<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Kuliah</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/category/kuliah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Bagaimana Menentukan Judul Skripsi.. ??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/ragam-skripsi/bagaimana-menentukan-judul-skripsi/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/ragam-skripsi/bagaimana-menentukan-judul-skripsi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 17:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[eka sulistiyana]]></category>
		<category><![CDATA[judul]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[mata kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>
		<category><![CDATA[Thesis]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=1065</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/12/skripsi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1069" title="skripsi" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/12/skripsi.jpg" alt="" width="223" height="226" /></a>Sudah ada dua tulisan saya yang membahas masalah skripsi, namun memang seakan tidak ada habisnya kita membicarakan tentang satu kegiatan ini, satu sisi merupakan sebuah kewajiban bagi mahasiswa yang kampusnya melaksanakan program ini, disisi lain terkadang memang menjadi sebuah kendala bagi mahasiswa itu sendiri, ketika menulis dan menyusun tugas akhir, skripsi atau thesis tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati dan kerja keras. Sebelum menyelesaikan membaca tulisan ini ada baiknya juga membaca pada tulisan <a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/menulis-skripsi-ternyata-tidak-sulit-dan-mengasyikkan/">Menulis Skripsi Ternyata Tidak Sulit dan Mengasyikkan</a> dan pada tulisan <a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/skripsi-mengapa-masih-menghantui-sebagian-mahasiswa/">SKRIPSI, Mengapa Masih Menghantui Sebagian Mahasiswa</a>. Setidakanya kita akan memiliki gambaran kendala-kendala apa saja yang dihadapi ketika menulis skripsi. Terkadang kita terjebak pada pemilihan judul skripsi, begitu pentingnya arti judul pada sebuah tulisan menjadikan kita terhipnotis untuk bisa membuat judul yang fantastis, bombastis biar terkesan wah dan menarik untuk di baca, namun perlu kita pahami bahwa ketika sebuah judul yang begitu menarik namun jika tidak kita imbangi dengan isi yang menarik pula, maka ibarat kita memasak sayur akan terasa hambar. Untuk menghindari hal itu maka tentu ada beberapa tips bagaimana kita menentukan judul skripsi atau penelitian tersebut.<span id="more-1065"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Langkah pertama ketika hendak menyusun skripsi atau tesis adalah <strong>menentukan masalah yang kemudian diturunkan menjadi judul</strong>.  Dan ketika memutuskan untuk menentukan masalah, maka hendaklah mempertimbangkan beberapa point berikut ini :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, adakah relevansinya dengan cita-cita besar hidup kita. Misalnya kita di jurusan Manajemen, dan kita ingin sekali menjadi ahli dalam bidang Manajemen, maka sebaiknya judul skripsi atau tesis kita mengarah ke sana, masalah yang kita bahas dalam skripsi  nantinya akan mengeksplorasi berbagai macam sumber pustaka, dokumen, dan segala informasi mengenai masalah itu. Efeknya, setelah lulus kita akan digelari sebagai ahli di bidang itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, hendaknya bidang yang akan kita teliti ialah bidang yang paling dikuasai dan disukai atau bahkan yang dibenci. Pengetahuan akan lingkup bidang kajian harus betul-betul dikuasai oleh mahasiswa supaya hambatan yang mungkin terjadi akan dapat terantisipasi dan teratasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga,</strong> sebaiknya tidak mudah ganti tema atau judul. Seringkali, ketika seseorang merasa mentok di satu jalan, dia meninggalkan jalan itu sebelum melihatnya sekali lagi. Ia lalu putus asa dan memilih judul lain. Dalam pengalaman mahasiswa kami, mahasiswa yang ganti tema dan atau judul, dia akan menjadi lebih tinggi tingkat stressnya, boros beaya dan acap kali down secara mental. Akibatnya masa studi menjadi lebih panjang, sementara ibunda di kampong sudah menungggu-nunggu ingin anaknya diwisuda. Sedangkan ayahnya semakin bosan dan berat membayar SPP dan mentransfer sejumlah uang bulanan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat</strong>, pastikan bahwa judul yang kita pergunakan belum pernah atau tidak sedang dikerjakan oleh orang lain. Caranya, cari di catalog skripsi di fakultas atau perpustakaan. Di perpustakaan yang sudah dikomputerisasikan, kita tidak akan mengalami masalah. atau dengan membaca buku besar yang berisi catatan mengenai judul skripsi apa saja yang pernah ditulis oleh alumni. Namun, jika judul atau tema yang kita sukai telah dikerjakan oleh orang lain, maka tidak perlu cemas. kita masih bisa berkelit dengan penggunaan teori yang berbeda, studi kasus yang berbeda atau metode yang berbeda pula. Akan tetapi, skripsi atau tesis yang pernah ada tadi, perlu kita baca dan rangkum, lalu tulis dalam subjudul Tinjauan Pustaka. Dalam subjudul itu, kita diminta berbicara mengenai tema-tema atau judul-judul yang sejenis dengan yang sedang kita kerjakan. Hal ini perlu kejujuran akademis. Di sinilah letak valid atau tidaknya hasil karya tulis kita. Anda perlu mencari sisi lain yang belum pernah ditulis oleh orang lain sebelumnya. Jika kita hanya meniru, maka akan kena vonis sebagai plagiator. Oleh karena itu, pastikan perbedaan karya tulis kita dengan yang pernah ada tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dosen pembimbing biasanya menuntut judul yang yang kita ajukan memperhatikan hal-hal berikut:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li style="text-align: justify;">Ringkas, padat, tetapi jelas dan menunjukkan dengan benar masalah yang diteliti. Judul penelitian bisa merujuk pada hubungan variabel –variabel yang akan diteliti.</li>
<li style="text-align: justify;">Hindari judul penelitian yang membuka peluang penafsiran gkita atau beraneka ragam.</li>
<li style="text-align: justify;">Gunakan kata, kalimat dan tata bahasa yang baik dan benar serta mudah dipahami.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
Kita dapat membuat judul lebih dari satu untuk disodorkan kepada Dosen Pembimbing. Usahakan tiga atau empat alternative dan konsultasikan dengan dosen pembimbing, agar Dosen Pembimbing memilihkan mana yang terbaik untuk kita. Sekali lagi, kriteria pemilihan judul terbaik bagi kita adalah:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Yang paling kita senangi. Sekali lagi, tidak ada yang lebih baik kita kerjakan, kecuali kita garap dengan suka cita. Banyak aktivis mahasiswa ingin menulis secara berbeda dengan karya ilmiah yang pernah ada sebelumnya. Ia mampu mengeksplorasi masalah dengan beragam teori yang telah dibacanya dari ratusan buku. Jika kita termasuk dari mereka, maka ini sangat ideal.</li>
<li>Yang paling kita kuasai bahan dan referensinya. Selama ini, bahan-bahan pustaka itu memudahkan pekerjaan kita. Biasanya, setelah memasuki semester lima ke atas, mahasiswa sudah mengkonsentrasikan bacaan dan diskusi ke arah tema yang akan digarap dalam skripsinya nanti.</li>
<li>Yang paling cepat kita bisa kerjakan. Perlu diingat bahwa waktu untuk menulis skripsi atau tesis  tidak cukup panjang bagi kita. Jika kita memiliki suatu tema penelitian yang sangat menarik, maka lihat dulu komponen waktu dan beayanya. Apakah waktu dan beaya kita memungkinkan? Jika tidak, maka pilih yang paling bijaksana untuk diri kita sendiri.</li>
<li>Jika memungkinkan, yang paling ringan konsekuensi beayanya. Kita tahu bahwa hamper semua lini kehidupan sekarang diukur dengan nilai rupiah. Termasuk bahan referensi dan alat percobaan kita tidak bias lepas dari nilai rupiah. Nah, bijaksana juga bila kita melihat kita.</li>
<li>Yang paling mudah kita mengadakan penelitian dan mencari data. Mencari data dan mengadakan penelitian bukan hal gampang. Maka, langkah penting adalah mencari kemudahan sejak awal.</li>
</ol>
<p>Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan selamat mencoba</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/ragam-skripsi/bagaimana-menentukan-judul-skripsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uang, Mengapa Begitu Menggiurkan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/uang-mengapa-begitu-menggiurkan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/uang-mengapa-begitu-menggiurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 17:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Giral]]></category>
		<category><![CDATA[Kartal]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/uang.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-998" title="uang" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/08/uang-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Siapa yang tidak mengenal uang, rasanya suatu hil yang mustahal manusia hidup tidak mengenal uang, bahkan karena uang juga manusia bisa bertindak &#8220;BODOH&#8221; yang terkadang sudah diluar nalar. Namun hal itu bagi orang-orang yang begitu mendewakan uang sebagai segalanya.  Memang dari sisi manfaat dan keperuntukannya uang mendominasi sektor ekonomi dimana uang akan memiliki peran dan andil yang besar terhadap kestabilan perekonomian, karena mulai anak kecil hingga orang tua akan membutuhkan uang, dari desa hingga kota perlu uang. UANG, begitu terkenalnya sampai dalam keseharian kita tidak akan terlepas dari sosok ini. Sedangkan pemahaman kita akan uang tentu masih sebatas fisiknya saja dan sebatas nominal uang itu. Lebih jauh pada tulisan ini sengaja ingin saya sampaikan secara sederhana apakah itu uang.<span id="more-996"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengertian Uang dan Syarat Uang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut beberapa pakar ekonomi uang diartikan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong>Robertson</strong> dalam buku Money (1922): &#8220;<em>Money is something which is widely accepted in payment for goods</em>&#8220;. Uang adalah segala sesuatu yang umum diterima dalam pembayaran barang-barang.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>R. S. Sayers</strong> dalam buku <em>Modern Banking</em> (1938): &#8220;<em>Money is something that is widely accepted for the settlement of debt</em>&#8220;. Uang adalah segala sesuatu yang umum diterima sebagai pembayar ulang,</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>A.C. Pigou</strong> dalam buku <em>The Veil of Money</em>: &#8220;<em>Money are those things that are widely used as a media for exchange</em>”. Uang adalah segala sesuatu yang umum digunakan sebagai alat tukar.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Albert Gailort </strong><strong>Hart</strong> dalam buku <em>Money</em>, <em>Debt, and Economic Activity: &#8220;Money is properly which the owner can pay off the debt with certainly and without delay</em>&#8220;. Uang adalah kekayaan sehingga pemilik dapat membayar utangnya dalam jumlah dan waktu tertentu.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Rollin G. Thomas</strong> dalam buku <em>Our Modern Banking and Monetary System: &#8220;Money is something that is readily and generally accepted by the public in payment for the sale of goods, services, and other valuable assets, and for the payment of debt&#8221;</em>. Uang adalah segala sesuatu yang siap sedia dan diterima umum dalam pembayaran pembelian barang-barang, jasa-jasa, dan untuk pembayaran utang. (Nopirin, 1992)</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Secara universal dari beberapa pengertian diatas, maka uang adalah &#8220;<em><strong>sesuatu yang dapat diterima oleh masyarakat umum seba­gai alat pembayaran dan alat tukar-menukar yang sah&#8221;</strong></em>  dan tentunya tidak bertentangan dengan hukum pada suatu daerah tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian maka ada batasan tertentu sehingga benda dapat disebut sebagai uang, dan syarat-syarat uang adalah :</p>
<ol>
<li>Diterima umum dan sah menurut undang-undang.</li>
<li>Nilainya tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu.</li>
<li>Mudah dibawa ke mana-mana.</li>
<li>Mudah disimpan tanpa mengurangi nilainya.</li>
<li>Tahan lama.</li>
<li>Jumlahnya terbatas (tidak berlebih).</li>
<li>Bendanya mempunyai mutu yang sama.</li>
</ol>
<p>Tentunya jika benda tidak memenuhi minimal 7 syarat tersebut diatas tidak dapat disebut uang.</p>
<p><strong>Fungsi dan Nilai Uang<br />
</strong></p>
<p>Dari pengertian dan syarat uang tersebut diatas, tentunya dapat kita pahami apakah fungsi uang tersebut, dan uang berfungsi sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Uang Sebagai Alat Tukar-Menukar,</strong> hal ini karena pada saat kita melakukan transaksi jual beli, kita akan menyerahkan sejumlah uang, dan kita akan menerima barang kebutuhan. Artinya, kita sudah menggunakan uang sebagai alat tukar-menukar karena semua barang dapat diukur nilainya dalam mata uang, yang berlaku. Jadi, uang berfungsi adalah sebagai alat tukar-menukar.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Uang sebagai Alat Satuan Hitung, </strong>Dengan melihat banyaknya jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membeli sesuatu, maka kita dapat membandingkan nilainya. Jadi, uang berfungsi sebagai alat satuan hitung.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Uang sebagai Alat Penyimpan Kekayaan, </strong>Pasti setiap orang mempunyai tabungan atau deposito di bank. Artinya, setiap orang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang. Sehingga uang telah berfungsi sebagai alat penyimpan kekayaan {state of value).</li>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Uang sebagai Alat Penyelesaian Utang Piutang, </strong>Dengan adanya uang, transaksi pinjam-meminjam antara pihak yang berlebihan (surplus unit) dan pihak yang kekurangan (defisit unit) dapat dilakukan dengan mudah. Sehingga, uang telah berfungsi sebagai alat penyelesaian utang piutang {standard of deferred payments).</li>
</ol>
<p>Nilai uang secara garis besar ada dua yaitu :</p>
<ol>
<li><strong>Nilai nominal</strong> adalah nilai yang tertuls pada setiap mata uang. Misal : di salah satu sisi uang logam tertulis Rp 1.000,00. Artinya, nilai nominal uang tersebut ialah Rp 1.000,00.</li>
<li><strong>Nilai intrinsik</strong> adalah nilai uang yang diukur dari bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Misalnya, nilai intrinsik uang kertas Rp20.000,00 ialah nilai kertas yang digunakan dalam pembuatan uang tersebut.</li>
</ol>
<p>Nilai nominal uang kertas biasanya lebih besar daripada nilai intrinsiknya;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya uang tidak hanya berjenis kertas dan logam saja, akan tetapi banyak jenisnya tergantung dari  bahan pembuat, nilai, wilayah berlaku, dan lembaga atau badan yang mengeluarkan, yang dapat disampaikan sebagai berikut :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Berdasarkan Bahan Pembuat Uang, </strong>Uang dikelompokkan menjadi uang logam dan uang kertas. Uang kertas disebut juga dengan folding money atau uang yang dapat dilipat oleh orang yang memegangnya.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Berdasarkan Nilai Uang, </strong>Uang mempunyai nilai intrinsik sama dengan nilai nominal, uang itu disebut uang bernilai penuh (fullbodied money). Jika nilai intrinsik lebih kecil daripada nilai nominal, uang itu disebut uang bernilai tidak penuh (token money) atau uang tanda. Uang ini bertindak mewakili sejumlah logam tertentu dengan nilai barangnya sama dengan nilai nominal uang.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Berdasarkan Wilayah Berlaku</strong>     (a).   Uang domestik, yaitu uang yang hanya berlaku di dalam wilayah suatu negara tertentu saja. Contoh: rupiah, ringgit, peso, dan baht; (b).  Uang regional, yaitu uang yang hanya berlaku di kawasan tertentu, seperti euro berlaku bagi negara-negara kawasan Eropa. (c).  Uang internasional, yaitu uang yang berlaku tidak hanya di dalam wilayah suatu negara tertentu saja, tetapi juga berlaku di berbagai wilayah negara di dunia (internasional). Misalnya, dolar, yen, dan poundsterling.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Berdasarkan Lembaga atau Badan yang Mengeluarkan, </strong>Lembaga yang berwenang menerbitkan uang ialah bank sentral suatu negara. Uang euro dan dolar merupakan contoh dari uang regional dan uang internasional. Uang yang diterbitkan bank sentral ialah uang logam dan uang kertas dengan berbagai nilai nominal yang disebut uang kartal. Bank umum (komersial) juga membuat dan mengedarkan uang dalam bentuk cek, bilyet giro, dan telegraphic transfer. Uang yang dikeluarkan oleh bank-bank umum inilah yang disebut uang giral.</li>
</ol>
<p align="center">Perbedaan Uang Kartal dan Uang Giral</p>
<div align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="304">
<p align="center"><strong>Uang Kartal</strong><strong></strong></p>
</td>
<td valign="top" width="302">
<p align="center"><strong>Uang Giral</strong><strong></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="304">1.      Berlaku di seluruh lapisan masyarakat.2.      Masyarakat umum harus menerimanya sebagai alat pembayaran, alat tukar, dan alat pelunasan utang.3.      Nilai nominalnya sudah tertera pada mata uang dengan nilai tertentu.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p>4.      Dijamin oleh pemerintah.</p>
<p>5.      Adanya kepastian pembayaran sesuai nilai nomi­nalnya.1.      Berlaku di kalangan masyarakat tertentu.2.      Masyarakat umum boleh menolaknya sebagai alat pembayaran, alat tukar, dan alat pelunasan utang.3.      Besar nilai nominalnya bebas dan harus ditulis dahulu sesuai kebutuhan.</p>
<p>4.      Dijamin oleh bank yang mengeluarkan.</p>
<p>5.      Belum adanya kepastian pembayaran karena tergantung dari ketersediaan dana dan kepastian hukum</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hal diatas itulah yang menjadikan uang begitu menggiurkan dan menjadikan orang untuk memegang dan memilikinya, dan tentunya agar kita tidak terjebak oleh uang tersebut, maka kita harus sebijaksana mungkin ketika memegang dan menyimpan uang, demikian semoga bermanfaat.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/uang-mengapa-begitu-menggiurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Creative Accounting Itu ..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/apakah-creative-accounting-itu/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/apakah-creative-accounting-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 23:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[akuntansi]]></category>
		<category><![CDATA[creative accounting]]></category>
		<category><![CDATA[CV]]></category>
		<category><![CDATA[Firma]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perseroan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=975</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Creative-Accounting.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-976" title="Creative Accounting" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Creative-Accounting-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Perseroah Terbatas, CV, Firma dan perusahaan dalam bentuk yang lain adalah sebuah organisasi bisnis yang merupakan sebuah pertemuan dari berbagai macam kontrak kepentingan (nexus of contract), sehingga di dalam proses akuntansi, ada dimensi politis yang terlibat didalamnya. Dimensi politis tersebut adalah sebuah kenyataan bahwa ada pihak-pihak yang berkepentingan dan cukup mempunyai kekuatan untuk menggunakan pengaruhnya ke dalam organisasi tersebut. Sehingga dalam pemahaman mengenai ‘creative accounting’ ini bukan berarti akuntan ‘an sich’ yang memanfaatkan pemahaman akuntansi tersebut, tetapi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dan kekuatan untuk menggunakan ‘creative accounting’ tersebut, seperti manajer, akuntan, pemerintah, asosiasi industri dan sebagainya.<span id="more-975"></span><br />
Teori Akuntansi Positif berkembang seiring kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di dalam masyarakat seperti yang dikatakan oleh Watts dan Zimmerman [1986] dibandingkan dengan akuntansi normatif yang lebih menjelaskan praktek-praktek akuntansi yang seharusnya (should be) berlaku. Dalam pemilihan kebijakan akuntansi misalnya akan membawa dampak ekonomi terhadap pemilihan kebijakan akuntansi tersebut kepada penggunanya yang sering disebut oleh Zeff [1978] sebagai economic consequences. Dalam mengisi ruang teori akuntansi positif maka ‘creative accounting’ sebagai salah satu tema menarik yang juga perlu diperhatikan oleh akuntan (dan juga penyusun standar akuntansi).</p>
<p style="text-align: justify;">‘Creative accounting’ menurut Amat, Blake dan Dowd [1999] adalah sebuah proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk didalamnya standar, teknik dsb.) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Naser [1993] dalam Amat et.al. [1999] medefinisikan ‘creative accounting’ sebagai berikut:<br />
<strong>The process of manipulating accounting figures by taking advantage of loopholes in accounting rules and the choice of measurement and disclosure practices in them to transform financial statements from what they should be, to what prepares would prefer to see reported, …..and The process by which transactions are structured so as to produce the required accounting results rather than reporing transaction in neutral and consistent way.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Stolowy dan Breton [2000] menyebut ‘creative accounting’ merupakan bagian dari ‘accounting manipulation’ yang terdiri dari ‘earning management’ , ‘income smoothing’ dan ‘creative accounting’ itu sendiri. Dalam pemahaman mengenai ‘creative accounting’ ini bukan berarti akuntan ‘an sich’ yang memanfaatkan pemahaman akuntansi tersebut, tetapi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dan kekuatan untuk menggunakan ‘creative accounting’ tersebut, seperti manajer, akuntan, pemerintah, asosiasi industri dan sebagainya.  Manajer dalam bereaksi terhadap pelaporan keuangan menurut Watt dan Zimmerman [1986] digolongkan menjadi tiga buah hipotesis, yaitu : (1) bonus-plan hyphotesis,  (2) debt-covenant hyphotesis dan (3) political cost hyphotesis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bonus plan hyphotesis</strong><br />
Healy [1985] dalam Scott [1997] menyatakan bahwa manajer seringkali berperilaku seiring dengan bonus yang akan diberikan. Jika bonus yang diberikan tergantung pada laba yang akan dihasilkan, maka manajer akan melakukan ‘creative accounting’ dengan menaikkan laba atau mengurangi laba yang akan dilaporkan. Pemilik biasanya menetapkan batas bawah laba yang paling minim agar mendapatkan bonus. Dari pola bonus ini manajer akan menaikkan labanya hingga ke atas batas minimal tadi. Tetapi jika pemilik perusahaan membuat batas atas untuk mendapatkan bonus, maka manajer akan berusaha mengurangkan laba sampai batas atas tadi dan mentransfer laba saat ini ke periode yang akan datang. Hal ini dia lakukan karena jika laba melewati batas atas tersebut manajer sudah tidak mendapatkan insentif tambahan atas upayanya memperoleh laba di atas batas yang ditetapkan oleh pemilik perusahaan. Formula bonus yang digunakan Healy didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan terdiri atas manajer yang menghindari resiko (risk averse) sehingga manajer akan memilih discretionary accrual untuk</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">menurunkan earning ketika earning sebelum keputusan accrual lebih kecil dari bogey (batas bawah) atau melebihi cap (batas atas)</li>
<li style="text-align: justify;">menaikkan earning ketika earning sebelum keputusan accrual melebihi bogey tetapi tidak melebihi cap. Implikasi yang dikemukakan oleh Healy adalah bahwa manajer akan berperilaku oportunistik menghadapi intertemporal choice.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Debt-covenant hyphotesis</strong><br />
Penelitian dalam bidang teori akuntansi positif juga menjelaskan praktek akuntansi mengenai bagaimana manajer menyikapi perjanjian hutang. Manajer dalam menyikapi adanya pelanggaran atas perjanjian hutang yang telah jatuh tempo, akan berupaya menghindarinya dengan memilih kebijakan-kebijakan akuntansi yang menguntungkan dirinya. Fields, Lys dan Vincent [2001] mengemukakan ada dua kejadian dalam pemilihan kebijakan akuntansi, yaitu pada saat diadakannya perjanjian hutang dan pada saat jatuh temponya hutang. Kontrak hutang jangka panjang (debt covenant) merupakan perjanjian untuk melindungi pemberi pinjaman dari tindakan-tindakan manajer terhadap kepentingan kreditur, seperti pembagian deviden yang berlebihan, atau membiarkan ekuitas berada di bawah tingkat yang telah ditentukan. Semakin cenderung suatu perusahaan untuk melanggar perjanjian hutang maka manajer akan cenderung memilih prosedur akuntansi yang dapat mentransfer laba periode mendatang ke periode berjalan karena hal tersebut dapat mengurangi resiko ‘default’. Sweeney [1994] dalam Scott [1997] menyatakan perilaku ‘memindahkan’ laba tersebut dilakukan oleh perusahaan bermasalah yang terancam kebangkrutan dan ini merupakan strategi untuk bertahan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Political-cost hyphotesis.</strong><br />
Dalam pandangan teori agensi (agency theory), perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil. Perusahaan besar melakukannya sebagai upaya untuk mengurangi biaya keagenan tersebut. Perusahaan besar menghadapi biaya politis yang lebih besar karena merupakan entitas yang banyak disorot oleh publik secara umum. Para karyawan berkepentingan melihat kenaikan laba sebagai acuan untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui kenaikan gaji. Pemerintah melihat kenaikan laba perusahaan sebagai obyek pajak yang akan ditagihkan. Sehingga pilihan yang dihadapi oleh organisasi adalah dengan cara bagaimana lewat proses akuntansi agar laba dapat ditampilkan lebih rendah. Hal ini yang seringkali disebut dengan political cost hyphoyesis [Watts dan Zimmerman: 1986].</p>
<p><strong>Berbagai macam pola yang dilakukan dalam rangka ‘creative accounting’ menurut Scott [1997] sebagai berikut:</strong></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Taking Bath, atau disebut juga ‘big bath’. Pola ini dapat terjadi selama ada tekanan organisasional pada saat pergantian manajemen baru yaitu dengan mengakui adanya kegagalan atau defisit dikarenakan manajemen lama dan manajemen baru ingin menghindari kegagalan tersebut. Teknik ini juga dapat mengakui adanya biaya-biaya pada periode mendatang dan kerugian periode berjalan ketika keadaan buruk yang tidak menguntungkan yang tidak bisa dihindari pada periode berjalan. Konsekuensinya, manajemen melakukan ‘pembersihan diri’ dengan membebankan perkiraan-perkiraan biaya mendatang dan melakukan ‘clear the decks’. Akibatnya laba periode berikutnya akan lebih tinggi dari seharusnya.</li>
<li style="text-align: justify;">Income minimization. Cara ini mirip dengan ‘taking bath’ tetapi kurang ekstrem. Pola ini dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapatkan perhatian oleh pihak-pihak yang berkepentingan (aspek political-cost). Kebijakan yang diambil dapat berupa write-off atas barang modal dan aktiva tak berwujud, pembebanan biaya iklan, biaya riset dan pengembangan, metode successfull-efforts untuk perusahaan minyak bumi dan sebagainya. Penghapusan tersebut dilakukan bila dengan teknik yang lain masih menunjukkan hasil operasi yang kelihatan masih menarik minat pihak-pihak yang berkepentingan. Tujuan dari penghapusan ini adalah untuk mencapai suatu tingkat return on assets yang dikehendaki.</li>
<li style="text-align: justify;">Income maximization. Maksimalisasi laba dimaksudkan untuk memperoleh bonus yang lebih besar, dimana laba yang dilaporkan tetap dibawah batas atas yang ditetapkan.</li>
<li style="text-align: justify;"> Income smoothing. Perataan laba merupakan cara yang paling populer dan sering dilakukan. Perusahaan-perusahaan melakukannya untuk mengurangi volatilitas laba bersih. Perusahaan mungkin juga meratakan laba bersihnya untuk pelaporan eksternal dengan maksud sebagai penyampaian informasi internal perusahaan kepada pasar dalam meramalkan pertumbuhan laba jangka panjang perusahaan.</li>
<li style="text-align: justify;"> Timing revenue and expense recognition. Teknik ini dapat dilakukan dengan membuat kebijakan tertentu berkenaan dengan saat atau timing suatu transaksi seperti adanya pengakuan yang prematus atas penjualan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">‘Creative accounting’ dapat dikatakan sebagai sebuah praktek akuntansi yang buruk, karena cenderung mereduksi reliabilitas informasi keuangan. Karena manajer memiliki asimetri informasi, yang bagi pihak di luar perusahaan sangat sulit diketahui, maka memaksimalkan keuntungan dengan ‘creative accounting’ akan selalu ada. Masalah sebenarnya adalah tidak diberikannya pengungkapan yang transparan secara menyeluruh tentang proses pertimbangan-pertimbangan dalam penentuan kebijakan akuntansi (accounting policy). Akibatnya, laporan keuangan dianggap masih memiliki keterbatasan mendasar sehingga belum memadai untuk digunbakan dalam proses pengambilan keputusan.<br />
Merujuk agency theory, laporan keuangan dipersiapkan oleh manajemen sebagai pertanggungjawaban mereka kepada principal. Karena manajemen terlibat secara langsung dalam kegiatan usaha perusahaan maka manajemen memilikiasimetri informasi dengan melaporkan segala sesuatu yang memaksimumkan utilitasnya. ‘Creative accounting’ sangat mungkin dilakukan oleh manajemen, karena manajemen dengan asimetri informasi yang dimilikinya akan leluasa untuk memilih alternatif metode akuntansi. Manajemen akan memilih metode akuntansi tertentu jika terdapat insentif dan motivasi untuk melakukannya. Cara yang paling sering digunakan adalah dengan merekayasa laba (earning management), karena laba seringkali menjadi fokus perhatian para pihak eksternal yang berkepentingan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>‘Creative accounting’ dan etika</strong><br />
‘Creative accounting’ mempunyai banyak konsekuensi. Dalam perspektif ekonomi, ‘creative accounting’ dipengaruhi oleh kerangka ekonomi yang bertujuan untuk self-interset. Hal ini mungkin sah-sah saja dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum. Namun pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah ‘creative accounting’ memang sesuatu yang benar untuk dilakukan? Apakah maksud dan tujuan ‘creative accounting’ sehingga moral judgment-nya tergantung kepada tujuan ‘creative accounting’ itu sendiri. Persepsi ini harus diluruskan agar tidak menjadikan bahwa ‘creative accounting’ menjadi hal yang pro dan kontra.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pandangan orang awam ‘creative accounting’ dianggap tidak etis, bahkan merupakan bentuk dari manipulasi informasi sehingga menyesatkan perhatiannya. Tetapi dalam pandangan teori akuntansi positif, sepanjang ‘creative accounting’ tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum, tidak ada masalah yang harus dipersoalkan. Asalkan tidak ada asimetri informasi antara pelaku ‘creative accounting’ dan pengguna informasi keuangan. Perilaku yang tidak semestinya (disfunctional behaviour) para manajer terjadi akibat adanya asimetri informasi dalam penyajian laporan keuangan tidak terlepas dari pertimbangan konsekuensi ekonomi. Perhatian kita mungkin diarahkan bagaimana mendorong keterbukaan informasi secara lebih luas sehingga inside information bukanlah sesuatu yang ‘tabu’ untuk diumumkan kepada khalayak. Karena dalam kerangka keterbukaan yang menyeluruh sebenarnya ‘creative accounting’ atau apapun namanya, tidak akan berpengaruh kepada semua pihak yang berkepentingan terhadap organisasi. Karena semua pihak akan mempunyai informasi yang sama dan tidak ada asimetri informasi lagi. Sekali lagi, pentingnya mendorong keterbukaan dalam rangka good governance akan membawa dampak kepada ketersediaannya informasi sehingga akan mengeliminasi dan mengurangi dampak ‘creative accounting’. Untuk itu keputusan pelaksanaan &#8220;cretive accunting&#8221; dalam mengelola laporan keuangan perusahaan tentu harus benar-benar dipikirkan dengan mendalam, karena tentu akan berpengaruh terhadap kredibititas perusahaan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, bagaimana kita bisa mengetahui dan mencegah terjadinya creative accounting tersebut..??, dibawah ini ada beberapa metode dan cara untuk kita bisa mengetahui adanya creative accounting dan cara mencegahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Fraudulent financial reporting</em> di suatu perusahaan merupakan hal yang akan berpengaruh besar terhadap semua pihak yang mendasarkan keputusannya atas informasi dalam laporan keuangan  (<em>financial statement</em>) tersebut. Oleh karena  itu akuntan publik harus bisa menccegah dan mendeteksi lebih dini agar tidak terjadi <em>fraud</em>. Untuk mengetahui adanya <em>fraud</em>, biasanya ditunjukkan oleh timbulnya gejala-gejala (<em>symptoms</em>) berupa <em>red flag (fraud indicators</em>), misalnya perilaku tidak etis manajemen. <em>Red  flag</em> ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan (<em>fraud</em>) yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil penelitian Wilopo (2006) membuktikan serta mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi dapat diturunkan dengan meningkatkan kefektifan pengendalian internal, ketaatan aturan akuntansi, moralitas manajemen, serta menghilangkan asimetri informasi. Hasil penelitian Wilopo tersebut juga  menunjukkan bahwa  dalam upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi memerlukan usaha yang menyeluruh, tidak secara partial. Menurut Wilopo, upaya menghilangkan perilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan kecurangan akuntansi, antara lain :</p>
<ol>
<li>Mengefektifkan pengendalian internal, termasuk penegakan hukum.</li>
<li>Perbaikan sistem pengawasan dan pengendalian.</li>
<li>Pelaksanaan <em>good governance</em>.</li>
<li>Memperbaiki moral dari pengelola perusahaan, yang diwujudkan dengan mengembangkan sikap komitmen terhadap perusahaan, negara dan masyarakat.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><em>The National Commission On Fraudulent Financial Reporting (The Treadway Commission</em>) merekomendasikan 4 (empat) tindakan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya <em>fraudulent financial reporting, </em>yaitu <em> :</em></p>
<ol>
<li>Membentuk lingkungan organisasi yang memberikan kontribusi terhadap integritas proses pelaporan keuangan(<em>financial reporting)</em>.</li>
<li>Mengidentifikasi dan memahami faktor- faktor yang mengarah ke <em>fraudulent financial reporting.</em></li>
<li>Menilai resiko <em>fraudulent financial reporting </em>di dalam perusahaan<em>.</em></li>
<li>Mendisain dan mengimplementasikan <em>internal control </em>yang memadai<em> </em>untuk <em>financial reporting</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Mulfrod &#38; Comiskey (2002) menulis buku terkait dengan <em>creative accounting</em> yang berjudul “<em>The Financial Numbers Game : Detecting Creative Accounting Practices</em><strong>”. </strong>Buku tersebut meskipun lebih difokuskan bagi para investor sebagai pembelajaran untuk mengetahui secara cepat adanya kecurangan akuntansi<strong><em> (</em></strong><em>fraudulent accounting</em><strong>)<em>, </em></strong>namun perlu diketahui juga oleh auditor. <strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa atribut yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya risiko terdapat  <em>fraudulent financial reporting </em>di perusahaan, antara lain :</p>
<ol>
<li>Terdapat kelemahan dalam pengendalian intern (<em>internal control</em>).</li>
<li>Perusahaan tidak memiliki komite audit.</li>
<li>Terdapat hubungan kekeluargaan (<em>family relationship</em>) antara manajemen  (<em>Director</em>) dengan karyawan perusahaan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Klasifikasi dari  <em>Creative Accounting Practices </em>menurut Mulfrod &#38; Comiskey, terdiri dari :</p>
<ol>
<li>Pengakuan pendapatan fiktif (<em>recognizing Premature or Ficticious Revenue</em>).</li>
<li>Kapitalisasi yang agresif dan Kebijakan amortisasi yang terlalu lebar (<em>Aggressive Capitalization &#38; Extended Amortization Policies</em>).</li>
<li>Pelaporan keliru atas Aktiva &#38; Utang (<em>Misreported Assets and Liabilities</em>).</li>
<li>Perekayasaan Laporan Laba Rugi  (<em>Creative with the Income Statement</em>).</li>
<li>Timbul masalah atas pelaporan Arus Kas (<em>Problems with Cash-flow Reporting</em>).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Menurut laporan dari <em>The National Commission on Fraudulent Financial Reporting</em>, pencegahan (<em>prevention</em>)  dan pendeteksian (<em>detection</em>) awal atas <em>fraudulent financial reporting </em>harus dimulai saat penyiapan laporan keuangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rezaee (2002), dalam bukunya yang berjudul “<em>Financial Statement Fraud: Prevention and Detection”, </em> membahas cukup mendalam tentang teknik untuk mencegah dan mendeteksi adanya <em>fraud</em> dalam laporan keuangan. Dalam buku tersebut dijelaskan kasus kolapsnya enron di Amerika Serikat, yang menghebohkan kalangan dunia usaha secara jelas dan lengkap, termasuk adanya praktek kolusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu cara untuk mencegah timbulnya fraud yang diakibatkan kolusi antara manajemen perusahaan dengan akuntan publik adalah pengaturan rotasi auditor (akuntan publik). Sesuai Keputusan Menkeu (KMK) No. 359/KMK. 06/2003 tentang perubahan KMK No. 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik tertanggal 21 Agustus 2003, telah diatur tentang pembatasan dan rotasi terhadap akuntan publik. Pasal 6 ayat 4  Kepmenkeu tersebut dinyatakan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) paling lama untuk lima tahun buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama tiga tahun berturut-turut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai organisasi profesi perlu menyelenggarakan suatu lokakarya (workshop) tentang <em>fraudulent financial reporting</em> atau<em> fraud in financial statement </em>untuk para akuntan publik agar terdapat pemahaman yang sama, sehingga dapat dilakukan pencegahan serta pendeteksian secara dini kemungkinan terjadinya <em>fraud</em> di perusahaan. Hal ini dimaksudkan agar akuntan publik dapat berhasil mendeteksi adanya fraud, sehingga  dapat dihindarkan akuntan publik gagal mendeteksi terjadinya <em>fraud</em> yang sangat merugikan berbagai pihak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikumpulkan dari berbagai sumber.</strong></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/apakah-creative-accounting-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Roh Pendidikan Terabaikan .. !!</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 01:01:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Patung-Bung-Karno.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-971" title="Patung Bung Karno" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/06/Patung-Bung-Karno-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Pendidikan adalah proses  harmonisasi antara alam wiraga (dunia tindakan) dan alam wirama (dunia  pengendalian)”  (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, 2 Mei 1889 – 26 April  1959).</strong> Inilah fundamental pendidikan yang ditanamkan Ki Hajar  Dewantoro waktu itu, sehingga dalam lambang dan” ruh” pendidikan  Indonesia memiliki semboya <em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em> <strong>TUTWURI HANDAYANTI, </strong>jika  insan-insan pendidik di negeri ini, pengambil kebijakan (Kemendiknas)  dan juga manusia-manusia yang terhormat (DPR Komisi X)  mengembalikan  akar pendidikan negeri ini ke fundamental pendidikan yang ditancapkan  oleh Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, maka keadaan negeri ini akan  tetap bersatu padu tidak tercerai berai oleh perbedaan pendapat, ras,  partai status sosial dan lain sebagainya. Karena mereka hanya bertujuan  pada pencapaian visi dan misi bersama Indonesia Raya, satu nusa, satu  bangsa dan satu bahasa Indonesia. Lalu bagaimana sebenarnya potret  pendidikan Indonesia, dulu, kini dan mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em> <strong>TUTWURI HANDAYANTI</strong>,  merupakan salah satu penjabaran yang begitu cerdas dari dasar negara  Pancasila, tidak sesederhana yang kita bayangkan dan baca, diperlukan  kecerdasan dan kedalaman berpikir sehingga muncul “Ruh” pendidikan  tersebut. Arti dari semboyan ini adalah: <strong>Ing ngarsa sung tuladha</strong> (<em>di depan, seorang pendidik harus  memberi teladan atau contoh tindakan yang baik</em>), <strong>Ing madya mbangun karsa</strong> (d<em>i tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan  ide</em>), dan <strong>Tut wuri handayani</strong> (<em>dari belakang seorang  guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan)</em>.  Dulu .. dulu sekali para pendidik di negeri ini begitu cerdik dan  cerdas dalam mengarahkan dan mendidik insan-insan calon pemimpin negeri  ini. Dengan semboyan pendidikan yang ada dengan tetap berdasarkan pada  Pancasila. Namun saat ini para petinggi negeri seakan tidak peduli  dengan konsep pendidikan yang begitu indah dan agung. Reformasi yang  diinginkan dan dijalankan sudah salah <strong>arah</strong>, tidak ada  lagi pembatasan konseptual yang pasti, karena kebijakan yang diambil  akan berganti dan beralih setelah 5 tahun berjalan se-umur pemimpin  negeri ini dan yang menjadi korban adalah tunas-tunas bangsa karena  kebijakan. karena egoisme dan karena idealisme sebagian golongan yang  tidak memahami dan mengerti dengan sebenarnya “ruh” dari pendidikan itu  sendiri.<span id="more-970"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pendidikan telah diubah layaknya  Perseroan Terbatas dengan semangat komersialisasi dengan harapan akan  mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, padahal keuntungan dari  pendidikan adalah kecakapan, kepintaran dan kemampuan anak tunas-tunas  bangsa dalam menyelesaikan semua persoalan dengan baik yang berpegang  pada budi pekerti dan nurani. Namun ternyata anak didik kita disodori  konsep-konsep pendidikan yang jauh dari semboyan  dan dasar pendidikan  itu sendiri. Tidak ada lagi pemahaman dan pendidikan tentang budi  pekerti, moral dan sosial untuk tunas-tunas bangsa, karena Pendidikan  Moral Pancasila telah hilang dari pendidikan wajib di negeri ini.  Tidak  ada lagi kewajiban bagi anak-anak negeri untuk menghayati dan memahami  Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Hal ini karena ketakutan  kaum reformis terhadap PANSILA itu sendiri, karena dianggap PANCASILA  adalah bawaan orde sebelumnya sehingga harus di tinggalkan karena  dianggap tidak sesuai dengan semangat reformasi. Yang menjadi pertanyaan  apakah reformasi itu harus merubah semuanya, mengapa tidak yang baik  dilanjutkan dan yang jelek di tinggalkan, apakah semua yang dilakukan  oleh orde-orde sebelumnya adalah jelek..??</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan terkejut jika nanti akan banyak  dihasilkan anak-anak cerdas dan pandai akan tetapi tidak memiliki  kemampuan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, karena yang kemudian  akan tercipta robot-robot hidup, mereka cerdas dan pintar akan tetapi  tidak akan memiliki jiwa sosial dengan moralitas yang rendah. Karena  pintar hasil dari indoktrinasi dari sebuah konsep. Bukan cerdas karena  pengembangan dan penggalian bakat yang didasarkan pada budi pekerti dan  kedalaman nurani dari setiap anak didik.  Anak-anak sekarang jarang  sekali yang memiliki kemampuan menganalisa dengan daya nalar, karena  penalaran se-akan dimatikan oleh aktualisasi kecepatan berpikir dan  bertindak saja,  Secara sederhana jika ditanya 1 + 1 = 2, mereka akan  menjawab dengan cepat namun ketika dilanjutkan pertanyaannya, mengapa  dan kenapa kok bisa  2,  mereka akan menjawab pokok-nya jawabannya itu.  Padahal sebenarnya 1 + 1 tidak harus 2 karena jawaban 2 hanya untuk ilmu  pasti. Lalu apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan kita saat  ini ..??</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah barang tentu jika kita  berkeinginan untuk menjadikan pendidikan benar-benar bermanfaat bagi  tunas bangsa dan keberadaan bangsa ini kedepan, tentunya harus  dikembalikan “ruh” dari pendidikan itu sendiri, pendidikan tidak boleh  lepas dari fundamental bangsa ini yaitu Pancasila, dan tentunya Guru  tidak hanya sebatas mendidik karena guru harus mampu menjadi teladan dan  mampu mendorong anak didiknya untuk terus maju dan berkembang sesuai  dengan kemampuan masing-masing. Tulisan ini hanyalah sebuah keprihatinan  atas kondisi pendidikan kita sekarang, dimana hampir semua bangsa  begitu mengagungkan dan menganggap penting dasar dan ideologi negaranya,  negeri ini bergerak mundur dengan mengabaikan ideologi-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah yang mungkin bisa ditempuh adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Memasukkan Pancasila pada kurikulum pendidikan dari pendidikan dasar  hingga pendidikan tinggi dan tidak sekedar mendompleng pada salah satu  mata pelajaran, (ada issue bahwa Pancasila akan dimasukkan pada mata  Pelajaran Pendidikan Agama), tentu ini akan menjadi bias karena bisa  jadi hanya Sila Pertama yang akan terbahas dan bukan Pancasila secara  utuh.</li>
<li>Melaksanakan dan mengaplikasikan dalam sistem pendidikan kita semboyan <em>Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mbangun Karso</em><strong>TUTWURI HANDAYANTI, </strong>secara  utuh juga dan tidak sekedar simbol-simbol dalam hiasan bibir dan  dinding, namun harus menjadi hiasan hati setiap insan pendidik;</li>
<li>Mengembangkan softskill untuk mengasah kemampuan berpikir dan nalar  tidak hanya sekedar memperkaya hafalan dan daya ingat saja, karena hal  ini hanya akan menjadi beban bagi tunas bangsa.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan sederhana ini ada manfaat-nya, terima kasih</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini saya tuliskan juga di http://arahkita.com</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/filosofi-hidup/ketika-roh-pendidikan-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatikan Arus Kas, Untuk Menunjang Kesuksesan Usaha</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/perhatikan-arus-kas-untuk-menunjang-kesuksesan-usaha/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/perhatikan-arus-kas-untuk-menunjang-kesuksesan-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 01:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jika sudah kita tentukan dan kita pilih sebuah usaha, tentunya yang ada dalam angan kita adalah bagaimana mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam usaha tersebut, memulai adalah sesuatu yang begitu berat karena dibutuhkan sebuah keberanian untuk melaksanakannya, akan tetapi jauh lebih berat adalah mengelola dan mempertahankan apa yang telah kita awali tersebut. Dalam sebuah usaha memang diperlukan beragam motivasi untuk mencapai sebuah keberhasilan, motivasi yang tinggi dan keberanian melangkah, setelah itu maka pengelolaan keuangan yang baik dan benar tentu menjadi sebuah keharusan agar apa yang kita lakukan tidak berbuah sia-sia.<span id="more-936"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Manajemen usaha kecil memang juah lebih mudah dibandingkan dengan manajemen sebuah perusahaan, akan tetapi dalam pengelolaan manajemen usaha kecil (baca kewirausahaan) dibutuhkan ketekunan, kejelian dan ketelitian agar berbuah kesuksesan tersebut. Hal sederhana namun menjadi sebuah prinsip dalam kewirausahaan adalah dengan menata dan mengelola arus kas usaha tersebut.  Metoda <em>cash flow</em> (aliran kas) merupakan pendekatan pengelolaan keuangan yang praktikal dan sesuai untuk unit usaha kecil yang pola pengelolaan keuangannnya masih sederhana.  Pengertian <em>cash flow</em> adalah aliran kas perusahaan yang secara riil diterima dan dikeluarkan oleh perusahaan untuk keperluan operasi, pendanaan, dan investasi. Aliran kas yang masuk ke perusahaan disebut dengan <em>cash in flow</em>, sedangkan aliran kas yang keluar dari perusahaan dinamai <em>cash out flow</em>. Aliran kas dapat dibedakan menjadi 3 jenis : <strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Operational Cash Flow</em></strong><strong> (Aliran Kas Operasional),</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Aliran Kas Operasional meliputi penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan secara riil yang berkaitan dengan kegiatan operasi. <em>Operational Cash In Flow</em> <strong>(OCIF)</strong> meliputi penerimaan hasil penjualan tunai, hasil pengumpulan piutang,dan penerimaan laba perusahaan. Sedangkan <em>Operational Cash Out Flow</em> <strong>(OCOF)</strong> meliputi biaya-biaya produksi dan biaya-biaya operasi perusahaan. Biaya produksi terdiri atas pembelian bahan baku dan bahan penolong, biaya upah pekerja langsung, dan biaya <em>overhead </em>pabrik (biaya produksi tak langsung); termasuk pembayaran hutang kepada pemasok bahan. Biaya operasi meliputi biaya administrasi dan umum, seperti biaya gaji pimpinan dan karyawan, biaya rekening listrik, telepon, air (PAM), biaya pemasaran, serta biaya pajak.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>Tabel 1:  Format Pencatatan Aliran Kas Operasional Harian per Bulan</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="text-decoration: underline;">Tanggal ……………Bulan……….  Tahun……….</span></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="47" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="170" valign="top"><strong>Perkiraan OCIF</strong></td>
<td width="94" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
<td width="47" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="132" valign="top"><strong>Perkiraan OCOF</strong></td>
<td width="104" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">SALDO KURANG</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top">SALDO LEBIH</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">JUMLAH</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top">JUMLAH</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<ul>
<li> Saldo Lebih hanya diisi apabila Total OCIF lebih besar daripada Total OCOF</li>
<li> Saldo Kurang hanya diisi apabila Total OCIF lebih kecil daripada Total OCOF</li>
</ul>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Tabel 2:  Format Pencatatan Aliran Kas Operasional Rekapitulasi Bulanan</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bulan……….  Tahun……….</span></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="47" valign="top"><strong>Tgl.</strong></td>
<td width="170" valign="top"><strong>Perkiraan OCIF</strong></td>
<td width="94" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
<td width="47" valign="top"><strong>Tgl.</strong></td>
<td width="132" valign="top"><strong>Perkiraan OCOF</strong></td>
<td width="104" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">2</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">2</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">dst.</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">dst.</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">31</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">31</td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">SALDO KURANG</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top">SALDO LEBIH</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">JUMLAH</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top">JUMLAH</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="132" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;"> Saldo Lebih hanya diisi apabila Total OCIF lebih besar daripada Total OCOF</li>
<li style="text-align: justify;">Saldo Kurang hanya diisi apabila Total OCIF lebih kecil daripada Total OCOF</li>
<li style="text-align: justify;">Tanggal ditulis lengkap selama satu bulan, dari tanggal 1 hingga 30 atau 31, apabila tidak terjadi transaksi pada tanggal tertentu, perkiraan dikosongkan.</li>
</ul>
<p><strong>Contoh Pencatatan <em>Operational Cash Flow </em>Harian</strong></p>
<p><strong>Tabel 3: Pencatatan Aliran Kas Operasional Harian PT Reformasi </strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Tanggal   2    Bulan:  Januari   Tahun: 2011</span></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="47" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="151" valign="top"><strong>Perkiraan OCIF</strong></td>
<td width="85" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
<td width="38" valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td width="180" valign="top"><strong>Perkiraan OCOF</strong></td>
<td width="95" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="151" valign="top">Penerimaan Penjualan</td>
<td width="85" valign="top">20.000.000</td>
<td width="38" valign="top">1</td>
<td width="180" valign="top">Pembayaran Gaji</td>
<td width="95" valign="top">10.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">2</td>
<td width="151" valign="top">Penerimaan Piutang dari</td>
<td width="85" valign="top"></td>
<td width="38" valign="top">2</td>
<td width="180" valign="top">Pembayaran Telepon</td>
<td width="95" valign="top">750.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top">1. Sule</td>
<td width="85" valign="top">4.500.000</td>
<td width="38" valign="top">3</td>
<td width="180" valign="top">Pembayaran Listrik</td>
<td width="95" valign="top">250.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top">2. Azis</td>
<td width="85" valign="top">1.000.000</td>
<td width="38" valign="top">4</td>
<td width="180" valign="top">Biaya Penjualan</td>
<td width="95" valign="top">600.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top">3. Nunung</td>
<td width="85" valign="top">500.000</td>
<td width="38" valign="top">5</td>
<td width="180" valign="top">Pembelian Bahan Baku</td>
<td width="95" valign="top">2.500.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top"></td>
<td width="85" valign="top"></td>
<td width="38" valign="top">6</td>
<td width="180" valign="top">Pemby. Tenaga Langsung</td>
<td width="95" valign="top">1.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top"></td>
<td width="85" valign="top"></td>
<td width="38" valign="top">7</td>
<td width="180" valign="top">Pem. Hutang ke Pemasok</td>
<td width="95" valign="top">1.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top">SALDO KURANG</td>
<td width="85" valign="top"></td>
<td width="38" valign="top"></td>
<td width="180" valign="top">SALDO LEBIH</td>
<td width="95" valign="top">9.500.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top">JUMLAH</td>
<td width="85" valign="top">26.000.000</td>
<td width="38" valign="top"></td>
<td width="180" valign="top">JUMLAH</td>
<td width="95" valign="top">16.500.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="151" valign="top"></td>
<td width="85" valign="top"></td>
<td width="38" valign="top"></td>
<td width="180" valign="top"></td>
<td width="95" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Catatan: Semua transaksi yang dicatat harus bersifat tunai (cash)</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Contoh Pencatatan <em>Operational Cash Flow </em>Bulanan </strong></p>
<p>Tabel 4: Pencatatan Aliran Kas Operasional Bulanan PT Reformasi</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bulan:  Januari   Tahun: 2011</span></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="47" valign="top"><strong>Tgl.</strong></td>
<td width="170" valign="top"><strong>Perkiraan OCIF</strong></td>
<td width="94" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
<td width="47" valign="top"><strong>Tgl.</strong></td>
<td width="142" valign="top"><strong>Perkiraan OCOF</strong></td>
<td width="104" valign="top"><strong>Nilai (Rp)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">1</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">2</td>
<td width="170" valign="top">Penerimaan Operasi</td>
<td width="94" valign="top">10.700.000</td>
<td width="47" valign="top">2</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Operasi</td>
<td width="104" valign="top">16.700.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">3</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">3</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Produksi</td>
<td width="104" valign="top">20.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">4</td>
<td width="170" valign="top">Penerimaan Operasi</td>
<td width="94" valign="top">25.000.000</td>
<td width="47" valign="top">4</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">5</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">5</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Operasi</td>
<td width="104" valign="top">800.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">6</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">6</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">7</td>
<td width="170" valign="top">Penerimaan Operasi</td>
<td width="94" valign="top">17.300.000</td>
<td width="47" valign="top">7</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Penjualan</td>
<td width="104" valign="top">600.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">8</td>
<td width="170" valign="top">Penerimaan Operasi</td>
<td width="94" valign="top">800.000</td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">dst</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">dst</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">20</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Produksi</td>
<td width="104" valign="top">12.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">17</td>
<td width="170" valign="top">Penerimaan Operasi</td>
<td width="94" valign="top">11.500.000</td>
<td width="47" valign="top">21</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">dst</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">dst</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">29</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">29</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Produksi</td>
<td width="104" valign="top">2.600.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">30</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">30</td>
<td width="142" valign="top">Biaya Operasi</td>
<td width="104" valign="top">1.500.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">31</td>
<td width="170" valign="top">Penerimaan Operasi</td>
<td width="94" valign="top">18.500.000</td>
<td width="47" valign="top">31</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">SALDO KURANG</td>
<td width="94" valign="top">-</td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"><strong>SALDO LEBIH</strong></td>
<td width="104" valign="top"><strong>22.600.000</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="170" valign="top"><strong>JUMLAH</strong></td>
<td width="94" valign="top"><strong>83.800.000</strong></td>
<td width="47" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="142" valign="top"><strong>JUMLAH</strong></td>
<td width="104" valign="top"><strong>83.800.000</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Saldo Lebih hanya diisi apabila Total OCIF lebih besar daripada Total OCOF</li>
<li style="text-align: justify;">Saldo Kurang hanya diisi apabila Total OCIF lebih kecil daripada Total OCOF</li>
<li style="text-align: justify;">Tanggal ditulis lengkap selama satu bulan, dari tanggal 1 hingga 30 atau 31</li>
<li style="text-align: justify;">Apabila tidak terjadi transaksi pada tanggal tertentu, perkiraan dikosongkan.</li>
</ul>
<p>&#160;</p>
<p><strong><em>Financial Cash Flow</em></strong><strong> (Aliran Kas Pendanaan), </strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong> </strong>Aliran Kas Pendanaan meliputi penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan pendanaan. <em>Financial Cash In Flow</em> (FCIF), meliputi penerimaan modal, baik dari sumber modal sendiri maupun dari sumber modal asing berupa pinjaman atau kredit bank. Sedangkan <em>Financial Cash Out Flow</em> (FCOF) meliputi biaya-biaya yang timbul karena adanya tambahan modal. Biaya modal tersebut dapat berupa pembagian keuntungan kepada para pemilik modal sendiri (dividen atas saham), dan berupa biaya bunga yang harus dibayarkan kepada bank atas kredit yang kita terima.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Metoda pencatatan Aliran Kas Pendanaan ini pada dasarnya sama saja dengan metoda pencatatan pada Aliran Kas Operasional. Namun mengingat bahwa aliran kas pendanaan ini bersifat periodik (tidak setiap hari terjadi transaksi), pencatatannya dalam perioda bulanan (lihat Tabel 2 dan Tabel 4)  atau bahkan tahunan, bukan harian.</p>
<p><strong><em>Investment Cash Flow</em></strong><strong> (Aliran Kas Investasi)</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Aliran Kas Pendanaan meliputi penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan Investasi. <em>Investment Cash In Flow</em> (ICIF), meliputi penerimaan yang berasal dari aktivitas investasi perusahaan pada aktiva tetap dan investasi pada surat-surat berharga, seperti penerimaan berupa dividen atas saham, bunga (kupon) atas obligasi, dan <em>capital gain</em> atas penjualan aktiva tetap dan penjualan saham. Sedangkan <em>Investment Cash Out Flow</em> (OCOF) meliputi sejumlah dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membeli aktiva tetap dan surat-surat berharga, seperti saham dan obligasi. Metoda pencatatan Aliran Kas Pendanaan ini pada dasarnya sama saja dengan metoda pencatatan pada Aliran Kas Operasional dan Aliran Kas Pendanaan. Mengingat bahwa transaksi investasi ini tidak dilakukan oleh perusahaan secara harian, maka perioda penca-tatannya adalah bulanan dan tahunan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Setelah anda melakukan pencatatan aliran kas perusahaan secara bulanan kemudian catatan-catatan tersebut dikompilasi menjadi catatan aliran kas tahunan, berbentuk Cash Flow Statement perusahaan (sederhana). Masing-masing laporan aliran kas tersebut diklasi-fikasi sesuai dengan fungsinya menjadi Laporan Aliran Kas Operasional, Laporan Aliran Kas Pen-danaan, dan Laporan Aliran Kas Investasi. Laporan Aliran Kas sederhana semacam ini lebih tepat digunakan pada pencatatan keuangan usaha kecil.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Mengingat bahwa metoda ini, sesuai dengan namanya Metoda <em>Cash Flow</em> (arus kas tunai), maka metoda ini memiliki kelebihan dalam hal kejelasan jumlah penerimaan dan pengeluaran antara yang terdapat di catatan dan keadaan nyatanya (jumlah uang tunai sesungguhnya). Namun demikian, metoda ini juga memiliki  kelemahan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Kelemahan metoda ini adalah hanyalah pada tidak tersedianya catatan mengenai transaksi hutang dan piutang. Pemecahannya adalah dengan menyediakan catatan khusus mengenai transaksi yang yang bersifat kredit, baik pembelian secara kredit maupun penjualan secara kredit. Catatan ini kita namakan Catatan Pembantu: <strong>Piutang dan Hutang </strong>(lihat Tabel 5)</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Contoh Catatan Pembantu: Piutang &#8211; Hutang </strong></p>
<p>Tabel 5: Catatan Piutang dan Hutang</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Bulan:  Januari   Tahun: 2011</span></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="47" valign="top">Tgl.</td>
<td width="170" valign="top">Perkiraan Piutang</td>
<td width="94" valign="top">Nilai (Rp)</td>
<td width="47" valign="top">Tgl.</td>
<td width="142" valign="top">Perkiraan Hutang</td>
<td width="104" valign="top">Nilai (Rp)</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">2</td>
<td width="170" valign="top">Penjualan Kredit</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">9</td>
<td width="142" valign="top">Pembelian Kredit</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">kepada:</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top">Bahan Baku:</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">1. Rafi</td>
<td width="94" valign="top">2.000.000</td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top">1. PT Merana</td>
<td width="104" valign="top">26.300.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">2. Rafa</td>
<td width="94" valign="top">800.000</td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top">2. UD Cepat Laku</td>
<td width="104" valign="top">3.700.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">3. Nona</td>
<td width="94" valign="top">1.200.000</td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">21</td>
<td width="142" valign="top">Pembelian Kredit</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">16</td>
<td width="170" valign="top">Penjualan Kredit</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top">Bahan Penolong:</td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">kepada:</td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top">PT. Maju Mapan</td>
<td width="104" valign="top">11.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">1. UD Sejati</td>
<td width="94" valign="top">18.000.000</td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top">2. UD Jepemethe</td>
<td width="94" valign="top">12.000.000</td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">dst</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">dst</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">…</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top">31</td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top">31</td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="170" valign="top"><strong>JUMLAH</strong></td>
<td width="94" valign="top"><strong>34.000.000</strong></td>
<td width="47" valign="top"><strong> </strong></td>
<td width="142" valign="top"><strong>JUMLAH</strong></td>
<td width="104" valign="top"><strong>41.800.000</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
<td width="94" valign="top"></td>
<td width="47" valign="top"></td>
<td width="142" valign="top"></td>
<td width="104" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Catatan: </strong></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Tanggal yang ditulis hanya ketika terjadi transaksi piutang dan hutang saja</li>
<li style="text-align: justify;"> Setiap transaksi harus disertai dokumen dasar seperti (Bon, kuitansi, atau kontrak)</li>
<li style="text-align: justify;">Catatan dapat diperlengkap dengan kolom item unit dan harga per unit produk yang ditransaksikan</li>
<li style="text-align: justify;">Catatan pembantu ini tidak ikut dikompilasi dalam laporan, karena setelah transaksi kredit tersebut dilunasi menjadi kas, langsung dicatat pada Catatan Aliran Kas dengan perkiraan Pembayaran Hutang atau Penerimaan Piutang. Namun catatan pembantu ini tetap disimpan untuk keperluan audit.</li>
</ol>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Laporan Aliran Kas</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Laporan aliran kas merupakan rangkuman dari ketiga jenis aliran kas tersebut, dan dipisahkan untuk masing-masing jenis aliran kas. Contoh laporan aliran kas sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><strong>“CV. RAFI RAFA Tbk”</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>LAPORAN ARUS KAS</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>1 Januari s.d 31 Desember 20</strong><strong>10</strong><strong> </strong></p>
<p>&#160;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="336" valign="top"><strong>Uraian</strong></td>
<td colspan="2" width="210" valign="top"><strong>Jumlah (Rp)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="336" valign="top"><strong>ALIRAN KAS DARI   AKTIVITAS OPERASI</strong>&#160;</p>
<p>ALIRAN KAS MASUK:</p>
<p>Penerimaan Operasi</p>
<p>Penerimaan ……….</p>
<p>Jumlah</p>
<p>ALIRAN KAS KELUAR:</p>
<p>Biaya Operasi</p>
<p>Biaya Produksi</p>
<p>Biaya Penjualan</p>
<p>Biaya ………….</p>
<p>Jumlah</td>
<td width="108" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>900.000</p>
<p>100.000</td>
<td rowspan="3" width="102" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>1.000.000</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>750.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>500.000</p>
<p>150.000</p>
<p>100.000</p>
<p>&#160;</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="336" valign="top"><strong><em>Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi</em></strong><strong> </strong>&#160;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ALIRAN KAS DARI   AKTIVITAS PENDANAAN</strong></p>
<p>ALIRAN KAS MASUK:</p>
<p>Dana Bergulir Program Studi   D3 BK</p>
<p>Iuran Anggota</p>
<p>…………………</p>
<p>Jumlah</p>
<p>ALIRAN KAS KELUAR:</p>
<p>Pengembalian Dana Bergulir</p>
<p>Penyertaan Modal</p>
<p>…………</p>
<p>Jumlah</td>
<td width="108" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>400.000</p>
<p>1.000.000</p>
<p>&#160;</td>
<td rowspan="3" width="102" valign="top"><strong>250.000</strong>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>1.400.000</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>1.300.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>400.000</p>
<p>900.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="336" valign="top"><strong><em>Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Pendanaan</em></strong><strong> </strong></td>
<td width="108" valign="top"></td>
<td width="102" valign="top"><strong>100.000</strong></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="336" valign="top"><strong> </strong>&#160;</p>
<p><strong>ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI</strong></p>
<p>ALIRAN KAS MASUK:</p>
<p>Penjualan Aktiva Tetap</p>
<p>…………………</p>
<p>Jumlah</p>
<p>ALIRAN KAS KELUAR:</p>
<p>Pembelian Aktiva Tetap</p>
<p>………….</p>
<p>Jumlah</td>
<td width="108" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>4.000.000</td>
<td rowspan="3" width="102" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>4.000.000</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>4.150.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top">&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p>4.150.000</td>
</tr>
<tr>
<td width="108" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="336" valign="top"><strong><em>Aliran   Kas Bersih dari Aktivitas Investasi</em></strong><strong> </strong></td>
<td width="108" valign="top"></td>
<td width="102" valign="top"><strong>(150.000)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="336" valign="top"><strong>Kenaikan Bersih Kas   Selama Periode T.A 2010</strong>&#160;</p>
<p><strong>Saldo Awal Kas 01   Januari 2010</strong></td>
<td width="108" valign="top"></td>
<td width="102" valign="top"><strong>200.000</strong>&#160;</p>
<p><strong>850.000</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="336" valign="top"><strong>Saldo Akhir Kas 31 Desember 2010</strong></td>
<td width="108" valign="top"></td>
<td width="102" valign="top"><strong>1.100.000</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Sumber :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Agus S. Irfani, <em>“AKUNTANSI KEUANGAN: Pengelolaan Keuangan Sederhana dengan Metoda Cash Flow dan  Akuntansi”</em>, Pada Acara Pelatihan Manajemen Usaha Kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Andreas, M<em>anajemen Keuangan Untuk UKM</em>, 2011, Graha Ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Taufik Hidayat, <em>Financial Planning; Mengelola &#38; Merencanakan Keuangan Pribadi &#38; Keluarga</em>, 2010 Media Kita</p>
<p style="text-align: justify;">Westred J. Fred, Thomas Copeland, <em>Manajemen Keuangan</em>; 2010 Airlangga Surabaya.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/perhatikan-arus-kas-untuk-menunjang-kesuksesan-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Kemampuan Usaha Dengan Analisis Break Event Point</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/menghitung-kemampuan-usaha-dengan-analisis-break-event-point/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/menghitung-kemampuan-usaha-dengan-analisis-break-event-point/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 09:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-884" title="BEP" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a>Dalam menjalankan usaha, tentunya kita harus memahami dan tahu hasil dari pekerjaan yang telah kita lakukan dengan susah payah, sehingga diperlukan analisis dari usaha kita dengan demikian diharapkan kita akan mampu menyikapi dan mengambil tindakan secepat mungkin jika kemudian ditemukan kejanggalan dan ketidaksesuaian dalam perhitungan kita, karena apa yang kita dapatkan belum tentu menjadikan usaha kita berjalan dengan sehat dan baik . Salah satu cara menilai  kinerja usaha adalah dengan analisis BEP (<strong><em>Break Even Point</em></strong>) atau <em><strong>titik impas</strong></em>, yakni   tidak ditemuinya keuntungan maupun kerugian pada usaha kita dengan kata lain kita dapat mengetahui volume penjualan yang diperlukan agar bisa menutup semua  biaya produksi yang dikeluarkan. Jika diperlukan, Anda juga bisa  menghitung BEP yang baru ketika terjadi perubahan biaya tetap, misalnya  karena Anda melakukan renovasi tempat usaha atau membeli peralatan  kantor yang baru.<br />
<span id="more-883"></span><br />
BEP bisa dihitung dengan menggunakan rumus berikut:</p>
<ol>
<li>Harga per unit &#8211; Biaya variabel per unit = Margin kontribusi per unit</li>
<li>Margin kontribusi per unit : Harga per unit = Rasio margin kontribusi</li>
<li>Break Even = Biaya tetap : Rasio margin kontribusi</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sebuah Ilustrasi :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Diketauhi dari sebuah laporan keuangan <strong>Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221;</strong> menunjukkan, biaya tetap  usaha itu (dalam ribuan) adalah Rp 49.000, dan biaya variabel per 1 bungkus &#8220;kripik belalang&#8221; adalah Rp 0,3. Jika harga jual tiap sebungkus kripik belalang adalah Rp 1, maka setelah  dikurangi biaya variabel, tiap sebungkus kripik belalang menyumbang Rp 0,7 untuk menutup  pengeluaran tetap.</p>
<p style="text-align: justify;">BEP bisa diketahui dengan membagi biaya tetap  dengan kontribusi tiap sebungkus kripik belalang yang dijual itu, yakni  Rp 49.000 : 0,7 =  70.000 bungkus kripik belalang.  Jika penjualan melampaui 70.000 bungkus kripik belalang, maka Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221;  memperoleh keuntungan. Sebaliknya jika penjualan kurang dari  70,000, Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221; akan mengalami kerugian. Kita juga bisa melihat  bahwa peningkatan penjualan 10.000 bungkus kripik belalang di atas BEP (sehingga menjadi  80.000 bungkus kripik belalang) akan menghasilkan keuntungan Rp 7.000, dan peningkatan  30.000 bungkus kripik belalang menjadi 100.000 bungkus kripik belalang akan menghasilkan keuntungan Rp  21.000. Di lain pihak, saat penjualan hanya 60.000 bungkus kripik belalang, Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221; masih  rugi Rp 7.000, dan pada saat penjualan baru 40.000 bungkus kripik belalang, Perusahaan &#8220;Kripik Belalang&#8221; masih rugi Rp 21.000.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dapat di gambarkan dalam grafik sebagai berikut :</p>
<p><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP-dua.jpg"><img class="size-full wp-image-885 aligncenter" title="BEP dua" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/BEP-dua.jpg" alt="" width="278" height="181" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dari ilustrasi tersebut diatas diketahui bawah peningkatan penjualan  25% (dari 80.000 ke 100.000 bungkus kripik belalang) akan menghasilkan peningkatan  keuntungan dari Rp 7.000 ke Rp 21.000. Hal yang sama terjadi sebaliknya,  penurunan sedikit saja pada penjualan juga menghasilkan kerugian yang  cukup besar. Denga mengetahui kenyataan tersebut pada akhirnya perusahaan dapat memperhitungkan berapa banyak yang harus diproduksi untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan, disisi lain sejauhmana kemampuan keuangan perusahaan dalam mengelola kegiatan usaha tersebut akan dapat dipergunakan untuk mengambil kebijak dalam menentukan kapasitas produksi dengan mempertimbangkan aspek biaya yang harus dikeluarkan, yang akhirnya kita mampu mengukur kemampuan kita dalam menjalankan usaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga bermanfaat dan terima kasih.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/menghitung-kemampuan-usaha-dengan-analisis-break-event-point/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Stress Perlu Untuk Menjaga Kualitas Hidup</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/manajemen-stress-perlu-untuk-menjaga-kualitas-hidup/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/manajemen-stress-perlu-untuk-menjaga-kualitas-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 03:57:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rohani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/Stress-and-Sex.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-872" title="Stress and Sex" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2011/02/Stress-and-Sex.jpg" alt="" width="238" height="212" /></a>Stress adalah sebuah respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang dalam upaya penyesuaian diri terhadap tekanan  yang sifatnya internal (<strong><em>psikologis</em></strong>) maupun eksternal (<em><strong>lingkungan</strong></em>). Dan manusia sebagai makhluk sosial dan juga makhluk yang dinamis dalam sebuah kehidupan sudah dapat dipastikan mengalami STRESS, karena itu Stress adalah bagian dari kehidupan itu sendiri, karena manusia dituntut untuk selalu bisa menyesuaikan  diri. Stress merupakan reaksi awal dari penyesuaian diri tersebut.  Sedikit stress membuat manusia menjadi waspada dan ini dibutuhkan agar  kita mampu memotivasi diri, menyesuaikan diri, dan segera mencari cara  untuk mengatasi stress tersebut. Stress jenis ini dinamakan <em>eustress</em>, yaitu stress  yang membuat seseorang jadi bertambah kuat dan mampu menyesuaikan diri.  Jadi wajar kalau kita dalam kondisi stres jenis yang ini. Lalu bagaimana kita bisa menyikapi dan melewati masa-masa STRESS tersebut dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-871"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu yang lalu saya dapat email dari rekan sekolah di SMK N 1 Wonosari Gunungkidul, yang isi-nya kurang lebih seperti ini :</p>
<p style="text-align: justify;">Sewaktu memberikan perkuliahan Manajemen, seorang dosen membahas masalah MANAJEMEN STRESS, dalam  pembahasan tersebut dosen itu mengangkat gelas yang berisi air  dan bertanya kepada Mahasiswanya &#8220;Kira-kira seberapa berat kah segelas air ini ..?&#8221;, banyak ragam jawaban mahasiswa ketika itu,</p>
<p>&#8220;Itu sih ringan,&#8221; jawab salah satu mahasiswa.</p>
<p>&#8220;Tidak lebih dari 30 gram&#8221;, jawab yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tidak lebih berat dari dua buah buku manajemen yang ada disebelah bapak,&#8221; Jawab Mahasiswa lainnya.  Dan masih banyak jawaban lainnya yang intinya bahwa gelas itu tidak-lah berat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang dosen kemudian menjelaskan bahwa ini bukanlah berat absolut segelas air yang dimaksudkan melainkan  berat air itu memang tidak akan membebani kita jika hanya memegang beberapa saat lalu meletakkan kembali, namun  ketika mengangkat gelas dalam waktu 1 jam, atau sehari, atau seminggu, dan bahkan mungkin sebelum atau setahun sekalian, maka tentunya tangan kita akan saya sakit, bahkan bila satu hari penuh maka saya bisa pingsan, bila satu minggu, maka anda harus segera memanggil ambulan untuk saya. Sebenarnya beratnya sama namun semakin lama kita memegangnya, beban akan semakin berat, Hal yang terbaik yang harus kita lakukan adalah  segera tuangkan isi gelas tersebut maka kemudian beban dalam gelas itu akan berkurang,&#8221;&#8216; tutur sang Dosen.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkaitan dengan Stess tadi, hampir setiap hari kita selalu memiliki dan terbebani berbagai macam persoalan, entah itu pekerjaan, keluarga atau bahkan mungkin dalam bermasyarakat, kemudian secara sengaja atau tidak membawa beban hidup kita terus menerus, sudah barang tentu akan menjadikan kita cenderung selalu khawatir, susah, resah dan hidup terasa berat yang terjadi kemudian adalah STRESS akan menjadi beban yang menekan kita. Semakin hari beban itu semakin berat karena kita khawatir esok hari. Lalu apa yang bisa kita lakukan, ada beberapa hal yang dapat kita laksanakan sehingga STRESS itu dapat kita manage atau kita kelola, sehingga disinilah kemudian ada MANAJEMEN STRESS, <strong></strong>yaitu sebuah kemampuan pada diri manusia dalam  penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental  dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari  manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup  individu itu agar menjadi lebih baik. Tentunya kita selalu berharap kualitas hidup kita terus meningkat menjadi lebih baik, sehingga STRESS yang terjadi pada diri kita harus dapat kita kelola dengan baik pula. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan, antara lain :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Berusaha untuk bisa sharing dengan orang lain, tentang apa yang menjadi beban dan permasalahan kita, tentunya dengan orang-orang yang benar-benar kita percaya.</li>
<li style="text-align: justify;">Melaksanakan refleksi atau pemijitan tubuh (body massage), untuk sekedar melancarkan peredaran darah yang akan  memulihkan lebih baik keletihan anda.</li>
<li style="text-align: justify;">Berolahraga teratur merupakan hal yang sangat penting dalam  memerangi stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Laksanakan hobi anda secara kontinue dan teratur karena melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini dapat menghilangkan pikiran yang menyebabkan stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Hindari minuman beralkhohol dan perbanyak minum air putih akan membantu memulihkan tubuh kita dari  kekurangan cairan, karena kekurangan cairan dapat menimbulkan keletihan.</li>
<li style="text-align: justify;">Luangkan waktu untuk melaksanakan menditasi, walau sedekdar berdiam diri sejenak, pejamkan mata dan atur nafas, karena meditasi akan sangat membantu anda melupakan hal-hal yang dapat menyebabkan stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Tetap menjaga pula makan, karenanya jangan sampai melampiaskan dengan mengkonsumsi makanan yang berlebihan.</li>
<li style="text-align: justify;"><strong>Seks</strong> dengan teratur karena SEKS adalah penyembuhan yang sangat baik untuk menghilangkan stress. Banyak dokter mengatakan bahwa seks adalah cara yang luar biasa dalam meredam kemarahan dan stress.</li>
<li style="text-align: justify;">Jaga pola tidur kita tetap teratur sesuai dengan kebutuhan kita bahwa tidur tidak sekedar mengistirahatkan badan dari kelelahan akan tetapi juga menuntun otak kita untuk rileks.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sobat, Allah selalu mengingatkan kita agar kita menyerahkan segala beban hidup kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Kemampuan berserah diri kepada Allah inilah yang mampu membuat kita terhindar dari tekanan hidup yang berlebihan. Sebagaimana firmanNya <strong>&#8220;Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? dan Kami pun telah menurunkan beban darimu yang memberatkan punggungmu dan Kami tinggikan sebutanmu bagimu. Sebab sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (urusan dunia)  maka bersungguh-sungguhlah (dalam beribadah). Dan hanya kepada TuhanMulah kamu berharap. (QS. al-Insyirah : 1-8)&#8221;.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan terimakasih. Dan saya sampaikan terima kasih terkhusus untuk sahabat saya Mbak Sulastri (makasih kiriman emailnya). <strong><br />
</strong></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/motivasi/manajemen-stress-perlu-untuk-menjaga-kualitas-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Bank Indonesia Dengan Komik</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/mengenal-bank-indonesia-dengan-komik/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/mengenal-bank-indonesia-dengan-komik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 16:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[BLK]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Sanering]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Bank-Indonesia.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-700" title="Bank Indonesia" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Bank-Indonesia.jpg" alt="" width="333" height="151" /></a>Beberapa waktu yang lalu ketika surfing untuk mencari bahan kuliah tentang perbankan, secara tidak sengaja menemukan satu hal yang cukup menarik bagi saya, sebuah upaya dari Bank Indonesia untuk memperkenalkan dari dan membangun image di masyarakat yang dapat dipahami dengan mudah dan menarik. Sebuah metode pengenalan dan penyampaian informasi yang cukup cerdas, dengan bahasa yang sederhana dan dengan model komik Bank Indonesia ingin merangkul semua komponen masyarakat untuk lebih mengenal lebih dekat Bank Sentral Negeri ini.  Sebuah usaha yang cukup briliant menurut saya, memberikan pemahaman dan informasi ke  masyarakat terasa lebih mudah  dengan komik yang dibuat oleh Bank Indonesia,  dengan gaya bahasa dan penyampaian informasi sudah cukup edukatif.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-699"></span>Dan penyampaian informasi tentang Bank Indonesia bagi anak-anak adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><img style="border:0;" src="http://www.cincopa.com/media-platform/api/thumb.aspx?fid=+10735536&#038;size=large" /></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bermanfaat, dan terima kasih</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bi.go.id/web/id/" target="_blank">Source</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/mengenal-bank-indonesia-dengan-komik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Waktu Terhadap Uang</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/nilai-waktu-terhadap-uang/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/nilai-waktu-terhadap-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 14:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=685</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/time-is-money.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-697" title="time is money" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/time-is-money.jpg" alt="" width="240" height="180" /></a>Mendengar dan menyikapi masalah issue nasional tentang redenominasi rupiah akhir-akhir ini, jadi teringat satu pembahasan di Manajemen Keuangan tentang Nilai Waktu Terhadap Uang, bahwasannya waktu akan berpengaruh terhadap nilai uang itu sendiri, sebagai contoh sederhana jika waktu kecil dulu Rp. 5,00 bisa dapatkan satu permen sekarang harga permen sudah mencapai kisaran Rp. 50,00, dan kemungkinan untuk beberapa tahun kedepan untuk membeli satu butir permen kita perlu mengeluarkan Rp. 500,00, akhirnya langkah Bank Indonesia untuk menyederhanakan rupiah cukup beralasan mengingat rupiah kita sudah begitu gemuk. Namun disini yang akan dibahas adalah bagaimana Nilai Waktu Terhadap Uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Konsep nilai waktu uang sangat relevan dengan keputusan investasi jangka panjang, misalnya investasi pada aktiva tetap. Investasi pada aktiva tetap biasanya hasil pengembaliannya tidak sekaligus, melainkan bertahap dalam beberapa periode. Jumlah dana yang diterima satu tahun yang akan datang nilainya lebih besar daripada jumlah dana yang sama tetapi diterima lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Sehubungan dengan itu, dalam pengambilan keputusan investasi pada aktiva tetap nilai waktu uang sangat penting untuk dipertimbangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa konsep nilai waktu uang yaitu <em>Future Value, Present Value, Future Value of An Annuity, </em>dan<em> Present  Value of An Annuity, </em>yang dapat dijelaskan sebagai berikut<em> :</em></p>
<p><em><span id="more-685"></span></em></p>
<p><img style="border:0;" src="http://www.cincopa.com/media-platform/api/thumb.aspx?fid=+10731464&#038;size=large" /></p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat dan untuk bahan dalam pembahasan lain dan  lengkapnya dapat di download <a href="http://www.ziddu.com/download/3149688/MicrosoftWord-VIIIPengaruhWaktuTerhadapUang.pdf.html" target="_blank">disini</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/nilai-waktu-terhadap-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Daya Beli Turun Jika Redenominasi Rupiah, dilaksanakan..??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 11:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahan Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Redenominasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sanering]]></category>
		<category><![CDATA[Skripsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=678</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Uang1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-682" title="Uang1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/08/Uang1.jpg" alt="" width="245" height="206" /></a>Redenominasi, akhir-akhir ini menjadi sebuah bahasan menarik di kalangan ekonom di negeri ini, begitu Bank Indonesia memunculkan tentang Redenominasi terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat akan perlu tidaknya kebijakan ini harus di keluarkan, sejauhmana positif dan negarifnya jika kebijakan moneter ini benar-benar di berlakukan di negeri ini. Hal ini dipicu salah satunya adalah karena nilai uang ktia sudah begitu gemuk-nya dan menjadikan transaksi keuangan tidak efisien lagi. Sebenarnya redenominasi mata uang (<em>currency redenomination</em>)  adalah <em>menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang  menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol)  tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1, hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang dan jasa, <span style="text-decoration: underline;">sehingga daya belu masyarakat tidak berubah.</span></em><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-678"></span>Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan <strong>Sanering</strong> , karena Sanering adalah <em>pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan  nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang,  sehingga daya beli masyarakat menurun.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi dan Sanering dapat kita bedakan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berdasa</strong><strong>rkan pada tujuan pelaksanaannya; </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika Redenominasi dilaksanakan memiliki tujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien  dan nyaman dalam  melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan  kesetaraan ekonomi  Indonesia dengan negara regional. SEDANGKAN Sanering  bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan   harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat   tinggi).</p>
<p><strong>Pengaruh Nilai uang terhadap barang.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada redenominasi  nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan  dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan. SEDANGKAN pada Sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.</p>
<p><strong>Kapan pelaksanaannya..??</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Untuk Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa transisi pelaksanaan kebijakan </strong><br />
Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat. SEDANGKAN Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.</p>
<p><strong>Bagaimana redenominasi dilaksanakan .?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh harga 1 kg beras  seharga Rp 10.000;<br />
Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka  nol), maka dengan uang sebanyak Rp 10 tetap dapat membeli 1 kg beras. Karena harga 1 kg beras juga dinyatakan dalam satuan pecahan  yang sama (baru). SEDANGKAN pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya  dapat membeli  1/1000 atau 0,001,   1 Kg Beras.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dampak bagi masyarakat.</strong><br />
Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama. Dan pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara matematika, redenominasi rupiah tidak memiliki implikasi yang  berarti bagi masyarakat. Masyarakat yang memiliki uang Rp 1.000.000 diganti  dengan uang Rp 1.000. Masyarakat tidak perlu khawatir soal uang tersebut.  Sebab, keduanya memiliki nilai intrinsik atau daya beli yang sama.  Misal, merek <em>handphone</em> tertentu seharga Rp 1.000.000 sebelum  redenominasi sama dengan Rp 1.000 setelah redenominasi. Jadi, daya beli  Masyarakat secara matematika tak berubah karena redenominasi rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi,  secara psikologis, kebijakan itu bisa mengakibatkan daya beli uang  berbeda antara sebelum dan sesudah redenominasi. Dampak psikologis  merupakan reaksi pelaku bisnis terhadap redenominasi rupiah. Jika pelaku  bisnis yakin bahwa ekonomi berkinerja baik, redenominasi bisa berjalan  sesuai dengan harapan. Tetapi, redenominasi mengakibatkan angka inflasi  meningkat apabila pelaku bisnis berpersepsi ekonomi melambat atau  memburuk ketika kebijakan itu diterapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Melejitnya  angka inflasi itulah yang membuat daya beli keluarga berkurang dengan drastis. Di samping  itu, stabilitas politik sangat dibutuhkan untuk memunculkan dampak  psikologis yang positif kepada pelaku bisnis dalam menyikapi  redenominasi. Ekonomi yang kuat dan politik yang stabil akan memudahkan  proses redenominasi. Alhasil, nilai mata uang sama, baik sebelum atau  sesudah redenominasi. Karena itu, BI harus menyamakan persepsi dengan  pelaku bisnis dalam menentukan periode (<em>timing</em>) kinerja ekonomi dikatakan baik. Tujuannya, redenominasi rupiah tidak menurunkan daya beli masyarakat Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Redenominasi jelas berbeda dengan <em>sanering</em>. <em>Sanering</em> merupakan upaya memotong rupiah karena melejitnya angka inflasi yang  tak kunjung turun atau inflasi tidak terkendali. Indonesia memiliki  pengalaman tiga kali melakukan <em>sanering</em>. Pertama, <em>sanering</em> dilakukan pada 19 Maret 1950 dengan memangkas Rp 5 menjadi Rp 2. <em>Sanering</em> kedua dilakukan pada 25 Agustus 1959 dengan memangkas Rp 1000 menjadi Rp 100. <em>Sanering</em> terakhir terjadi pada 13 Desember 1965 dengan memotong Rp 1000 menjadi  Rp 1. Pengalaman pahit masa lalu itu jelas merugikan keluarga Indonesia.  Semoga pengalaman <em>sanering</em> masa lalu tidak membuat masyarakat Indonesia trauma terhadap redenominasi rupiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat  Indonesia harus memahami bahwa <em>sanering</em> dan redenominasi dilakukan pada angka inflasi yang berbeda. <em>Sanering</em> dilakukan saat angka inflasi tinggi, sedangkan redenominasi diterapkan saat angka inflasi rendah. <em>Sanering</em> dilakukan saat kinerja ekonomi memburuk, sedangkan redenominasi  dijalankan saat kinerja ekonomi prima. Perbedaan itulah yang perlu  dipahami masyarakat  Indonesia, jadi perlukah kita khawatir jika Bank Indonesia me-redenominasi Rupiah kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian tulisan ini semoga bisa dipergunakan sebagai bahan perenungan bersama, sekian dan terima kasih</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/keluarga/apakah-daya-beli-turun-jika-redenominasi-rupiah-dilaksanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

