Negeriku gemah ripah loh jinawi, nusantaraku adalah jamrud katulistiwa mimpikah itu ..??, Bukan itu bukan mimpi negeri ini begitu kaya, Indonesia-ku begitu mempesona tidak ada rakyat negeri ini yang akan membantah ini… karena memang kenyataannya seperti ini, namun ketika kita melihat banyak sisi-sisi lain negeri ini yang perlu diketahui, perlu dipahami dan perlu tindakan nyata untuk bisa mengatasinya, tidak sekedar konsep dan teori. Beberapa waktu yang lalu ketika melakukan perjalanan dari Blitar ke Malang, begitu tertegun dengan adanya pengamen disampingku, walau biasanya banyak pengaman di Bus, namun yang satu ini sedikit berbeda, entah mengapa tiba-tiba aku keluarkan ponsel untuk mengabadikannya. Maaf sobat kecilku..

Umur bocah ini antara 6 sampai dengan 8 tahun, mengamen di Bus hanya bermodalkan tutup botol yang dikaitkan lalu di kasih pegangan kayu, yang lebih ironis lagi dia bersama adek perempuannya yang tidak lebih dari umur 5 tahun. Mengais rupiah per rupiah tidak sekedar untuk menghidupi dirinya karena mungkin juga untuk keluarganya, yang ada kemudian adalah muncul pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut, ketika melihat kenyataan seperti ini, Benar memang negeri-ku kaya raya, bahkan menurut Koes Plus tonggak-pun bisa jadi tanaman, namun kenyataannya masih ada sisi lain dari negeri ini yang masih membutuhkan kepedulian dan membutuhkan tindakan nyata dari pemimpin negeri ini. Setelah duduk lalu aku mencoba mendekati dua bocah kecil ini.

“Dik.. kok siang gini sudah ngamen, apakah tidak sekolah”,. tanyaku dengan hati-hati, karena takut juga jika nanti tersinggung.

Namun dengan enteng dan cukup bersahabat, ia menjawab “, tidak Om, tidak ada biaya untuk sekolah, makanya saya ngamen Om,”… blar… blar … Begitu mahalkah pendidikan di negeri ini, sehingga anak bangsa yang memiliki hak untuk memperoleh pendidikan dan perlakuan yang sama sebagai warga negara tidak mendapatkan haknya… ini kenyataan dan realita yang terjadi di masyarakat. Belum lagi ku lanjutkan pertanyaanku siapakah nama-nya, dimanakah rumah-nya dan dimana orang tua-nya… perjalanan Bus sudah sampai pemberhentian terakhir perjalananku di Terminal Arjosari – Malang.

[cincopa AkIABlahCKZR]

Ketika menuruni bus, aku menggadeng si adek perempuannya, dan begitu menginjakkan kaki di aspal terminal kakaknya sudah berlari kearah samping bus lalu si adek melepaskan diri dari gengaman tanganku untuk menyusul sang kakak, mataku nanar mencari-cari ke samping bus kemana anak-anak ini sebenarnya, dan gubrak …. sesosok wanita yang masih relatif muda telah menunggu dua bocah itu di ujung pemberhentian bus; tertegun sejenak saya melihatnya ketika kantong uang yang dipergunakan untuk mengumpulkan uang mengamennya diberikan pada si Ibu tadi, ketika kesadaranku kembali ke ambil kembali ponselku dengan harapan bisa mengabadikan hal itu, namun yang terjadi Ibu dan kedua anak tadi sudah melangkah menjauh. Jika memang itu Ibu-nya kok sebegitu teganya membiarkan anak-anaknya mengais rejeki dengan seperti itu dan dia hanya menunggu hasil dari mengamen kedua anaknya, dan mengapa tidak disekolahkan.. apakah sekolah murah di negeri ini adalah IMPIAN. Terbayang dalam anganku dua buah hatiku dirumah, Oh.. anakku betapa berdosa-nya Ayah.. jika kalian seperti apa yang aku lihat tadi. Terasa sesak di dada ketika hak-hak dari anak-anak telah terhempaskan dan terampas oleh keadaan dan kehidupan dari kedua oarang tuanya. Mengapa musti anak-anak yang menjadi korban dari sebuah keadaan. Semoga pengalaman dan tulisan ini bermanfaat terima kasih.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.