Mengukur Kinerja UKM Dengan Balance Scorecard, Mengapa Tidak ??

UKM BSCBanyak faktor yang menyebabkan lemahnya daya saing UKM di Indonesia. Salah satunya adalah rendahnya produktivitas dan kinerja UKM. Masalah ini telah dihadapi UKM sejak lama. Selain itu, keterbatasan tenaga ahli dan kesadaran terhadap dampak lingkungan dapat menimbulkan masalah lingkungan di sekitar UKM, Kinerja masih sering diabaikan UKM, padahal untuk bisa mengetahui sejauhmana keberhasilan dalam melaksanakan kegiatannya harus diketahui bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, yang telah ditetapkan dalam Visi dan Misi-nya. Pengukuran tersebut merupakan suatu hasil dari suatu penilaian yang sistematis dan didasarkan pada kelompok indicator kinerja kegiatan berupa masukan, keluaran, hasil. Dan Penilaian yang dimaksud tidak terlepas dari kegiatan mengolah dan masukan untuk diproses menjadi keluaran penting dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. Usaha Kecil menurut Undang-Undang No,.9 tahun 1995 adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) per tahun serta dapat menerima kredit dari bank maksimal di atas Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Yang dimaksud dengan Usaha Menengah menurut Inpres No. 5 Tahun 1998, adalah usaha yang bersifat produktif yang memenuhi kriteria kekayaan usaha bersih lebih besar dari Rp.200.000.000,00 ( dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak sebesar Rp.10.000.000.000.,00 ( sepuluh milyar rupiah)tidak termassuk tanah dan bangunan tempat usaha serta dapat menerima kredit daari bank sebesar Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

Mengapa pengelolaan UKM terkadang sulit berkembang, beberapa hal yang terkadang menjadi kendala dalam perkembangan UKM di Indonesia adalah :

  1. Permodalan : Disamping kurang mencukupinya jaminan yang dimiliki oleh usaha kecil dan menengah untuk meminjam modal ke bank, di daerah selama ini sulit mendapatkan akses modal karena kurangnya informasi mengenai permodalan. Faktor lain penyebab permasalahan permodalan pada usaha kecil dan menengah adalah adanya persepsi dikalangan pelaku UMKM bahwa meminjam ke bank mempunyai risiko yang lebih besar dan memberatkan.
  2. Manajerial : Manajemen menjadi permasalahan yang paling utama dalam pengembangan usaha kecil dan menengah. Visi dan misi serta pengelolaan bisnis usaha kecil dan menengah tidak dilakukan dengan sistem manjemen dan perancanaan bisnis dengan baik. Hal tersebut menyebabkan kebanyakan usaha kecil dan menengah tidak dapat berkembang. Manajemen masih dikelola secara tradisional dimana harta pribadi dan modal usaha masih tercampur. Tidak adanya pemisahan harta pribadi dengan modal usaha menggambarkan tidak adanya rencana bisnis dan investasi untuk mengembangkan usaha. Tata kelola keuangan pribadi dan usaha yang tercampur juga seringkali menjadi penyebab kebangkrutan pada bisnis UMKM dimana penggunaan modal usaha untuk kepentingan pribadi tidak terkontrol dengan baik.
  3. Jaringan Pemasaran : Kebanyakan usaha kecil dan menengah terutama di daerah tidak mempunyai akses langsung ke pasar. Industri kecil dan menengah sulit untuk melakukan ekspansi pasar lebih luas. Sehingga lingkup usaha industri kecil dan menengah hanya bersifat lokal. Networking menjadi salah satu unsur modal intangiable yang menentukan perkembangan bisnis UMKM. Melalui networking pelaku bisnis dapat mengembangkan wacana bisnis guna pengembangan bisnis di masa yang akan datang.
  4. Leadership : Leadership dalam lingkup ini adalah karakter dan pengetahuan pelaku bisnis UMKM dalam mengelola usahanya. Leadership dalam UMKM bukan menyangkut jenis-jenis gaya kepemimpinan. Leadership dalam UMKM menyangkut apakah pelaku sekaligus pemimpin bagi usahanya berkeinginan membesarkan usahanya, apa yang dicita-citakan oleh pemilik usaha yang dalam hal ini sekaligus sebagai pengelola mengenai perkembangan usahanya kedepan, apakah pelaku mempunyai semangat belajar untuk mencapai cita-citanya.
  5. Inovasi : Dalam lingkungan bisnis modern inovasi menjadi faktor utama peningkatan daya saing. Kebanyakan usaha kecil dan menengah dan industri di Indonesia masih kurang sadar dengan peningkatan daya saing. Persepsi mengenai inovasi membutuhkan biaya besar merupakan kendala bagi pengembangan inovasi baik dari sisi pengembangan produk, sistem distribusi, organisasi dan teknologi.

Faktor utama yang menjadi kendala usaha kecil dan menengah adalah pengelolaan usaha atau manajerial. Secara berurutan kendala usaha kecil dan menegah yang kedua sampai ke lima yaitu networking, leadership, inovasi dan permodalan. Karena usaha kecil dan menengah mendominasi perekonomian dimana keberadaanya mencapai 94% dari keseluruhan usaha maka kelima faktor utama kendala usaha kecil dan menengah tersebut sering dikatakan sebagai faktor umum yang menjadi kendala untuk meningkatkan daya saing industri nasional.

Lalu bagaimana kita dapat mengatasi masalah tersebut, dengan konsep sederhana beruap Balance Scorecard, secara umum coba kita uraikan bagaimana mengetahui posisi UKM yang sesungguhnya sehingga akan mempermudah dalam menerapkan strategi dalam pengembangan UKM tersebut. Sebenarnya penerapan Balance Scorecard pada UKM yang belum melaksanakan kaidah-kaidah pelaporan dan menjadi sebuah organisasi modern akan menjadi terasa sulit untuk dilaksanakan, akan tetapi ini akan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi UKM jika memang ingin bertahan dan berkembang kegiatan usahanya.

Dari ke lima kendala diatas sebenarnya mendekati atau masuk dalam  4 Perspekstif Dalam Balance Scorecard, sehingga untuk UKM yang akan menerapkan Balance Scorecard dalam menentukan strategi bersaingnya, maka harus dapat mempersiapkan agar kinerjanya dapat diukur dengan konsep sebagai berikut:

  1. Perspektif Financial, untuk perspektif ini dapat diukur dengan beberapa rasio keuangan antara lain, rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio rentabilitas dan rasio solvabilitas; sejauhmana ukm memiliki keandalan dalam keuangannya; hal ini tentunya untuk mengetahui tentang sejauhmana kemampuan ukm dalam hal permodalan dan kemampuan-kemampuan financial lainnya;
  2. Perspektif Pelanggan, kenaikan jumlah pelanggan dapat dilihat dari perkembangan jumlah konsumennya, sedangkan untuk tingkat kepuasan pelanggan/konsumen kita dapat membuat angket tentang kepuasan pelanggan/konsumen; hal ini yang nantinya mampu dipergunakan bagi ukm dalam mengatasi kesulitan dalam jaringan pemasarannya.
  3. Perspektif Bisnis Internal, bagaimana ukm dapat melakukan perubahan, melakukan inovasi bisnis dan produknya, hal ini dapat dilihat dari perkembangan peralatan yang dimiliki yang disesuaikan dengan teknologi informasi yang ada, kemampuan ukm dalam membuat produk-produk baru; serta dari progress pelayanan yang mampu diberikan kepada pelanggan/konsumennya, dalam perspektif inilah kendala dalam inovasi dan perkembangan perusahaan menjadi
  4. Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran, dalam perspektif ini ukm setidaknya harus mampu melibatkan karyawan dalam penentuan keputusan terkait dengan perkembangan usahanya, pengakuan atas hasil kerja, dan kreatifitas kerja karyawannya; dalam perspektif ini ukm harus juga benar-benar menerapkan teknologi informasi untuk mengetahui respon terhadap pelanggan/konsumennya; satu hal lagi adalah tentang kemampaun ukm dalam menetapkan karyawan dan menerapkan aturan yang ada bagi karyawannya, sehingga mampu memberikan motivasi kerja yang baik terhadap karyawan.

Berdasarkan pada hal diatas, tentunya penerapan balance scorecard pada ukm sangat bagus dilaksanakan, namun tetap harus memperhatikan beberapa hal agar strategi bisnis pada UKM  dengan menggunakan balance scorecard sebagai sarana dalam mengukur kinerja UKM akan memberikan result yang benar-benar mampu memberikan kontribusi positif bagi ukm, demikian terima kasih, semoga bermanfaat

Sumber Bacaan :

  1. Departemen Koperasi. (1992).Undang Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian.Semarang: Aneka Ilmu
  2. Garisson, Ray H and Norren, Eric W (2000)Akuntansi Manajerial, Jakarta.Salemba Empat
  3. Kaplan, Robert and David P. Norton (2000)Balance Scorecard: MenerapkanStrategi menjadi Aksi, Jakarta:Erlangga.
  4. Kotler Philip dan A.B Susanto (1999).Manajemen Pemasaran di Indonesia EdisiPertama. Jakarta. Salemba Empat.
  5. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (2002) Pedoman Penilaian Koperasi, Pengusaha Kecil dan Pengusaha Menengah Berprestasi Tahun 2002. Jakarta. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
  6. Munawir. (2001).Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta. Liberty;
  7. Suharsumi Arikunto (2002)Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik Jakarta: Rineka Cipta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *