Melihat, menyimak dan mencoba mengikuti serta sedikit banyak telah merasakan serta mengenyam pendidikan di negeri ini setidaknya ada perasaan bangga dan bahagia, namun tidak bisa di pungkiri bahwa terselip juga sebuah pertanyaan besar yang perlu ada jawaban dan tindak lanjut yang nyata dari orang-orang yang memiliki kewenangan serta tanggungjawab akan masa depan anak bangsa di negeri ini. Dan tanggungjawab itu tidak hanya terletak pada orang tua, guru, insan pendidik akan tetapi juga pengambil kebijakan dan masyarakat.

Pernahkah secara sadar atau tidak kita sewaktu masih dibangku sekolah dulu sering kali di-driil menjadi mesin penghafal, masih ingatkan dulu ketika kita sekolah selalu diwajibkan untuk mengikuti apa kata guru, yang cenderung meninabobokan daya kreatifitas kita. Jika ada pertanyaan entah dari orang tua atau guru tidak bisa kita jawab dengan persis maka akan disalahkan. Walau sebenarnya jawaban kita tidak-lah salah, hanya memang belum sesuai atau pas dengan isi pertanyaan.

Jika, ada pertanyaan sebagai berikut, “Masyarakat Indonesia terkenal akan ke …………….”, apa yang akan terjawab dari mulut mungil anak-anak se-usia SD,.. tentunya jawaban yang meluncur akan beragam dan bervariasi, bisa jadi jawaban yang muncul adalah …

  1. Ke-sopanannya
  2. Ke-santunannya
  3. Ke-beraniannya
  4. Ke-beragamannya

Contoh jawaban itu akan dianggap salah, karena tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dalam buku pelajaran atau dengan harapan si penanya, karena jawaban yang benar adalah KERAMAHTAMAHANNYA. Padahal ke-empat jawaban tersebut tidaklah mutlak salah, akan tetapi belum sesuai atau belum pas dengan pertanyaan yang dimaksud. Jika hal itu berulang kali terjadi dan terus berlanjut, maka yang terjadi adalah terbunuh-nya daya imajinasi, daya kreativitas anak-anak kita. Bisa jadi hal ini akan menjadikan anak-anak akan kehilangan semangat belajar, merasa dongkol, frustasi dan secara perlahan menumbuhkan budaya beo pada anak.

Setidaknya untuk menghindari agar anak-anak kita memiliki budaya foto copy, tidak mengembangkan budaya mengikuti dan mengekor adalah dengan :

  1. Menumbuhkan logika;
  2. Pemikiran kritis;
  3. Daya kreativitas;

Misalkan dari contoh pertanyaan diatas, kemudian dijawab.. sama, maka si penanya seharusnya tidak memvonis jawaban itu salah akan tetapi, mungkin bisa sebagai berikut :

“Masyarakat Indonesia terkenal akan ke …………….”,

Ke-sopanannya

“”Benar, jawaban apalagi yang cocok..””

Ke-santunannya –>> ok, bagus ada lagi yang lain..

Ke-beraniannya –>> ya.. betul sekali.. coba apa lagi

Ke-beragamannya –>> Benar.. hayo ada yang lain lagi tidak..

Ke-jahatannya.. nah ini, jawaban betul atau salah..

Maka si anak akan dengan serentak akan menjawab salah.., yang satu lagi adalah Keramahtamahannya.., dengan demikian maka anak-anak kita akan berusaha untuk mengembangkan daya imajinasi, daya nalar dan saya kreasi serta kreativitas-nya seiring dengan perkembangan pola pikirnya dengan sehat dan baik. Dan ingat bahwa anak-anak kita bukan burung beo yang harus mengikuti apa yang kita inginkan dan sampaikan, akan tetapi berilah kebebasan agar mereka bisa berkarya dan menemukan jatidirinya. Jangan terlalu banyak dilarang dan diatur akan tetapi arahkan mereka dan berilah contoh pada mereka.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan terima kasih

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.