Lilin apalah arti lilin bagi kita saat ini, mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa lilin itu hanya sebuah benda pengganti untuk memberikan penerangan jika lampu/listrik mati, mungkin bisa juga untuk pelengkap suasana agar romantis, bisa juga untuk sarana berdoa bagi sebagian umat; bisa juga untuk sarana dalam pesta ulang tahun dan masih banyak lagi..
Tapi pernahkah kita memperhatikan dan mengamati yang kemudian kita ambil sebagai satu tuntunan dalam hidup kita karena menurut saya: lilin memberikan filosofi kehidupan yang bagus dan penuh makna, yang banyak kita tahu adalah bahwa lilin akan memberikan pijar dan sinar terang pada sekelilingnya tanpa memperhatikan bahwa dia sendiri akan habis oleh api; itu sudah banyak yang tahu dan mengerti akan tetapi kita semua belum tentu untuk bisa melakukan seperti apa yang dilakukan lilin, kita hidup dengan memberikan manfaat bagi orang lain, tanpa harus berharap dan penuh keikhlasan dalam memberikannya.

Beberapa waktu yang lalu waktu mengikuti Diklat di Surabaya oleh salah satu Pemateri seorang Pejabat dari Ditjen Dikti, ada satu hal yang berkesan dihati saya tentang Cerita 4 Lilin dan Seorang Anak Kecil; kurang lebih begini..

Pada satu ruangan yang gelap ada empat buah lilin menyala terang sehingga menjadikan ruangan tersebut terang benderang dan si anak bermain dengan riangnya dan penuh kepolosan dan tanpa ia sadari nyala api menjadikan lilin semakin meleleh dan ada angin bertiup menghembus ke dalam ruangannya yang menjadikan nyala itu bergoyang dan akhirnya apa yang terjadi, dalam kesunyian itu ada percakapan keempat lilin itu, dan percakapan itu kurang lebih adalah :

1. Lilin Pertama berbicara aku adalah perubahan
Tapi manusia tidak mampu berubah dalam hidupnya, lebih baik aku mati saja, maka kemudian diapun padam;

2. Lilin Kedua menyusul padam; yang sebelumnya sempat berbisik Aku adalah Iman.
Dalam bisiknya terdengar; aku menyesal bahwa manusia tidak lagi mengenalku, dan seakan aku tidak berguna lagi hidup, setelah itu diapun padam.

3. Lilin Ketiga dengan sisa-sisa kehidupan yang dimiliki berkata, Aku adalah Cinta.
Tak mampu lagi aku melanjutkan hidup dan tak mampu lagi menerangi, karena tidak ada lagi cinta di hati manusia, buktinya mereka saling membenci, saling hujat, saling bunuh tidak ada damai, bahkan mereka membenci orang yang seharusnya mereka cinta dan juga keluarganya sendiri, maka tidak ada gunanya aku bertahan, lalu lilin itupun padam.

Anak kecil tadi baru menyadari bahwa ruangan tempat bermainnya gelap, karena tinggal satu lilin yang menyala, lalu dengan ketakutan dan terisak menangis dia berteriak, apa yang terjadi, kalian harus tetap hidup saya takut kegelapan tolong…. tolong.. ;

4. Lalu dengan terharu, lilin ke empat berkata, jangan menangis dan takut selama aku masih ada, maka raihlah aku dan nyalakan ketiga lilin tadi, karena akulah HARAPAN.
Tanpa berpikir panjang anak kecil tadi meraih dan menyalakan ketiga lilin tadi, dan akhirnya terang kembali ruangan yang sempat gelap dan si anak kecil itu kembali tersenyum dan meneruskan mainnya.

Dari tulisan diatas, dapat saya ambil satu kesimpulan, bahwa dalam hidup kita sebagai manusia tidak boleh pesimis, tapi harus selalu optimis dan penuh harapan karena selagi masih memiliki harapan, cita-cita dan keinginan; berarti kita masih ada peluang untuk meraih dan merubah kehidupan kita dengan berdasarkan pada Keimanan dan rasa Cinta..

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan nikmati hidup dengan penuh harapan. terima kasih

Tulisan ini pernah aku tulis di www.pintunet.com/yudishtira pada tanggal 25.05.2007 10:26

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.