Motivasi

Cermin, Refleksi Sebuah Kejujuran

Cermin, siapa yang tidak tahu dan mengenal benda yang satu ini, karena dalam setiap ruang, setiap sisi-sisi rumah akan selalu ada benda ini, tiada habisnya kita mamatut diri didepan cermin untuk sekedar bisa melihat apa yang kurang pantas pada diri kita, karena jelas bawah pengertian cermin sendiri adalah permukaan memantul yang cukup licin untuk membentuk imej. Cermin dikenali ramai sebagai sejenis benda yang boleh memantulkan cahaya ataupun bayang-bayang. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Cermin). Ach.. itu hanyalah sebuah definisi dan pengertian, namun pernahkah kita sedikit memahami fungsi cermin itu lebih jauh dan lebih dalam lagi, bahwa cermin tidak sekedar pemantul bayang-bayang, bahwa cermin tidak sekedar alat untuk melihat sudah pantaskah dandanan kita. Pernahkah kita menyadari bahwa cermin begitu jujur pada kita. Karena apa yang ada pada diri kita akan dipantulkan demikian apa adanya oleh cermin.

Sebuah kesadaran dan rasa mawas diri dapat kita dapatkan dari cermin ini, ada sebuah ungkapan dalam bahasa jawa “Ngiloa Githoke Dhewe”, yang secara harfiah adalah bercerminlah pada tengkuknya sendiri, dengan arti sebagai berikut :

  • Ngilo : bercermin
  • Ngiloa : bercerminlah
  • Githok : tengkuk
  • Githoke : tengkuknya
  • Dhewe : Sendiri.

Arti yang tersirat dari ungkapan itu adalah kita diajak untuk melihat dan mengetahui tentang diri kita lebih jauh. Selain ada kebaikan ada juga kekurangan dan kelemahannya. Kita diajak untuk menyadari akan kekurangan dan kelemahan kita sendiri dengan sebuah nilai yang diajarkan bahwa ungkapan ini mengajarkan agar setiap orang mau mawas diri.

Sejauhmana kita menggunakan cermin selama ini, apakah sebatas kita bercermin untuk badaniah kita..?? sudah pernahkan kita mematut diri di cermin kemudian mencoba untuk melihat dan menyelami diri kita yang sebenarnya, yach.. “Cermin Hati“.. sering kita lupakan ketika kita berada di depan cermin, karena kita hanya sebatas bercermin untuk badan kita. Mematut diri dan membetulkan dandanan yang kurang pas, namun kita hampir tidak pernah mencoba untuk bisa memahami dan membetulkan sikap, perilaku, tindakan serta ucapan-ucapan kita yang dipantulkan oleh “cermin hati, karena kita terkadang kurang respek terhadap “Kejujuran” dari Cermin itu.

Cermin akan mengatakan apa adanya tentang diri kita, cermin itu tidak pernah bohong, cermin itu jujur, cermin itu apa adanya tidak ada yang ditutupi cermin apa yang ada pada diri kita itulah yang akan dipantulkan oleh cermin. Sudah sewajarnya jika kita menjadikan cermin adalah sahabat sejati bagi kita karena cermin akan bilang jelek jika kita jelak dan akan bilang baik jika kita baik. Dan karena cermin adalah refleksi sebuah kejujuran sangat tepat dan pas jika cermin kita gunakan sebagai alat untuk instropeksi diri dimana kekurangan dan kelebihan kita dalam menjalani kehidupan ini. Semoga dengan demikian kita dapat menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi kehidupan, dengan terus bercermin dengan “CERMIN HATI”.. semoga bermanfaat terima kasih

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.