bahwa kehidupan terus berputar dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, lusa atau kehidupan setelah ini, sehingga terkadang kita lalai untuk bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.  Sobat akankah kita hanya berpangku tangan menunggu apa yang sudah kita dapati, cukup puas dengan sebuah keberhasilan dan tidak ada keinginan untuk berbuat lebih dalam kebaikan.</li>
<li style="text-align: justify;">Semut telah memiliki hak dan tanggungjawab masing-masing tidak pernah ada rasa iri, cemburu bahkan saling berebut apa yang telah dilaksanakan oleh semua, tidak ada semut sikut kiri sikut kanan hanya untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak dan tanggungjawabnya, namun pada diri manusia selalu saja ada rasa iri, dengki dan cemburu antara satu dengan yang lainnya, entah cemburu karena melihat keberhasilan, kebahagiaan atau bahkan kesuksesan orang lain. Sobat mengapa kita tidak berusaha untuk bisa menjadikan keberhasilan, kebahagian dan kesuksesan orang lain sebagai motivator bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Mungkin empat hal diatas dapat kita jadikan sebagai bahan untuk merenungkan kembali filosofi kehidupan semut yang ternyata bagus juga untuk kita terapkan di dalam kehidupan kita, sehingga akan dapat menjalankan kehidupan ini dengan lebih nyaman lagi. Intinya adalah filosofi semut yang dapat kita tiru adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Bersikap ramah dan membudayakan saling menyapa terhadap sesama untuk menyambung tali silaturahim.</li>
<li>Selalu gigih dan pantang menyerah dalam usaha menggapai cita-cita.</li>
<li>Tidak mudah putus asa dalam menjalankan tugas dan kewajibannya</li>
<li style="text-align: justify;">Jauh dari rasa iri dan dengki terhadap keberhasilan, kebahagiaan dan kesuksesan orang lain, jadikan hal itu sebagai motivasi dalam mewujudkan cita-cita.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/belajar-dari-sang-semut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulat, Kepompong, Kupu-kupu Refleksi Sebuah Kehidupan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/ulat-kepompong-kupu-kupu-refleksi-sebuah-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/ulat-kepompong-kupu-kupu-refleksi-sebuah-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 09:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=495</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/02/kupu_metamorph.gif"><img class="alignright size-full wp-image-500" title="kupu_metamorph" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/02/kupu_metamorph.gif" alt="" width="150" height="138" /></a>Mendengar kata ulat yang terbayang dalam angan kita adalah sosok makhluk yang begitu menjijikan dan terbayang sebuah kerasukan, tidak sedikit orang yang begitu geli dan bahkan jijik bila melihat ulat, belum lagi ulat adalah makhluk perusak karena ketika makan tidak akan berhenti sebelum yang dimakannya habis, sehingga ulat begitu identik dengan sifat-sifat yang kurang baik, namun ketika ulat tersebut telah menjadi kupu-kupu terlihat sebuah keindahan dan ke-elokan dari makhluk ciptaan Tuhan. Makanannya pun serbuk sari dari kuncup-kuncup bunga dan apa yang dilakukan kupu-kupu adalah sebuah hal yang mulia karena dari kaki-kaki-nya akan menyebarkan benih-benih tumbuhan, serta terjadi persilangan tumbuhan secara alami.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-495"></span><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Ulat.jpg"><img class="size-full wp-image-499 alignleft" title="Ulat" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/02/Ulat.jpg" alt="" width="210" height="158" /></a>Ulat untuk menjadi kupu-kupu harus terlebih dahulu menjadi kepompong, itulah sebuah metamorfosa yang harus dilewati dan kita tidak mengalami Metamorfosa, dalam artian fisik yang sesungguhnya, tidak mengalami proses terlahir serupa telur, menjadi ulat, menjadi kepompong lalu terlahir kembali menjadi seperti kupu-kupu. Tetapi sebenarnya, dengan sebuah pemahaman bahwa manusia selalu mengalami perubahan hidup itu ya dan pasti.  Ada sebuah proses metamorfosa dapat terjadi pada manusia secara psikologis pada momen-momen tertentu dalam kehidupan, yang menandai berbagai macam perubahan, baik perubahan peran, perubahan kepribadian, perubahan kualitas hidup, bahkan perubahan nasibnya. Setiap proses perubahan yang terjadi, mengandung pilihan bijak individu, untuk berubah menjadi sosok yang lebih indah &#8211; bagaikan kupu-kupu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu pembeda antara manusia dengan ulat dimana ulat tidak memiliki pilihan, karena ia hanya akan menjadi kupu-kupu akan tetapi manusia justru memiliki kesempatan untuk memilih akan menjadi manusia yang bagaimana dan seperti apa, dan proses inilah yang merupakan sebuah metamorfosa dalam diri manusia, menumbuhkan motivasi dalam diri, mengambil keputusan, menjalani proses belajar, memaknai hidup dan menjadi (seperti) Kupu-kupu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulat harus berubah menjadi kepompong baru akan menjadi kupu-kupu, sedangkan manusia lahir sebagai bayi berkembang yang kemudian menjadi anak-anak terus menginjak remaja berubah sebagai manusia dewasa untuk mempersiapkan diri menghadapi hari tua-nya dengan sebuah kebahagiaan. Yang dapat kita ambil dari hikmah dalam sebuah metamorfosa ulat menjadi kupu-kupu adalah :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Ulat, adalah sebuah makhluk hidup yang ia gunakan hidup-nya untuk makan dan makan tanpa ada tindakan apapun selain menghabiskan apa yang ia bisa makan, sama hal-nya dengan manusia ketika masih bayi hingga anak-anak karena masih dalam masa pertumbuhan baik fisik maupun psikis-nya, maka terkadang usia bayi dan anak-anak adalah masa-masa pembentukan jatidiri manusia.</li>
<li style="text-align: justify;">Kepompong perubahan dari ulat dimana ia tidak lagi makan, akan tetapi sudah terbungkus cangkang yang ia akan berpuasa tidak bergerak untuk bisa berubah menjadi kupu-kupu, jika dalam kehidupan manusia usia remaja hingga dewasa-lah hal ini kita lakukan, pada masa-masa remaja hingga dewasa manusia mulai bisa berpikir dan merenungkan akan apa yang akan ia lakukan dan perbuat untuk bisa menuju sebuah kesuksesan hidup. Jika memang ia habiskan waktu remaja dan dewasa-nya untuk foya-foya, bermalas-malasan, atau hanya berdiam diri, maka di hari tua-nya nanti hanya berbuah penyesalan, berbeda jika masa remaja hingga dewasa ia gunakan untuk belajar, bekerja keras, terus termotivasi untuk maju di hari tua kelak kebahagian hakiki yang ia peroleh.</li>
<li style="text-align: justify;">Kupu-kupu sebuah makhluk yang begitu indah dipandang dan menyenangkan, sosok kupu-kupu adalah buah dari hasil perjuangan kepompong dalam cangkang dan keluar dengan susah payah yang akhirnya memiliki sayap-sayap indah untuk terbang. Demikian hal-nya manusia jika kita bisa memanfaatkan waktu remaja dan dewasa dengan sebaik-baiknya, di hari tua tidak akan rugi karena tujuan hidup dapat tercapai.</li>
</ol>
<p>Potret bagaimana perjuangan ulat untuk menjadi kupu-kupu dapat kita lihat dalam video berikut :<a class="aligncenter" href="http://"><object id="kupu" style="width: 425px; height: 350px;" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="swliveconnect" value="true" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="showall" /><param name="salign" value="r" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="name" value="Kupu-kupu" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/GTUgUEpqBrA&#38;feature" /><param name="align" value="top" /><param name="bgcolor" value="#0066ff" /><param name="vspace" value="5" /><param name="hspace" value="5" /><embed id="kupu" style="width: 425px; height: 350px;" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/GTUgUEpqBrA&#38;feature" hspace="5" vspace="5" bgcolor="#0066ff" align="top" name="Kupu-kupu" wmode="transparent" salign="r" scale="showall" quality="high" swliveconnect="true"></embed></object></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dan itulah sebuah potret metamorfosa sebuah makhluk hidup berupa ulat untuk bisa menjadi kupu-kupu ternyata diperlukan sebuah perjuangan yang tidak mudah dan ringan, akankah kita sebagai manusia hanya akan berserah dan berdiam diri saja untuk mencapai sebuah tujuan dalam hidup.  Untuk itu rekan Black Community Maka setidaknya untuk mencapai tujuan dan cita-cita dalam kehidupan kita, minimal kita harus melakukan hal-hal berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Pertama, menentukan tujuan secara spefisik, begitu variatifnya tujuan hidup kita menjadikan kita tidak fokus akan apa yang menjadi keinginan kita dalam hidup ini, untuk lebih spesifik-nya kita bisa menentukan visi, misi dan tujuan dari kehidupan kita, karena ternyata hanya 5 persen di antara mereka yang memiliki tujuan yang spesifik. Selebihnya hanya tujuan yang ngambang yang tidak jelas cara pencapaiannya. Seperti, tujuan hidup adalah menjadi manusia yang berguna untuk nusa bangsa dan negara, menjadi manusia yang bermanfaat, dll.</li>
<li style="text-align: justify;">Kedua, buat keputusan untuk memulai melangkah dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Punya tujuan hidup saja tanpa memutuskan untuk mulai melangkah tidak memiliki arti apa-apa. Karena bisa saja kita hanya terjebak pada niat kita ingin bertindak A atau berbuat B akan tetapi tidak segera melangkah, maka yang ada hanya sebuah konsep tanpa tindakan;</li>
<li style="text-align: justify;">Ketiga, fleksibel dalam menggunakan cara untuk mencapai tujuan bukan berarti meng-halal-kan segala cara. Satu cara bisa saja berhasil dan bisa juga tidak berhasil mencapai tujuan. Artinya, kalau satu jalan berhasil mencapai tujuan kita dapat menyumpulkan memang itulah caranya. Namun apabila satu<a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/02/kupu2-menghisap-madu.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-502" title="kupu2 menghisap madu" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/02/kupu2-menghisap-madu.jpg" alt="" width="173" height="130" /></a> cara belum berhasil, jangan cepat putus asa. Ulangi kembali dengan cara lain yang berbeda sampai berhasil.</li>
<li style="text-align: justify;">Dan yang terakhir, keempat pahami hukum proses. Hukum proses mengatakan bahwa untuk mencapai satu titik maka diperlukan waktu tertentu. Bisa cepat, bisa juga lambat. Dan ini artinya, untuk mencapai satu tujuan tertentu tidak ada istilah karbitan, jalan pintas, karena semua butuh sebuah proses yang harus dilalui setiap tahapannya, tidak ada kesuksesan tanpa mengerti sebuah perjuangan dan kegagalan, tidak akan merasa bahagia tanpa senang memaknai rasa sedih dan duka.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dan ke-empat langkah tadi tentunya harus disertai dengan doa dan motivasi tinggi untuk bisa mewujudkan apa yang akan kita capai, Ulat menjadi Kepompong  dan kepompong menjadi Kupu-kupu adalah Refleksi sebuah kehidupan yang pantas untuk kita maknai untuk memunculkan motivasi dalam hidup.   Demikian tulisan ini semoga bermanfaat terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/ulat-kepompong-kupu-kupu-refleksi-sebuah-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Belajar Jaminan Masa Depan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/sukses-belajar-jaminan-masa-depan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/sukses-belajar-jaminan-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 03:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Belajar.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-470" title="Belajar" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/01/Belajar.jpg" alt="" width="96" height="96" /></a>Mungkin judul diatas, bisa menjadi satu kebenaran akan tetapi bisa jadi judul diatas adalah isapan jempol belaka, masa depan sukses sudah barang tentu akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satu faktor penentu disini adalah bagaimana kita waktu belajar (baca sekolah), mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga ke jenjang Perguruan Tinggi, pernahkan kita meng-evaluasi hasil belajar kita sendiri ?, pernahkan kita menentukan target ketika kita masih sekolah dulu?. Hal yang jarang bahkan mungkin tidak pernah kita lakukan, sehingga hasil belajar kita tidak bisa optimal. Yang ending-nya dengan hasil belajar yang minim akan menyulitkan kita untuk memperoleh kesempatan kerja yang lebih luas, karena dinegeri ini untuk bisa bekerja ditempat yang nyaman, enak beragam fasilitas akan ditentukan dari nilai-nilai kita sewaktu belajar dulu..??, inilah yang dimaksudkan bahwa <strong>Sukses Belajar Adalah Jaminan Masa Depan.</strong> Berdasarkan pada hal tersebut, akan kita coba untuk share disini bagaimana trik dan tips belajar yang sukses tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-227"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kita tahu bahwa setiap manusia memiliki <strong>WAKTU </strong>yang sama, <em>12 bulan dalam setahun; 365 hari dalam setahun, 24 jam dalam sehari; 60 menit dalam satu jam</em>, <strong><span style="color: #0000ff;">lalu mengapa kita bisa memiliki prestasi yang berbeda satu dengan yang lainnya.??</span></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini terjadi karena satu hal, WAKTU yang ada untuk kita tidak di-manage dengan baik, secara tidak sadar kita telah membuang waktu itu dengan percuma, menggunakan waktu dengan tidak maksimal. Padahal waktu adalah sesuatu yang begitu berharga. Setelah kita mampu memanage waktu dengan baik, baca di       <a href="http://www.ekasulistyana.co.cc/2009/04/17/3-tiga-kunci-sukses-kuliah/#more-224">3 (Tiga) Kunci Sukses Kuliah</a>. Maka langkah selanjutnya adalah bagaimana kita menentukan pola belajar tentunya setiap orang memiliki cara dan metode belajar yang berbeda-beda, inilah yang akan menentukan prestasi belajar kita. Terkadang ada yang bisa memahami materi hanya dengan mendengar saja, tidak sedikit yang memerlukan kemandirian untuk mencoba soal dan latihan, namun disisi lain ada pula yang mengandalkan daya ingat saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda suka belajar dengan Cara/Konsep Visual (Melihat) , maka perhatikan dan lakukan hal-hal berikut ini :</p>
<ol>
<li>Gunakan gambar, grafik atau bahkan peta;</li>
<li>Gambarkan (visualkan) bahan belajar dalam benak anda;</li>
<li>Uraikan dengan bahasa anda, materi dan bahan belajar;</li>
<li>Berikan warna, garis atau tanda-tanda khusus pada materi belajar;</li>
</ol>
<p>Apabila anda suka belajar dengan Cara Auditori (Mendengar), maka hal yang perlu kita lakukan adalah :</p>
<ol>
<li>Dengarkan dengan baik penjelasan materi oleh guru/dosen/pemateri dan buat catatan kecil;</li>
<li>Terangkan dengan lisan materi tersebut pada teman; (terangkan kembali dengan bahasa sendiri);</li>
<li>Gunakan nada-nada dan lagu-lagu untuk membantu mengingat materi.</li>
</ol>
<p>Se-andainya anda menyukai belajar dengan Cara Kinestik (Menulis atau Merangkai), maka hal yang mesti kita perhatikan adalah :</p>
<ol>
<li>Optimalkan anggota tubuh kita untuk bisa menerima informasi dan saling komunikasikan, telinga, mata tangan dan pikiran (fokus);</li>
<li>Memperbanyak latihan-latihan soal;</li>
<li>Ingat dan tuliskan point-point penting.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Disisi lain terkadang kita suka belajar bareng (kelompok) akan tetapi ada juga yang suka belajar mandiri (sendiri), dan kedua metode belajar ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan untuk bisa memperoleh hasil belajar yang maksimal, kita harus bisa menyikapi beberapa hal ketika kita belajar berkelompok dan ketika kita belajar sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita ingin belajar berkelompok, maka langkah awal yang harus kita perhatikan adalah :</p>
<ol>
<li>Pilih dan ajak teman yang cocok dengan kita dan sebaliknya;</li>
<li>Saling share catatan, lihat bandingkan dan lengkapi satu sama lainnya;</li>
<li>Tukar informasi dan metode pengerjaan soal dan bukan hanya jawaban dari soal tersebut;</li>
<li>Ada penjadualan yang jelas kapan dan dimana belajar kelompok dilaksanakan.</li>
</ol>
<p>Demikian halnya jika kita ingin belajar sendiri, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan, antara lain adalah :</p>
<ol>
<li>Cari literatur sebanyak mungkin, baik materi maupun contoh soal;</li>
<li>Perlu tempat yang tenang, karena akan lebih konsentrasi jika suasana tenang dan damai;</li>
<li>Ajak rekan, teman untuk berdiskusi setelah kita merasa paham dengan materi; akan lebih baik teman diskusi mereka yang memiliki pemahaman lebih tinggi dari kita.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dari uraian tersebut diatas, satu hal yang harus benar-benar kita camkan, bahwa B<strong>ELAJAR ITU BUKAN MEMBACA, TETAPI MEMAHAMI DAN MENGERTI</strong>. Dengan demikian membaca hanya salah satu cara kita belajar saja. Sebenarnya belajar yang baik dan benar adalah <span style="color: #0000ff;"><em>&#8220;dengan melakukan survey (bisa menterjemahkan dengan bahasa kita sendiri akan materi yang kita pelajari</em>, <strong>dengan mengumpulkan bahan dari berbagai sumber)</strong>; <em>dengan membuat beberapa pertanyaan terkait dengan materi yang kita pelajari, cari jawaban dengan MEMBACA catatan dan literatur yang ada</em>; <strong>dengan menceritakan kembali apa yang sudah kita pelajari</strong>; <em>dengan membuat catatan-catatan terhadap hasil belajar kita</em>.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Akhrinya semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa memotivasi kita untuk dapat belajar lebih baik lagi sehingga kita sudah investasi untuk masa depan, karena ingat bahwa ILMU PENGETAHUAN ADALAH PELITA HIDUP.. terima kasih dan sukses selalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Disarikan dari berbagai sumber bacaan:</p>
<address style="text-align: justify;">Steven Covey, The 7 Habits of Highly Effective Teens, Binarupa Akasara, Jkt, 2001.</address>
<address style="text-align: justify;">Dave Ellis, Becoming a Master Student, 10th ed. Houghton Minfflin Company, USA, 2003.</address>
<address style="text-align: justify;">Robert Feldman, Power Learning, 2nd ed, Mc Graw Hiil, USA, 2003.<br />
</address>
<address style="text-align: justify;"><!--[if !mso]> <mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} p\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} v\:textbox {display:none;} --> <!--[endif]--><!--[if !ppt]--><!-- .O 	{color:black; 	font-size:149%;} a:link 	{color:#CCCCFF !important;} a:active 	{color:#3333CC !important;} a:visited 	{color:#B2B2B2 !important;} --><!-- .sld 	{left:0px !important; 	width:6.0in !important; 	height:4.5in !important; 	font-size:103% !important;} --><!--[endif]--> </address>
<address></address>
<p style="text-align: justify;">
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/sukses-belajar-jaminan-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nglampahi MALIMA, Ngupadi Tentreming Bebrayan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/nglampahi-malima-ngupadi-tentreming-bebrayan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/nglampahi-malima-ngupadi-tentreming-bebrayan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Malima.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-398" title="Malima" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Malima.jpg" alt="" width="93" height="105" /></a>Asring mireng, ugi asring nyipati ukara utawi tembung MALIMA, wonten ing bebrayan jawi mireng tembung/ukara MALIMA tamtu wonten ing pengangen-angen badhe gadhahi pamanggih meniko babagan ingkang mboten sae, perkawis lumrah amargi ingkang dipun mangertosi MALIMA meniko, tindak tanduk ingkan mboten sae, mursal, nerak wewaler, ugi ngingkari punapa ingkang sampun dipun tuntunakaen dening agami menopo kemawon.  Sak jatosipun MALIMA sanes perkawis ingkang awon mawon, wonten MALIMA ingkang sae lan kedah dipun lampahi wonten ing bebrayan meniko, ananging tamtunipun kita sami kedah saget milah lan milih MALIMA ingkang pundhi ingkang badhe dipun lampahi. Pilihan wonten ing pribadi kula lan panjenengan piyambak-piyambak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-397"></span></p>
<p style="text-align: justify;">MALIMA ingkang dipun mangertosi dening masyarakat jawi umum-ipun inggih meniko :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>MA</strong> ingkang sepindah <strong>MALING</strong> (mencuri) inggih meniko tumindak mendet kagunganipun tiyang sanes tanpa nyuwun idhi palilah saking ingkang kagungan, ngakeni punapa ingkang sanes hak-ipun punika kalebet MALING.</li>
<li><strong>MA</strong> ingkang kaping kaleh <strong>MAIN</strong> (berjudi), main wonten ing bebrayan jawi mengku karep tumindak ingkang bebotohan, ngagem yatra utawi arta lan bondho sanesipun kagem mbotoh-i kegiatan menopo kemawon, umum-ipun main inggih meniko adu jago, toh-tohan, kertu, lan sak panunggalanipun;</li>
<li><strong>MA</strong> ingkang kaping ketiga <strong>MADAT</strong> (konsumsi obat terlarang), rikala rumiyin kasebat candu, jenewer umpami wonten-ing jaman modern niki MADAT sami kaliyan nyimeng, nganjan, nyabu lan ngepil, tumindak ingkang ngunsumsi NARKOBA;</li>
<li><strong>MA</strong> ingkang kaping sekawan <strong>MABUK</strong> (minum-minuman keras), tumindak nginum ngantum mendem, mabuk lan sak panunggalanipun;</li>
<li><strong>MA</strong> angka gansal inggih meniko <strong>MADON</strong> (main perempuan/selingkuh), tumindak cumanthoko ngrusak pager ayu, utami asring dolanan pinyantun pawestri, remen nglampahi hubungan lanang wadon ingkan mboten ngagem paugeraning agama lan negara, sex bebas.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>MALIMA</strong> ingkang kasebat ing nginggil ingkan kedah dipun singkiri wonten ing bebyaran kita sami, ampun ngantos dipun lampahi, njih gangsal perkawis ingkang ndamel rusak-ipun tatatanan ugi paugeranipun ngagesang, ndados-aken piyantuk ingkang numindakaken <strong>MALIMA</strong> gesang-ipun mboten saget tentrem, dipun tebihaken saking kebahagiaan donya lan akherat.</p>
<p style="text-align: justify;">Lajeng MALIMA kagem ngupadi tentreming bebrayan ingkang kulo kajengaken inggih meniko :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping sepindah <strong>MA-NEMBAH</strong> (berdoa) tansah nyenyuwun dumateng Gusti numindakaken sedoyo ingkang dipun wajib-aken dumateng titahipun menungsa supados tansah eling dumateng Penciptanipun, inggih Gusti Ingkang Akarya Jagad, agama menopo kemawon;</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping kaleh <strong>MA-KARYA</strong> (bekerja), nyambut damel kanthi sregep ugi halal kagem sangu gesang wontenipun ngalam donya ugi akherat, makarya kangge numindakaken jijibahan agung ing agesang.</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping tiga <strong>MA-NGABEKTI</strong> (berbakti), kita saget ngrasosaken gesang ing alam donya lumantar saking bapa biyung, sampun sak trepipun bilih darma-nipun putra dumateng tiyang sepah meniko wajib hukum-ipun.</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping sekawan <strong>MA-KUMPUL (srawung)..</strong> (bermasyarakat) tumrap sapadha-padha, gesang meniko mboten piyampak wonten rencang, sederek, keluarga ugi masyarakat, meningko makhluk sosial tamtunipun kedhah saget gesang kaliyan tiyang sanes, lir-ipun gesang wonten ing ngalam donya kedah saget srawung sae kaliyan sesami.</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping gangsal <strong>MA-NGERTINI</strong> (mengerti, memahami) anak bojo lan keluarga, supados langkung tentrem wontening bebyaran meniko tamtunipun kedah saget, mbangun bale somah kanthi paugeran lan tatanan ingkang sae, kanthi rasa sih tresno ingkang tulus lan ikhlas hubungan antawis sederek ndadosaken pondasi ugi landasan kagem sesrawungan wontening masyarakat.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">MALIMA meniko ingkang saget dados landasan kagem ngupadi tentreming bebrayan wonten ing ngalam donya ing tembenipun kagem sangu wonten ing alam kelanggengan samangke. Kanthi mekaten MALIMA mboten mesti nggadahi pemanggih ingkang awon amargi MALIMA ingkang kula maksud meniko ingkang mengku karep sae. Mugi kita sami saget nglampahi kanthi sae lan ikhlas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mugi-mugi seratan meniko wonten manfaatipun dumateng kula ugi ingkang maos, wonten kirang langkung anggep kula nyerat mbok bilih namung agunging sih samudra pangraksami ingkang kathah dumateng para maos sedaya, matur suwun..</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/nglampahi-malima-ngupadi-tentreming-bebrayan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>