Filosofi Hidup Motivasi

Buang Egois Pada Diri Kita, Karena Hanya Akan Merugikan Diri Sendiri

Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustrasi. Ego diatur oleh prinsip realitas yang berkaitan dengan apa yang praktis dan mungkin, sebagai dorongan dari id. Ego terikat dalam proses berpikir sekunder -mengingat, merencanakan, dan menimbang situasi yang memungkinkan kompromi antara fantasi dari id dan realitas dunia luar. Ego meletakkan dasar untuk perkembangan yang disadari tentang perasaan diri sebagai individu yang berbeda. (sumber).

Sedangkan dalam pengertian lain Ego adalah tentang diri, rasa sadar akan diri sendiri, konsepsi individu tentang diri sendiri (sumber). Ego adalah pikiran di alam sadar, bagian dari identitas yang dianggap sebagai “diri” seseorang, ini berdasarkan pengertian dari vocabulary.com. Berdasarkan KBBI, ego bisa berarti rasa sadar akan diri sendiri atau konsepsi individu tentang dirinya sendiri. Definisi tersebut diambil dari ilmu psikologi dasar tentang pola pikir manusia. Berangkat dari situ, arti egois menurut KBBI adalah orang yang selalu mementingkan dirinya sendiri.

Saat individu mampu menilai bahwa orang lain memiliki ego yang berlebihan, maka diri sendiri belum tentu memiliki kesadaran bahwa sebenarnya juga memiliki ego yang tinggi. Sejauhmana kita mampu mawas diri terhadap kemampuan diri yang memiliki ketermanfaatan pada lingkungan sekitar adalah sebuah bentuk awal dari sebuah kebijaksanaan. Manusia, seringkali membangun perlindungan dalam kecongkakan yang dipicu ego. Mereka mengira ego itu kekuatan. Ego, pada kenyataannya, hanyalah kelemahan buat menyelubungi perasaan rendah diri. Mereka merasa dibutuhkan, dihormati, dicintai, dan diharapkan.

Sedangkan Egois adalah orang yang selalu mengutamakan atau menonjolkan kepentingan dirinya sendiri, Orang egois adalah mereka yang hanya bahagia ketika tujuannya tercapai. Baginya, tujuan bermasyarakat tidak penting, bahkan cenderung untuk diabaikan atau dilanggar jika bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri.  Sehingga Egoisme adalah sikap (kelakuan) yang didasarkan atas dorongan kepentingan diri sendiri atau menganggap diri sendiri lebih penting daripada kepentingan orang lain.  Dalam filsafat, egoisme merupakan teori tentang segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.

Ciri – ciri orang Egois, antara lain :

  1. Angkuh dan ingin orang lain tunduk kepadanya; ada kecenderungan memaksakan kehendak, orang lain harus mengikuti apa yang ia inginkan, selalu hidup dengan pemikiran “apa yang orang lain bisa berikan kepadanya dan bukan sebaliknya, apa yang mampu saya berikan pada orang lain.
  2. Tidak menerima kritik; Kritik yang membangun dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi dan hasil kerja kita, tapi tidak demikian pola pikir yang ada dalam kepala orang egois. Bagi mereka, semua kritik adalah langkah untuk menjatuhkan sehingga harus ditangkis dengan segala cara.
  3. Senang mengkritik orang lain; Orang egois tidak mau dikritik, tapi senang mengkritik orang lain di belakang punggung. Sayangnya, orang egois ini hanya melihat dari sudut pandangnya dan tidak berempati pada keadaan orang lain. Contoh konkretnya ketika tetangga yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka sikap pertama orang egois adalah menyalahkan orang itu karena malas bekerja. Padahal, bisa saja si miskin tadi sudah berusaha lebih keras dari orang egois, tapi hasilnya tidak seperti yang ia harapkan.
  4. Mengabaikan orang yang tidak sependapat; Egois adalah mereka yang menganggap orang lain yang lebih pintar atau lebih matang adalah musuh, apalagi jika orang itu tidak sependapat dengan si egois. Apakah Anda merasa sering merasakannya?;
  5. Mereka merasa berhak mendapatkan segalanya; Orang egois merasa dirinya bisa sukses, tapi tidak berjuang lebih keras dari orang lain. Kendati demikian, si egois ini hanya menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan orang lain, atas kesusahan yang dideritanya.
  6. Melebih-lebihkan pencapaian; Anda pernah bertemu dengan orang yang suka membanggakan pencapaiannya yang tidak seberapa? Itu adalah salah satu tanda orang egois mengingat mereka memang tidak memiliki sikap rendah hati.Ketika bekerja secara kelompok, si egois adalah orang pertama yang akan mengklaim kesuksesan, tapi juga orang pertama yang akan ‘cuci tangan’ ketika proyek buntu. Oleh karena itu, mengerjakan tugas bersama orang egois tidak disarankan, apalagi jika tugas itu berat dan menantang.
  7. Anti Minta Maaf;  Karena sering menyalahkan orang lain atau keadaan, orang egois akan sangat gengsi untuk meminta maaf meskipun terbukti telah berbuat salah. Mereka selalu beranggapan jika apapun yang dilakukan adalah benar, jadi akan merasa nggak perlu meminta maaf kepada siapapun.

Jika terjebak dalam sebuah kondisi, maka egois akan menjadikan tidak mampu menjadi manusia yang selalu bermanfaat untuk orang lain, tentu kita harus mampu agar kita tidak terjebak menjadi manusia yang Egois, hal – hal yang bisa kita lakukan antara lain :

  1. Mulai Mendengarkan Orang Lain, Kalau kamu selalu ingin berbicara dan ingin didengarkan, kini saatnya kamu belajar untuk mendengarkan. Kamu perlu belajar mendengar perasaan atau pikiran orang lain. Entah benar, entah salah, baiknya didengarkan dahulu. Kalau kamu selalu bersikukuh bebicara tanpa henti, dan menghentikan orang lain untuk berbicara, nggak akan ada yang mau berpacaran denganmu. Malahan, nggak ada pula yang mau berteman denganmu. Dengan mendengarkan, kamu dapat menjaga komunikasi yang baik, dan dapat menghargai perasaan orang lain.
  2. Menerima Kebenaran, Orang dengan sikap egosi susah untuk menerima kebenaran, terlebih ketika kebenaran itu berbeda dengan yang mereka yakini. Mereka akan tetap keras kepala mempertahankan pendapat mereka dan menolak kebenaran tersebut. Cobalah mulai untuk menerima kebenaran. Jika yang kamu yakini tersebut nggak sesuai dengan kenyataan, relakanlah. Jika kamu salah, akui dengan dewasa. Dengan menerima kebenaran, sikap egois itu akan menghilang sedikit demi sedikit.
  3. Memikirkan Orang Lain Sikap egois diartikan sebagai sikap yang selalu memikirkan diri sendiri. Jadi, untuk menghentikan kebiasan ini, kamu perlu belajar untuk memikirkan orang lain. Cobalah berempati. Mulailah berpikir tentang perasaan orang lain dan memahami apa yang mereka alami. Jika kamu sudah bisa berempati, kamu akan jadi orang yang peduli pada sesama.
  4. Semuanya Nggak Selalu Tentang Kamu; Misalnya dalam hubungan asmara, yang ada ialah tentang kamu dan pasangan, tentang kalian berdua. Bukan tentang kamu seorang, bukan tentang bahagia kamu sendiri. Jangan pernah memaksakan pasanganmu untuk melakukan sesuatu yang dapat membuatmu merasa bahagia. Jangan pernah membuat pasanganmu berusaha sendirian untuk mempertahankan hubungan tersebut. Terutama saat bertengkar, jangan menyalahkan pasangan dan membuatnya berlutut meminta maaf begitu saja. Kamu pun juga harus mencoba membuatnya merasa bahagia dalam hubungan tersebut. Kamu juga harus berusaha untuk mempertahankan hubungan kalian, bersama dengannya. Saat bertemu masalah, pikirkan bahwa kamu dan pasangan sedang melawan konflik, bukan saling melawan satu sama lain.
  5. Nikmati Kebahagiaan Orang Lain; Orang dengan sikap egois sangat mudah iri dan cemburu. Mereka akan cemburu jika orang lain lebih bahagia atau lebih sukses daripada dirinya, tanpa terkecuali jika itu pasangan sendiri. Kalau kamu benar ingin mematikan sikap egois tersebut, cobalah untuk menikmati keberhasilan orang lain. Maksudnya disini adalah turut berbahagia dan memberikan selamat untuknya yang lebih bahagia dan sukses.
  6. Jadilah Pema’ af dan Selalu Lapang Dada; dengan menjadi pemaaf maka kita akan menjadi pribadi yang selalu bisa tenang dalam berpikir, Untuk menghilangkan sifat buruk, seseorang harus bisa membuka dirinya terhadap kritikan dari orang lain. Dia harus bisa bersikap lapang dada dan menerima berbagai saran serta nasihat yang penting bagi perbaikan dirinya. Sifat egois bisa menjadi salah satu penyebab pertengkaran dalam rumah tangga, karena itu penting bagi seseorang untuk mau bersikap terbuka dan memperbaiki diri.

Dari uraian tersebut diatas, semoga kita mampu mengelola emosi dan sikap diri kita, karena sebenarnya sikap egois sama saja mematikan harapanmu untuk mendapatkan hubungan cinta yang langgeng dan bahagia. Sebab,  setiap orang akan merasa nyaman berkomunikasi dan berhubungan dengan kita karena mampu mengelola hati kita sehingga mampu menjadi orang yang Altruisme.

Referensi :

  1. Anand Krishna, 2017, Penerbit Gramedia Jakarta, Kebijakan Bhagavad Gita untuk Generasi Y
  2. Husni Mubarok, 2018, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta, Mutiara Hati Penggugah Jiwa
  3. Annida El Husna, 2013, Penerbita Elek Media Komputindo, Jakarta, Ketika Kenyataan Tidak Sesuai Keinginan, ManageYour Heart
  4. Ahmad Dzikran, 2017, Penerbit Gemilang, Jakarta, Kuasai Dirimu; Panduan Membangun Mindset dan Mental Sukses.
  5. Ahmad Dzikran, 2018, Penerbit Gemilang, Jakarta, Jadilah Diri Sendiri: Panduan Membangun Pribadi Berkarakter dan Percaya Diri

 

 

Ego Salah satu jalan menuju kehancuran yang sehancur-hancurnya dalam sebuah hubungan. Hubungan apapun itu. Ketika akal sehat sudah tidak bisa lagi menang melawan ego, maka bersiaplah menerima sebuah kenyataan yang akan menghancurkan hidup dalam sekejap. Dan biarkan waktu yang mencatat sejarahnya. Waktu yang akan menjawab semuanya.

Ketika akal sehat dikuasai ego dan kepanikan, maka kata-kata sejenis nasihat atau bahkan uraian air mata pun tidak ada apa-apanya. Kalimat bijak dan permintaan maaf hanya terdengar seperti kata-kata yang tabu untuk dipercaya kebenarannya (kekinian bilangnya masuk kuping kanan, keluar kuping kiri). Semua air mata yang ikhlas pun menjadi isapan jempol belaka. Bahkan, perjuangan pun menjadi tiada arti, ketika ego dan amarah menjadi satu.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.