Surat Cinta Dari Kantor Pajak

Tahun 90-an sabtu sore dapat surat itu sesuatu sekali, hati berbunga gembira padahal belum tahu isi suratnya apa, karena tahun – tahun itu sarana komunikasi yang menjadi andalan adalah via surat, adanya masih pager itu saja masih untuk kalangan tertentu, apalagi handphone … masih menjadi barang langka. Dan hari ini saya sehari dapat surat dari Kantor Pajak tidak tanggung – tanggung langsung dua surat cinta dari Kantor Pajak, sebenarnya ada rasa bingung juga, karena selama ini sudah berusaha taat pajak agar bisa menjadi warga negara yang baik, kok masih juga dapat surat cinta.

Dua surat dari pengirim yang sama di tujukan pada satu alamat dengan Perihal yang berbeda, akan tetapi inti perihalnya sama Kantor Pajak mengharapkan saya untuk memberikan klarifikasi karena ada temuan dari sistem yang ada di Kantor Pajak Surat Pertama tentang hutang yang tidak ada biaya bunganya, dan hutang saya adalah hutang usaha; surat yang kedua memberikan penjelasan dan pemberitahuan tentang beberapa kewajiban dari Wajib Pajak Badan, yang harus di penuhi dan ending dari surat ternyata mempertanyakan mengapa ada beberapa hal yang belum di lakukan, padahal juga sudah menghitung, membayar dan melaporkan kewajiban pajak yang semestinya sesuai dengan yang tertulis di Surat Ketetapan Pajak sewaktu mendaftar sebagai NPWP Badan.

Dari sebuah kebingungan dan rasa penasaran akhirnya berusaha mencari informasi dan bertanya ke beberapa rekan yang paham tentang Pajak, juga ke beberapa teman yang memang bekerja di Kantor Pajak, hasil sementara adalah itu semua berawal dari sistem yang ada di Kantor Pajak, bahwa setiap informasi yang kita berikan tidak sesuai dengan sistem pasti akan menimbulkan beberapa pertanyaan, dan Wajib Pajak akan dimintai keterangan dan penjelasan terkait hal tersebut.

Surat cinta yang pertama mengapa hutang yang saya miliki tidak ada biaya bunganya, dan yang perlu di garis bawahi hutang yang saya miliki adalah hutang dagang dan bukan hutang bank. Lalu mengapa hutang dagang saya tidak ada biaya bunga-nya, karena hutang dagan tersebut terkait dengan pembelian barang yang tidak dilakukan secara tunai dan disana tidak ada biaya bunga untuk itu (sangat jelas), akan tetapi jika itu hutang bank sudah tentu akan ada biaya bunga-nya, karena hutang bank pasti akan selalu diikuti dengan bunga yang ditetapkan saat kita hutang ke bank (juga jelas), akhirnya apakah di sistem yang ada di Kantor Pajak semua hutang itu harus ada biaya bunga-nya .. ??, berarti saat membuat sistem tidak ada klasifikasi hutang secara detail, sehingga masih mengharuskan Wajib Pajak memberikan klarifikasi terkait hal tersebut, menjadikan Wajib Pajak serasa kurang nyaman juga.

Surat cinta yang kedua, menjelaskan semua kewajiban Wajib Pajak yang harus di penuhi bahwa harus membayar beberapa item pajak yang diisyaratkan dalam Surat Ketetapan Pajak saat mendapatkan NPWP, saya pahami dan saya baca dengan seksama dan apa yang telah diisyaratkan menurut saya sudah sesuai dengan Kewajiban saya sebagai Wajib Pajak, dan sebelumnya juga sudah melakukan sharing dengan petugas pajak tentang apa yang harus kami lakukan. Namun pada surat tersebut diharapkan menghadap ke Kantor Pajak untuk memberikan klarifikasi terkait beberapa hal yang belum kami lakukan, dan hal ini serasa janggal juga temuan tersebut dari keterangan di sistem yang ada.

Intinya adalah ada beberapa perbedaan dari apa yang semestinya saya laporkan dengan data yang telah kami sampaikan padahal juga sudah sesuai dengan apa yang harusnya kami lakukan, pertanyaannya apakah sistem online yang telah diterapkan tetap memerlukan juga penjelasan secara langsung dari Wajib Pajak. Namun sebagai warga negara yang baik dan berusaha untuk taat pajak tetap menghadap untuk bisa bercengkerama dengan sistem yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *