<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Kehidupan</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/kehidupan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Epidose Status Facebook (2)</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/epidose-status-facebook-2/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/epidose-status-facebook-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 02:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Gigis]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Status]]></category>
		<category><![CDATA[Susah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=1028</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Biarkan hujan .. biarkan air itu membasahi tubuh, karena sang air penuh kerinduan untuk bisa menyapa dan membasahi tubuhmu, dan biarkan nanti ku dekap dengan kehangatan jiwa dan ketulusan hati, bahwa akupun merindu .. (gigis, 28 Oktober 2011)</p>
<p style="text-align: justify;"> Cintaku padamu tidak berharap balas apapun, karena mampu mencintaimu dengan sepenuh hati adalah sebuah keinginan untuk bisa berhadap kebahagiaan hidup .. ayo nak .. tatap masa depanmu dengan keleluasaan berpikir dan tingginya cita-citamu, karena aku hanya bisa menyertakan doa dan restu dalam setiap langkah dan nafasmu &#8230; (26 Oktober 2011)<span id="more-1028"></span></p>
<div style="text-align: justify;">Dedikasi dan pengabdian menjadi keharusan bagi pekerja terhadap pekerjaannya dan bukan terhadap pimpinan, dan ketika pekerjaan itu tidak mampu memberikan kesejahteraan, kebahagiaan dan tidak lagi menjadikan rasa nyaman dalam bekerja .. sudah saatnya untuk menyudahi pekerjaan itu &#8230; matur  suwun &#8230; nyuwun pangapunten &#8230;. (24 Oktober)</div>
<div style="text-align: justify;">Gambaran kehidupan kita .. laksana gelombang dilautan kadang diatas kadang dibawah, suatu waktu merasa sedih dan dilain waktu bahagia; menikmati sebuah perjalanan dalam hidup adalah jalan terbaik bagi setiap manusia dalam meraih tujuan itu sendiri &#8230; karena gelombang dilautan itu juga naik turun untuk bisa mencapai pantai &#8230; MASIHKAH .. kita tidak bisa bersyukur .. (19 Oktober 2011)</div>
<div style="text-align: justify;">Satu dari sekian jalan menuju kebahagiaan adalah ketika kita mampu menyelaraskan rasa dihati dengan kenyataan hidup; karena ketika hati tidak bisa menerima keadaan itulah sumber dari kesengsaraan &#8230; (07 Oktober 2011)</div>
<div style="text-align: justify;">Kehidupan adalah sekumpulan nada dari beragam suara suka dan tidak suka terhadap apa yang kita jalani dan akan terdengar sumbang; namun akan menjadi lagu indah dan merdu ketika mampu menambahkan melodi-melodi dalam hidup sehingga begitu merasa nyaman dalam menjalani kehidupan itu sendiri &#8230; (27 September 2011)</div>
<div style="text-align: justify;">Manifestasi ikhlas adalah ketika kita bisa menerima dengan lapang dada sebuah ketidaksesuaian antara cita-cita dan realisasi disertai dengan keinginan untuk melakukan instropeksi diri untuk meraih kembali cita-cita itu .. (26 September 2011)</div>
<div style="text-align: justify;">Memaknai sebuah wejangan jawa &#8220;Urip Nang Donya Mung Mampir Ngombe&#8221; .. begitu dalam artinya; &#8211;&#8221;hidup didunia hanya sekedar mampir untuk minum, karena hidup didunia itu tidak abadi, maka lakukan sesuatu yang berarti dalam hidup, jangan pernah menyia-nyiakan kehidupan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat&#8221;&#8211; .. semoga sekali hidup bisa memberikan arti bagi diri sendiri dan orang lain .. amiin (22 September 2011)</div>
<div style="text-align: justify;">Biarkan sisa-sisa indah dan nikmat semalam ku abadikan; karena pagi ini masih terasa nikmat itu bersama secangkir kopi manis &#8230; terima kasih sayang .. !! (21 September 2011)</div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Harga diri manusia tidak dinilai dari melimpahnya harta, tingginya pangkat dan jabatan, tapi sejauhmana ia mampu menghargai orang lain (20 September 2011)</strong></p>
<div style="text-align: justify;">
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">selembar senyum terbingkai indah pada raut wajahmu, .. selamat pagi cinta &#8230; eratkan jemari, tautkan hati dan satukan jiwa, untuk sambut hari ini dengan berharap ridho-Nya &#8230; (15 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Ternyata UANG bisa membikin mata melihat menjadi BUTA, telinga mendengar menjadi TULI; dan perasaan tepa selira menjadi BUAS dan BRUTAL &#8230;; manusia yang begitu santun, halus tingkah laku &#8230; berubah menjadi BERINGAS dan GANAS terkikis sudah jatidiri manusia yang sebenarnya &#8230; mudah-mudahan kita dijauhkan dari hal-hal itu &#8230; pegang, miliki dan manfaatkan UANG dengan bijaksana .. (14 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Untuk bisa bersahabat dengan orang lain dengan begitu indah, cobalah anda bersahabat dengan diri sendiri dulu dengan indah pula .. ??? (11 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Gerimis sore tadi, telah memberikan inspirasi untuk bisa menghabiskan malam ini hanya bersama-mu, karena ingin ku tumpahkan semua rindu dan cintaku hanya kepadamu &#8230; karena gerimis sore tadi .. (10 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Ingin ku beli mimpi, jika para penjual mimpi itu bisa menjamin menjadikan nyata&#8230;; (10 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Keinginan, harapan dan cita-cita adalah sebuah ketetapan dalam mencapai rangkaian keberhasilan hidup seseorang .. (09 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Ketika kita berharap pada sebuah KESUKSESAN, maka ketika itu pula kita harus mampu dan siap menerima sebuah KEGAGALAN .. !! (09 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Walau cuma secangkir penasaran akan berasa pahit jika diaduk dengan sedok ketidakpastian &#8230;. (03 September 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Telah ku urai rinduku, bersama aliran darahku, hembusan nafasku, detak jantungku .. karena engkau adalah jiwaku .. (22 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Investasi yang paling berharga adalah putera-puteri kita, maka rawat dan pelihara-lah dengan bijaksana, ia adalah intan permata yang tidak bisa kita tukarkan dengan apapun, dan bekal yang paling mereka butuhkan untuk dunia akherat bukanlah harta dan kemewahan, akan tetapi IMAN dan TAQWA&#8230; semoga ayah-mu ini mampu memberikan bekal yang cukup nak&#8230; !!! (21 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Desah nafasmu adalah naluri hasratku .. dekap mesramu adalah semangat langkahku .. sebelum ku menapak untuk raih rejekiku pagi ini, ijinkan ku cium keningmu &#8230; (19 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Dekap dan peluk aku dalam cinta-MU, sayangi aku dengan samudra kasih-Mu; dan ijinkan aku mencintai-MU, seperti Engkau mencintaiku &#8230; karena hanya pada-MU kuserahkan jiwa dan ragaku &#8230; (16 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Mentari selalu setia pada janjinya, tidak akan pernah berubah karena selalu menyertai hadirnya hari &#8230; dan ijinkan ku urai cintaku seperti setianya janji sang mentari &#8230; (16 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Obsesiku ingin punya tempat membaca yang dipenuhi segala macam dan jenis buku &#8230; dengan sejuk-nya kembang anggrek, dilain ada kolam kecil disampingnya &#8230; mudah-mudahan &#8230; ??? (13 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Ketika engkau sudah mengatakan &#8220;YA&#8221;, maka jangan pernah ada dalam benakmu untuk mengubah menjadi mengatakan &#8220;TIDAK&#8221; &#8230; karena selama-nya orang tidak akan lagi percaya terhadap apa yang engkau ucapkan &#8230; (08 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Membaca, menulis, berpikir meringkas dan bertanya itulah seorang pembelajar sejati (07 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Menjalani kehidupan yang kita butuhkan adalah sebuah ketentraman dan kedamaian sehingga ditemukan kenyamanan dalam hidup ini, hidup dengan bergelimang harta akan memiliki arti yang sangat berbeda dengan hidup berkecukupan &#8230; ==untuk seseorang yang barusan curhat== (06 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Kepercayaan itu sebuah rasa tulus yang keluar dari hati kecil untuk memegang keteguhan hati akan prinsip dan cita-cita, namun ketika kepercayaan itu terkhianati separuh keteguhan hati telah hilang dan separuhnya berupa prinsip dan cita-cita telah musnah &#8230; ==untuk sobatku== (04 Agustus 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Modal utama untuk menjadi pemimpin sejati adalah KREDIBILITAS, namun terkadang seorang pecundang hanya perlu RUPIAH dan RELIABILITAS untuk memimpin &#8230; bagaimana pendapat anda ..?? (30 Juli 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Terlukis dalam indah senyumnya, ketika terbuai harum nafasmu, saat kupagut asmaramu dalam diam, karena aku sedang merindu &#8230;. (27 Juli 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">Kulo namung sadermi nglampahi punopo ingkang ginaris ing agesang, kanthi raos syukur ugi ikhlas mugi-mugi tansah wontening pangayoman panjenengan duh Gusti .. (25 Juli 2011)</p>
<p data-ft="{&#34;type&#34;:1}">UANG diperlukan, akan tetapi ketika beranggapan bahwa uang adalah segala-nya sebuah kekeliruan besar, karena banyak sisi yang akhirnya menjadikan uang adalah sumber bencana, siapa juga mau jadi manusia BERUANG &#8230;. (16 Juli 2011)</p>
</div>
</div>
<div style="text-align: justify;"> <strong>(hanya sekedar usaha untuk bisa memotivasi diri)&#8230; </strong></div>
<div style="text-align: justify;">Baca juga di <a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/status/">Status</a></div>
</div>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/epidose-status-facebook-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 09:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1010" title="kartu lebaran eka" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Roh Pendidikan Terabaikan .. !!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 01:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Patung-Bung-Karno.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-971" title="Patung Bung Karno" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Patung-Bung-Karno-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Pendidikan adalah proses  harmonisasi antara alam wiraga (dunia tindakan) dan alam wirama (dunia  pengendalian)”  (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, 2 Mei 1889 – 26 April  1959).</strong> Inilah fundamental pendidikan yang ditanamkan Ki Hajar  Dewantoro waktu itu, sehingga dalam lambang dan” ruh” pendidikan  Indonesia memiliki semboya <em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em> <strong>TUTWURI HANDAYANTI, </strong>jika  insan-insan pendidik di negeri ini, pengambil kebijakan (Kemendiknas)  dan juga manusia-manusia yang terhormat (DPR Komisi X)  mengembalikan  akar pendidikan negeri ini ke fundamental pendidikan yang ditancapkan  oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, maka keadaan negeri ini akan  tetap bersatu padu tidak tercerai berai oleh perbedaan pendapat, ras,  partai status sosial dan lain sebagainya. Karena mereka hanya bertujuan  pada pencapaian visi dan misi bersama Indonesia Raya, satu nusa, satu  bangsa dan satu bahasa Indonesia. Lalu bagaimana sebenarnya potret  pendidikan Indonesia, dulu, kini dan mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em> <strong>TUTWURI HANDAYANTI</strong>,  merupakan salah satu penjabaran yang begitu cerdas dari dasar negara  Pancasila, tidak sesederhana yang kita bayangkan dan baca, diperlukan  kecerdasan dan kedalaman berpikir sehingga muncul “Ruh” pendidikan  tersebut. Arti dari semboyan ini adalah: <strong>Ing ngarsa sung tuladha</strong> (<em>di depan, seorang pendidik harus  memberi teladan atau contoh tindakan yang baik</em>), <strong>Ing madya mbangun karsa</strong> (d<em>i tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan  ide</em>), dan <strong>Tut wuri handayani</strong> (<em>dari belakang seorang  guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan)</em>.  Dulu .. dulu sekali para pendidik di negeri ini begitu cerdik dan  cerdas dalam mengarahkan dan mendidik insan-insan calon pemimpin negeri  ini. Dengan semboyan pendidikan yang ada dengan tetap berdasarkan pada  Pancasila. Namun saat ini para petinggi negeri seakan tidak peduli  dengan konsep pendidikan yang begitu indah dan agung. Reformasi yang  diinginkan dan dijalankan sudah salah <strong>arah</strong>, tidak ada  lagi pembatasan konseptual yang pasti, karena kebijakan yang diambil  akan berganti dan beralih setelah 5 tahun berjalan se-umur pemimpin  negeri ini dan yang menjadi korban adalah tunas-tunas bangsa karena  kebijakan. karena egoisme dan karena idealisme sebagian golongan yang  tidak memahami dan mengerti dengan sebenarnya “ruh” dari pendidikan itu  sendiri.<span id="more-970"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan telah diubah layaknya  Perseroan Terbatas dengan semangat komersialisasi dengan harapan akan  mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, padahal keuntungan dari  pendidikan adalah kecakapan, kepintaran dan kemampuan anak tunas-tunas  bangsa dalam menyelesaikan semua persoalan dengan baik yang berpegang  pada budi pekerti dan nurani. Namun ternyata anak didik kita disodori  konsep-konsep pendidikan yang jauh dari semboyan  dan dasar pendidikan  itu sendiri. Tidak ada lagi pemahaman dan pendidikan tentang budi  pekerti, moral dan sosial untuk tunas-tunas bangsa, karena Pendidikan  Moral Pancasila telah hilang dari pendidikan wajib di negeri ini.  Tidak  ada lagi kewajiban bagi anak-anak negeri untuk menghayati dan memahami  Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Hal ini karena ketakutan  kaum reformis terhadap PANSILA itu sendiri, karena dianggap PANCASILA  adalah bawaan orde sebelumnya sehingga harus di tinggalkan karena  dianggap tidak sesuai dengan semangat reformasi. Yang menjadi pertanyaan  apakah reformasi itu harus merubah semuanya, mengapa tidak yang baik  dilanjutkan dan yang jelek di tinggalkan, apakah semua yang dilakukan  oleh orde-orde sebelumnya adalah jelek..??</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan terkejut jika nanti akan banyak  dihasilkan anak-anak cerdas dan pandai akan tetapi tidak memiliki  kemampuan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, karena yang kemudian  akan tercipta robot-robot hidup, mereka cerdas dan pintar akan tetapi  tidak akan memiliki jiwa sosial dengan moralitas yang rendah. Karena  pintar hasil dari indoktrinasi dari sebuah konsep. Bukan cerdas karena  pengembangan dan penggalian bakat yang didasarkan pada budi pekerti dan  kedalaman nurani dari setiap anak didik.  Anak-anak sekarang jarang  sekali yang memiliki kemampuan menganalisa dengan daya nalar, karena  penalaran se-akan dimatikan oleh aktualisasi kecepatan berpikir dan  bertindak saja,  Secara sederhana jika ditanya 1 + 1 = 2, mereka akan  menjawab dengan cepat namun ketika dilanjutkan pertanyaannya, mengapa  dan kenapa kok bisa  2,  mereka akan menjawab pokok-nya jawabannya itu.  Padahal sebenarnya 1 + 1 tidak harus 2 karena jawaban 2 hanya untuk ilmu  pasti. Lalu apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan kita saat  ini ..??</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah barang tentu jika kita  berkeinginan untuk menjadikan pendidikan benar-benar bermanfaat bagi  tunas bangsa dan keberadaan bangsa ini kedepan, tentunya harus  dikembalikan “ruh” dari pendidikan itu sendiri, pendidikan tidak boleh  lepas dari fundamental bangsa ini yaitu Pancasila, dan tentunya Guru  tidak hanya sebatas mendidik karena guru harus mampu menjadi teladan dan  mampu mendorong anak didiknya untuk terus maju dan berkembang sesuai  dengan kemampuan masing-masing. Tulisan ini hanyalah sebuah keprihatinan  atas kondisi pendidikan kita sekarang, dimana hampir semua bangsa  begitu mengagungkan dan menganggap penting dasar dan ideologi negaranya,  negeri ini bergerak mundur dengan mengabaikan ideologi-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah yang mungkin bisa ditempuh adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Memasukkan Pancasila pada kurikulum pendidikan dari pendidikan dasar  hingga pendidikan tinggi dan tidak sekedar mendompleng pada salah satu  mata pelajaran, (ada issue bahwa Pancasila akan dimasukkan pada mata  Pelajaran Pendidikan Agama), tentu ini akan menjadi bias karena bisa  jadi hanya Sila Pertama yang akan terbahas dan bukan Pancasila secara  utuh.</li>
<li>Melaksanakan dan mengaplikasikan dalam sistem pendidikan kita semboyan <em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em><strong>TUTWURI HANDAYANTI, </strong>secara  utuh juga dan tidak sekedar simbol-simbol dalam hiasan bibir dan  dinding, namun harus menjadi hiasan hati setiap insan pendidik;</li>
<li>Mengembangkan softskill untuk mengasah kemampuan berpikir dan nalar  tidak hanya sekedar memperkaya hafalan dan daya ingat saja, karena hal  ini hanya akan menjadi beban bagi tunas bangsa.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan sederhana ini ada manfaat-nya, terima kasih</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini saya tuliskan juga di http://arahkita.com</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emak Adalah Nafas Kehidupanku</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 23:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[<p><object width="500" height="400"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/o62USXfcWCc?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/o62USXfcWCc?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="400" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><span id="more-955"></span>Coba kita perhatikan pada lirik berikut ini :</p>
<p style="text-align: center;">Ribuan kilo jalan yang kau tempuh<br />
Lewati rintang untuk aku anakmu<br />
Ibuku sayang masih terus berjalan<br />
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah<br />
Seperti udara kasih yang engkau berikan<br />
Tak mampu ku membalas . . . . . . . . . . . .<br />
Ibu . . . . . . . . . . . . .   ibu . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: center;">Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu<br />
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu<br />
Lalu do&#8217;a-do&#8217;a baluri sekujur tubuhku<br />
Dengan apa membalas . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Ibu . . . . . . . . . . . . .   ibu . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: justify;">Lirik diatas hanya sebuah ungkapan kecil dari sosok ibu, karena ibu tak ubahnya adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya, marilah kita flash back ke masa-masa dimana kita masih di ayunan, belum bisa makan sendiri, berlajan sendiri, semua masih membutuhkan uluran tangan dan kasih dari Ibu;   Tak terasa ketika menulis ini ada tetes-tetes air mata dari sudut mataku. Karena hingga detik ini belum mampu aku membahagiakan Ibu, orang yang telah mengandung selama kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam perutnya tidak pernah mengeluh karena ada rona bahagia disana. Ibu yang telah mendidik, membimbing dan mengajari tentang makna hidup dan kehidupan, bagaimana mencintai, bagaimana mengasihi dan bagaimana kita mengerti tentang cinta dan kasih sayang. Ibu adalah nafas kehidupan bagi anak-anaknya, karena sumber kehidupan seorang anak adalah tetes-tetes air susu dari Sang Ibu..</p>
<p style="text-align: justify;">Maka terkadang prihatin juga jika banyak melihat Ibu-ibu di usia senja masih harus berjuang sendiri menghidupi dirinya, ibu-ibu di usia senja masih harus menanggung beban kehidupan yang begitu berat, padahal anak-anaknya menjadi anak-anak kehidupan yang perkasa dengan tumpukan kemewahan dan kejayaan. Akan tetapi tahukah kita bahwa ibu tidak membutuhkan balasan apapun dari anak-anaknya, sosok itu tidak pernah berharap dan tidak mau bergantung pada anak-anaknya di usia senja. Karena begitu kuat dan tabahnya seorang ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbakti dan menjunjung tinggi sosok ibu dalam kehidupan kita, karena Ibu  tergambar sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Wanita itu dengan tangan kirinya menggoyang buaian, tangan kanannya menggoyang dunia</li>
<li style="text-align: justify;">Surga itu ada dibawah telapak kaki kaum ibu (Al hadist)</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu telah mencurahkan semua kasih sayangnya kepada anak-anaknya tanpa batas, mulai dari kandungan, kemudian mengasuh kita dari bayi hingga dewasa;</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu akan berbuat apapun untuk kebahagiaan anak-anaknya;</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu akan sangat sakit kita melihat anak-anaknya tidak bahagia</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Begitu agungnya Ibu  bagi kehidupan, dan begitu bermaknya ibu bagi kehidupan, akan menjadi sebuah dosa besar bagi anak-anak manusia yang tidak menghormati, menyayangi dan mencintai ibu-nya dengan sepenuh hati. Semoga kita termasuk anak-anak yang mampu menempatkan sosok ibu ke tempat yang paling mulia di hati dan di setiap tarikan nafas kehidupan kita. Mak&#8230; maafkan anakmu yang belum mampu dan belum bisa seperti angan-angan dan harapanmu. Ya Allah&#8230; Ya Rabb&#8230; lindungi-lah emakku, berikan emakku kebahagian dan limpahkan kasihmu untuk emakku&#8230; ada sebuah link yang mungkin juga bermanfaat bagi kita untuk merenung coba klik <a title="Cintailah Ibu" href="http://idhamdahlan.com/cerita-renungan-cintailah-ibu/" target="_blank">disini</a></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat, terima kasih</p>
<p>&#160;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah.., Aku Takut Mati .. !!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 04:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto013.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-940" title="Foto013" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto013-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Rutinitas biasa jam 16.30  sampe rumah setelah seharian menggali pasir-pasir rejeki di hamparan  safana kehidupan, masuk rumah melepas helm dan meletakkan tas di kursi,  ketika baru mau melepas sepatu, terdengar suara lantang yang begitu aku  kenal.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum,&#8221; tergopoh-goboh jagoanku masuk rumah sepulang ngaji.<br />
&#8220;Walaikum salam Warrohmah,&#8221;jawabku sambil ku jabat erat tangannya.</p>
<p>Cepat-cepat ia ganti baju, lalu menghampiriku duduk di kursi teras  rumah, seperti biasa aku tanyakan seputar sekolah pagi tadi dan  bagaimana mengajinya tadi, dengan semangat ia bercerita, selesai  bercerita lalu ia menanyakan sesuatu.<br />
<span id="more-939"></span>&#8220;Ayah, kata Ustadzah, semua orang besok akan mati, benar yah,&#8221; tanya anakku<br />
&#8220;Benar, tidak hanya orang semua makhluk hidup cintaap Allah SWT pasti mati, nak,&#8221; jawabku singkat.<br />
&#8220;Tapi aku takut mati ayah, aku tidak mau mati,&#8221; lanjut anakku dengan  mimik wajah yang begitu serius tidak ada binar keceriaan diwajahnya.<br />
&#8220;Nak, semua orang pasti mati, karena kita adalah makhluk hidup, dan kita  tidak boleh takut menghadapi kematian karena itu sebuah kepastian..?&#8221;  jelasku pada si kecil, namun terlihat jelas belum ada rasa puas dari  rona wajahnya dengan jawabanku tadi.<br />
&#8220;Biar kita nggak takut mati, maka harus rajin sholat, berbakti sama  orang tua, sayang sama ayah, bunda dan adek, juga tidak boleh nakal, dan  baik sama semua orang,&#8221; lanjutku.</p>
<p>Tanpa berkata apapun, anakku langsung berlari ke kamar mandi, karena  rasa penasaran aku ikutin dia ternyata ambil air wudhu (walau belum  benar juga wudhu-nya), begitu selesai ia minta kain sarung dan  melaksanakan sholat (walau gerakan dan rukunnya juga belum benar),  selesai melaksanakan sholat ku dekan dan ku peluk erat dalam keharuan,  oh anakku. Di saat usiamu masih 5 tahun sudah mampu memberikan  pembelajaran dan pelajaran yang sangat berharga.</p>
<p>Dua hari ini aku begitu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari  tanya dan celoteh anakku yang ternyata jika kita resapi dan pahami  begitu dalam. Belajar dan berusaha memahami hidup dari anak kecil jauh  lebih natural. Tak kuasa dalam kesendirian ku renungkan semua tanya yang  pernah anakku sampaikan lalu ku urai satu persatu dan ternyata ada  makna yang begitu dalam untuk aku gunakan sebagai koreksi dalam  menjalani hidup dan kehidupan, terima kasih anakku.</p>
<p>Ternyata ayahmu masih perlu banyak belajar dalam kehidupan ini, dan  engkau telah menjadi inspirasi dan semangat pada ayahmu ini nak.. !!!,  Semoga kelak engkau benar-benar menjadi pelita bagi kehidupan orang tua,  agama dan masyarakat nak. Amiin&#8230;</p>
<div></div>
</div>
</div>
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="post_form_id" type="hidden" value="339370f9bd872166802ee396cf21fd1b" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="dpz8r" />
<input name="feedback_params" type="hidden" value="{&#34;actor&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;target_fbid&#34;:&#34;381906957231&#34;,&#34;target_profile_id&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;type_id&#34;:&#34;14&#34;,&#34;source&#34;:&#34;2&#34;,&#34;assoc_obj_id&#34;:&#34;&#34;,&#34;source_app_id&#34;:&#34;0&#34;,&#34;extra_story_params&#34;:[],&#34;content_timestamp&#34;:&#34;1270529156&#34;,&#34;check_hash&#34;:&#34;5d534b058a0c3d28&#34;}" /><button title="Berhenti menyukai item ini"></button></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Akan Datang Ketika Sudah Waktunya, Maka Sambutlah Cintamu</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 01:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/04/cinta-sambutlah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-925" title="cinta sambutlah" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/04/cinta-sambutlah.jpg" alt="" width="222" height="227" /></a>Pernahkah dalam sebuah perenungan dan  kesendirian kita mengamati dan memikirkan sebuah fenomena kehidupan,  lalu sedikit demi sedikit kita coba untuk menguraikannya agar bisa  memberikan sebuah gambaran kehidupan dan akhirnya memberikan manfaat,  pernahkah terbersit dalam benak dan angan kita bahwa bulan dan matahari,  malam dan siang itu selalu tepat waktu dan bergantian dalam menjaga dan  menerangi dunia, tanpa pernah ada keributan diantaranya karena berebut  untuk saling mendahului…  <span id="more-924"></span>Tidak ada rasa iri diantaranya  karena memang telah ditetapkan bahwa bulan dan malam harus bergantian  dengan matahari dan siang, dengan kepatuhan akan sebuah ketetapan  Illahi..  Begitu halnya dengan cinta, dia akan  datang setelah waktunya tiba karena memang telah ditetapkan oleh Allah  Tuhan Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Ketetapan itu adalah sebuah  rahasia kehidupan. Maka untuk menanti cinta tentunya jangan sampai  terhanyut dan terperosok pada harapan dan ilusi dan gebyar ke-indahan  dan kenikmatan duniawi, karena hanya sebuah penyesalan jika kita tidak  mampu memanfaatkan waktu didunia dengan bijaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada masa dimana kita mesti belajar dan  belajar, maka keseriusan dan kesungguhan dalam belajarnya yang harus  kita dahulukan, dan ini pada usia-usia puber (SMP dan SMA), karena pada  saat ini para remaja kita sudah beralih dalam pola berpikirnya, saat  belajar disertai dengan buaian-buaian keindahan <strong>cinta semu</strong>, yang belum dilandasai dengan sebuah kematangan berfikir, <strong>akhirnya cinta-nya adalah nafsu, cinta-nya adalah permainan dan cintanya adalah ke-maksiat-an.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Coba kita berpikir dan merenung  sejenak.. berapa waktu belajar yang dibutuhkan untuk menyiapkan masa  depan dan berapa waktu untuk cinta yang akan kita nikmati.. hitung saja  untuk menyiapkan masa depan pada masa remaja adalah kurang lebih 16  tahun. Mulai dari SD 6 tahun, SMP 3 Tahun, SMA 3  tahun Kuliah 4 tahun, -pun dari waktu itu digunakan dengan serius untuk  memikirkan tentang belajar, belajar dan belajar, hilangkan sebuah  pikiran tentang cinta kasih dengan lawan jenis atau pacaran.. Begitu  selesai belajar dengan sebuah keseriusan saya yakin keberhasilan dengan  gemilang pasti akan tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pekerjaan bukanlah sebuah hal yang sulit  ketika nilai-nilai belajar kita bagus, dengan tingkat pemahaman sebuah kehidupan dan tentunya kematangan berpikir dan kebijakan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain setelah itu.. nikmati cinta-mu  karena kemapanan dan kematangan dalam kehidupan telah diperoleh, maka  tawaran-tawaran cinta dari pada keluarga yang terpesona dan terhanyut  akan sebuah keberhasilan dalam hidupmu tentu akan datang dengan  sendiri-nya, orang tua mana yang tidak mendambakan menantu dengan akhlaq  mulia, agama yang kuat dan kemapanan dalam kehidupan (pekerjaan pasti  dan jelas).</p>
<p style="text-align: justify;">Semua itu akan mudah untuk diperoleh dan didapatkan, jika kita mampu menggunakan dan memanfaatkan waktu dengan bijaksana.. <strong>Dan Sambutlah Datang-nya Cinta Itu dengan senyum  kebahagiaan… !!! </strong></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Perbedaan Itu Kita Wujudkan Pelangi Pernikahan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 08:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-898" title="Pelangi Pernikahan" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan-300x99.jpg" alt="" width="300" height="99" /></a>Ketika sesorang memasuki usia siap menikah, tentunya akan muncul beragam pertimbangan untuk membentuk sebuah keputusan dan pernyataan sikap &#8220;SIAP MENIKAH&#8221; menikah tidak hanya didasarkan dari kesiapan usia saja namun lebih jauh dan mendalam bahwa menikah membutuhkan pemahaman dan pengertian akan beberapa hal, minimal mengerti dan memahami empat hal berikut, maka menikah  bukan satu hal yang menakutkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-897"></span>Sebuah pernikahan terjadi terkadang didasarkan karena telah merasa  menemukan kecocokan, keserasian atau karena memang merasa satu visi dan  misi serta mememiliki kesamaan tujuan dalam memandang dan menjalani hidup ?.. ataukah  bahkan merasa  ada kesamaan dalam sifat, kesenangan dan cara pandang ?  namun bisakah hal itu  dijadikan pedoman bahwa pernikahan bisa langgeng abadi, mawadah wa  rohmah, hingga kakek-kakek nenek-nenek.  Semuanya akan terjawab&#8230; dengan  menyimak beberapa hal dibawah ini ?&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bisa <strong>bertepuk tangan</strong> memerlukan <em>dua tangan</em> (<strong>kiri dan kanan</strong>), dan  irama musik terdengar begitu indah dan syahdu ketika tercipta sebuah harmonisasi dari sekumpulan alat musik dengan nada-nada dalam sebuah  simfoni dan ternyata <strong>pernikahan</strong> itu adalah <em>penyatuan dua manusia (lekaki dan perempuan)</em>, dari <span style="text-decoration: underline;">dua bentuk yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang</span>, belum lagi hati, jiwa dan rasa, jelas berbeda. Jika demikian maka <strong>keserasihan, kecocokan dan kesamaan belum menjadikan jaminan semua akan berjalan lancar</strong> khan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/nikah1.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-899" title="nikah1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/nikah1.jpeg" alt="" width="245" height="206" /></a>Karena  menikah adalah <strong>sebuah proses pendewasaan diri</strong>. Agar bisa menghadapi dan memenangkan pertarungan dibutuhkan <strong>kekuatan dan keberanian</strong>,  yaitu sebuah kekuatan untuk menemukan jalan keluar dan keberanian dalam  menghadapi semua problema kehidupan. Karena kenyataannya untuk <span style="text-decoration: underline;">bisa menuju jenjang pernikahan</span> ini mesti  :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong> Ada komunikasi dua arah, se-imbang tidak ada dominasi salah satu;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada kerelaan mendengar kritik dan saran membangun;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada keikhlasan meminta maaf dan memaafkan;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada ketulusan melupakan kesalahan dan keberanian untuk mengemukakan pendapat secara <span style="text-decoration: underline;">JUJUR</span>.</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Menikah tentunya bukan <span style="text-decoration: underline;">sebatas upacara</span> yang disemarakkan oleh lagu cinta, tidak juga karena rancangan gaun  pengantin ala putri salju dan juga bukan rangkaian mobil undangan  bagaikan rangkaian gerbong kereta api yang panjang.  Mesti kita sadari dan pahami bahwasannya <strong>pernikahan</strong> itu adalah <strong>sebuah keberanian untuk memutuskan bersandar pada satu pelabuhan hati dan bukan bersandar pada dua atau tiga pelabuhan hati</strong>, <em>ketika  jutaan bahtera yang indah gemerlap dan memikat yang berusaha untuk  mendekat dan mengajak  kita untuk terus mengarungi samudra kehidupan yang  tidak bertepi</em>.  Pun pernikahan itu adalah <strong>sebuah  proses penggabungan dua orang dengan kesombongannya, egoisme dan idealisme serta dua pikiran  dalam satu biduk dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan cinta. Karena sebenarnya persamaan dan keserasian sikap dan sifat hanyalah akan menjadi sebuah jeda dan setetes kenikmatan sesaat saja.</strong></p>
<p>Tidak  penting menikah dengan anak siapa (mau anak jenderal, anak menteri atau  bahkan anak tukang kebun, tukang sayur bahkan anak pengemis sekalipun),  berapa pula harta, emas permata dan intan berlian yang dimilikinya,  bukan juga rangkaian melati yang harum mewangi, dan bahkan sebuah  perencanaan matang dengan kepanitian yang lengkap, jika pada akhirnya  hanya akan membuat keluarga cerai berai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/menikah1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-900" title="menikah1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/menikah1.jpeg" alt="" width="181" height="144" /></a>Yang perlu dipahami dan dimengerti bahwa menikah adalah suatu proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita</strong>.  Karena tanpa kenal diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang  lain..? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa  memperhatikan pasangan hidup..?  Tentunya kita tahu dan mengerti bahwa pelangi begitu indah karena beragam warna menyatu dan membentuk sebuah perpaduan yang serasi. Demikian halnya dengan sebuah pernihakan akan tercipta begitu indah dan membahagiakan jika kita bersama pasangan mampu menyatukan dan memadukan perbedaan-perbedaan itu menuju sebuah keserasian dan keselarasan serta keseimbangan diantaranya tidak ada yang paling dominan antara keduanya, maka <strong>Pelangi Pernikahan</strong> itu akan dapat kita ciptakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menikah sangat <span style="text-decoration: underline;">membutuhkan  keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudera, serta jiwa besar  untuk bisa saling ^-^menerima dan memaafkan^-^</span>, yang <span style="text-decoration: underline;">bukan sekedar</span> menerima kritikan atau memaafkan kesalahan semata <strong>akan tetapi</strong> menerima dan memaafkan dalam arti yang luas dan mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka  jika sudah memiliki keinginan untuk menikah, sebelum melangkah tumbuhkan  dulu sebuah keberanian dan kekuatan bahwa anda memang mampu dan siap  melangkah mengarungi samudra kehidupan dalam sebuah bahtera rumah  tangga dengan orang yang benar-benar <em><strong>anda mengerti dan pahami</strong></em> demikian  juga sebaliknya. Jadi sebenarnya kapan waktu yang pas kita memutuskan untuk menikah, jawabannya adalah ketika usia sudah cukup dan disaat kita merasa siap dan berani menerima berbagai macam perbedaan dari pasangan hidup kita. Akhirnya selamat kepada mereka yang telah berani menerima perbedaan dan berhasil mengerti dan memahami masing-masing pasangan hidup karena dari sanalah sebenarnya awal kebahagian dalam rumah tangga itu terbentuk.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Damai Dalam Hidup Kenali Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ingin-damai-dalam-hidup-kenali-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ingin-damai-dalam-hidup-kenali-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 04:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/01/diri-sendiri.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-800" title="diri sendiri" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/01/diri-sendiri.jpg" alt="" width="225" height="225" /></a>Siapa  yang tidak ingin kehidupannya berjalan dengan  damai dan tentram; semua  orang pati mendambakannya, dan ternyata untuk bisa memasuki sebuah  kehidupan yang damai dan tentram tersebut kita butuh dan perlu   KUNCI-nya. Karena ternyata kedamaian dan ketrentraman dalam hidup bukan  terletak pada kecantikan dan ketampanan paras kita; banyaknya harta  kita, tingginya jabatan kita; namun terletak pada Sejauhmana Kita Mengenal Diri Kita Sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dikarenakan, jika kita mampu mengenal diri sendiri maka kita tidak akan  LUPA  DIRI dan HILANG KENDALI. Jika kita selalu sadar dan bisa mengendalikan  diri maka kita akan mampu memahami bahwa tingginya jabatan, kemewahan  dalam hidupan dan kecantikan atau ketampanan paras yang melekat pada  diri tidak akan abadi. Dan untuk bisa menyadari hal itu terkadang kita  merasa sulit, agar lebih mudah menuju proses kesadaran itu maka marilah  kita mencoba untuk selalu :</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-799"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berdoa (baca bersyukur)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nikmati  sebuah ke-sunyi-an sesekali, jangang terus berada pada hingar bingar  kehidupan, untuk sekedar merenung dan memahami apa yang sudah kita  lakukan dan peroleh, setelah itu bersyukur-lah akan apa yang telah  diperoleh dan perbuat, untuk bisa bercermin apa yang sebenarnya telah  kita lakukan dan miliki agar bisa berbuat lebih baik lagi. Dan tidak  lagi mengulangi keselahan</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Memahami Keberadaan dan Keadaan Diri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kita  coba untuk menjalani apa yang ada sekarang ini, tidak usah menengok  masa lalu dan jangan terlalu memikirkan apa yang akan terjadi dimasa  mendatang, akan lebih baik dan bijaksana jika kita mencoba ikhlas  tentang apa yang kita peroleh saat ini dengan berusaha untuk lebih baik  dari masa lalu dan mempersiapkan diri menyonsong masa depan. Dan kita  upayakan untuk berucap terima kasih pada tubuh ini yang telah berbagi  dengan pikiran, sehingga kita akan makin mengerti akan makna dan  keberadaan diri kita untuk lebih berarti bagi kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengerti dan Memahami Lingkungan<br />
</strong><br />
Kita  nikmati apa yang ada dan kita lihat serta rasakan, mencobalah untuk  tersenyum pada mentari, tertawa pada pagi, siang, malam dan rembulan  serta bercandalah dengan angin, awan, langit serta semua isi bumi ini,  karena dengan kemampuan kita dalam memahami lingkungan sekitar kita akan  merasa menjadi bagiannya, yang pada akhirnya akan kita memperoleh  sebuah ke-ikhlas-an dan ke-pasrah-an dalam setiap gerak langkah kita.;  sehingga kita tidak akan egois pada diri sendiri ataupun orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jangan Selalu Menyalahkan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terkadang  kita tanpa sadar selalu menyalahkan diri sendiri, teman, kerabat, orang  tua, saudara kandung, bahkan anak; dengan mencoba untuk memaafkan dan  berusaha untuk memperbaiki kesalahan itu, maka kita akan mendapatkan  ketentraman jiwa dan kedamaian hati, sehingga dalam menapaki kehidupan  akan terasa ringan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Puaskan Diri Anda<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasa  puas itu relatif dan manusia adalah makhluk Tuhan yang tidak akan  pernah merasa puas, maka tentukan titik kepuasan anda dalam setiap  tindakan dan perbuatan, dengan demikian kita tidak akan merasa terbebani  dalam hidup; dan untuk memuaskan diri itu yang terpenting adalah tubuh  kita terpenuhi akan nutrisi, selalu gembira, dan sehat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ulurkan Tangan Anda<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selagi  kita bisa dan mampu maka dengan membantu orang lain dan memberi tanpa  harapkan sebuah pengembalian, maka suatu saat kita akan mendapatkan  balasan yang setimpal dengan satu catatan semua itu dilakukan atas dasar  sebuah keikhlasan. Dan yang paling penting adalah buang jauh-jauh  prasangka buruk terhadap apapun dan siapapun.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cinta dan Kasih </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penuhi  kehidupan anda dengan lautan kasih sayang dan gelombang cinta yang  tiada henti; karena dengan demikian kehidupan ini akan terasa indah  sehingga kita bisa menikmati hidup dan bukan merupakan beban.</p>
<p>Jadi untuk bisa mendapatkan Kunci Kedamaian dan Ketrentraman dalam Kehidupan  minimal kita melaksanakan ketujuh hal diatas, dengan melaksanakan tujuh  hal diatas, maka kita akan tahu diri kita sendiri, karena untuk menjadi  orang yang TAHU DIRI itu sulit.</p>
<p>Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan terima kasih.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ingin-damai-dalam-hidup-kenali-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin, Refleksi Sebuah Kejujuran</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 22:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/cermin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-597" title="cermin" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/cermin.jpg" alt="" width="116" height="136" /></a>Cermin, siapa yang tidak tahu dan mengenal benda yang satu ini, karena dalam setiap ruang, setiap sisi-sisi rumah akan selalu ada benda ini, tiada habisnya kita mamatut diri didepan cermin untuk sekedar bisa melihat apa yang kurang pantas pada diri kita, karena jelas bawah pengertian cermin sendiri adalah permukaan memantul yang cukup  licin untuk membentuk imej. Cermin dikenali ramai sebagai sejenis benda  yang boleh memantulkan cahaya ataupun bayang-bayang. <a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin" target="_blank">(http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin)</a>. Ach.. itu hanyalah sebuah definisi dan pengertian, namun pernahkah kita sedikit memahami fungsi cermin itu lebih jauh dan lebih dalam lagi, bahwa cermin tidak sekedar pemantul bayang-bayang, bahwa cermin tidak sekedar alat untuk melihat sudah pantaskah dandanan kita. Pernahkah kita menyadari bahwa <strong>cermin begitu jujur</strong> pada kita. Karena apa yang ada pada diri kita akan dipantulkan demikian apa adanya oleh cermin.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-596"></span>Sebuah kesadaran dan rasa mawas diri dapat kita dapatkan dari cermin ini, ada sebuah ungkapan dalam bahasa jawa   <strong>&#8220;Ngiloa Githoke Dhewe&#8221;, </strong>yang secara harfiah adalah <em><span style="text-decoration: underline;">bercerminlah pada tengkuknya  sendiri, </span></em>dengan<em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em>arti sebagai berikut  :</p>
<ul>
<li>Ngilo : bercermin</li>
<li>Ngiloa : bercerminlah</li>
<li>Githok :  tengkuk</li>
<li>Githoke : tengkuknya</li>
<li>Dhewe : Sendiri.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Arti yang tersirat dari ungkapan itu adalah<em> kita diajak untuk melihat dan mengetahui tentang diri k</em><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/cermin2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-602" title="cermin2" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/cermin2.jpg" alt="" width="138" height="202" /></a><em>ita  leb</em><em>ih jauh. Selain ada kebaikan ada juga kekurangan dan kelemahannya.</em> Kita diajak untuk menyadari akan kekurangan dan kelemahan kita sendiri dengan sebuah nilai  yang diajarkan bahwa <em>ungkapan</em><em> ini mengajarkan agar setiap orang mau  mawas diri. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejauhmana kita menggunakan cermin selama ini, apakah sebatas kita bercermin untuk badaniah kita..?? sudah pernahkan kita mematut diri di cermin kemudian mencoba untuk melihat dan menyelami diri kita yang sebenarnya, yach.. &#8220;<strong>Cermin Hati</strong>&#8220;.. sering kita lupakan ketika kita berada di depan cermin, karena kita hanya sebatas bercermin untuk badan kita. Mematut diri dan membetulkan dandanan yang kurang pas, namun kita hampir tidak pernah mencoba untuk bisa memahami dan membetulkan sikap, perilaku, tindakan serta ucapan-ucapan kita yang dipantulkan oleh &#8220;<strong>cermin hati</strong>&#8220;<em>, </em>karena kita terkadang kurang respek terhadap <em>&#8220;Kejujuran&#8221;</em> dari Cermin itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Cermin akan mengatakan apa adanya tentang diri kita, cermin itu tidak pernah bohong, cermin itu jujur, cermin itu apa adanya tidak ada yang ditutupi cermin apa yang ada pada diri kita itulah yang akan dipantulkan oleh cermin<em>. </em>Sudah sewajarnya jika kita menjadikan cermin adalah sahabat sejati<em> </em>bagi kita karena cermin akan bilang jelek jika kita jelak dan akan bilang baik jika kita baik. Dan karena cermin adalah refleksi sebuah kejujuran sangat tepat dan pas jika cermin kita gunakan sebagai alat untuk instropeksi diri dimana kekurangan dan kelebihan kita dalam menjalani kehidupan ini. Semoga dengan demikian kita dapat menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi kehidupan, dengan terus bercermin dengan &#8220;CERMIN HATI&#8221;.. semoga bermanfaat terima kasih <em><br />
</em></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Mengapa Saya Begitu Menyukai Ketokohan Yudishtira</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 14:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-4.png" alt="" /> <img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-5.png" alt="" /><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-590" title="Yudis" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg" alt="" width="87" height="124" /></a>Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu  tokoh protagonis  dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang  raja yang memerintah  kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di  Hastinapura. Ia merupakan  yang tertua di antara lima Pandawa, atau para  putera Pandu. Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu”  dan memiliki  julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan  nama Kerajaan  Amarta.    <strong> </strong>Nama Yudistira dalam  bahasa  Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Ia juga  dikenal  dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena  ia  selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-589"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Beberapa  julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:</p>
<ul>
<li>Ajatasatru,  “yang tidak memiliki musuh”.</li>
<li>Bharata, “keturunan Maharaja  Bharata”.</li>
<li>Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa  Dharma”.</li>
<li>Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”.</li>
<li>Kurunandana,  “kesayangan Dinasti Kuru”.</li>
<li>Kurupati, “raja Dinasti Kuru”.</li>
<li>Pandawa,  “putera Pandu”.</li>
<li>Partha, “putera Prita atau Kunti”.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Beberapa di antara nama-nama di atas juga  dipakai oleh tokoh-tokoh  Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma,  dan Duryodana. Selain  nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa  masih terdapat beberapa  nama atau julukan yang lain lagi untuk  Yudistira, misalnya:</p>
<ul>
<li>Puntadewa,  “derajat keluhurannya setara para dewa”.</li>
<li>Yudistira, “pandai  memerangi nafsu pribadi”.</li>
<li>Gunatalikrama, “pandai bertutur  bahasa”.</li>
<li>Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.</li>
</ul>
<p><strong>Sifat  dan kesaktian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sifat-sifat  Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya,  sebagaimana telah  disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol  adalah adil, sabar,  jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya  diri, dan berani  berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata  terutama dalam hal  memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi  pewayangan Jawa lebih  menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia  pernah dikisahkan  menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan  hanya meraba  kepala mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dalam  pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus  Kalimasada, Tunggulnaga,  dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa  kitab, sedangkan  Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka  utama kerajaan  Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud  kalung yang  terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah  pemberian  Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman  pemerintahan Pandu.  Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia  pun meraba kalung  tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi  raksasa besar  berkulit putih bersih.</p>
<p><strong>Kelahiran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira adalah putera tertua pasangan  Pandu dan Kunti. Kitab  Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa  mengisahkan tentang kutukan  yang dialami Pandu setelah membunuh  brahmana bernama Resi Kindama tanpa  sengaja. Brahmana itu terkena panah  Pandu ketika ia dan istrinya sedang  bersanggama dalam wujud sepasang  rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi  Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa  kelak ia akan mati ketika mengawini  istrinya. Dengan penuh penyesalan,  Pandu meninggalkan tahta Hastinapura  dan memulai hidup sebagai pertapa  di hutan demi untuk mengurangi hawa  nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti  dan Madri dengan setia mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada  suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak.  Kunti yang  menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan  suaminya  itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk  mendapatkan  putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil  mendatangkan Dewa  Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa  melalui  persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan   demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian   Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah  yang  kemudian diwarisi oleh Yudistira sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Versi pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda.  Menurut versi ini,  Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di  istana Hastinapura.  Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong  kelahiran Puntadewa  dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa  tersebut, Puntadewa  lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan  Jawa, nama Puntadewa  lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira  baru digunakan setelah ia  dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan  Puntadewa sebagai seorang  manusia berdarah putih, yang merupakan  kiasan bahwa ia adalah sosok  berhati suci dan selalu menegakkan  kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa kecil dan  pendidikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dan  keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal  dunia.  Adapun kelima putera Pandu itu terkenal dengan sebutan para  Pandawa,  yang semua lahir melalui mantra Adityahredaya. Kedatangan para  Pandawa  membuat sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin Duryodana  merasa  cemas. Putera-putera Dretarastra itu takut kalau Pandawa sampai   berkuasa di kerajaan Kuru. Dengan berbagai cara mereka berusaha   menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat.   Di lain pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya   tidak membalas perbuatan para Korawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan  tata  negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira  tampil  sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila  tahta  Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu,  Pandawa  dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam  pendidikan kedua  ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai,  terutama dalam  ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih  terampil dalam  menggunakan senjata tombak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Konflik memperebutkan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya  meninggal dunia, tahta  Hastinapura untuk sementara dipegang oleh  kakaknya, yaitu Dretarastra,  ayah para Korawa. Ketika Yudistira  menginjak usia dewasa, sudah tiba  saatnya bagi Dretarastra untuk  menyerahkan tahta kepada Yudhisthira,  selaku putera sulung Pandu.  Sementara itu putera sulung Dretarastra,  yaitu Duryodana berusaha keras  merebut tahta dan menyingkirkan Pandawa.  Dengan bantuan pamannya dari  pihak ibu, yaitu Sangkuni, Duryodana  pura-pura menjamu kelima sepupunya  itu dalam sebuah gedung di  Waranawata, dimana gedung itu terbuat dari  bahan yang mudah terbakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat para Pandawa  dan Kunti,  ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri  karena  rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu  Widura adik  Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos  dari maut.  Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman  sulit.</p>
<p><strong>Pernikahan dengan Dropadi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lolos dari jebakan maut Korawa,  para Pandawa dan Kunti pergi  melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal  sementara di kerajaan Panchala.  Arjuna berhasil memenangkan sayembara  di kerajaan tersebut dan  memperoleh seorang puteri cantik yang bernama  Dropadi. Tanpa sengaja  Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima.  Akibatnya, Dropadi pun  menjadi istri kelima Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi  melahirkan Pratiwindya,  dari Bima lahir Sutasoma, dari Arjuna lahir  Srutasena, dari Nakula lahir  Satanika, dan dari Sadewa lahir  Srutakirti.</p>
<p style="text-align: justify;">Versi Jawa menyebut  Dropadi dengan nama “Drupadi”. Menurut pewayangan  Jawa, setelah  memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu  kepada Puntadewa  selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun  setelah didesak  oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia  menikahi  Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putera bernama  Pancawala.  Jadi, menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima  Pandawa,  sedangkan menurut versi Jawa, ia hanya menikah dengan  Yudistira  seorang.</p>
<p><strong>Raja Indraprastha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa  kembali ke Hastinapura dan  memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari  pihak Duryodana. Persaingan  antara Pandawa dan Korawa atas tahta  Hastinapura kembali terjadi. Para  sesepuh akhirnya sepakat untuk  memberi Pandawa sebagian dari wilayah  kerajaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Korawa yang licik mendapatkan istana  Hastinapura, sedangkan Pandawa  mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai  tempat untuk membangun istana  baru. Meskipun daerah tersebut sangat  gersang dan angker, namun para  Pandawa mau menerima wilayah tersebut.  Selain wilayahnya yang seluas  hampir setengah wilayah kerajaan Kuru,  Kandawaprastha juga merupakan  ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum  Hastinapura. Para Pandawa  dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan  Baladewa, dan berhasil membuka  Kandawaprastha menjadi pemukiman baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Pandawa kemudian memperoleh  bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli  bangunan dari kahyangan, dan juga  Anggaraparna dari bangsa Gandharwa.  Maka terciptalah sebuah istana  megah dan indah bernama Indraprastha,  yang bermakna “kota Dewa Indra”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemerintahan Yudistira versi  pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembangunan  kerajaan Amarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/upacararajasuyadiindraprastha.jpg?w=225&#38;h=303" alt="Upacara Rajasuya di Indraprastha" hspace="4" width="225" height="303" align="right" />Dalam versi  pewayangan Jawa, nama Indraprastha  lebih terkenal dengan sebutan  kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan  yang dibuka para Pandawa bukan  bernama Kandawaprastha, melainkan  bernama Wanamarta.</p>
<p>Versi Jawa  mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak  kembali ke  Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat  mereka  yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang  bersimpati pada  pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka  kawasan hutan tak  bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan  baru. Hutan Wanamarta  dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin  oleh lima bersaudara,  bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad,  dan Sapulebu.  Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami  banyak  rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para  makhluk  halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke  alam  nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat  adiknya  menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing  menyatu ke  dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja  Amarta setelah  didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk  mengenang dan  menghormati raja jin yang telah memberinya istana,  Puntadewa pun memakai  gelar Prabu Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anugerah Ketentraman</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa  berusaha keras untuk  memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita  bahwa barang siapa yang  bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang  bernama Dewi  Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi  makmur dan  sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk  memiliki seorang  istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya  menikah lagi demi  kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju  Kerajaan Slagahima. Di  istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak  raja dan pangeran yang  datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri  hanya sudi menikah  dengan seseorang yang berhati suci, dan ia  menemukan kriteria itu dalam  diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten  tiba-tiba musnah dan menyatu ke  dalam diri Puntadewa. Sebenarnya  Kuntulwinanten bukan manusia asli,  melainkan wujud penjelmaan anugerah  dewata untuk seorang raja adil yang  hanya memikirkan kesejahteraan  negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima  yang asli bernama  Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa  dan diangkat  sebagai patih di kerajaan Amarta.</p>
<p><strong>Upacara  Rajasuya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kitab Mahabharata  bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat  Yudistira untuk  menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan  dharma dan  menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha  (India  Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara  agung  tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat yang sama,  seorang raja angkara murka juga mengadakan  upacara mengorbankan seratus  orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda  dari kerajaan Magadha.  Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan  didampingi Kresna sebagai  penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya,  melalui sebuah  pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah semua persyaratan terpenuhi,  Yudistira melaksanakan upacara  Rajasuya yang dihadiri sekian banyak  kaum raja dan pendeta. Dalam  kesempatan itu, Yudistira ditetapkan  sebagai Maharajadhiraja. Kemudian  muncul seorang sekutu Jarasanda  bernama Sisupala yang menghina Kresna di  depan umum. Setelah melewati  penghinaan ke-100, Krishna akhirnya  memenggal kepala Sisupala di depan  umum.</p>
<p><strong>Kehilangan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/permainandaduantarapandawadankorawa.jpg?w=360&#38;h=265" alt="permainan dadu antara Pandawa dan  Korawa" hspace="4" width="360" height="265" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan dari  Punjab, dibuat sekitar abad ke-18,  menggambarkan suasana aula permainan  dadu antara Pandawa dan Korawa.  Tampak dalam gambar, Dropadi yang  berusaha ditelanjangi oleh Dursasana.  Di sebelah kiri bawah, tampak  kelima Pandawa sedang diam menerima  kekalahannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya,  Duryodana sangat kagum  sekaligus iri menyaksikan keindahan istana  Indraprastha. Timbul niatnya  untuk merebut kerajaan itu, apalagi  setelah ia tersinggung oleh ucapan  Dropadi dalam sebuah pertemuan.  Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan  memanfaatkan kegemaran  Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira  memang seorang ahli agama,  namun di sisi lain ia sangat menyukai  permainan tersebut. Undangan  Duryodana diterimanya dengan baik.  Permainan dadu antara Pandawa  melawan Korawa diadakan di istana  Hastinapura. Mula-mula Yudistira  hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun  semuanya jatuh ke tangan Duryodana  berkat kepandaian Sakuni dalam  melempar dadu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua   hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun dengan   susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap   mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya   pun jatuh pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya   Yudistira sendiri. Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah   kehilangan kemerdekaannya untuk melanjutkan permainan, dengan   mempertaruhkan Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan  umum terdengar oleh  Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar  Duryodana menghentikan  permainan dan mengembalikan semuanya kepada  Pandawa. Dengan berat hati,  Duryodhana terpaksa mematuhi perintah  ibunya itu. Duryodana yang kecewa  kembali menantang Yudistira beberapa  waktu kemudian. Kali ini  peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah  harus menyerahkan negara  beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan  selama 12 tahun serta  menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan.  Apabila penyamaran itu  terbongkar, maka wajib mengulangi lagi  pembuangan selama 12 tahun dan  menyamar setahun, begitulah seterusnya.  Akhirnya berkat kelicikan  Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan  untuk yang kedua kalinya.  Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi  menjalani masa pembuangan mereka  di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kehidupan dalam Pembuangan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam  menjalani masa pembuangan  selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada  jilid ketiga kitab Mahabharata  yang dikenal dengan sebutan Wanaparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira yang merasa paling  bertanggung jawab atas apa yang menimpa  keluarga dan negaranya berusaha  untuk tetap tabah dalam menjalani  hukuman. Ia sering berselisih paham  dengan Bima yang ingin kembali ke  Hastinapura untuk menumpas para  Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap  tunduk dan patuh terhadap  perintah Yudistira supaya menjalani hukuman  sesuai perjanjian.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika para Korawa datang ke dalam  hutan untuk berpesta demi  menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka  justru berselisih dengan  kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam  peristiwa itu Duryodana  tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi,  Yudistira justru mengirim Bima  dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia  mengancam akan berangkat sendiri  apabila kedua adiknya itu menolak  perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu  berhasil membebaskan Duryodana.  Niat Duryodana datang ke hutan untuk  menyiksa perasaan para Pandawa  justru berakhir dengan rasa malu luar  biasa yang ia rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa lain yang terjadi adalah  penculikan Dropadi oleh Jayadrata,  adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna  berhasil menangkap Jayadrata dan  hampir saja membunuhnya. Yudistira  muncul dan memaafkan raja kerajaan  Sindu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peristiwa telaga beracun</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari menjelang berakhirnya  masa pembuangan, Yudistira dan  keempat adiknya membantu seorang  brahmana yang kehilangan peralatan  upacaranya karena tersangkut pada  tanduk seekor rusa liar. Dalam  pengejaran terhadap rusa itu, kelima  Pandawa merasa haus. Yudistira pun  menyuruh Sadewa mencari air minum.  Karena lama tidak kembali, Nakula  disuruh menyusul, kemudian Arjuna,  lalu akhirnya Bima menyusul pula.  Yudistira semakin cemas karena  keempat adiknya tidak ada yang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai  mereka  telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang  mengaku  sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat  Pandawa tewas  keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab  pertanyaan sang  raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan  Sang Raksasa untuk  bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan  berhasil ia jawab.  Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia  hanya sanggup  menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira  memilih Nakula  untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula  adalah adik tiri,  bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya  harus berlaku adil.  Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri.  Karena Yudistira lahir  dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup  kembali harus putera yang  lahir dari Madri, yaitu Nakula.</p>
<p style="text-align: justify;">Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira.  Ia pun kembali ke wujud  aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya  dengan menyamar sebagai rusa  liar dan raksasa adalah untuk memberikan  ujian kepada para Pandawa.  Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira,  maka tidak hanya Nakula yang  dihidupkan kembali, melainkan juga Bima,  Arjuna, dan Sadewa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira  dalam masa penyamaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan  Dropadi  kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat   persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh   Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau   Wirataparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira menyamar  dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai  kusir kereta Raja Wirata.  Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak,  Arjuna menjadi Wrihanala  sebagai banci guru tari, Nakula menjadi  Damagranti sebagai tukang kuda,  Sadewa menjadi Tantripala sebagai  penggembala sapi, sedangkan Dropadi  menjadi Sailandri sebagai dayang  istana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa  serangan  kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan  kerajaan  Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha,  sekutu  Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam  keadaan  terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata  yang  ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna)  sebagai  kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil  menghadapi  pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil  memukul  mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu,  pasukan Wirata  juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata  dengan bangga  memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan  para Korawa  seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci  kemenangan  Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung  dan memukul  kepala Kanka sampai berdarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan,  bukan nama  orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan  tersebut,  Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu  kota  bernama Dwijakangka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat  batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan  Dropadi  pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat   menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan   menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta   Indraprastha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira saat  Bharatayuddha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika para  Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang  seharusnya mereka  terima, Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia  tidak mau  menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai   dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan,   Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa   saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana berusaha   membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang antara Pandawa dan Korawa tidak  dapat lagi dihindari. Para  pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan  nama Bharatayuddha.  Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar  tersebut ditemukan  pada jilid keenam sampai kesepuluh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Awal pertempuran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa  sebelum perang hari pertama  dimulai, Yudistira turun dari keretanya  berjalan kaki ke arah pasukan  Korawa yang berbaris di hadapannya.  Duryodana mengejeknya sebagai  pengecut yang langsung menyerah begitu  melihat kekuatan Korawa dan  sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudistira  bukan untuk menyerah,  melainkan meminta doa restu kepada empat sesepuh  yang berperang di pihak  lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa, Drona, dan  Salya. Keempatnya  mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu  saja membuat  Duryodana sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira  kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang  ingin pindah  pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang  pindah justru  adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama  Yuyutsu, yang  bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama  Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertempuran melawan Drona</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bisma memimpin pasukan Korawa selama  sepuluh hari. Setelah ia  tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona,  yang mendapat amanat dari  Duryodana supaya menangkap Yudistira  hidup-hidup. Drona senang atas  tugas tersebut, padahal niat Duryodana  adalah menjadikan Yudistira  sebagai sandera untuk memaksa para  pendukungnya menyerah. Berbagai cara  dilancarkan Drona untuk menangkap  Yudistira. Tidak terhitung banyaknya  sekutu Pandawa yang tewas di  tangan Drona karena melindungi Yudistira,  misalnya Drupada dan Wirata.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya pada hari ke-15, penasihat  Pandawa, yaitu Kresna menemukan  cara untuk mengalahkan Drona, yaitu  dengan mengumumkan berita kematian  seekor gajah bernama Aswatama.  Aswatama juga merupakan nama putera  tunggal Drona. Kemiripan nama  tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk  menipu Drona. Atas perintah  Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan  berteriak mengumumkan  kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian  Aswatama. Ia segera  mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai  manusia paling jujur  untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut.  Yudistira terpaksa  bersikap tidak jujur. Ia membenarkan berita kematian  Aswatama tanpa  berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan  putera Drona.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban Yudistira itu membuat Drona  jatuh lemas. Ia membuang semua  senjatanya dan duduk bermeditasi.  Tiba-tiba saja Drestadyumna putera  Drupada mendatanginya dan kemudian  memenggal kepalanya dari belakang.  Drona pun tewas seketika. Dalam  peristiwa ini yang paling merasa  bersalah adalah Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi Jawa, nama gajah yang dibunuh  Bima bukan Aswatama,  melainkan Hastitama. Ketika Drona menanyakan hal  itu, Puntadewa menjawab  bahwa yang mati adalah Hastitama, namun dengan  suara yang sangat pelan.  Akibatnya, terdengar oleh Drona bahwa yang  mati adalah Aswatama.  Selanjutnya, Drona yang lengah pun tewas  dipenggal Drestadyumna.</p>
<p><strong>Pertempuran  melawan Salya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salya adalah  kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena  tipu daya  mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh  Duryodana.  Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno  mengisahkan bahwa Salya  memakai senjata bernama Rudrarohastra,  sedangkan Yudistira memakai  senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka  Yudistira yang berupa kitab itu  dilemparkannya dan tiba-tiba berubah  menjadi tombak menembus dada Salya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara  itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu  Candabirawa  berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai  jumlahnya justru  bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta.  Candabirawa  lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi  Bagaspati,  yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa  melepaskan  Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya  pun tewas  seketika.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tantangan bagi  Duryodana</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kehabisan  pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga.  Kelima Pandawa  didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu.  Duryodana pun naik ke  darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus.  Yudistira menolak  tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat  pengecut dengan  cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika  membunuh Abimanyu  pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan  bertarung satu  lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa.  Apabila ia  kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa.  Sebaliknya  apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira  yang seolah-olah memberi  kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi,  padahal kemenangan Pandawa  tinggal selangkah saja. Dalam hal ini  Yudistira justru menyalahkan Bima  yang dianggap kurang percaya diri.  Duryodana meskipun bersifat angkara  murka namun ia juga seorang  pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan  perang tanding, yang paling  gagah di antara kelima Pandawa. Setelah  pertarungan sengit terjadi  cukup lama, akhirnya menjelang senja  Duryodana berhasil dikalahkan dan  kemudian menemui kematiannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Maharaja  dunia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah perang  berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk  memuliakan  mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja  Hastinapura  sekaligus raja Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima   Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang   adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para Korawa   tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian  menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu  upacara pengorbanan  untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh  dunia. Pada upacara  ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama  setahun. Arjuna  ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal  kuda tersebut.  Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda  tersebut harus  memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya semuanya memilih membayar upeti.  Sekali lagi Yudistira pun  dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah  Upacara Rajasuya dahulu.</p>
<p><strong>Lengser  lalu naik ke sorga</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/yudhishthhira-leaves.jpg?w=300&#38;h=233" alt="Yudhishthhira-leaves" hspace="4" width="300" height="233" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan Yudistira yang sedang  mendaki gunung  Himalaya sebagai perjalanan terakhirnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan  wafatnya Kresna, Yudistira dan  keempat adiknya mengundurkan diri dari  urusan duniawi. Mereka  meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat  keterikatan untuk  melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi  Bharatawarsha lalu menuju  puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya,  Yudistira menemukan anjing dan  kemudian hewan tersebut menjdi  pendamping perjalanan Pandawa yang  setia. Saat mendaki puncak, satu per  satu mulai dari Dropadi, Sadewa,  Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal  dunia. Masing-masing terseret oleh  kesalahan dan dosa yang pernah  mereka perbuat. Hanya Yudistira dan  aningnya yang berhasil mencapai  puncak gunung, karena kesucian hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput  Yudistira  untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun,  Indra  menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan  tersebut  tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira  menolak masuk  swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra  merasa heran  karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan  Dropadi tanpa  mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun  lebih memilih  untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira  menjawab bahwa  bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah  yang meninggalkan  dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesetiaan  Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli  yaitu Dewa  Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta  Indra.  Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada  justru  Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara  murka.  Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya   sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk   neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang   disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya  ngeri.  Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil  menguasai  diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil.  Yudistira  memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik  hidup tersiksa  bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada  bergembira di sorga  namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba  pemandangan berubah  menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa  sekali lagi Yudistira  lulus ujian. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu,  Pandawa Lima dan para  pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni  Surga, sementara para  korawa akan menjalani siksaan yang kekal di  neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi pewayangan  Jawa, kematian para Pandawa terjadi  bersamaan dengan Kresna ketika  mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar.  Namun, versi ini kurang begitu  populer karena banyak dalang yang lebih  suka mementaskan versi  Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana  dikisahkan di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Salinan dari :  http://tokohwayang.wordpress.com &#8212;&#62;&#62; terima kasih kepada pemilik  situs atas tulisannya.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

