Tag Posting Kehidupan
Cermin, Refleksi Sebuah Kejujuran
Cermin, siapa yang tidak tahu dan mengenal benda yang satu ini, karena dalam setiap ruang, setiap sisi-sisi rumah akan selalu ada benda ini, tiada habisnya kita mamatut diri didepan cermin untuk sekedar bisa melihat apa yang kurang pantas pada diri kita, karena jelas bawah pengertian cermin sendiri adalah permukaan memantul yang cukup licin untuk membentuk imej. Cermin dikenali ramai sebagai sejenis benda yang boleh memantulkan cahaya ataupun bayang-bayang. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin). Ach.. itu hanyalah sebuah definisi dan pengertian, namun pernahkah kita sedikit memahami fungsi cermin itu lebih jauh dan lebih dalam lagi, bahwa cermin tidak sekedar pemantul bayang-bayang, bahwa cermin tidak sekedar alat untuk melihat sudah pantaskah dandanan kita. Pernahkah kita menyadari bahwa cermin begitu jujur pada kita. Karena apa yang ada pada diri kita akan dipantulkan demikian apa adanya oleh cermin.
Inilah Mengapa Saya Begitu Menyukai Ketokohan Yudishtira

Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera Pandu. Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu” dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama Kerajaan Amarta. Nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Ia juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.
Kekurangan Kita Adalah Anugrah Yang Indah…
Dengan memiliki sebuah kesadaran bahwa kita adalah sebuah makhluk yang memiliki banyak kekurangan maka kita akan selalu berusaha untuk menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan mengubah kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan, dan jika tidak mampu maka kita cari kelebihan yang ada pada diri kita untuk kemudian kita kelola dan kembangkan potensi itu untuk menggapai sebuah kesuksesan dalam hidup, karena Allah AWT menciptakan manusia lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang mengandung maksud diantara manusia itu untuk saling melengkapi satu sama lain yang akhirnya tercipta suatu hubungan dan silaturahim antara manusia di muka bumi ini. Namun terkadang egoisme dan idealisme pribadi yang membungkus sebuah kesadaran bahwa kita adalah manusia yang penuh kekurangan, manusia yang tidak bisa sempurna dan manusia yang selalu khilaf dalam tindakan dan perbuatan. Egoisme dan Idealisme itu telah menutup mata hati kita untuk bisa menyadari dan mengakui bahwa kita adalah manusia yang banyak kekurangannya.
Ulat, Kepompong, Kupu-kupu Refleksi Sebuah Kehidupan
Ditulis oleh admin dalam Filosofi Hidup, Motivasi pada 10 Februari 2010
Mendengar kata ulat yang terbayang dalam angan kita adalah sosok makhluk yang begitu menjijikan dan terbayang sebuah kerasukan, tidak sedikit orang yang begitu geli dan bahkan jijik bila melihat ulat, belum lagi ulat adalah makhluk perusak karena ketika makan tidak akan berhenti sebelum yang dimakannya habis, sehingga ulat begitu identik dengan sifat-sifat yang kurang baik, namun ketika ulat tersebut telah menjadi kupu-kupu terlihat sebuah keindahan dan ke-elokan dari makhluk ciptaan Tuhan. Makanannya pun serbuk sari dari kuncup-kuncup bunga dan apa yang dilakukan kupu-kupu adalah sebuah hal yang mulia karena dari kaki-kaki-nya akan menyebarkan benih-benih tumbuhan, serta terjadi persilangan tumbuhan secara alami.











Terima kasih Komentar-nya