<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Cinta</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 09:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1010" title="kartu lebaran eka" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Adalah Sumber Kesabaran Bagi Orang Tua</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-adalah-sumber-kesabaran-bagi-orang-tua/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-adalah-sumber-kesabaran-bagi-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 01:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto111.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-966" title="Foto111" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto111-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Sabar,.. adalah sebuah kata yang begitu mendalam memaknai-nya, sering kita mendengar bahkan mengucapkan perkataan &#8220;SABAR&#8221; itu sendiri, namun terkadang kita juga tidak begitu saja bisa memaknai dan memahami kesabaran itu dengan sebenarnya, agar kita bisa memaknai dan memahmi serta dapat menerapkan sabar dalam setiap gerak kehidupan kita tentunya harus mengetahui terlebih dahulu sabar itu sendiri. Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan  sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah  &#8220;Shobaro&#8221;, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi &#8220;shabran&#8221;. Dari  segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna  seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur&#8217;an: &#8220;<strong><em>Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru  Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan  janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan  perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang  hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa  nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas&#8221;</em></strong>. (QS. Al-Kahfi/ 18 :  28)&#8221;.<span id="more-965"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:  &#8220;<strong>Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan  lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang  tidak terarah</strong>&#8220;.  Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah &#8220;<em>keteguhan bersama  Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang</em>&#8220;. Hal senada juga  dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah &#8220;<strong>refleksi keteguhan  untuk merealisasikan al-Qur&#8217;an dan sunnah</strong>&#8220;. Sehingga sesungguhnya sabar  tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang  seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah  kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk  berjuang dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa menjadi sabar tidaklah mudah dan segampang membalikkan telapak tangan, namun menjadi manusia sabar bukanlah tidak mungkin, hanya perlu latihan dan terus berusaha untuk menyikapi semua permasalahan tersebut dengan lapang dada dan ke-ikhlasan. Sebenarnya tidak perlu bingung atau repot untuk bisa mengasah dan mengetahui tingkat kesabaran kita, kenapa .. ?? Karena manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial, makhluk yang harus berinteraksi dengan orang lainnya, didalam berinteraksi dan berkomunikasi tersebut sangat mungkin akan terjadi konflik. Nah disinilah kita dapat mengukur tingkat kesabaran kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dimanakah sumber-sumber kesabaran itu ..?, sebuah pertanyaan yang sangat mudah menjawabnya namun masih sulit untuk melaksanakannya.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Anak adalah sumber kesabaran bagi orang tua-nya; ada sebuah contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari dalam mengasuh anak, sering orang tua dibuat jengkel, marah dan harus memarahi anak-anaknya, karena dianggap anak tidak menurut apa yang dikatakan, diperintahkan dan dicontohkan orang tuanya. Tidak jarang orang tua akhirnya sangat marah bahkan hingga hilang kesabarannya, karena menganggap anaknya nakal bandal dan tidak menurut sama orang tua. Tapi tunggu dulu, jika kita sebagai orang tua mampu memahami dan mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada diri si anak, maka kita tidak akan memarahi-nya, disinilah dibutukan toleransi tingkat tinggi dari sosok orang tua sehingga lambat laun Kesabaran kita sebagai orang tua akan terasah.</li>
<li style="text-align: justify;">Orang tua adalah sumber kesabaran bagi anak-anaknya, sebenarnya permasalahannya tidak jauh berbeda dengan hal diatas, hanya saja anak-anak dalam sebuah pemahaman belum begitu sempurna maka tetap anak orang tua yang haru bisa lebih sabar dari anak-anaknya, akan jauh berbeda jika  kondisi orang tua sudah melebihi usia dewasa (baca usia lanjut), maka anak-anaknya harus jauh lebih sabar.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Jika kedua sumber kesabaran tersebut dapat kita maknai dan kita pahami dengan baik, maka akan damailah kehidupan kita, akan menyenangkan sekali hidup ini karena akan kita temukan sebuah ketenangan, kenyamanan dan juga kebahagian dalam kehidupan karena kita mampu menjadi orang-orang yang sabar. Nak.. semoga ayahmu ini mampu menjadi orang tua yang sabar dalam menghadapi kalian. Karena ayahmu sebagai orang tua hanya membutuhkan berkah dan barokah dari Allah SWT untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup ini. Amiin&#8230;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-adalah-sumber-kesabaran-bagi-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emak Adalah Nafas Kehidupanku</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 23:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[<p><object width="500" height="400"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/o62USXfcWCc?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/o62USXfcWCc?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="400" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><span id="more-955"></span>Coba kita perhatikan pada lirik berikut ini :</p>
<p style="text-align: center;">Ribuan kilo jalan yang kau tempuh<br />
Lewati rintang untuk aku anakmu<br />
Ibuku sayang masih terus berjalan<br />
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah<br />
Seperti udara kasih yang engkau berikan<br />
Tak mampu ku membalas . . . . . . . . . . . .<br />
Ibu . . . . . . . . . . . . .   ibu . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: center;">Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu<br />
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu<br />
Lalu do&#8217;a-do&#8217;a baluri sekujur tubuhku<br />
Dengan apa membalas . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Ibu . . . . . . . . . . . . .   ibu . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: justify;">Lirik diatas hanya sebuah ungkapan kecil dari sosok ibu, karena ibu tak ubahnya adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya, marilah kita flash back ke masa-masa dimana kita masih di ayunan, belum bisa makan sendiri, berlajan sendiri, semua masih membutuhkan uluran tangan dan kasih dari Ibu;   Tak terasa ketika menulis ini ada tetes-tetes air mata dari sudut mataku. Karena hingga detik ini belum mampu aku membahagiakan Ibu, orang yang telah mengandung selama kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam perutnya tidak pernah mengeluh karena ada rona bahagia disana. Ibu yang telah mendidik, membimbing dan mengajari tentang makna hidup dan kehidupan, bagaimana mencintai, bagaimana mengasihi dan bagaimana kita mengerti tentang cinta dan kasih sayang. Ibu adalah nafas kehidupan bagi anak-anaknya, karena sumber kehidupan seorang anak adalah tetes-tetes air susu dari Sang Ibu..</p>
<p style="text-align: justify;">Maka terkadang prihatin juga jika banyak melihat Ibu-ibu di usia senja masih harus berjuang sendiri menghidupi dirinya, ibu-ibu di usia senja masih harus menanggung beban kehidupan yang begitu berat, padahal anak-anaknya menjadi anak-anak kehidupan yang perkasa dengan tumpukan kemewahan dan kejayaan. Akan tetapi tahukah kita bahwa ibu tidak membutuhkan balasan apapun dari anak-anaknya, sosok itu tidak pernah berharap dan tidak mau bergantung pada anak-anaknya di usia senja. Karena begitu kuat dan tabahnya seorang ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbakti dan menjunjung tinggi sosok ibu dalam kehidupan kita, karena Ibu  tergambar sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Wanita itu dengan tangan kirinya menggoyang buaian, tangan kanannya menggoyang dunia</li>
<li style="text-align: justify;">Surga itu ada dibawah telapak kaki kaum ibu (Al hadist)</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu telah mencurahkan semua kasih sayangnya kepada anak-anaknya tanpa batas, mulai dari kandungan, kemudian mengasuh kita dari bayi hingga dewasa;</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu akan berbuat apapun untuk kebahagiaan anak-anaknya;</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu akan sangat sakit kita melihat anak-anaknya tidak bahagia</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Begitu agungnya Ibu  bagi kehidupan, dan begitu bermaknya ibu bagi kehidupan, akan menjadi sebuah dosa besar bagi anak-anak manusia yang tidak menghormati, menyayangi dan mencintai ibu-nya dengan sepenuh hati. Semoga kita termasuk anak-anak yang mampu menempatkan sosok ibu ke tempat yang paling mulia di hati dan di setiap tarikan nafas kehidupan kita. Mak&#8230; maafkan anakmu yang belum mampu dan belum bisa seperti angan-angan dan harapanmu. Ya Allah&#8230; Ya Rabb&#8230; lindungi-lah emakku, berikan emakku kebahagian dan limpahkan kasihmu untuk emakku&#8230; ada sebuah link yang mungkin juga bermanfaat bagi kita untuk merenung coba klik <a title="Cintailah Ibu" href="http://idhamdahlan.com/cerita-renungan-cintailah-ibu/" target="_blank">disini</a></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat, terima kasih</p>
<p>&#160;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah.., Aku Takut Mati .. !!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 04:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto013.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-940" title="Foto013" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto013-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Rutinitas biasa jam 16.30  sampe rumah setelah seharian menggali pasir-pasir rejeki di hamparan  safana kehidupan, masuk rumah melepas helm dan meletakkan tas di kursi,  ketika baru mau melepas sepatu, terdengar suara lantang yang begitu aku  kenal.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum,&#8221; tergopoh-goboh jagoanku masuk rumah sepulang ngaji.<br />
&#8220;Walaikum salam Warrohmah,&#8221;jawabku sambil ku jabat erat tangannya.</p>
<p>Cepat-cepat ia ganti baju, lalu menghampiriku duduk di kursi teras  rumah, seperti biasa aku tanyakan seputar sekolah pagi tadi dan  bagaimana mengajinya tadi, dengan semangat ia bercerita, selesai  bercerita lalu ia menanyakan sesuatu.<br />
<span id="more-939"></span>&#8220;Ayah, kata Ustadzah, semua orang besok akan mati, benar yah,&#8221; tanya anakku<br />
&#8220;Benar, tidak hanya orang semua makhluk hidup cintaap Allah SWT pasti mati, nak,&#8221; jawabku singkat.<br />
&#8220;Tapi aku takut mati ayah, aku tidak mau mati,&#8221; lanjut anakku dengan  mimik wajah yang begitu serius tidak ada binar keceriaan diwajahnya.<br />
&#8220;Nak, semua orang pasti mati, karena kita adalah makhluk hidup, dan kita  tidak boleh takut menghadapi kematian karena itu sebuah kepastian..?&#8221;  jelasku pada si kecil, namun terlihat jelas belum ada rasa puas dari  rona wajahnya dengan jawabanku tadi.<br />
&#8220;Biar kita nggak takut mati, maka harus rajin sholat, berbakti sama  orang tua, sayang sama ayah, bunda dan adek, juga tidak boleh nakal, dan  baik sama semua orang,&#8221; lanjutku.</p>
<p>Tanpa berkata apapun, anakku langsung berlari ke kamar mandi, karena  rasa penasaran aku ikutin dia ternyata ambil air wudhu (walau belum  benar juga wudhu-nya), begitu selesai ia minta kain sarung dan  melaksanakan sholat (walau gerakan dan rukunnya juga belum benar),  selesai melaksanakan sholat ku dekan dan ku peluk erat dalam keharuan,  oh anakku. Di saat usiamu masih 5 tahun sudah mampu memberikan  pembelajaran dan pelajaran yang sangat berharga.</p>
<p>Dua hari ini aku begitu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari  tanya dan celoteh anakku yang ternyata jika kita resapi dan pahami  begitu dalam. Belajar dan berusaha memahami hidup dari anak kecil jauh  lebih natural. Tak kuasa dalam kesendirian ku renungkan semua tanya yang  pernah anakku sampaikan lalu ku urai satu persatu dan ternyata ada  makna yang begitu dalam untuk aku gunakan sebagai koreksi dalam  menjalani hidup dan kehidupan, terima kasih anakku.</p>
<p>Ternyata ayahmu masih perlu banyak belajar dalam kehidupan ini, dan  engkau telah menjadi inspirasi dan semangat pada ayahmu ini nak.. !!!,  Semoga kelak engkau benar-benar menjadi pelita bagi kehidupan orang tua,  agama dan masyarakat nak. Amiin&#8230;</p>
<div></div>
</div>
</div>
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="post_form_id" type="hidden" value="339370f9bd872166802ee396cf21fd1b" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="dpz8r" />
<input name="feedback_params" type="hidden" value="{&#34;actor&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;target_fbid&#34;:&#34;381906957231&#34;,&#34;target_profile_id&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;type_id&#34;:&#34;14&#34;,&#34;source&#34;:&#34;2&#34;,&#34;assoc_obj_id&#34;:&#34;&#34;,&#34;source_app_id&#34;:&#34;0&#34;,&#34;extra_story_params&#34;:[],&#34;content_timestamp&#34;:&#34;1270529156&#34;,&#34;check_hash&#34;:&#34;5d534b058a0c3d28&#34;}" /><button title="Berhenti menyukai item ini"></button></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Akan Datang Ketika Sudah Waktunya, Maka Sambutlah Cintamu</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 01:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/04/cinta-sambutlah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-925" title="cinta sambutlah" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/04/cinta-sambutlah.jpg" alt="" width="222" height="227" /></a>Pernahkah dalam sebuah perenungan dan  kesendirian kita mengamati dan memikirkan sebuah fenomena kehidupan,  lalu sedikit demi sedikit kita coba untuk menguraikannya agar bisa  memberikan sebuah gambaran kehidupan dan akhirnya memberikan manfaat,  pernahkah terbersit dalam benak dan angan kita bahwa bulan dan matahari,  malam dan siang itu selalu tepat waktu dan bergantian dalam menjaga dan  menerangi dunia, tanpa pernah ada keributan diantaranya karena berebut  untuk saling mendahului…  <span id="more-924"></span>Tidak ada rasa iri diantaranya  karena memang telah ditetapkan bahwa bulan dan malam harus bergantian  dengan matahari dan siang, dengan kepatuhan akan sebuah ketetapan  Illahi..  Begitu halnya dengan cinta, dia akan  datang setelah waktunya tiba karena memang telah ditetapkan oleh Allah  Tuhan Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Ketetapan itu adalah sebuah  rahasia kehidupan. Maka untuk menanti cinta tentunya jangan sampai  terhanyut dan terperosok pada harapan dan ilusi dan gebyar ke-indahan  dan kenikmatan duniawi, karena hanya sebuah penyesalan jika kita tidak  mampu memanfaatkan waktu didunia dengan bijaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada masa dimana kita mesti belajar dan  belajar, maka keseriusan dan kesungguhan dalam belajarnya yang harus  kita dahulukan, dan ini pada usia-usia puber (SMP dan SMA), karena pada  saat ini para remaja kita sudah beralih dalam pola berpikirnya, saat  belajar disertai dengan buaian-buaian keindahan <strong>cinta semu</strong>, yang belum dilandasai dengan sebuah kematangan berfikir, <strong>akhirnya cinta-nya adalah nafsu, cinta-nya adalah permainan dan cintanya adalah ke-maksiat-an.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Coba kita berpikir dan merenung  sejenak.. berapa waktu belajar yang dibutuhkan untuk menyiapkan masa  depan dan berapa waktu untuk cinta yang akan kita nikmati.. hitung saja  untuk menyiapkan masa depan pada masa remaja adalah kurang lebih 16  tahun. Mulai dari SD 6 tahun, SMP 3 Tahun, SMA 3  tahun Kuliah 4 tahun, -pun dari waktu itu digunakan dengan serius untuk  memikirkan tentang belajar, belajar dan belajar, hilangkan sebuah  pikiran tentang cinta kasih dengan lawan jenis atau pacaran.. Begitu  selesai belajar dengan sebuah keseriusan saya yakin keberhasilan dengan  gemilang pasti akan tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pekerjaan bukanlah sebuah hal yang sulit  ketika nilai-nilai belajar kita bagus, dengan tingkat pemahaman sebuah kehidupan dan tentunya kematangan berpikir dan kebijakan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain setelah itu.. nikmati cinta-mu  karena kemapanan dan kematangan dalam kehidupan telah diperoleh, maka  tawaran-tawaran cinta dari pada keluarga yang terpesona dan terhanyut  akan sebuah keberhasilan dalam hidupmu tentu akan datang dengan  sendiri-nya, orang tua mana yang tidak mendambakan menantu dengan akhlaq  mulia, agama yang kuat dan kemapanan dalam kehidupan (pekerjaan pasti  dan jelas).</p>
<p style="text-align: justify;">Semua itu akan mudah untuk diperoleh dan didapatkan, jika kita mampu menggunakan dan memanfaatkan waktu dengan bijaksana.. <strong>Dan Sambutlah Datang-nya Cinta Itu dengan senyum  kebahagiaan… !!! </strong></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Perbedaan Itu Kita Wujudkan Pelangi Pernikahan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 08:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-898" title="Pelangi Pernikahan" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan-300x99.jpg" alt="" width="300" height="99" /></a>Ketika sesorang memasuki usia siap menikah, tentunya akan muncul beragam pertimbangan untuk membentuk sebuah keputusan dan pernyataan sikap &#8220;SIAP MENIKAH&#8221; menikah tidak hanya didasarkan dari kesiapan usia saja namun lebih jauh dan mendalam bahwa menikah membutuhkan pemahaman dan pengertian akan beberapa hal, minimal mengerti dan memahami empat hal berikut, maka menikah  bukan satu hal yang menakutkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-897"></span>Sebuah pernikahan terjadi terkadang didasarkan karena telah merasa  menemukan kecocokan, keserasian atau karena memang merasa satu visi dan  misi serta mememiliki kesamaan tujuan dalam memandang dan menjalani hidup ?.. ataukah  bahkan merasa  ada kesamaan dalam sifat, kesenangan dan cara pandang ?  namun bisakah hal itu  dijadikan pedoman bahwa pernikahan bisa langgeng abadi, mawadah wa  rohmah, hingga kakek-kakek nenek-nenek.  Semuanya akan terjawab&#8230; dengan  menyimak beberapa hal dibawah ini ?&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bisa <strong>bertepuk tangan</strong> memerlukan <em>dua tangan</em> (<strong>kiri dan kanan</strong>), dan  irama musik terdengar begitu indah dan syahdu ketika tercipta sebuah harmonisasi dari sekumpulan alat musik dengan nada-nada dalam sebuah  simfoni dan ternyata <strong>pernikahan</str<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Cinta</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2011 09:16:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ucapan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[Terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1010" title="kartu lebaran eka" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/kartu-lebaran-eka-300x162.jpg" alt="" width="300" height="162" /></a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/ucapan-sastra/selamat-hari-raya-idul-fitri-1432-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Adalah Sumber Kesabaran Bagi Orang Tua</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-adalah-sumber-kesabaran-bagi-orang-tua/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-adalah-sumber-kesabaran-bagi-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 01:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto111.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-966" title="Foto111" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto111-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Sabar,.. adalah sebuah kata yang begitu mendalam memaknai-nya, sering kita mendengar bahkan mengucapkan perkataan &#8220;SABAR&#8221; itu sendiri, namun terkadang kita juga tidak begitu saja bisa memaknai dan memahami kesabaran itu dengan sebenarnya, agar kita bisa memaknai dan memahmi serta dapat menerapkan sabar dalam setiap gerak kehidupan kita tentunya harus mengetahui terlebih dahulu sabar itu sendiri. Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan  sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah  &#8220;Shobaro&#8221;, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi &#8220;shabran&#8221;. Dari  segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna  seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur&#8217;an: &#8220;<strong><em>Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru  Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan  janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan  perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang  hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa  nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas&#8221;</em></strong>. (QS. Al-Kahfi/ 18 :  28)&#8221;.<span id="more-965"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:  &#8220;<strong>Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan  lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang  tidak terarah</strong>&#8220;.  Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah &#8220;<em>keteguhan bersama  Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang</em>&#8220;. Hal senada juga  dikemukakan oleh Imam al-Khowas, bahwa sabar adalah &#8220;<strong>refleksi keteguhan  untuk merealisasikan al-Qur&#8217;an dan sunnah</strong>&#8220;. Sehingga sesungguhnya sabar  tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang  seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah  kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk  berjuang dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa menjadi sabar tidaklah mudah dan segampang membalikkan telapak tangan, namun menjadi manusia sabar bukanlah tidak mungkin, hanya perlu latihan dan terus berusaha untuk menyikapi semua permasalahan tersebut dengan lapang dada dan ke-ikhlasan. Sebenarnya tidak perlu bingung atau repot untuk bisa mengasah dan mengetahui tingkat kesabaran kita, kenapa .. ?? Karena manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial, makhluk yang harus berinteraksi dengan orang lainnya, didalam berinteraksi dan berkomunikasi tersebut sangat mungkin akan terjadi konflik. Nah disinilah kita dapat mengukur tingkat kesabaran kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dimanakah sumber-sumber kesabaran itu ..?, sebuah pertanyaan yang sangat mudah menjawabnya namun masih sulit untuk melaksanakannya.</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Anak adalah sumber kesabaran bagi orang tua-nya; ada sebuah contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari dalam mengasuh anak, sering orang tua dibuat jengkel, marah dan harus memarahi anak-anaknya, karena dianggap anak tidak menurut apa yang dikatakan, diperintahkan dan dicontohkan orang tuanya. Tidak jarang orang tua akhirnya sangat marah bahkan hingga hilang kesabarannya, karena menganggap anaknya nakal bandal dan tidak menurut sama orang tua. Tapi tunggu dulu, jika kita sebagai orang tua mampu memahami dan mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada diri si anak, maka kita tidak akan memarahi-nya, disinilah dibutukan toleransi tingkat tinggi dari sosok orang tua sehingga lambat laun Kesabaran kita sebagai orang tua akan terasah.</li>
<li style="text-align: justify;">Orang tua adalah sumber kesabaran bagi anak-anaknya, sebenarnya permasalahannya tidak jauh berbeda dengan hal diatas, hanya saja anak-anak dalam sebuah pemahaman belum begitu sempurna maka tetap anak orang tua yang haru bisa lebih sabar dari anak-anaknya, akan jauh berbeda jika  kondisi orang tua sudah melebihi usia dewasa (baca usia lanjut), maka anak-anaknya harus jauh lebih sabar.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Jika kedua sumber kesabaran tersebut dapat kita maknai dan kita pahami dengan baik, maka akan damailah kehidupan kita, akan menyenangkan sekali hidup ini karena akan kita temukan sebuah ketenangan, kenyamanan dan juga kebahagian dalam kehidupan karena kita mampu menjadi orang-orang yang sabar. Nak.. semoga ayahmu ini mampu menjadi orang tua yang sabar dalam menghadapi kalian. Karena ayahmu sebagai orang tua hanya membutuhkan berkah dan barokah dari Allah SWT untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup ini. Amiin&#8230;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/anak-adalah-sumber-kesabaran-bagi-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Emak Adalah Nafas Kehidupanku</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 23:56:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=955</guid>
		<description><![CDATA[<p><object width="500" height="400"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/o62USXfcWCc?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/o62USXfcWCc?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="400" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><span id="more-955"></span>Coba kita perhatikan pada lirik berikut ini :</p>
<p style="text-align: center;">Ribuan kilo jalan yang kau tempuh<br />
Lewati rintang untuk aku anakmu<br />
Ibuku sayang masih terus berjalan<br />
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah<br />
Seperti udara kasih yang engkau berikan<br />
Tak mampu ku membalas . . . . . . . . . . . .<br />
Ibu . . . . . . . . . . . . .   ibu . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: center;">Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu<br />
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu<br />
Lalu do&#8217;a-do&#8217;a baluri sekujur tubuhku<br />
Dengan apa membalas . . . . . . . . . . . . . . .<br />
Ibu . . . . . . . . . . . . .   ibu . . . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align: justify;">Lirik diatas hanya sebuah ungkapan kecil dari sosok ibu, karena ibu tak ubahnya adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya, marilah kita flash back ke masa-masa dimana kita masih di ayunan, belum bisa makan sendiri, berlajan sendiri, semua masih membutuhkan uluran tangan dan kasih dari Ibu;   Tak terasa ketika menulis ini ada tetes-tetes air mata dari sudut mataku. Karena hingga detik ini belum mampu aku membahagiakan Ibu, orang yang telah mengandung selama kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam perutnya tidak pernah mengeluh karena ada rona bahagia disana. Ibu yang telah mendidik, membimbing dan mengajari tentang makna hidup dan kehidupan, bagaimana mencintai, bagaimana mengasihi dan bagaimana kita mengerti tentang cinta dan kasih sayang. Ibu adalah nafas kehidupan bagi anak-anaknya, karena sumber kehidupan seorang anak adalah tetes-tetes air susu dari Sang Ibu..</p>
<p style="text-align: justify;">Maka terkadang prihatin juga jika banyak melihat Ibu-ibu di usia senja masih harus berjuang sendiri menghidupi dirinya, ibu-ibu di usia senja masih harus menanggung beban kehidupan yang begitu berat, padahal anak-anaknya menjadi anak-anak kehidupan yang perkasa dengan tumpukan kemewahan dan kejayaan. Akan tetapi tahukah kita bahwa ibu tidak membutuhkan balasan apapun dari anak-anaknya, sosok itu tidak pernah berharap dan tidak mau bergantung pada anak-anaknya di usia senja. Karena begitu kuat dan tabahnya seorang ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbakti dan menjunjung tinggi sosok ibu dalam kehidupan kita, karena Ibu  tergambar sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Wanita itu dengan tangan kirinya menggoyang buaian, tangan kanannya menggoyang dunia</li>
<li style="text-align: justify;">Surga itu ada dibawah telapak kaki kaum ibu (Al hadist)</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu telah mencurahkan semua kasih sayangnya kepada anak-anaknya tanpa batas, mulai dari kandungan, kemudian mengasuh kita dari bayi hingga dewasa;</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu akan berbuat apapun untuk kebahagiaan anak-anaknya;</li>
<li style="text-align: justify;">Ibu akan sangat sakit kita melihat anak-anaknya tidak bahagia</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Begitu agungnya Ibu  bagi kehidupan, dan begitu bermaknya ibu bagi kehidupan, akan menjadi sebuah dosa besar bagi anak-anak manusia yang tidak menghormati, menyayangi dan mencintai ibu-nya dengan sepenuh hati. Semoga kita termasuk anak-anak yang mampu menempatkan sosok ibu ke tempat yang paling mulia di hati dan di setiap tarikan nafas kehidupan kita. Mak&#8230; maafkan anakmu yang belum mampu dan belum bisa seperti angan-angan dan harapanmu. Ya Allah&#8230; Ya Rabb&#8230; lindungi-lah emakku, berikan emakku kebahagian dan limpahkan kasihmu untuk emakku&#8230; ada sebuah link yang mungkin juga bermanfaat bagi kita untuk merenung coba klik <a title="Cintailah Ibu" href="http://idhamdahlan.com/cerita-renungan-cintailah-ibu/" target="_blank">disini</a></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat, terima kasih</p>
<p>&#160;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/955/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah.., Aku Takut Mati .. !!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 04:14:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto013.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-940" title="Foto013" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/05/Foto013-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Rutinitas biasa jam 16.30  sampe rumah setelah seharian menggali pasir-pasir rejeki di hamparan  safana kehidupan, masuk rumah melepas helm dan meletakkan tas di kursi,  ketika baru mau melepas sepatu, terdengar suara lantang yang begitu aku  kenal.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum,&#8221; tergopoh-goboh jagoanku masuk rumah sepulang ngaji.<br />
&#8220;Walaikum salam Warrohmah,&#8221;jawabku sambil ku jabat erat tangannya.</p>
<p>Cepat-cepat ia ganti baju, lalu menghampiriku duduk di kursi teras  rumah, seperti biasa aku tanyakan seputar sekolah pagi tadi dan  bagaimana mengajinya tadi, dengan semangat ia bercerita, selesai  bercerita lalu ia menanyakan sesuatu.<br />
<span id="more-939"></span>&#8220;Ayah, kata Ustadzah, semua orang besok akan mati, benar yah,&#8221; tanya anakku<br />
&#8220;Benar, tidak hanya orang semua makhluk hidup cintaap Allah SWT pasti mati, nak,&#8221; jawabku singkat.<br />
&#8220;Tapi aku takut mati ayah, aku tidak mau mati,&#8221; lanjut anakku dengan  mimik wajah yang begitu serius tidak ada binar keceriaan diwajahnya.<br />
&#8220;Nak, semua orang pasti mati, karena kita adalah makhluk hidup, dan kita  tidak boleh takut menghadapi kematian karena itu sebuah kepastian..?&#8221;  jelasku pada si kecil, namun terlihat jelas belum ada rasa puas dari  rona wajahnya dengan jawabanku tadi.<br />
&#8220;Biar kita nggak takut mati, maka harus rajin sholat, berbakti sama  orang tua, sayang sama ayah, bunda dan adek, juga tidak boleh nakal, dan  baik sama semua orang,&#8221; lanjutku.</p>
<p>Tanpa berkata apapun, anakku langsung berlari ke kamar mandi, karena  rasa penasaran aku ikutin dia ternyata ambil air wudhu (walau belum  benar juga wudhu-nya), begitu selesai ia minta kain sarung dan  melaksanakan sholat (walau gerakan dan rukunnya juga belum benar),  selesai melaksanakan sholat ku dekan dan ku peluk erat dalam keharuan,  oh anakku. Di saat usiamu masih 5 tahun sudah mampu memberikan  pembelajaran dan pelajaran yang sangat berharga.</p>
<p>Dua hari ini aku begitu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari  tanya dan celoteh anakku yang ternyata jika kita resapi dan pahami  begitu dalam. Belajar dan berusaha memahami hidup dari anak kecil jauh  lebih natural. Tak kuasa dalam kesendirian ku renungkan semua tanya yang  pernah anakku sampaikan lalu ku urai satu persatu dan ternyata ada  makna yang begitu dalam untuk aku gunakan sebagai koreksi dalam  menjalani hidup dan kehidupan, terima kasih anakku.</p>
<p>Ternyata ayahmu masih perlu banyak belajar dalam kehidupan ini, dan  engkau telah menjadi inspirasi dan semangat pada ayahmu ini nak.. !!!,  Semoga kelak engkau benar-benar menjadi pelita bagi kehidupan orang tua,  agama dan masyarakat nak. Amiin&#8230;</p>
<div></div>
</div>
</div>
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input name="post_form_id" type="hidden" value="339370f9bd872166802ee396cf21fd1b" />
<input name="fb_dtsg" type="hidden" value="dpz8r" />
<input name="feedback_params" type="hidden" value="{&#34;actor&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;target_fbid&#34;:&#34;381906957231&#34;,&#34;target_profile_id&#34;:&#34;1140070498&#34;,&#34;type_id&#34;:&#34;14&#34;,&#34;source&#34;:&#34;2&#34;,&#34;assoc_obj_id&#34;:&#34;&#34;,&#34;source_app_id&#34;:&#34;0&#34;,&#34;extra_story_params&#34;:[],&#34;content_timestamp&#34;:&#34;1270529156&#34;,&#34;check_hash&#34;:&#34;5d534b058a0c3d28&#34;}" /><button title="Berhenti menyukai item ini"></button></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/ayah-aku-takut-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Akan Datang Ketika Sudah Waktunya, Maka Sambutlah Cintamu</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2011 01:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/04/cinta-sambutlah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-925" title="cinta sambutlah" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/04/cinta-sambutlah.jpg" alt="" width="222" height="227" /></a>Pernahkah dalam sebuah perenungan dan  kesendirian kita mengamati dan memikirkan sebuah fenomena kehidupan,  lalu sedikit demi sedikit kita coba untuk menguraikannya agar bisa  memberikan sebuah gambaran kehidupan dan akhirnya memberikan manfaat,  pernahkah terbersit dalam benak dan angan kita bahwa bulan dan matahari,  malam dan siang itu selalu tepat waktu dan bergantian dalam menjaga dan  menerangi dunia, tanpa pernah ada keributan diantaranya karena berebut  untuk saling mendahului…  <span id="more-924"></span>Tidak ada rasa iri diantaranya  karena memang telah ditetapkan bahwa bulan dan malam harus bergantian  dengan matahari dan siang, dengan kepatuhan akan sebuah ketetapan  Illahi..  Begitu halnya dengan cinta, dia akan  datang setelah waktunya tiba karena memang telah ditetapkan oleh Allah  Tuhan Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Ketetapan itu adalah sebuah  rahasia kehidupan. Maka untuk menanti cinta tentunya jangan sampai  terhanyut dan terperosok pada harapan dan ilusi dan gebyar ke-indahan  dan kenikmatan duniawi, karena hanya sebuah penyesalan jika kita tidak  mampu memanfaatkan waktu didunia dengan bijaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada masa dimana kita mesti belajar dan  belajar, maka keseriusan dan kesungguhan dalam belajarnya yang harus  kita dahulukan, dan ini pada usia-usia puber (SMP dan SMA), karena pada  saat ini para remaja kita sudah beralih dalam pola berpikirnya, saat  belajar disertai dengan buaian-buaian keindahan <strong>cinta semu</strong>, yang belum dilandasai dengan sebuah kematangan berfikir, <strong>akhirnya cinta-nya adalah nafsu, cinta-nya adalah permainan dan cintanya adalah ke-maksiat-an.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Coba kita berpikir dan merenung  sejenak.. berapa waktu belajar yang dibutuhkan untuk menyiapkan masa  depan dan berapa waktu untuk cinta yang akan kita nikmati.. hitung saja  untuk menyiapkan masa depan pada masa remaja adalah kurang lebih 16  tahun. Mulai dari SD 6 tahun, SMP 3 Tahun, SMA 3  tahun Kuliah 4 tahun, -pun dari waktu itu digunakan dengan serius untuk  memikirkan tentang belajar, belajar dan belajar, hilangkan sebuah  pikiran tentang cinta kasih dengan lawan jenis atau pacaran.. Begitu  selesai belajar dengan sebuah keseriusan saya yakin keberhasilan dengan  gemilang pasti akan tercapai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pekerjaan bukanlah sebuah hal yang sulit  ketika nilai-nilai belajar kita bagus, dengan tingkat pemahaman sebuah kehidupan dan tentunya kematangan berpikir dan kebijakan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain setelah itu.. nikmati cinta-mu  karena kemapanan dan kematangan dalam kehidupan telah diperoleh, maka  tawaran-tawaran cinta dari pada keluarga yang terpesona dan terhanyut  akan sebuah keberhasilan dalam hidupmu tentu akan datang dengan  sendiri-nya, orang tua mana yang tidak mendambakan menantu dengan akhlaq  mulia, agama yang kuat dan kemapanan dalam kehidupan (pekerjaan pasti  dan jelas).</p>
<p style="text-align: justify;">Semua itu akan mudah untuk diperoleh dan didapatkan, jika kita mampu menggunakan dan memanfaatkan waktu dengan bijaksana.. <strong>Dan Sambutlah Datang-nya Cinta Itu dengan senyum  kebahagiaan… !!! </strong></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/cinta/cinta-akan-datang-ketika-sudah-waktunya-maka-sambutlah-cintamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Perbedaan Itu Kita Wujudkan Pelangi Pernikahan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 08:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Live]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-898" title="Pelangi Pernikahan" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/Pelangi-Pernikahan-300x99.jpg" alt="" width="300" height="99" /></a>Ketika sesorang memasuki usia siap menikah, tentunya akan muncul beragam pertimbangan untuk membentuk sebuah keputusan dan pernyataan sikap &#8220;SIAP MENIKAH&#8221; menikah tidak hanya didasarkan dari kesiapan usia saja namun lebih jauh dan mendalam bahwa menikah membutuhkan pemahaman dan pengertian akan beberapa hal, minimal mengerti dan memahami empat hal berikut, maka menikah  bukan satu hal yang menakutkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-897"></span>Sebuah pernikahan terjadi terkadang didasarkan karena telah merasa  menemukan kecocokan, keserasian atau karena memang merasa satu visi dan  misi serta mememiliki kesamaan tujuan dalam memandang dan menjalani hidup ?.. ataukah  bahkan merasa  ada kesamaan dalam sifat, kesenangan dan cara pandang ?  namun bisakah hal itu  dijadikan pedoman bahwa pernikahan bisa langgeng abadi, mawadah wa  rohmah, hingga kakek-kakek nenek-nenek.  Semuanya akan terjawab&#8230; dengan  menyimak beberapa hal dibawah ini ?&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bisa <strong>bertepuk tangan</strong> memerlukan <em>dua tangan</em> (<strong>kiri dan kanan</strong>), dan  irama musik terdengar begitu indah dan syahdu ketika tercipta sebuah harmonisasi dari sekumpulan alat musik dengan nada-nada dalam sebuah  simfoni dan ternyata <strong>pernikahan</strong> itu adalah <em>penyatuan dua manusia (lekaki dan perempuan)</em>, dari <span style="text-decoration: underline;">dua bentuk yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang</span>, belum lagi hati, jiwa dan rasa, jelas berbeda. Jika demikian maka <strong>keserasihan, kecocokan dan kesamaan belum menjadikan jaminan semua akan berjalan lancar</strong> khan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/nikah1.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-899" title="nikah1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/nikah1.jpeg" alt="" width="245" height="206" /></a>Karena  menikah adalah <strong>sebuah proses pendewasaan diri</strong>. Agar bisa menghadapi dan memenangkan pertarungan dibutuhkan <strong>kekuatan dan keberanian</strong>,  yaitu sebuah kekuatan untuk menemukan jalan keluar dan keberanian dalam  menghadapi semua problema kehidupan. Karena kenyataannya untuk <span style="text-decoration: underline;">bisa menuju jenjang pernikahan</span> ini mesti  :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong> Ada komunikasi dua arah, se-imbang tidak ada dominasi salah satu;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada kerelaan mendengar kritik dan saran membangun;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada keikhlasan meminta maaf dan memaafkan;</strong></li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Ada ketulusan melupakan kesalahan dan keberanian untuk mengemukakan pendapat secara <span style="text-decoration: underline;">JUJUR</span>.</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Menikah tentunya bukan <span style="text-decoration: underline;">sebatas upacara</span> yang disemarakkan oleh lagu cinta, tidak juga karena rancangan gaun  pengantin ala putri salju dan juga bukan rangkaian mobil undangan  bagaikan rangkaian gerbong kereta api yang panjang.  Mesti kita sadari dan pahami bahwasannya <strong>pernikahan</strong> itu adalah <strong>sebuah keberanian untuk memutuskan bersandar pada satu pelabuhan hati dan bukan bersandar pada dua atau tiga pelabuhan hati</strong>, <em>ketika  jutaan bahtera yang indah gemerlap dan memikat yang berusaha untuk  mendekat dan mengajak  kita untuk terus mengarungi samudra kehidupan yang  tidak bertepi</em>.  Pun pernikahan itu adalah <strong>sebuah  proses penggabungan dua orang dengan kesombongannya, egoisme dan idealisme serta dua pikiran  dalam satu biduk dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan cinta. Karena sebenarnya persamaan dan keserasian sikap dan sifat hanyalah akan menjadi sebuah jeda dan setetes kenikmatan sesaat saja.</strong></p>
<p>Tidak  penting menikah dengan anak siapa (mau anak jenderal, anak menteri atau  bahkan anak tukang kebun, tukang sayur bahkan anak pengemis sekalipun),  berapa pula harta, emas permata dan intan berlian yang dimilikinya,  bukan juga rangkaian melati yang harum mewangi, dan bahkan sebuah  perencanaan matang dengan kepanitian yang lengkap, jika pada akhirnya  hanya akan membuat keluarga cerai berai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/menikah1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-900" title="menikah1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/03/menikah1.jpeg" alt="" width="181" height="144" /></a>Yang perlu dipahami dan dimengerti bahwa menikah adalah suatu proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita</strong>.  Karena tanpa kenal diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang  lain..? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa  memperhatikan pasangan hidup..?  Tentunya kita tahu dan mengerti bahwa pelangi begitu indah karena beragam warna menyatu dan membentuk sebuah perpaduan yang serasi. Demikian halnya dengan sebuah pernihakan akan tercipta begitu indah dan membahagiakan jika kita bersama pasangan mampu menyatukan dan memadukan perbedaan-perbedaan itu menuju sebuah keserasian dan keselarasan serta keseimbangan diantaranya tidak ada yang paling dominan antara keduanya, maka <strong>Pelangi Pernikahan</strong> itu akan dapat kita ciptakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menikah sangat <span style="text-decoration: underline;">membutuhkan  keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudera, serta jiwa besar  untuk bisa saling ^-^menerima dan memaafkan^-^</span>, yang <span style="text-decoration: underline;">bukan sekedar</span> menerima kritikan atau memaafkan kesalahan semata <strong>akan tetapi</strong> menerima dan memaafkan dalam arti yang luas dan mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka  jika sudah memiliki keinginan untuk menikah, sebelum melangkah tumbuhkan  dulu sebuah keberanian dan kekuatan bahwa anda memang mampu dan siap  melangkah mengarungi samudra kehidupan dalam sebuah bahtera rumah  tangga dengan orang yang benar-benar <em><strong>anda mengerti dan pahami</strong></em> demikian  juga sebaliknya. Jadi sebenarnya kapan waktu yang pas kita memutuskan untuk menikah, jawabannya adalah ketika usia sudah cukup dan disaat kita merasa siap dan berani menerima berbagai macam perbedaan dari pasangan hidup kita. Akhirnya selamat kepada mereka yang telah berani menerima perbedaan dan berhasil mengerti dan memahami masing-masing pasangan hidup karena dari sanalah sebenarnya awal kebahagian dalam rumah tangga itu terbentuk.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/dari-perbedaan-itu-kita-wujudkan-pelangi-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pinggir Desa</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pinggir-desa/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pinggir-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 03:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/CIMG0168.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-827" title="CIMG0168" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/CIMG0168-300x225.jpg" alt="" width="177" height="111" /></a>wus telung windu kepungkur ing dalan iki</p>
<p>sliramu nate ndak kanthi mencak-i wengi</p>
<p>rikala rembulan tumungkul rerangkulan ratri</p>
<p>pasuryanmu endah kaya lintang panjerina</p>
<p><span id="more-826"></span></p>
<p>nimas,</p>
<p>wus kaping sanga ganti mangsa</p>
<p>isih krasa anget astaku rikala ngaras pipi-mu ing pinggir desa</p>
<p>tan ana pangucap saka lathimu kang rinungket rasa</p>
<p>gunung gambar wonosadi</p>
<p>nunut nyekseni asmaraning wijaya kusuma,</p>
<p>kang nggondo arum ing wayah dalu</p>
<p>sumebar ngebaki dalan-dalan wengi,</p>
<p>nimas,</p>
<p>telung windu wus lumaku</p>
<p>crita kuwi tansah lelimengan ing impenku</p>
<p>crita kawuri kang tansah ndak patri ing ati</p>
<p>Gantiwarna, Pungkasan Syawal 1431 H</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pinggir-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pungkasaning Ratri</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pungkasaning-ratri/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pungkasaning-ratri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 13:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geguritan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[<p>gisiking wengi adhem tintrim tanpa rasa</p>
<p>mung lintang panjerina kang madhangi jagat</p>
<p>amarga rembulan  kemulan mendhung</p>
<p>atiku temlawung …</p>
<p><span id="more-756"></span></p>
<p>atiku ngudarasa njambak pengarep-arep</p>
<p>ndak kekep pangrasaku</p>
<p>rikala aku nyoba ngaturake marang sliramu tirta suci</p>
<p>amarga esemu prasasat tetesing embun</p>
<p>marang ati kang nandhang wuyung</p>
<p>ing pungkasaning ratri</p>
<p>atiku kapang</p>
<p>pasuryanmu tansah lelimengan ing gisiking kalbu</p>
<p>canthing-canthing ing astamu</p>
<p>mbatik ati, atiku kang nandang branta</p>
<p>ing pungkasaning ratri</p>
<p>ndak kanthi tumekaning surya wayah esok</p>
<p>mbarengi  jago kluruk nggugah birahi</p>
<p>ing pungkasaning ratri</p>
<p>ndak ronce kembang-kembang wangi</p>
<p>kinanthi doa-doa suci</p>
<p>mbarengi tumetesing waspaku nguntapake laku</p>
<p>laku mu nimas ing bebrayan sejati</p>
<p>﻿</p>
<p>Gedog, 3 Nop 2010</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/geguritan/pungkasaning-ratri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Aku Masih Rindu</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/puisi/karena-aku-masih-rindu/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/puisi/karena-aku-masih-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 06:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[<address>selalu kuharap hadirmu</address>
<address>dalam bingkai rindu</address>
<address>selalu ingin ku temui</address>
<address>dalam cinta dan kesucian hati</address>
<address> </address>
<address> </address>
<address style="text-align: left; padding-left: 30px;">semua tak lepas dari asa</address>
<address style="padding-left: 30px;">akan peluk dan dekap mesra</address>
<address style="padding-left: 30px;">enggan tuk menjauh</address>
<address style="padding-left: 30px;">dalam bisik pada kedalaman relung-relung jiwa</address>
<address style="padding-left: 30px;"> </address>
<address style="padding-left: 30px;"> </address>
<address>ku telentang pasrah</address>
<address>menunggu peluk cium</address>
<address>cumbu rayu</address>
<address>ku tengadahkan wajah</address>
<address>rentangkan tangan harap dekap</address>
<address>dalam kehangatan gelora asmara</address>
<address> </address>
<address> </address>
<address style="padding-left: 30px;">jangan engkau pergi karena aku masih rindu</address>
<address style="padding-left: 30px;">mengharu biru</address>
<address style="padding-left: 30px;">jangan biarkan jiwaku kerontang</address>
<address style="padding-left: 30px;">jangan telantarkan birahiku</address>
<address style="padding-left: 30px;">saat dambakan seteguk nikmat</address>
<address style="padding-left: 30px;">dari tetes-tetes embun cinta</address>
<address style="padding-left: 30px;"> </address>
<address style="padding-left: 30px;"> </address>
<address>belum jua ku dendangkan simfoni cinta</address>
<address>belum juga usai kulantunan bait-bait asmara</address>
<address>masih juga separuh tangan ini menghitung satu satu</address>
<address>bulir-bulir tasbih</address>
<address> </address>
<address> </address>
<address style="padding-left: 30px;">masih beberapa paragraf surat cinta ku baca</address>
<address style="padding-left: 30px;">dan kau akan segera berlalu</address>
<address style="padding-left: 30px;">masihkah kan ku temui esok</address>
<address style="padding-left: 30px;"> </address>
<address style="padding-left: 30px;"> </address>
<address style="padding-left: 30px;">karena aku masih punya rindu</address>
<address>biarkan aku menjadi kekasih-MU</address>
<address>bimbing aku untuk selalu merindukan-MU</address>
<address>tuntun aku untuk setia pada cinta-MU</address>
<address>dan terimalah penyerahan diriku pada-MU</address>
<address>karena aku hanya hamba-MU dan;</address>
<address>karena Engkaulah Sang Penciptaku</address>
<address> </address>
<address> </address>
<address> </address>
<address> </address>
<address> </address>
<address>
</address>
<blockquote><address><em>Ramadhan 1431 H (malam ke 20)</em></address>
</blockquote>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/puisi/karena-aku-masih-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasih</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/puisi/kekasih/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/puisi/kekasih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 07:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[<div>
<div>tak terasa jauh sudah perjalanan ini<br />
dibatas cakrawala ku terpekur pada satu penantian<br />
terhanyutku pada ke-indahan, ke-cantikan dan ke-molekan yang fana<br />
setiap ku lihat dalam bayang semu<br />
selalu ingin-ku menyetubuhi semua ke-ingin-an</p>
<p>hasrat yang begitu menggelora berkobar dan berpijar<br />
nafsu-ku untuk selalu menikmati dengan penuh gairah<br />
dalam setiap desahku penuh luapan birahi<br />
tuk dapat peluk, cium dan dekap semua harapan<br />
<span id="more-22"></span>namun birahi sirna<br />
gelora jiwaku musnah<br />
hatiku merintih&#8230;.</p>
<p>gemetar ku rasakan ketika terbayang sebuah jawab<br />
dingin dan beku rasa jiwa ini<br />
begitu ku kangkangi asa dalam jantungku<br />
bagaikan se-onggok sampah&#8230;</p>
<p>ternyata aku berlumur dosa&#8230;<br />
ternyata aku bersimbah kesalahan<br />
ternyata aku jauh dari bilangan manusia berguna<br />
ternyata aku hanya seorang pendosa&#8230;<br />
ternyata aku yang masih penuh kemunafikan</p>
<p>aku ingin kembali pada-MU..<br />
aku ingin selalu didekat-MU..<br />
aku ingin menjadikan-MU Kekasih.. yang sebenarnya Kekasih..<br />
aku ingin menjadikan-MU tempatku berkeluh kesah..<br />
aku ingin selalu berserah pada altar-MU..</p>
<p>Kekasih-ku&#8230;.<br />
ijinkanlah aku untuk memanggil-MU Kekasih<br />
karena Engkau penuh samudera maaf&#8230;<br />
Engkau penuh luapan kasih dan sayang..<br />
kesabaran-MU tiada batas&#8230;</p>
<p>ijinkanlah aku untuk meminta belas kasih-MU<br />
wahai Kekasih..<br />
bimbinglah aku untuk menuju keperaduan-MU<br />
dengan segenap kepasrahan dan ke-ikhlasan..<br />
inginku berserah pada-MU..<br />
Kekasih&#8230;.</p>
<p>&#62; Solo, 1999</p></div>
</div>
<input name="charset_test" type="hidden" value="€,´,€,´,水,Д,Є" />
<input id="fb_dtsg" name="fb_dtsg" type="hidden" value="7eV6W" />
<input id="post_form_id" name="post_form_id" type="hidden" value="afd3e012c576aef7bd07ab8f117ea8e4" />
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/sastra/puisi/kekasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

