Mengukur Kinerja UKM Dengan Balance Scorecard, Mengapa Tidak ??

UKM BSCBanyak faktor yang menyebabkan lemahnya daya saing UKM di Indonesia. Salah satunya adalah rendahnya produktivitas dan kinerja UKM. Masalah ini telah dihadapi UKM sejak lama. Selain itu, keterbatasan tenaga ahli dan kesadaran terhadap dampak lingkungan dapat menimbulkan masalah lingkungan di sekitar UKM, Kinerja masih sering diabaikan UKM, padahal untuk bisa mengetahui sejauhmana keberhasilan dalam melaksanakan kegiatannya harus diketahui bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, yang telah ditetapkan dalam Visi dan Misi-nya. Pengukuran tersebut merupakan suatu hasil dari suatu penilaian yang sistematis dan didasarkan pada kelompok indicator kinerja kegiatan berupa masukan, keluaran, hasil. Dan Penilaian yang dimaksud tidak terlepas dari kegiatan mengolah dan masukan untuk diproses menjadi keluaran penting dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran.

Penerapan Balance Scorecard Pada Perusahaan

images8Berdasarkan pertanyaan dari rekan Choirul Anam, di tulisan sebelumnya pada blog ini “Empat Prespektif Dalam Penerapan Balance Scorecard”, tentang bagaimana menerapkan Balance Scorecard pada perusahaan atau organisasi yang profit oriented, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan saya coba untuk memaparkan disini, semoga mampu memberikan gambaran dan keterangan yang memuaskan. Dan tentunya saya ucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada rekan Choirul Anam yang telah sudi mampir dan membaca tulisan-tulisan di blog ini, sekaligus saya minta maaf karena baru bisa memberikan jawaban atas pertanyaan anda saat in. Yang perlu kita pahami bersama agar mencapai kesamaan persepsi bahwa “Balance Scorecard” adalah sebuah “Strategi” hal ini muncul bukan serta merta, diawali dalam studi yang dilaksanakan oleh Kaplan dan Norton (1992) terhadap 12 korporasi, didapat sebenarnya bahwa korporasi tersebut telah mengadopsi scorecard. Kapalan dan Norton melihat ada kelemahan kepada pengukuran kinerja yang dapat menonjolkan pencapaian tujuan secara terpisah, bahkan cenderung kompetitif yang pada akhirnya mengakibatkan konflik korporasi.