Ayah, .. Ajarkan Aku Sebuah Logika

imagesJarang sekali atau bahkan hampir tidak terdengar sebutan ayah yang membumi, yang mampu mendobrak kepekaan berpikir pada anak, karena sosok ayah terkadang masih juga tertutupi oleh peran seorang ibu; apalagi secara nyata ada Ibukota mana ada Ayahkota, ada Ibu Jari mana ada Bapak Jari, ada Ibu Pertiwi mana ada Ayah Pertiwi; hal ini karena memang arti seorang ibu dan makna seorang ibu bagi kehidupan sangat-sangat penting dan begitu mulia; Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548); yang juga ada dalam surat (Qs. Al-Ahqaaf : 15) (source)Walau jelas disebutkan bahwa kemuliaan seorang ibu tiga kali lipat dari seorang ayah, namun kewajiban anak untuk tetap berbakti kepada kedua orang tuanya; itu sudah “nash” kehidupan bagi seorang anak tidak bisa ditawar lagi; namun bukan itu yang ingin kita sampaikan, akan tetapi lebih pada bagaimana sebagai orang tua dapat “memetik” hasil itu semua, karena apa yang tertulis diatas akan menjadi sebuah hal yang ideal ketika “hak-hak” anak diperoleh dengan lengkap dan proporsional; maka tentu peran orang tua akan diperlukan dalam membentuk dan membangun karakter dan pribadi anak-anaknya untuk memperoleh bekal bagi kehidupan ke depan.

Bukan hanya ibu yang berperan membentuk dan mendidik anaknya agar memiliki kepribadian yang baik, karena keduanya sangat dibutuhkan agar perkembangan anak berimbang. Sering kali saya mendengar dan melihat dalam kehidupan rumah tangga saat ini begitu dominan peran ibu dalam mengasuh anak-anaknya; bahkan lebih tragis lagi “peran pembantu” dalam membesarkan anak-anaknya, karena orang tuan terbuai dan terdoktrin oleh “dunia kerja”. Sosok ibu adalah sumber kasih sayang anak-anaknya, sumber kelembutan dan kedamaian berpikir bagi anak-anaknya; makna cinta dan kasih melekat pada sosok seorang ibu, karena pada sosok ibu akan ditemukan “kepekaan rasa”; itu adalah tempat sekolah bagi anak-anaknya; lalu apa peran ayah karena burung itu terbang harus dengan dua sayap, dan seorang anak akan mampu terbang tinggi menggapai masa depan perlu dua hal yang berimbang yaitu orang tua (ayah dan ibu);

Lalu apa peran ayah, sejauhmana ayah ikut andil dalam memberikan pendidikan pada anaknya; Jika ibu adalah tempat (sekolah/madrasah) bagi anak-anaknya, maka ayah adalah “kepala sekolah”, ayah penentu kebijakan, AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya. Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’; jika ibu yang mengasah kepekaan, kepedulian anak terhadap kehidupan, maka ayah adalah inspirasi ketegasan dan yang memberikan makna logika terhadap anaknya. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak. Jika ibu tak ada, anak menjadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika. AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap. 

Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak. Maka Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari ‘Umar bin Khattab (radhiyallahu ‘anhu). AYAH durhaka bukan yang bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yang menuntut anaknya shalih dan shalihah, namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya. AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya. AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya.

Sebagai penutup maka marilah kita merujuk pada semangat Quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita mengenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imran. Mereka adalah contoh AYAH yang peduli. Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata, “Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH.”  (source)

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan marilah menjadi ayah yang peduli pada anak-anak kita, walau sedikit waktu ijinkan mereka anak-anak kita untuk sekedar memeluk bahkan naik dipundak kita, dan menggenggam tangan kita untuk berharap kenyamanan, terima kasih

2 comments for “Ayah, .. Ajarkan Aku Sebuah Logika

  1. priyono
    11 February 2015 at 23:22

    Tulisan yang bagus, untuk membuat kita akan lebih baik lagi dan sadar menjadi ayah yg baik dan bertanggung jawab untuk keluarga dan menentukan arah menuju kemana arah rumah tangga kita… Kasihan mereka wanita sudah menyerahkan segalanya untuk kita pada pria.. Kalau kita nantinya akan mengabaikan mereka (anak istri kita..) tks..

    • admin
      12 February 2015 at 11:34

      hahahaha … wah ndak nyangka yang komentar ternyata teman lama, yang sejak lulus 1990 belum pernah bertatap muka hingga saat ini, gimana kabarnya mas …. hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.