<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Jawa</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/jawa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 09:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1010" title="kartu lebaran eka" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pementasan Wayang Beber</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/pementasan-wayang-beber/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/pementasan-wayang-beber/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 09:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada tulisan terdahulu <a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/" target="_blank">Wayang Beber</a>, telah disampaikan bahwa dalam pementasan terdapat dua versi yaitu versi Wonosari dan Versi Pacitan.  Perbedaan dari kedua versi tersebut adalah pada posisi Dalang-nya, jika pada versi Wonosari posisi Dalang berada di depan Wayang Beber, sedangkan jika versi Pacitan posisi Dalan berada di belakang Wayang Beber. Namun perbedaaan kedua-nya tidak menjadikan suatu hal yang begitu pripsip dalam pelestarian budaya dari Wayang Beber itu sendiri, baik Versi Wonosari ataupun versi Pacitan telah memiliki ruh dan menjadi ciri khas masing-masing, karena dari perbedaan kedua versi tersebut didapat sebuah keragaman khasanah budaya juga. Yang terpenting adalah bagaimana upaya dari masing-masing untuk bisa terus lestari dan tetap menjadi kebanggaan budaya daerah yang memang perlu untuk terus dipertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-839"></span>Setidaknya adanya kemajuan teknologi ini mampu dan dapat dimanfaatkan pihak-pihak yang begitu mencintai budaya tanah air dalam sebagai upaya dalam melestarikan budaya tersebut. Terus terang menang baru satu versi yang pernah saya lihat dan itupun tidak punya rekamannya sendiri karena memang waktu itu tidak sengaja ketika main ketempat saudara di daerah Karangmojo Gunungkidul kebetulan ada pementasan wayang beber ini, jadi ada kesempatan untuk bisa nonton, dan setelah itu ada yang cerita kalau model pementasannya sedikit berbeda dengan Versi Pacitan, setelah bertanya kesana kemari termasuk juga mencoba searching eh.. ternyata perbedaan yang paling mencolok adalah POSISI DALANG waktu mementaskan Wayang Beber ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bentuk jenis wayang beber itu sendiri, sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><img style="border:0;" src="http://www.cincopa.com/media-platform/api/thumb.aspx?fid=+AsAAnfa4YKP1&#038;size=large" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dan ada juga contoh pementasan Wayang Beber dengan nuansa modern yang disajikan dengan mengikuti perkembangan jaman dan secara kebetulan yang mementaskan adalah salah satu Putra Bang Haji Rhoma Irama, seperti dalam video berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=5pjZNRlNZ-w&#38;feature=related" target="_blank"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/5pjZNRlNZ-w&#38;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/5pjZNRlNZ-w&#38;feature"></embed></object></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=5pjZNRlNZ-w&#38;feature=related" target="_blank">Pementasan Wayang Beber</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika melihat dan mengamati cuplikan pementasan Wayang Beber tersebut diatas, tentunya Wayang Beber akan lebih bisa di kembangkan dan dimodifikasi dengan tanpa meninggalkan pakem-pakem dasar dari Wayang Beber dengan harapan dapat terus lestari dan banyak anak=anak muda untuk mencintai dan melestarikan budaya yang begitu mempesona demikian tulisan ini semoga bermanfaat, terima kasih</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/pementasan-wayang-beber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Beber</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 08:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Wayang, sebuah pertunjukkan seni budaya penuh dengan petuah dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan pada semua pribadi orang jawa, namun modernisasi telah menjadikan kesenian wayang sedikit terpinggirkan, apalagi anak-anak muda sekarang kurang menyukai kesenian Wayang, dari jenis serta bentuk Wayang begitu banyak, jika yang sering dilihat dan didengar tentunya semacam Wayang Kulit, Wayang Golek, Wayang Potehi dan Wayang Orang, karena memang masih lumayan eksis di saat ini. Ada satu jenis wayang yang terancam punah karena memang hanya tinggal  dua di Dunia, dan ternyata salah satunya terletak di daerah kelahiran saya di Gunungkidul Yogyakarta. <strong>Wayang Beber</strong> namanya, disebut <strong><em>Wayang Beber karena karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang yang dimainkan sang Dalang.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em><span id="more-831"></span></em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kapan Wayang Beber ini mulai ada.. ?? setidaknya terdapat beberapa versi keterangan menyebutkan angkat tahun berbeda yang tentunya ketiga keterangan tersebut memiliki dasar tersendiri.</p>
<ol>
<li>Wayang Beber mulai ada sejak tahun 1283 dengan kisah andalan Panji Asmara Bangun; <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_beber" target="_blank">(source)</a></li>
<li>Wayang Beber mulai ada sejak tahun <a href="http://jogja.tribunnews.com/2011/01/07/wayang-beber-tinggal-dua-buah-di-dunia" target="_blank">(1727 &#8211; 1749)</a>, diyakini sebagai peninggalan Paku Bowono II.</li>
<li>Wayang Beber mulai ada sejak tahun <a href="http://wayang.wordpress.com/2010/07/23/wayang-beber-2/" target="_blank">1416 Zaman Majapahit</a> dalam bahasan yang lain tersebut pula <a href="http://wayang.wordpress.com/2006/10/27/wayang-beber/" target="_blank">tahun 1361 Masehi atau tahun 1283 Saka</a>.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dari ketiga keterangan diatas memang diperlukan penelitian lebih lanjut sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kapan sebenarnya Wayang Beber mulai ada. Dan untuk lebih melestarikan Wayang Beber tersebut tentunya diperlukan sebuah kepedulian dan karya nyata dari para generasi bangsa agar kesenian tersebut tetap dapat lestari.  Beberapa sumber yang pernah saya baca disebutkan bahwa  Wayang Beber  hanya ada dua versi yaitu :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Wayang Beber Wonosari; untuk versi Wonosari pementasan wayang beber Dalang berada di depan Gambar Wayang, dengan alat penunjuk dalang akan menujuk tokoh-tokoh yang ia mainkan. Wayang Beber  Gelaran terdiri atas <em>empat lembar gulungan yang terbuat dari kulit  kayu pohon melinjo</em>. Wayang ini dipentaskan oleh dalang dengan cara  ditunjuk dan dibantu dua <em>parogo </em>yang bertugas memegangi dua  ujung gulungan wayang beber di sisi kanan dan kiri. Wayang ini berbeda  dengan wayang purwa yang cukup dimainkan oleh satu dalang. Wayang Beber yang ada di Wonosari Gunungkidul DI Yogyakarta mempunyai  nama: Wayang Beber Kyai Remeng Mangunjaya. Pemiliknya adalah keturunan  ke tujuh dari Kyai Remeng Mangunjaya yaitu Ki Supar.</li>
<li style="text-align: justify;">Wayang Beber Pacitan; versi Pacitan ini pementasan wayang Dalang berada di belakang Wayang yang di beber tersebut; Wayang Beber hanya dipentaskan untuk upacara ruwatan atau nadar saja.  Wayang ini berbentuk lukisan di atas kertas, dengan roman seperti  wayang kulit purwa hanya kedua matanya nampak. Sikap wayang  bermacam-macam, ada yang duduk bersila, sedang berjalan, sedang  berperang dan sebagainya. Lukisan wayang beber berjumlah 6 gulung, dan  tiap gulung berisi 4 jagong atau adegan, yang terbuat dari kulit pohon ponorogo</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Untuk melestarikan tersebut tidak harus mampu memainkan Wayang Beber akan tetapi dengan mencoba mengetahui, lalu menyukai dan mencintai akan seni Wayang Beber dengan harapan kita akan dapat memahami isi cerita dari Wayang Beber tersebut, sudah lebih dari cukup, dengan kecanggihan teknologi tentunya kita dapat saling share informasi tentang Wayang Beber ini sehingga tidak akan punah oleh usia, karena dari tulisan dan informasi yang kita sajikan tentunya akan banyak orang yang berusaha untuk mengetahui dan mempelajari Wayang Beber ini, dan jika ada yang memiliki kepiawaian dalam melukis dan menggambar bukan tidak mungkin dengan upaya melestarikan Wayang Beber ini akan dapat meningkatkan taraf hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wayang Beber hanya tinggal dua di dunia ini tersimpan dengan bagus dan terawat  baik, masing-masing dipelihara dan dilestarikan dengan baik oleh yang memiliki dan warga sekitarnya. Satu terdapat di Dusun Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, namun tidak setiap waktu dapat dilihat untuk dapat melihat Wayang Beber Gelaran ini kita dapat mengunjungi Taman Budaya Yogyakarta karena disana ada duplikasinya.  Sedangkan satu-nya lagi terdapat di Desa Karang Talun Kelurahan Kedompol Kecamatan Donoroko Kabupaten Pacitan.  Kedua Wayang Beber tersebut adalah asli karena memang berasal dari satu tempat yaitu Keraton Kasunan Surakarta, dan dari kedua Wayang tersebut memang ada perbedaan dan persamaannya seperti tersebut diatas.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pinggir Desa</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pinggir-desa/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pinggir-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 03:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/CIMG0168.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-827" title="CIMG0168" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/CIMG0168-300x225.jpg" alt="" width="177" height="111" /></a>wus telung windu kepungkur ing dalan iki</p>
<p>sliramu nate ndak kanthi mencak-i wengi</p>
<p>rikala rembulan tumungkul rerangkulan ratri</p>
<p>pasuryanmu endah kaya lintang panjerina</p>
<p><span id="more-826"></span></p>
<p>nimas,</p>
<p>wus kaping sanga ganti mangsa</p>
<p>isih krasa anget astaku rikala ngaras pipi-mu ing pinggir desa</p>
<p>tan ana pangucap saka lathimu kang rinungket rasa</p>
<p>gunung gambar wonosadi</p>
<p>nunut nyekseni asmaraning wijaya kusuma,</p>
<p>kang nggondo arum ing wayah dalu</p>
<p>sumebar ngebaki dalan-dalan wengi,</p>
<p>nimas,</p>
<p>telung windu wus lumaku</p>
<p>crita kuwi tansah lelimengan ing impenku</p>
<p>crita kawuri kang tansah ndak patri ing ati</p>
<p>Gantiwarna, Pungkasan Syawal 1431 H</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pinggir-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pungkasaning Ratri</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pungkasaning-ratri/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pungkasaning-ratri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 13:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[<p>gisiking wengi adhem tintrim tanpa rasa</p>
<p>mung lintang panjerina kang madhangi jagat</p>
<p>amarga rembulan  kemulan mendhung</p>
<p>atiku temlawung …</p>
<p><span id="more-756"></span></p>
<p>atiku ngudarasa njambak pengarep-arep</p>
<p>ndak kekep pangrasaku</p>
<p>rikala aku nyoba ngaturake marang sliramu tirta suci</p>
<p>amarga esemu prasasat tetesing embun</p>
<p>marang ati kang nandhang wuyung</p>
<p>ing pungkasaning ratri</p>
<p>atiku kapang</p>
<p>pasuryanmu tansah lelimengan ing gisiking kalbu</p>
<p>canthing-canthing ing astamu</p>
<p>mbatik ati, atiku kang nandang branta</p>
<p>ing pungkasaning ratri</p>
<p>ndak kanthi tumekaning surya wayah esok</p>
<p>mbarengi  jago kluruk nggugah birahi</p>
<p>ing pungkasaning ratri</p>
<p>ndak ronce kembang-kembang wangi</p>
<p>kinanthi doa-doa suci</p>
<p>mbarengi tumetesing waspaku nguntapake laku</p>
<p>laku mu nimas ing bebrayan sejati</p>
<p>﻿</p>
<p>Gedog, 3 Nop 2010</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pungkasaning-ratri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Embun Setya Ing Janji</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/embun-setya-ing-janji/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/embun-setya-ing-janji/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 05:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=737</guid>
		<description><![CDATA[<p>ing pojok desa</p>
<p>tak kanti tekane embun</p>
<p>bebarengan ocehing manuk ing wayah isuk</p>
<p>rikala suket-suket isih rerungketan</p>
<p>krasa atis</p>
<p>angin isih sepi</p>
<p>embun tumetes nelesi lemah-lemah abang</p>
<p>embun kang ngawa warta</p>
<p>warta marang sa-dengah titah</p>
<p>oh&#8230; isih ono panguripan</p>
<p>embun ora cidro marang janjine</p>
<p>amarga embun tansah setya</p>
<p>kanthi ngawruhake rasa</p>
<p>rasa tresnane marang panguripan</p>
<p>oh.. embun</p>
<p>tekamu nelesi ati</p>
<p>tekamu</p>
<p>nggugah pangarep-arep</p>
<p>marang crita urip kang dawa</p>
<p>Mburi Rel, Gedog 22 Oktober 2010</p>
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="post_form_id" type="hidden" value="8230a107092785940aa3ee5601564820" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="fWmd-" />
<input name="feedback_params" type="hidden" value="{&#34;actor&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;target_fbid&#34;:&#34;451115782231&#34;,&#34;target_profile_id&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;type_id&#34;:&#34;14&#34;,&#34;source&#34;:&#34;2&#34;,&#34;assoc_obj_id&#34;:&#34;&#34;,&#34;source_app_id&#34;:&#34;&#34;,&#34;extra_story_params&#34;:[],&#34;check_hash&#34;:&#34;be0f4bb618e5452c&#34;}" />
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/embun-setya-ing-janji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guritku</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/guritku/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/guritku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 05:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<pre>gerimis sansaya gedhe</pre>
<pre>gerimis arep dadi udan</pre>
<pre>langit mendung peteng tanpa lintang</pre>
<pre>sepi tanpa suara</pre>
<pre>wening tan ana lelagon</pre>
<pre>gurit-ku panjeriting ati</pre>
<pre>ati atis</pre>
<pre>ati wengis</pre>
<pre>ati miris</pre>
<pre>ati kang kebak tangis</pre>
<pre>gurit-ku sepo</pre>
<pre>sepo tanpa suara</pre>
<pre>sepo tanpa lukita</pre>
<pre>sepo tanpa pramusita</pre>
<pre>gurit-ku gegambaraning ati sepi</pre>
<pre>gurit-ku pralambang temekaning prahara</pre>
<pre>gurit-ku impen kang dadi nyata
</pre>
<pre style="padding-left: 30px;">
Bumi Bung Karno, 10 Okt 2010</pre>
</div>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/guritku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin, Refleksi Sebuah Kejujuran</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 22:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/cermin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-597" title="cermin" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/cermin.jpg" alt="" width="116" height="136" /></a>Cermin, siapa yang tidak tahu dan mengenal benda yang satu ini, karena dalam setiap ruang, setiap sisi-sisi rumah akan selalu ada benda ini, tiada habisnya kita mamatut diri didepan cermin untuk sekedar bisa melihat apa yang kurang pantas pada diri kita, karena jelas bawah pengertian cermin sendiri adalah permukaan memantul yang cukup  licin untuk membentuk imej. Cermin dikenali ramai sebagai sejenis benda  yang boleh memantulkan cahaya ataupun bayang-bayang. <a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin" target="_blank">(http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin)</a>. Ach.. itu hanyalah sebuah definisi dan pengertian, namun pernahkah kita sedikit memahami fungsi cermin itu lebih jauh dan lebih dalam lagi, bahwa cermin tidak sekedar pemantul bayang-bayang, bahwa cermin tidak sekedar alat untuk melihat sudah pantaskah dandanan kita. Pernahkah kita menyadari bahwa <strong>cermin begitu jujur</strong> pada kita. Karena apa yang ada pada diri kita akan dipantulkan demikian apa adanya oleh cermin.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-596"></span>Sebuah kesadaran dan rasa mawas diri dapat kita dapatkan dari cermin ini, ada sebuah ungkapan dalam bahasa jawa   <strong>&#8220;Ngiloa Githoke Dhewe&#8221;, </strong>yang secara harfiah adalah <em><span style="text-decoration: underline;">bercerminlah pada tengkuknya  sendiri, </span></em>dengan<em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em>arti sebagai berikut  :</p>
<ul>
<li>Ngilo : bercermin</li>
<li>Ngiloa : bercerminlah</li>
<li>Githok :  tengkuk</li>
<li>Githoke : tengkuknya</li>
<li>Dhewe : Sendiri.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Arti yang tersirat dari ungkapan itu adalah<em> kita diajak untuk melihat dan mengetahui tentang diri k</em><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/cermin2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-602" title="cermin2" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/cermin2.jpg" alt="" width="138" height="202" /></a><em>ita  leb</em><em>ih jauh. Selain ada kebaikan ada juga kekurangan dan kelemahannya.</em> Kita diajak untuk menyadari akan kekurangan dan kelemahan kita sendiri dengan sebuah nilai  yang diajarkan bahwa <em>ungkapan</em><em> ini mengajarkan agar setiap orang mau  mawas diri. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejauhmana kita menggunakan cermin selama ini, apakah sebatas kita bercermin untuk badaniah kita..?? sudah pernahkan kita mematut diri di cermin kemudian mencoba untuk melihat dan menyelami diri kita yang sebenarnya, yach.. &#8220;<strong>Cermin Hati</strong>&#8220;.. sering kita lupakan ketika kita berada di depan cermin, karena kita hanya sebatas bercermin untuk badan kita. Mematut diri dan membetulkan dandanan yang kurang pas, namun kita hampir tidak pernah mencoba untuk bisa memahami dan membetulkan sikap, perilaku, tindakan serta ucapan-ucapan kita yang dipantulkan oleh &#8220;<strong>cermin hati</strong>&#8220;<em>, </em>karena kita terkadang kurang respek terhadap <em>&#8220;Kejujuran&#8221;</em> dari Cermin itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Cermin akan mengatakan apa adanya tentang diri kita, cermin itu tidak pernah bohong, cermin itu jujur, cermin itu apa adanya tidak ada yang ditutupi cermin apa yang ada pada diri kita itulah yang akan dipantulkan oleh cermin<em>. </em>Sudah sewajarnya jika kita menjadikan cermin adalah sahabat sejati<em> </em>bagi kita karena cermin akan bilang jelek jika kita jelak dan akan bilang baik jika kita baik. Dan karena cermin adalah refleksi sebuah kejujuran sangat tepat dan pas jika cermin kita gunakan sebagai alat untuk instropeksi diri dimana kekurangan dan kelebihan kita dalam menjalani kehidupan ini. Semoga dengan demikian kita dapat menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi kehidupan, dengan terus bercermin dengan &#8220;CERMIN HATI&#8221;.. semoga bermanfaat terima kasih <em><br />
</em></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cermin-refleksi-sebuah-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Mengapa Saya Begitu Menyukai Ketokohan Yudishtira</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 14:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-4.png" alt="" /> <img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-5.png" alt="" /><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-590" title="Yudis" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg" alt="" width="87" height="124" /></a>Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu  tokoh protagonis  dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang  raja yang memerintah  kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di  Hastinapura. Ia merupakan  yang tertua di antara lima Pandawa, atau para  putera Pandu. Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu”  dan memiliki  julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan  nama Kerajaan  Amarta.    <strong> </strong>Nama Yudistira dalam  bahasa  Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Ia juga  dikenal  dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena  ia  selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-589"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Beberapa  julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:</p>
<ul>
<li>Ajatasatru,  “yang tidak memiliki musuh”.</li>
<li>Bharata, “keturunan Maharaja  Bharata”.</li>
<li>Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa  Dharma”.</li>
<li>Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”.</li>
<li>Kurunandana,  “kesayangan Dinasti Kuru”.</li>
<li>Kurupati, “raja Dinasti Kuru”.</li>
<li>Pandawa,  “putera Pandu”.</li>
<li>Partha, “putera Prita atau Kunti”.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Beberapa di antara nama-nama di atas juga  dipakai oleh tokoh-tokoh  Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma,  dan Duryodana. Selain  nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa  masih terdapat beberapa  nama atau julukan yang lain lagi untuk  Yudistira, misalnya:</p>
<ul>
<li>Puntadewa,  “derajat keluhurannya setara para dewa”.</li>
<li>Yudistira, “pandai  memerangi nafsu pribadi”.</li>
<li>Gunatalikrama, “pandai bertutur  bahasa”.</li>
<li>Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.</li>
</ul>
<p><strong>Sifat  dan kesaktian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sifat-sifat  Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya,  sebagaimana telah  disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol  adalah adil, sabar,  jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya  diri, dan berani  berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata  terutama dalam hal  memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi  pewayangan Jawa lebih  menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia  pernah dikisahkan  menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan  hanya meraba  kepala mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dalam  pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus  Kalimasada, Tunggulnaga,  dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa  kitab, sedangkan  Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka  utama kerajaan  Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud  kalung yang  terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah  pemberian  Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman  pemerintahan Pandu.  Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia  pun meraba kalung  tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi  raksasa besar  berkulit putih bersih.</p>
<p><strong>Kelahiran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira adalah putera tertua pasangan  Pandu dan Kunti. Kitab  Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa  mengisahkan tentang kutukan  yang dialami Pandu setelah membunuh  brahmana bernama Resi Kindama tanpa  sengaja. Brahmana itu terkena panah  Pandu ketika ia dan istrinya sedang  bersanggama dalam wujud sepasang  rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi  Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa  kelak ia akan mati ketika mengawini  istrinya. Dengan penuh penyesalan,  Pandu meninggalkan tahta Hastinapura  dan memulai hidup sebagai pertapa  di hutan demi untuk mengurangi hawa  nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti  dan Madri dengan setia mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada  suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak.  Kunti yang  menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan  suaminya  itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk  mendapatkan  putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil  mendatangkan Dewa  Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa  melalui  persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan   demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian   Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah  yang  kemudian diwarisi oleh Yudistira sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Versi pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda.  Menurut versi ini,  Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di  istana Hastinapura.  Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong  kelahiran Puntadewa  dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa  tersebut, Puntadewa  lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan  Jawa, nama Puntadewa  lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira  baru digunakan setelah ia  dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan  Puntadewa sebagai seorang  manusia berdarah putih, yang merupakan  kiasan bahwa ia adalah sosok  berhati suci dan selalu menegakkan  kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa kecil dan  pendidikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dan  keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal  dunia.  Adapun kelima putera Pandu itu terkenal dengan sebutan para  Pandawa,  yang semua lahir melalui mantra Adityahredaya. Kedatangan para  Pandawa  membuat sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin Duryodana  merasa  cemas. Putera-putera Dretarastra itu takut kalau Pandawa sampai   berkuasa di kerajaan Kuru. Dengan berbagai cara mereka berusaha   menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat.   Di lain pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya   tidak membalas perbuatan para Korawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan  tata  negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira  tampil  sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila  tahta  Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu,  Pandawa  dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam  pendidikan kedua  ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai,  terutama dalam  ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih  terampil dalam  menggunakan senjata tombak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Konflik memperebutkan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya  meninggal dunia, tahta  Hastinapura untuk sementara dipegang oleh  kakaknya, yaitu Dretarastra,  ayah para Korawa. Ketika Yudistira  menginjak usia dewasa, sudah tiba  saatnya bagi Dretarastra untuk  menyerahkan tahta kepada Yudhisthira,  selaku putera sulung Pandu.  Sementara itu putera sulung Dretarastra,  yaitu Duryodana berusaha keras  merebut tahta dan menyingkirkan Pandawa.  Dengan bantuan pamannya dari  pihak ibu, yaitu Sangkuni, Duryodana  pura-pura menjamu kelima sepupunya  itu dalam sebuah gedung di  Waranawata, dimana gedung itu terbuat dari  bahan yang mudah terbakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat para Pandawa  dan Kunti,  ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri  karena  rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu  Widura adik  Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos  dari maut.  Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman  sulit.</p>
<p><strong>Pernikahan dengan Dropadi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lolos dari jebakan maut Korawa,  para Pandawa dan Kunti pergi  melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal  sementara di kerajaan Panchala.  Arjuna berhasil memenangkan sayembara  di kerajaan tersebut dan  memperoleh seorang puteri cantik yang bernama  Dropadi. Tanpa sengaja  Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima.  Akibatnya, Dropadi pun  menjadi istri kelima Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi  melahirkan Pratiwindya,  dari Bima lahir Sutasoma, dari Arjuna lahir  Srutasena, dari Nakula lahir  Satanika, dan dari Sadewa lahir  Srutakirti.</p>
<p style="text-align: justify;">Versi Jawa menyebut  Dropadi dengan nama “Drupadi”. Menurut pewayangan  Jawa, setelah  memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu  kepada Puntadewa  selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun  setelah didesak  oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia  menikahi  Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putera bernama  Pancawala.  Jadi, menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima  Pandawa,  sedangkan menurut versi Jawa, ia hanya menikah dengan  Yudistira  seorang.</p>
<p><strong>Raja Indraprastha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa  kembali ke Hastinapura dan  memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari  pihak Duryodana. Persaingan  antara Pandawa dan Korawa atas tahta  Hastinapura kembali terjadi. Para  sesepuh akhirnya sepakat untuk  memberi Pandawa sebagian dari wilayah  kerajaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Korawa yang licik mendapatkan istana  Hastinapura, sedangkan Pandawa  mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai  tempat untuk membangun istana  baru. Meskipun daerah tersebut sangat  gersang dan angker, namun para  Pandawa mau menerima wilayah tersebut.  Selain wilayahnya yang seluas  hampir setengah wilayah kerajaan Kuru,  Kandawaprastha juga merupakan  ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum  Hastinapura. Para Pandawa  dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan  Baladewa, dan berhasil membuka  Kandawaprastha menjadi pemukiman baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Pandawa kemudian memperoleh  bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli  bangunan dari kahyangan, dan juga  Anggaraparna dari bangsa Gandharwa.  Maka terciptalah sebuah istana  megah dan indah bernama Indraprastha,  yang bermakna “kota Dewa Indra”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemerintahan Yudistira versi  pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembangunan  kerajaan Amarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/upacararajasuyadiindraprastha.jpg?w=225&#38;h=303" alt="Upacara Rajasuya di Indraprastha" hspace="4" width="225" height="303" align="right" />Dalam versi  pewayangan Jawa, nama Indraprastha  lebih terkenal dengan sebutan  kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan  yang dibuka para Pandawa bukan  bernama Kandawaprastha, melainkan  bernama Wanamarta.</p>
<p>Versi Jawa  mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak  kembali ke  Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat  mereka  yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang  bersimpati pada  pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka  kawasan hutan tak  bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan  baru. Hutan Wanamarta  dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin  oleh lima bersaudara,  bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad,  dan Sapulebu.  Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami  banyak  rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para  makhluk  halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke  alam  nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat  adiknya  menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing  menyatu ke  dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja  Amarta setelah  didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk  mengenang dan  menghormati raja jin yang telah memberinya istana,  Puntadewa pun memakai  gelar Prabu Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anugerah Ketentraman</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa  berusaha keras untuk  memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita  bahwa barang siapa yang  bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang  bernama Dewi  Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi  makmur dan  sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk  memiliki seorang  istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya  menikah lagi demi  kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju  Kerajaan Slagahima. Di  istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak  raja dan pangeran yang  datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri  hanya sudi menikah  dengan seseorang yang berhati suci, dan ia  menemukan kriteria itu dalam  diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten  tiba-tiba musnah dan menyatu ke  dalam diri Puntadewa. Sebenarnya  Kuntulwinanten bukan manusia asli,  melainkan wujud penjelmaan anugerah  dewata untuk seorang raja adil yang  hanya memikirkan kesejahteraan  negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima  yang asli bernama  Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa  dan diangkat  sebagai patih di kerajaan Amarta.</p>
<p><strong>Upacara  Rajasuya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kitab Mahabharata  bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat  Yudistira untuk  menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan  dharma dan  menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha  (India  Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara  agung  tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat yang sama,  seorang raja angkara murka juga mengadakan  upacara mengorbankan seratus  orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda  dari kerajaan Magadha.  Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan  didampingi Kresna sebagai  penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya,  melalui sebuah  pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah semua persyaratan terpenuhi,  Yudistira melaksanakan upacara  Rajasuya yang dihadiri sekian banyak  kaum raja dan pendeta. Dalam  kesempatan itu, Yudistira ditetapkan  sebagai Maharajadhiraja. Kemudian  muncul seorang sekutu Jarasanda  bernama Sisupala yang menghina Kresna di  depan umum. Setelah melewati  penghinaan ke-100, Krishna akhirnya  memenggal kepala Sisupala di depan  umum.</p>
<p><strong>Kehilangan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/permainandaduantarapandawadankorawa.jpg?w=360&#38;h=265" alt="permainan dadu antara Pandawa dan  Korawa" hspace="4" width="360" height="265" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan dari  Punjab, dibuat sekitar abad ke-18,  menggambarkan suasana aula permainan  dadu antara Pandawa dan Korawa.  Tampak dalam gambar, Dropadi yang  berusaha ditelanjangi oleh Dursasana.  Di sebelah kiri bawah, tampak  kelima Pandawa sedang diam menerima  kekalahannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya,  Duryodana sangat kagum  sekaligus iri menyaksikan keindahan istana  Indraprastha. Timbul niatnya  untuk merebut kerajaan itu, apalagi  setelah ia tersinggung oleh ucapan  Dropadi dalam sebuah pertemuan.  Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan  memanfaatkan kegemaran  Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira  memang seorang ahli agama,  namun di sisi lain ia sangat menyukai  permainan tersebut. Undangan  Duryodana diterimanya dengan baik.  Permainan dadu antara Pandawa  melawan Korawa diadakan di istana  Hastinapura. Mula-mula Yudistira  hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun  semuanya jatuh ke tangan Duryodana  berkat kepandaian Sakuni dalam  melempar dadu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua   hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun dengan   susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap   mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya   pun jatuh pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya   Yudistira sendiri. Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah   kehilangan kemerdekaannya untuk melanjutkan permainan, dengan   mempertaruhkan Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan  umum terdengar oleh  Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar  Duryodana menghentikan  permainan dan mengembalikan semuanya kepada  Pandawa. Dengan berat hati,  Duryodhana terpaksa mematuhi perintah  ibunya itu. Duryodana yang kecewa  kembali menantang Yudistira beberapa  waktu kemudian. Kali ini  peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah  harus menyerahkan negara  beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan  selama 12 tahun serta  menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan.  Apabila penyamaran itu  terbongkar, maka wajib mengulangi lagi  pembuangan selama 12 tahun dan  menyamar setahun, begitulah seterusnya.  Akhirnya berkat kelicikan  Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan  untuk yang kedua kalinya.  Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi  menjalani masa pembuangan mereka  di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kehidupan dalam Pembuangan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam  menjalani masa pembuangan  selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada  jilid ketiga kitab Mahabharata  yang dikenal dengan sebutan Wanaparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira yang merasa paling  bertanggung jawab atas apa yang menimpa  keluarga dan negaranya berusaha  untuk tetap tabah dalam menjalani  hukuman. Ia sering berselisih paham  dengan Bima yang ingin kembali ke  Hastinapura untuk menumpas para  Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap  tunduk dan patuh terhadap  perintah Yudistira supaya menjalani hukuman  sesuai perjanjian.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika para Korawa datang ke dalam  hutan untuk berpesta demi  menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka  justru berselisih dengan  kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam  peristiwa itu Duryodana  tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi,  Yudistira justru mengirim Bima  dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia  mengancam akan berangkat sendiri  apabila kedua adiknya itu menolak  perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu  berhasil membebaskan Duryodana.  Niat Duryodana datang ke hutan untuk  menyiksa perasaan para Pandawa  justru berakhir dengan rasa malu luar  biasa yang ia rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa lain yang terjadi adalah  penculikan Dropadi oleh Jayadrata,  adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna  berhasil menangkap Jayadrata dan  hampir saja membunuhnya. Yudistira  muncul dan memaafkan raja kerajaan  Sindu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peristiwa telaga beracun</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari menjelang berakhirnya  masa pembuangan, Yudistira dan  keempat adiknya membantu seorang  brahmana yang kehilangan peralatan  upacaranya karena tersangkut pada  tanduk seekor rusa liar. Dalam  pengejaran terhadap rusa itu, kelima  Pandawa merasa haus. Yudistira pun  menyuruh Sadewa mencari air minum.  Karena lama tidak kembali, Nakula  disuruh menyusul, kemudian Arjuna,  lalu akhirnya Bima menyusul pula.  Yudistira semakin cemas karena  keempat adiknya tidak ada yang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai  mereka  telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang  mengaku  sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat  Pandawa tewas  keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab  pertanyaan sang  raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan  Sang Raksasa untuk  bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan  berhasil ia jawab.  Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia  hanya sanggup  menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira  memilih Nakula  untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula  adalah adik tiri,  bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya  harus berlaku adil.  Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri.  Karena Yudistira lahir  dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup  kembali harus putera yang  lahir dari Madri, yaitu Nakula.</p>
<p style="text-align: justify;">Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira.  Ia pun kembali ke wujud  aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya  dengan menyamar sebagai rusa  liar dan raksasa adalah untuk memberikan  ujian kepada para Pandawa.  Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira,  maka tidak hanya Nakula yang  dihidupkan kembali, melainkan juga Bima,  Arjuna, dan Sadewa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira  dalam masa penyamaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan  Dropadi  kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat   persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh   Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau   Wirataparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira menyamar  dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai  kusir kereta Raja Wirata.  Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak,  Arjuna menjadi Wrihanala  sebagai banci guru tari, Nakula menjadi  Damagranti sebagai tukang kuda,  Sadewa menjadi Tantripala sebagai  penggembala sapi, sedangkan Dropadi  menjadi Sailandri sebagai dayang  istana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa  serangan  kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan  kerajaan  Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha,  sekutu  Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam  keadaan  terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata  yang  ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna)  sebagai  kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil  menghadapi  pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil  memukul  mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu,  pasukan Wirata  juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata  dengan bangga  memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan  para Korawa  seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci  kemenangan  Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung  dan memukul  kepala Kanka sampai berdarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan,  bukan nama  orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan  tersebut,  Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu  kota  bernama Dwijakangka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat  batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan  Dropadi  pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat   menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan   menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta   Indraprastha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira saat  Bharatayuddha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika para  Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang  seharusnya mereka  terima, Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia  tidak mau  menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai   dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan,   Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa   saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana berusaha   membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang antara Pandawa dan Korawa tidak  dapat lagi dihindari. Para  pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan  nama Bharatayuddha.  Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar  tersebut ditemukan  pada jilid keenam sampai kesepuluh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Awal pertempuran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa  sebelum perang hari pertama  dimulai, Yudistira turun dari keretanya  berjalan kaki ke arah pasukan  Korawa yang berbaris di hadapannya.  Duryodana mengejeknya sebagai  pengecut yang langsung menyerah begitu  melihat kekuatan Korawa dan  sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudistira  bukan untuk menyerah,  melainkan meminta doa restu kepada empat sesepuh  yang berperang di pihak  lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa, Drona, dan  Salya. Keempatnya  mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu  saja membuat  Duryodana sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira  kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang  ingin pindah  pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang  pindah justru  adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama  Yuyutsu, yang  bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama  Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertempuran melawan Drona</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bisma memimpin pasukan Korawa selama  sepuluh hari. Setelah ia  tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona,  yang mendapat amanat dari  Duryodana supaya menangkap Yudistira  hidup-hidup. Drona senang atas  tugas tersebut, padahal niat Duryodana  adalah menjadikan Yudistira  sebagai sandera untuk memaksa para  pendukungnya menyerah. Berbagai cara  dilancarkan Drona untuk menangkap  Yudistira. Tidak terhitung banyaknya  sekutu Pandawa yang tewas di  tangan Drona karena melindungi Yudistira,  misalnya Drupada dan Wirata.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya pada hari ke-15, penasihat  Pandawa, yaitu Kresna menemukan  cara untuk mengalahkan Drona, yaitu  dengan mengumumkan berita kematian  seekor gajah bernama Aswatama.  Aswatama juga merupakan nama putera  tunggal Drona. Kemiripan nama  tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk  menipu Drona. Atas perintah  Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan  berteriak mengumumkan  kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian  Aswatama. Ia segera  mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai  manusia paling jujur  untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut.  Yudistira terpaksa  bersikap tidak jujur. Ia membenarkan berita kematian  Aswatama tanpa  berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan  putera Drona.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban Yudistira itu membuat Drona  jatuh lemas. Ia membuang semua  senjatanya dan duduk bermeditasi.  Tiba-tiba saja Drestadyumna putera  Drupada mendatanginya dan kemudian  memenggal kepalanya dari belakang.  Drona pun tewas seketika. Dalam  peristiwa ini yang paling merasa  bersalah adalah Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi Jawa, nama gajah yang dibunuh  Bima bukan Aswatama,  melainkan Hastitama. Ketika Drona menanyakan hal  itu, Puntadewa menjawab  bahwa yang mati adalah Hastitama, namun dengan  suara yang sangat pelan.  Akibatnya, terdengar oleh Drona bahwa yang  mati adalah Aswatama.  Selanjutnya, Drona yang lengah pun tewas  dipenggal Drestadyumna.</p>
<p><strong>Pertempuran  melawan Salya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salya adalah  kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena  tipu daya  mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh  Duryodana.  Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno  mengisahkan bahwa Salya  memakai senjata bernama Rudrarohastra,  sedangkan Yudistira memakai  senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka  Yudistira yang berupa kitab itu  dilemparkannya dan tiba-tiba berubah  menjadi tombak menembus dada Salya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara  itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu  Candabirawa  berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai  jumlahnya justru  bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta.  Candabirawa  lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi  Bagaspati,  yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa  melepaskan  Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya  pun tewas  seketika.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tantangan bagi  Duryodana</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kehabisan  pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga.  Kelima Pandawa  didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu.  Duryodana pun naik ke  darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus.  Yudistira menolak  tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat  pengecut dengan  cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika  membunuh Abimanyu  pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan  bertarung satu  lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa.  Apabila ia  kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa.  Sebaliknya  apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira  yang seolah-olah memberi  kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi,  padahal kemenangan Pandawa  tinggal selangkah saja. Dalam hal ini  Yudistira justru menyalahkan Bima  yang dianggap kurang percaya diri.  Duryodana meskipun bersifat angkara  murka namun ia juga seorang  pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan  perang tanding, yang paling  gagah di antara kelima Pandawa. Setelah  pertarungan sengit terjadi  cukup lama, akhirnya menjelang senja  Duryodana berhasil dikalahkan dan  kemudian menemui kematiannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Maharaja  dunia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah perang  berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk  memuliakan  mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja  Hastinapura  sekaligus raja Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima   Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang   adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para Korawa   tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian  menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu  upacara pengorbanan  untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh  dunia. Pada upacara  ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama  setahun. Arjuna  ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal  kuda tersebut.  Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda  tersebut harus  memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya semuanya memilih membayar upeti.  Sekali lagi Yudistira pun  dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah  Upacara Rajasuya dahulu.</p>
<p><strong>Lengser  lalu naik ke sorga</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/yudhishthhira-leaves.jpg?w=300&#38;h=233" alt="Yudhishthhira-leaves" hspace="4" width="300" height="233" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan Yudistira yang sedang  mendaki gunung  Himalaya sebagai perjalanan terakhirnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan  wafatnya Kresna, Yudistira dan  keempat adiknya mengundurkan diri dari  urusan duniawi. Mereka  meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat  keterikatan untuk  melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi  Bharatawarsha lalu menuju  puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya,  Yudistira menemukan anjing dan  kemudian hewan tersebut menjdi  pendamping perjalanan Pandawa yang  setia. Saat mendaki puncak, satu per  satu mulai dari Dropadi, Sadewa,  Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal  dunia. Masing-masing terseret oleh  kesalahan dan dosa yang pernah  mereka perbuat. Hanya Yudistira dan  aningnya yang berhasil mencapai  puncak gunung, karena kesucian hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput  Yudistira  untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun,  Indra  menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan  tersebut  tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira  menolak masuk  swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra  merasa heran  karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan  Dropadi tanpa  mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun  lebih memilih  untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira  menjawab bahwa  bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah  yang meninggalkan  dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesetiaan  Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli  yaitu Dewa  Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta  Indra.  Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada  justru  Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara  murka.  Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya   sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk   neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang   disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya  ngeri.  Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil  menguasai  diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil.  Yudistira  memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik  hidup tersiksa  bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada  bergembira di sorga  namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba  pemandangan berubah  menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa  sekali lagi Yudistira  lulus ujian. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu,  Pandawa Lima dan para  pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni  Surga, sementara para  korawa akan menjalani siksaan yang kekal di  neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi pewayangan  Jawa, kematian para Pandawa terjadi  bersamaan dengan Kresna ketika  mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar.  Namun, versi ini kurang begitu  populer karena banyak dalang yang lebih  suka mementaskan versi  Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana  dikisahkan di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Salinan dari :  http://tokohwayang.wordpress.com &#8212;&#62;&#62; terima kasih kepada pemilik  situs atas tulisannya.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janjimu Ing Wengi</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/janjimu-ing-wengi/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/janjimu-ing-wengi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 12:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=537</guid>
		<description><![CDATA[<p>janjimu ing wengi kang sepi<br />
kemulan rembulan rerungketan<br />
kinanthi kidung asih</p>
<p>janjimu ing wengi kang sepi<br />
sliramu titipake marang rembulan<br />
mbarengi gegodongan gegojekan<br />
rerangkulan pang-pang garing</p>
<p>wengi kang atis<br />
wengi kang tanpa lintang<br />
mamring tanpa swara<br />
panduluku tansah pengin ngaras pipimu</p>
<p>pengangen-angenku, panrawang kang pupus<br />
kabukak siji mboko siji<br />
alon.. prasasat tanpa suara<br />
mung katresnan jati kang lumaku<br />
tumapak lan kudu jumangkah<br />
ngrungkepi janji-janjimu ing wengi..</p>
<p>lilakno anggamu tak rengkuh kang pungkasan<br />
krana aku kepenging ngopeni crita iki<br />
tresna kang kabuncang,&#8230;.<br />
bebarengi janjimu ing wengi kang cinidra</p>
<p>Blitar, 19-4-2010</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/janjimu-ing-wengi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

