<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://www.ekasulistiyana.web.id/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ekasulistiyana.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 17:21:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pementasan Wayang Beber</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/pementasan-wayang-beber/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/pementasan-wayang-beber/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 09:03:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada tulisan terdahulu <a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/" target="_blank">Wayang Beber</a>, telah disampaikan bahwa dalam pementasan terdapat dua versi yaitu versi Wonosari dan Versi Pacitan.  Perbedaan dari kedua versi tersebut adalah pada posisi Dalang-nya, jika pada versi Wonosari posisi Dalang berada di depan Wayang Beber, sedangkan jika versi Pacitan posisi Dalan berada di belakang Wayang Beber. Namun perbedaaan kedua-nya tidak menjadikan suatu hal yang begitu pripsip dalam pelestarian budaya dari Wayang Beber itu sendiri, baik Versi Wonosari ataupun versi Pacitan telah memiliki ruh dan menjadi ciri khas masing-masing, karena dari perbedaan kedua versi tersebut didapat sebuah keragaman khasanah budaya juga. Yang terpenting adalah bagaimana upaya dari masing-masing untuk bisa terus lestari dan tetap menjadi kebanggaan budaya daerah yang memang perlu untuk terus dipertahankan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-839"></span>Setidaknya adanya kemajuan teknologi ini mampu dan dapat dimanfaatkan pihak-pihak yang begitu mencintai budaya tanah air dalam sebagai upaya dalam melestarikan budaya tersebut. Terus terang menang baru satu versi yang pernah saya lihat dan itupun tidak punya rekamannya sendiri karena memang waktu itu tidak sengaja ketika main ketempat saudara di daerah Karangmojo Gunungkidul kebetulan ada pementasan wayang beber ini, jadi ada kesempatan untuk bisa nonton, dan setelah itu ada yang cerita kalau model pementasannya sedikit berbeda dengan Versi Pacitan, setelah bertanya kesana kemari termasuk juga mencoba searching eh.. ternyata perbedaan yang paling mencolok adalah POSISI DALANG waktu mementaskan Wayang Beber ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bentuk jenis wayang beber itu sendiri, sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><img style="border:0;" src="http://www.cincopa.com/media-platform/api/thumb.aspx?fid=+AsAAnfa4YKP1&#038;size=large" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dan ada juga contoh pementasan Wayang Beber dengan nuansa modern yang disajikan dengan mengikuti perkembangan jaman dan secara kebetulan yang mementaskan adalah salah satu Putra Bang Haji Rhoma Irama, seperti dalam video berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=5pjZNRlNZ-w&#38;feature=related" target="_blank"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/5pjZNRlNZ-w&#38;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/5pjZNRlNZ-w&#38;feature"></embed></object></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=5pjZNRlNZ-w&#38;feature=related" target="_blank">Pementasan Wayang Beber</a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika melihat dan mengamati cuplikan pementasan Wayang Beber tersebut diatas, tentunya Wayang Beber akan lebih bisa di kembangkan dan dimodifikasi dengan tanpa meninggalkan pakem-pakem dasar dari Wayang Beber dengan harapan dapat terus lestari dan banyak anak=anak muda untuk mencintai dan melestarikan budaya yang begitu mempesona demikian tulisan ini semoga bermanfaat, terima kasih</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/pementasan-wayang-beber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wayang Beber</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 08:32:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Wayang, sebuah pertunjukkan seni budaya penuh dengan petuah dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan pada semua pribadi orang jawa, namun modernisasi telah menjadikan kesenian wayang sedikit terpinggirkan, apalagi anak-anak muda sekarang kurang menyukai kesenian Wayang, dari jenis serta bentuk Wayang begitu banyak, jika yang sering dilihat dan didengar tentunya semacam Wayang Kulit, Wayang Golek, Wayang Potehi dan Wayang Orang, karena memang masih lumayan eksis di saat ini. Ada satu jenis wayang yang terancam punah karena memang hanya tinggal  dua di Dunia, dan ternyata salah satunya terletak di daerah kelahiran saya di Gunungkidul Yogyakarta. <strong>Wayang Beber</strong> namanya, disebut <strong><em>Wayang Beber karena karena berupa lembaran lembaran (beberan) yang dibentuk menjadi tokoh-tokoh dalam cerita wayang yang dimainkan sang Dalang.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em><span id="more-831"></span></em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kapan Wayang Beber ini mulai ada.. ?? setidaknya terdapat beberapa versi keterangan menyebutkan angkat tahun berbeda yang tentunya ketiga keterangan tersebut memiliki dasar tersendiri.</p>
<ol>
<li>Wayang Beber mulai ada sejak tahun 1283 dengan kisah andalan Panji Asmara Bangun; <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_beber" target="_blank">(source)</a></li>
<li>Wayang Beber mulai ada sejak tahun <a href="http://jogja.tribunnews.com/2011/01/07/wayang-beber-tinggal-dua-buah-di-dunia" target="_blank">(1727 &#8211; 1749)</a>, diyakini sebagai peninggalan Paku Bowono II.</li>
<li>Wayang Beber mulai ada sejak tahun <a href="http://wayang.wordpress.com/2010/07/23/wayang-beber-2/" target="_blank">1416 Zaman Majapahit</a> dalam bahasan yang lain tersebut pula <a href="http://wayang.wordpress.com/2006/10/27/wayang-beber/" target="_blank">tahun 1361 Masehi atau tahun 1283 Saka</a>.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Dari ketiga keterangan diatas memang diperlukan penelitian lebih lanjut sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kapan sebenarnya Wayang Beber mulai ada. Dan untuk lebih melestarikan Wayang Beber tersebut tentunya diperlukan sebuah kepedulian dan karya nyata dari para generasi bangsa agar kesenian tersebut tetap dapat lestari.  Beberapa sumber yang pernah saya baca disebutkan bahwa  Wayang Beber  hanya ada dua versi yaitu :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Wayang Beber Wonosari; untuk versi Wonosari pementasan wayang beber Dalang berada di depan Gambar Wayang, dengan alat penunjuk dalang akan menujuk tokoh-tokoh yang ia mainkan. Wayang Beber  Gelaran terdiri atas <em>empat lembar gulungan yang terbuat dari kulit  kayu pohon melinjo</em>. Wayang ini dipentaskan oleh dalang dengan cara  ditunjuk dan dibantu dua <em>parogo </em>yang bertugas memegangi dua  ujung gulungan wayang beber di sisi kanan dan kiri. Wayang ini berbeda  dengan wayang purwa yang cukup dimainkan oleh satu dalang. Wayang Beber yang ada di Wonosari Gunungkidul DI Yogyakarta mempunyai  nama: Wayang Beber Kyai Remeng Mangunjaya. Pemiliknya adalah keturunan  ke tujuh dari Kyai Remeng Mangunjaya yaitu Ki Supar.</li>
<li style="text-align: justify;">Wayang Beber Pacitan; versi Pacitan ini pementasan wayang Dalang berada di belakang Wayang yang di beber tersebut; Wayang Beber hanya dipentaskan untuk upacara ruwatan atau nadar saja.  Wayang ini berbentuk lukisan di atas kertas, dengan roman seperti  wayang kulit purwa hanya kedua matanya nampak. Sikap wayang  bermacam-macam, ada yang duduk bersila, sedang berjalan, sedang  berperang dan sebagainya. Lukisan wayang beber berjumlah 6 gulung, dan  tiap gulung berisi 4 jagong atau adegan, yang terbuat dari kulit pohon ponorogo</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Untuk melestarikan tersebut tidak harus mampu memainkan Wayang Beber akan tetapi dengan mencoba mengetahui, lalu menyukai dan mencintai akan seni Wayang Beber dengan harapan kita akan dapat memahami isi cerita dari Wayang Beber tersebut, sudah lebih dari cukup, dengan kecanggihan teknologi tentunya kita dapat saling share informasi tentang Wayang Beber ini sehingga tidak akan punah oleh usia, karena dari tulisan dan informasi yang kita sajikan tentunya akan banyak orang yang berusaha untuk mengetahui dan mempelajari Wayang Beber ini, dan jika ada yang memiliki kepiawaian dalam melukis dan menggambar bukan tidak mungkin dengan upaya melestarikan Wayang Beber ini akan dapat meningkatkan taraf hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wayang Beber hanya tinggal dua di dunia ini tersimpan dengan bagus dan terawat  baik, masing-masing dipelihara dan dilestarikan dengan baik oleh yang memiliki dan warga sekitarnya. Satu terdapat di Dusun Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, namun tidak setiap waktu dapat dilihat untuk dapat melihat Wayang Beber Gelaran ini kita dapat mengunjungi Taman Budaya Yogyakarta karena disana ada duplikasinya.  Sedangkan satu-nya lagi terdapat di Desa Karang Talun Kelurahan Kedompol Kecamatan Donoroko Kabupaten Pacitan.  Kedua Wayang Beber tersebut adalah asli karena memang berasal dari satu tempat yaitu Keraton Kasunan Surakarta, dan dari kedua Wayang tersebut memang ada perbedaan dan persamaannya seperti tersebut diatas.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/wayang-beber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Mengapa Saya Begitu Menyukai Ketokohan Yudishtira</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 14:09:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=589</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-4.png" alt="" /> <img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AMPIND%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-5.png" alt="" /><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-590" title="Yudis" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/07/Yudis1.jpg" alt="" width="87" height="124" /></a>Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu  tokoh protagonis  dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang  raja yang memerintah  kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di  Hastinapura. Ia merupakan  yang tertua di antara lima Pandawa, atau para  putera Pandu. Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu”  dan memiliki  julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan  nama Kerajaan  Amarta.    <strong> </strong>Nama Yudistira dalam  bahasa  Sanskerta bermakna “teguh atau kokoh dalam peperangan”. Ia juga  dikenal  dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna “raja Dharma”, karena  ia  selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-589"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Beberapa  julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:</p>
<ul>
<li>Ajatasatru,  “yang tidak memiliki musuh”.</li>
<li>Bharata, “keturunan Maharaja  Bharata”.</li>
<li>Dharmawangsa atau Dharmaputra, “keturunan Dewa  Dharma”.</li>
<li>Kurumukhya, “pemuka bangsa Kuru”.</li>
<li>Kurunandana,  “kesayangan Dinasti Kuru”.</li>
<li>Kurupati, “raja Dinasti Kuru”.</li>
<li>Pandawa,  “putera Pandu”.</li>
<li>Partha, “putera Prita atau Kunti”.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Beberapa di antara nama-nama di atas juga  dipakai oleh tokoh-tokoh  Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma,  dan Duryodana. Selain  nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa  masih terdapat beberapa  nama atau julukan yang lain lagi untuk  Yudistira, misalnya:</p>
<ul>
<li>Puntadewa,  “derajat keluhurannya setara para dewa”.</li>
<li>Yudistira, “pandai  memerangi nafsu pribadi”.</li>
<li>Gunatalikrama, “pandai bertutur  bahasa”.</li>
<li>Samiaji, “menghormati orang lain bagai diri sendiri”.</li>
</ul>
<p><strong>Sifat  dan kesaktian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sifat-sifat  Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya,  sebagaimana telah  disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol  adalah adil, sabar,  jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya  diri, dan berani  berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata  terutama dalam hal  memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi  pewayangan Jawa lebih  menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia  pernah dikisahkan  menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan  hanya meraba  kepala mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dalam  pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus  Kalimasada, Tunggulnaga,  dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa  kitab, sedangkan  Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka  utama kerajaan  Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud  kalung yang  terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah  pemberian  Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman  pemerintahan Pandu.  Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia  pun meraba kalung  tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi  raksasa besar  berkulit putih bersih.</p>
<p><strong>Kelahiran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira adalah putera tertua pasangan  Pandu dan Kunti. Kitab  Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa  mengisahkan tentang kutukan  yang dialami Pandu setelah membunuh  brahmana bernama Resi Kindama tanpa  sengaja. Brahmana itu terkena panah  Pandu ketika ia dan istrinya sedang  bersanggama dalam wujud sepasang  rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi  Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa  kelak ia akan mati ketika mengawini  istrinya. Dengan penuh penyesalan,  Pandu meninggalkan tahta Hastinapura  dan memulai hidup sebagai pertapa  di hutan demi untuk mengurangi hawa  nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti  dan Madri dengan setia mengikutinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada  suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak.  Kunti yang  menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan  suaminya  itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk  mendapatkan  putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil  mendatangkan Dewa  Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa  melalui  persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan   demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian   Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah  yang  kemudian diwarisi oleh Yudistira sepanjang hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Versi pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda.  Menurut versi ini,  Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di  istana Hastinapura.  Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong  kelahiran Puntadewa  dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa  tersebut, Puntadewa  lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan  Jawa, nama Puntadewa  lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira  baru digunakan setelah ia  dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan  Puntadewa sebagai seorang  manusia berdarah putih, yang merupakan  kiasan bahwa ia adalah sosok  berhati suci dan selalu menegakkan  kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Masa kecil dan  pendidikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira dan  keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal  dunia.  Adapun kelima putera Pandu itu terkenal dengan sebutan para  Pandawa,  yang semua lahir melalui mantra Adityahredaya. Kedatangan para  Pandawa  membuat sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin Duryodana  merasa  cemas. Putera-putera Dretarastra itu takut kalau Pandawa sampai   berkuasa di kerajaan Kuru. Dengan berbagai cara mereka berusaha   menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat.   Di lain pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya   tidak membalas perbuatan para Korawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan  tata  negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira  tampil  sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila  tahta  Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu,  Pandawa  dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam  pendidikan kedua  ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai,  terutama dalam  ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih  terampil dalam  menggunakan senjata tombak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Konflik memperebutkan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya  meninggal dunia, tahta  Hastinapura untuk sementara dipegang oleh  kakaknya, yaitu Dretarastra,  ayah para Korawa. Ketika Yudistira  menginjak usia dewasa, sudah tiba  saatnya bagi Dretarastra untuk  menyerahkan tahta kepada Yudhisthira,  selaku putera sulung Pandu.  Sementara itu putera sulung Dretarastra,  yaitu Duryodana berusaha keras  merebut tahta dan menyingkirkan Pandawa.  Dengan bantuan pamannya dari  pihak ibu, yaitu Sangkuni, Duryodana  pura-pura menjamu kelima sepupunya  itu dalam sebuah gedung di  Waranawata, dimana gedung itu terbuat dari  bahan yang mudah terbakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika  malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat para Pandawa  dan Kunti,  ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri  karena  rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu  Widura adik  Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos  dari maut.  Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman  sulit.</p>
<p><strong>Pernikahan dengan Dropadi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lolos dari jebakan maut Korawa,  para Pandawa dan Kunti pergi  melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal  sementara di kerajaan Panchala.  Arjuna berhasil memenangkan sayembara  di kerajaan tersebut dan  memperoleh seorang puteri cantik yang bernama  Dropadi. Tanpa sengaja  Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima.  Akibatnya, Dropadi pun  menjadi istri kelima Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi  melahirkan Pratiwindya,  dari Bima lahir Sutasoma, dari Arjuna lahir  Srutasena, dari Nakula lahir  Satanika, dan dari Sadewa lahir  Srutakirti.</p>
<p style="text-align: justify;">Versi Jawa menyebut  Dropadi dengan nama “Drupadi”. Menurut pewayangan  Jawa, setelah  memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu  kepada Puntadewa  selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun  setelah didesak  oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia  menikahi  Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putera bernama  Pancawala.  Jadi, menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima  Pandawa,  sedangkan menurut versi Jawa, ia hanya menikah dengan  Yudistira  seorang.</p>
<p><strong>Raja Indraprastha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa  kembali ke Hastinapura dan  memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari  pihak Duryodana. Persaingan  antara Pandawa dan Korawa atas tahta  Hastinapura kembali terjadi. Para  sesepuh akhirnya sepakat untuk  memberi Pandawa sebagian dari wilayah  kerajaan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Korawa yang licik mendapatkan istana  Hastinapura, sedangkan Pandawa  mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai  tempat untuk membangun istana  baru. Meskipun daerah tersebut sangat  gersang dan angker, namun para  Pandawa mau menerima wilayah tersebut.  Selain wilayahnya yang seluas  hampir setengah wilayah kerajaan Kuru,  Kandawaprastha juga merupakan  ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum  Hastinapura. Para Pandawa  dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan  Baladewa, dan berhasil membuka  Kandawaprastha menjadi pemukiman baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Pandawa kemudian memperoleh  bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli  bangunan dari kahyangan, dan juga  Anggaraparna dari bangsa Gandharwa.  Maka terciptalah sebuah istana  megah dan indah bernama Indraprastha,  yang bermakna “kota Dewa Indra”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemerintahan Yudistira versi  pewayangan Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembangunan  kerajaan Amarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/upacararajasuyadiindraprastha.jpg?w=225&#38;h=303" alt="Upacara Rajasuya di Indraprastha" hspace="4" width="225" height="303" align="right" />Dalam versi  pewayangan Jawa, nama Indraprastha  lebih terkenal dengan sebutan  kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan  yang dibuka para Pandawa bukan  bernama Kandawaprastha, melainkan  bernama Wanamarta.</p>
<p>Versi Jawa  mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak  kembali ke  Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat  mereka  yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang  bersimpati pada  pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka  kawasan hutan tak  bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan  baru. Hutan Wanamarta  dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin  oleh lima bersaudara,  bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad,  dan Sapulebu.  Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami  banyak  rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para  makhluk  halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke  alam  nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat  adiknya  menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing  menyatu ke  dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja  Amarta setelah  didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk  mengenang dan  menghormati raja jin yang telah memberinya istana,  Puntadewa pun memakai  gelar Prabu Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Anugerah Ketentraman</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa  berusaha keras untuk  memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita  bahwa barang siapa yang  bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang  bernama Dewi  Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi  makmur dan  sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk  memiliki seorang  istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya  menikah lagi demi  kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju  Kerajaan Slagahima. Di  istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak  raja dan pangeran yang  datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri  hanya sudi menikah  dengan seseorang yang berhati suci, dan ia  menemukan kriteria itu dalam  diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten  tiba-tiba musnah dan menyatu ke  dalam diri Puntadewa. Sebenarnya  Kuntulwinanten bukan manusia asli,  melainkan wujud penjelmaan anugerah  dewata untuk seorang raja adil yang  hanya memikirkan kesejahteraan  negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima  yang asli bernama  Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa  dan diangkat  sebagai patih di kerajaan Amarta.</p>
<p><strong>Upacara  Rajasuya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kitab Mahabharata  bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat  Yudistira untuk  menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan  dharma dan  menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula,  dan Sadewa  memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha  (India  Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara  agung  tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat yang sama,  seorang raja angkara murka juga mengadakan  upacara mengorbankan seratus  orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda  dari kerajaan Magadha.  Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan  didampingi Kresna sebagai  penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya,  melalui sebuah  pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah semua persyaratan terpenuhi,  Yudistira melaksanakan upacara  Rajasuya yang dihadiri sekian banyak  kaum raja dan pendeta. Dalam  kesempatan itu, Yudistira ditetapkan  sebagai Maharajadhiraja. Kemudian  muncul seorang sekutu Jarasanda  bernama Sisupala yang menghina Kresna di  depan umum. Setelah melewati  penghinaan ke-100, Krishna akhirnya  memenggal kepala Sisupala di depan  umum.</p>
<p><strong>Kehilangan kerajaan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/permainandaduantarapandawadankorawa.jpg?w=360&#38;h=265" alt="permainan dadu antara Pandawa dan  Korawa" hspace="4" width="360" height="265" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan dari  Punjab, dibuat sekitar abad ke-18,  menggambarkan suasana aula permainan  dadu antara Pandawa dan Korawa.  Tampak dalam gambar, Dropadi yang  berusaha ditelanjangi oleh Dursasana.  Di sebelah kiri bawah, tampak  kelima Pandawa sedang diam menerima  kekalahannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya,  Duryodana sangat kagum  sekaligus iri menyaksikan keindahan istana  Indraprastha. Timbul niatnya  untuk merebut kerajaan itu, apalagi  setelah ia tersinggung oleh ucapan  Dropadi dalam sebuah pertemuan.  Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan  memanfaatkan kegemaran  Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira  memang seorang ahli agama,  namun di sisi lain ia sangat menyukai  permainan tersebut. Undangan  Duryodana diterimanya dengan baik.  Permainan dadu antara Pandawa  melawan Korawa diadakan di istana  Hastinapura. Mula-mula Yudistira  hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun  semuanya jatuh ke tangan Duryodana  berkat kepandaian Sakuni dalam  melempar dadu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua   hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun dengan   susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap   mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya   pun jatuh pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya   Yudistira sendiri. Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah   kehilangan kemerdekaannya untuk melanjutkan permainan, dengan   mempertaruhkan Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan  umum terdengar oleh  Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar  Duryodana menghentikan  permainan dan mengembalikan semuanya kepada  Pandawa. Dengan berat hati,  Duryodhana terpaksa mematuhi perintah  ibunya itu. Duryodana yang kecewa  kembali menantang Yudistira beberapa  waktu kemudian. Kali ini  peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah  harus menyerahkan negara  beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan  selama 12 tahun serta  menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan.  Apabila penyamaran itu  terbongkar, maka wajib mengulangi lagi  pembuangan selama 12 tahun dan  menyamar setahun, begitulah seterusnya.  Akhirnya berkat kelicikan  Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan  untuk yang kedua kalinya.  Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi  menjalani masa pembuangan mereka  di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kehidupan dalam Pembuangan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam  menjalani masa pembuangan  selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada  jilid ketiga kitab Mahabharata  yang dikenal dengan sebutan Wanaparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira yang merasa paling  bertanggung jawab atas apa yang menimpa  keluarga dan negaranya berusaha  untuk tetap tabah dalam menjalani  hukuman. Ia sering berselisih paham  dengan Bima yang ingin kembali ke  Hastinapura untuk menumpas para  Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap  tunduk dan patuh terhadap  perintah Yudistira supaya menjalani hukuman  sesuai perjanjian.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika para Korawa datang ke dalam  hutan untuk berpesta demi  menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka  justru berselisih dengan  kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam  peristiwa itu Duryodana  tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi,  Yudistira justru mengirim Bima  dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia  mengancam akan berangkat sendiri  apabila kedua adiknya itu menolak  perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu  berhasil membebaskan Duryodana.  Niat Duryodana datang ke hutan untuk  menyiksa perasaan para Pandawa  justru berakhir dengan rasa malu luar  biasa yang ia rasakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa lain yang terjadi adalah  penculikan Dropadi oleh Jayadrata,  adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna  berhasil menangkap Jayadrata dan  hampir saja membunuhnya. Yudistira  muncul dan memaafkan raja kerajaan  Sindu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peristiwa telaga beracun</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari menjelang berakhirnya  masa pembuangan, Yudistira dan  keempat adiknya membantu seorang  brahmana yang kehilangan peralatan  upacaranya karena tersangkut pada  tanduk seekor rusa liar. Dalam  pengejaran terhadap rusa itu, kelima  Pandawa merasa haus. Yudistira pun  menyuruh Sadewa mencari air minum.  Karena lama tidak kembali, Nakula  disuruh menyusul, kemudian Arjuna,  lalu akhirnya Bima menyusul pula.  Yudistira semakin cemas karena  keempat adiknya tidak ada yang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai  mereka  telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang  mengaku  sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat  Pandawa tewas  keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab  pertanyaan sang  raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan  Sang Raksasa untuk  bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan  berhasil ia jawab.  Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia  hanya sanggup  menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira  memilih Nakula  untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula  adalah adik tiri,  bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya  harus berlaku adil.  Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri.  Karena Yudistira lahir  dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup  kembali harus putera yang  lahir dari Madri, yaitu Nakula.</p>
<p style="text-align: justify;">Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira.  Ia pun kembali ke wujud  aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya  dengan menyamar sebagai rusa  liar dan raksasa adalah untuk memberikan  ujian kepada para Pandawa.  Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira,  maka tidak hanya Nakula yang  dihidupkan kembali, melainkan juga Bima,  Arjuna, dan Sadewa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira  dalam masa penyamaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan  Dropadi  kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat   persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh   Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau   Wirataparwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira menyamar  dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai  kusir kereta Raja Wirata.  Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak,  Arjuna menjadi Wrihanala  sebagai banci guru tari, Nakula menjadi  Damagranti sebagai tukang kuda,  Sadewa menjadi Tantripala sebagai  penggembala sapi, sedangkan Dropadi  menjadi Sailandri sebagai dayang  istana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa  serangan  kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan  kerajaan  Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha,  sekutu  Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam  keadaan  terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata  yang  ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna)  sebagai  kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil  menghadapi  pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil  memukul  mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu,  pasukan Wirata  juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata  dengan bangga  memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan  para Korawa  seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci  kemenangan  Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung  dan memukul  kepala Kanka sampai berdarah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan,  bukan nama  orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan  tersebut,  Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu  kota  bernama Dwijakangka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat  batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan  Dropadi  pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat   menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan   menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta   Indraprastha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yudistira saat  Bharatayuddha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika para  Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang  seharusnya mereka  terima, Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia  tidak mau  menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai   dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan,   Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa   saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana berusaha   membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang antara Pandawa dan Korawa tidak  dapat lagi dihindari. Para  pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan  nama Bharatayuddha.  Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar  tersebut ditemukan  pada jilid keenam sampai kesepuluh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Awal pertempuran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa  sebelum perang hari pertama  dimulai, Yudistira turun dari keretanya  berjalan kaki ke arah pasukan  Korawa yang berbaris di hadapannya.  Duryodana mengejeknya sebagai  pengecut yang langsung menyerah begitu  melihat kekuatan Korawa dan  sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudistira  bukan untuk menyerah,  melainkan meminta doa restu kepada empat sesepuh  yang berperang di pihak  lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa, Drona, dan  Salya. Keempatnya  mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu  saja membuat  Duryodana sakit hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira  kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang  ingin pindah  pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang  pindah justru  adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama  Yuyutsu, yang  bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama  Pandawa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertempuran melawan Drona</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bisma memimpin pasukan Korawa selama  sepuluh hari. Setelah ia  tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona,  yang mendapat amanat dari  Duryodana supaya menangkap Yudistira  hidup-hidup. Drona senang atas  tugas tersebut, padahal niat Duryodana  adalah menjadikan Yudistira  sebagai sandera untuk memaksa para  pendukungnya menyerah. Berbagai cara  dilancarkan Drona untuk menangkap  Yudistira. Tidak terhitung banyaknya  sekutu Pandawa yang tewas di  tangan Drona karena melindungi Yudistira,  misalnya Drupada dan Wirata.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya pada hari ke-15, penasihat  Pandawa, yaitu Kresna menemukan  cara untuk mengalahkan Drona, yaitu  dengan mengumumkan berita kematian  seekor gajah bernama Aswatama.  Aswatama juga merupakan nama putera  tunggal Drona. Kemiripan nama  tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk  menipu Drona. Atas perintah  Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan  berteriak mengumumkan  kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian  Aswatama. Ia segera  mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai  manusia paling jujur  untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut.  Yudistira terpaksa  bersikap tidak jujur. Ia membenarkan berita kematian  Aswatama tanpa  berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan  putera Drona.</p>
<p style="text-align: justify;">Jawaban Yudistira itu membuat Drona  jatuh lemas. Ia membuang semua  senjatanya dan duduk bermeditasi.  Tiba-tiba saja Drestadyumna putera  Drupada mendatanginya dan kemudian  memenggal kepalanya dari belakang.  Drona pun tewas seketika. Dalam  peristiwa ini yang paling merasa  bersalah adalah Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi Jawa, nama gajah yang dibunuh  Bima bukan Aswatama,  melainkan Hastitama. Ketika Drona menanyakan hal  itu, Puntadewa menjawab  bahwa yang mati adalah Hastitama, namun dengan  suara yang sangat pelan.  Akibatnya, terdengar oleh Drona bahwa yang  mati adalah Aswatama.  Selanjutnya, Drona yang lengah pun tewas  dipenggal Drestadyumna.</p>
<p><strong>Pertempuran  melawan Salya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salya adalah  kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena  tipu daya  mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh  Duryodana.  Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno  mengisahkan bahwa Salya  memakai senjata bernama Rudrarohastra,  sedangkan Yudistira memakai  senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka  Yudistira yang berupa kitab itu  dilemparkannya dan tiba-tiba berubah  menjadi tombak menembus dada Salya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara  itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu  Candabirawa  berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai  jumlahnya justru  bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta.  Candabirawa  lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi  Bagaspati,  yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa  melepaskan  Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya  pun tewas  seketika.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tantangan bagi  Duryodana</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kehabisan  pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga.  Kelima Pandawa  didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu.  Duryodana pun naik ke  darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus.  Yudistira menolak  tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat  pengecut dengan  cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika  membunuh Abimanyu  pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan  bertarung satu  lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa.  Apabila ia  kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa.  Sebaliknya  apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira  yang seolah-olah memberi  kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi,  padahal kemenangan Pandawa  tinggal selangkah saja. Dalam hal ini  Yudistira justru menyalahkan Bima  yang dianggap kurang percaya diri.  Duryodana meskipun bersifat angkara  murka namun ia juga seorang  pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan  perang tanding, yang paling  gagah di antara kelima Pandawa. Setelah  pertarungan sengit terjadi  cukup lama, akhirnya menjelang senja  Duryodana berhasil dikalahkan dan  kemudian menemui kematiannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Maharaja  dunia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah perang  berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk  memuliakan  mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja  Hastinapura  sekaligus raja Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima   Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang   adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para Korawa   tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yudistira kemudian  menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu  upacara pengorbanan  untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh  dunia. Pada upacara  ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama  setahun. Arjuna  ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal  kuda tersebut.  Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda  tersebut harus  memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya semuanya memilih membayar upeti.  Sekali lagi Yudistira pun  dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah  Upacara Rajasuya dahulu.</p>
<p><strong>Lengser  lalu naik ke sorga</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" src="http://tokohwayang.files.wordpress.com/2009/11/yudhishthhira-leaves.jpg?w=300&#38;h=233" alt="Yudhishthhira-leaves" hspace="4" width="300" height="233" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lukisan Yudistira yang sedang  mendaki gunung  Himalaya sebagai perjalanan terakhirnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan  wafatnya Kresna, Yudistira dan  keempat adiknya mengundurkan diri dari  urusan duniawi. Mereka  meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat  keterikatan untuk  melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi  Bharatawarsha lalu menuju  puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya,  Yudistira menemukan anjing dan  kemudian hewan tersebut menjdi  pendamping perjalanan Pandawa yang  setia. Saat mendaki puncak, satu per  satu mulai dari Dropadi, Sadewa,  Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal  dunia. Masing-masing terseret oleh  kesalahan dan dosa yang pernah  mereka perbuat. Hanya Yudistira dan  aningnya yang berhasil mencapai  puncak gunung, karena kesucian hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput  Yudistira  untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun,  Indra  menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan  tersebut  tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira  menolak masuk  swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra  merasa heran  karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan  Dropadi tanpa  mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun  lebih memilih  untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira  menjawab bahwa  bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah  yang meninggalkan  dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesetiaan  Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli  yaitu Dewa  Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta  Indra.  Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada  justru  Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara  murka.  Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya   sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk   neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang   disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya  ngeri.  Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil  menguasai  diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil.  Yudistira  memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik  hidup tersiksa  bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada  bergembira di sorga  namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba  pemandangan berubah  menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa  sekali lagi Yudistira  lulus ujian. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu,  Pandawa Lima dan para  pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni  Surga, sementara para  korawa akan menjalani siksaan yang kekal di  neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut versi pewayangan  Jawa, kematian para Pandawa terjadi  bersamaan dengan Kresna ketika  mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar.  Namun, versi ini kurang begitu  populer karena banyak dalang yang lebih  suka mementaskan versi  Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana  dikisahkan di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Salinan dari :  http://tokohwayang.wordpress.com &#8212;&#62;&#62; terima kasih kepada pemilik  situs atas tulisannya.</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/inilah-mengapa-saya-begitu-menyukai-ketokohan-yudishtira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngabekti Dumateng Tiyang Sepuh Ngupadi Kebahagiaan Ing Agesang.. !</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/ngabekti-dumateng-tiyang-sepuh-ngupadi-kebahagiaan-ing-agesang/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/ngabekti-dumateng-tiyang-sepuh-ngupadi-kebahagiaan-ing-agesang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 02:24:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Foto009.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-515" title="Foto009" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2010/03/Foto009-225x300.jpg" alt="" width="81" height="108" /></a>Wonten ing agesang kita tansah ngadahi pengajeng-ajeng ingkang inggil lan menika sampun kinodratring menungsa bilih raos dereng cekap lan dereng rumaos marem dumateng menapa ingkang sampun dipun gadhahi sak menika, sak jatosipun raos kebahagiaan menika sanes raos marem (mongkog ing manah) amargi sedaya panjangkaning kajeng saget kasembadan ananging kebahagiaan gesang ingkang sejati inggih menika kados pundi kita saget mensyukuri dumateng menapa ingkang sampun kita raosaken sak meniko. Dados anggadahi raos syukur dumateng sedaya ingkang sampun saget kita nikmati menika sak jatosipun kebahagiaan ing agesang.</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-514"></span>&#8220;<strong>bahwa kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup bukanlah terpenuhinya semua keinginan akan tetapi bagaimana kita mensyukuri apa yang telah kita nikmati selama ini.&#8221; </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sanesipun menika menawi anggadahi pepinginan supados nglampahi gesang saget, tata tentrem, raharja ugi  kasembadan ingkang dados panjangkaning gesang namung cekap gangsal perkawis kedhah saget kita sami lampahi :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Ingkang Kapisan inggih menika, komunikasi kaliyan tiyang sepah kekalih kanthi sae, wonten ing hadits dipun sebataken bilih maringi dumateng tiyang mu&#8217; min salah setunggalipun kanthi  shadaqah, lakung utami maringi lan mbagi kebahagiaan ugi raos bungah dumateng tiyang sepah kekalih.   Wonten ing ular-ular rikala dados pinanganten dipun aturaken bilah kakung kedah tumindak sae lan tresno dumateng pawestri, mila meniko dumaten tiyang sepah kekaleh kedah langkung sae lan langkung nresnani  dipun bandingaken dumateng pawestri. Karena ingkang nglairaken, nggulowentah, ndidik kitha sami ugi ingkang tansah maringi donga pangestu dumateng kita mboten sanes inggih tiyang sepah kekalih, menapa ingkang dipun paringaken tiyang sepah dumateng kita sami mboten saget dipun ganthos  kaliyan menopo kemawon.</li>
<li style="text-align: justify;">Ingkang angka Kalih, menawi rembakan kaliyan tiyang sepah kanthi ukura ingkang alus nglembah manah (lemah lembut). Temtunipun saget mbentenaken rembakan kaliyan tiyang sepah lan rembakan kaliyan anak, rencang, sederek lan utami kaliyan tiyang sanesipun.  Rembakan kanthi tembung ingkang sae dumateng tiyang sepah, ampun ngantos gadah pangucap &#8220;&#8221;ah&#8221;".. &#8220;&#8221;ugh&#8221;" menapa malih ngantos miyos tembung ingkang ndamel manahipun tiyang sepah ngantos muwun, kuciwa, menawi ngantos kelampahan, wal iya ‘udzubillah. Ampun ngantos wicanten ingkang kasar dumateng tiyang sepah kekalih, kados menapa tumindakipun tiyang sepah dumateng kita, umpami tiyang sepah ngantos tumindak jahat dumateng kita, utawi wonten hak kita ingkang  ditahan kaliyan tiyang sepah utawi tiyang sepah ngantos nglarani kita ampun ngantos kita tumindak durhana dumateng tiyang sepah.</li>
<li style="text-align: justify;"> Ingkang Kaping Tiga inggih meniko tansah Tawadlu (rendah diri), ampun kikir (sombong) umpami sampun kasembadan menapa ingkang sampun dipun kajengaken utawi sampun nggadahi jabatan ing ngalam donya menapa maleh ngantos supe dumateng tiyang sepah, karena rikala lair kita menika wonten ing kawontenan ingkang hina ugi mbetahaken pitulungan. Tiyang sepah kekalih ingkang maringi pitulungan dumateng kita maringi sedaya ingkang kita sami betahaken (unjuk-an, dahar-an saha pakaian ugi panggenan ingkan sae).  saumpami kita nindakaken pendamelan ingkang kita anggep entheng ugi ngremehaken kita ingkang mbok bilih mboten cocok kaliyan kesuksesan utawi jabatan kita lan mboten ka-golongaken tumindak haram,  hukumipun wajib dumaten kita sami tansah taat lan sendiko dawuh dumateng tiyang sepah. Dipun lampahi kanthi manah ingkang remen, amargi mboten ndadosaken mandapipun drajat kita sami.  Injih meniko salah setunggalipun kesempatan kita tumindak sae dumateng tiyang sepuh mumpung taksih sugeng.</li>
<li style="text-align: justify;">Ingkang Kaping Papat, tansah maringi infak (shadaqah) dumateng tiyang sepah, amargi bandha donya ingkang kula panjenengan gadahi menika kagunganipun tiyang sepah ugi, pramila menawi anggadahi rejeki ingkang luwih, ingkang paling utami inggih menika paring nafkah dumateng tiyang sepah kekalih, nembe dumateng sedherek lan tiyang-tiyang ingkan mbetahaken.</li>
<li style="text-align: justify;">Ingkang Kaping Gangsal inggih meniko tansah nyuwunaken do&#8217; a dumateng Gusti Allah SWT katur dumateng tiyang sepah kekalih kados ingkan kesabat wonte ing salah setunggaling ayat “Robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro” (Duh Gusti Allah Ingkan Kuasa mugi ngapunten-o kulo, tuwin Ibu lan Rama ingkang nggulawentah kulo wiwit alit ngantos dewasa).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Sak-umpama tiyang sepah sampun tilar donya,  bab-bab ingkang saget kita lampahi kagem ngabekti dumateng tiyang sepah inggih meniko :</p>
<ul>
<li>Ndo&#8217; aken tiyang sepah kekalih;</li>
<li>Nyolataken rikala tiyang sepah tilar donya surup ing kasedan jati;</li>
<li>Tansah nyuwunaken pangapunten kagem kekalihipun</li>
<li>Nglunasi utang-utang-ipun</li>
<li>Nindakaken menapa ingkang sampun dipun wasiataken ingkang mboten nerak  syari’at.</li>
<li>Tansah nyambung tali silaturrahmi dumateng sinten kemawon ingkang tiyang sepah ugi nate anggadahi silaturahim</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Insya allah kanthi nglampahi punapa ingkang katur ing ngajeng gesang kita sami saget ayem tentram, raharja, ugi kasembadan punapa ingkang dados pangajeng-ajeng kula sami, karana kanthi doa lan pangestu tiyang sepah menapa ingkang dados pepinginan kita sami saget kasembadan, mugi seratan menika wonten manfaatipun kagem kula pribadi khususipun lan para maos umum-ipun, matur suwun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber (Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam &#8211; Jakarta)</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/ngabekti-dumateng-tiyang-sepuh-ngupadi-kebahagiaan-ing-agesang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nglampahi MALIMA, Ngupadi Tentreming Bebrayan</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/nglampahi-malima-ngupadi-tentreming-bebrayan/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/nglampahi-malima-ngupadi-tentreming-bebrayan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 02:04:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Malima.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-398" title="Malima" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Malima.jpg" alt="" width="93" height="105" /></a>Asring mireng, ugi asring nyipati ukara utawi tembung MALIMA, wonten ing bebrayan jawi mireng tembung/ukara MALIMA tamtu wonten ing pengangen-angen badhe gadhahi pamanggih meniko babagan ingkang mboten sae, perkawis lumrah amargi ingkang dipun mangertosi MALIMA meniko, tindak tanduk ingkan mboten sae, mursal, nerak wewaler, ugi ngingkari punapa ingkang sampun dipun tuntunakaen dening agami menopo kemawon.  Sak jatosipun MALIMA sanes perkawis ingkang awon mawon, wonten MALIMA ingkang sae lan kedah dipun lampahi wonten ing bebrayan meniko, ananging tamtunipun kita sami kedah saget milah lan milih MALIMA ingkang pundhi ingkang badhe dipun lampahi. Pilihan wonten ing pribadi kula lan panjenengan piyambak-piyambak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-397"></span></p>
<p style="text-align: justify;">MALIMA ingkang dipun mangertosi dening masyarakat jawi umum-ipun inggih meniko :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>MA</strong> ingkang sepindah <strong>MALING</strong> (mencuri) inggih meniko tumindak mendet kagunganipun tiyang sanes tanpa nyuwun idhi palilah saking ingkang kagungan, ngakeni punapa ingkang sanes hak-ipun punika kalebet MALING.</li>
<li><strong>MA</strong> ingkang kaping kaleh <strong>MAIN</strong> (berjudi), main wonten ing bebrayan jawi mengku karep tumindak ingkang bebotohan, ngagem yatra utawi arta lan bondho sanesipun kagem mbotoh-i kegiatan menopo kemawon, umum-ipun main inggih meniko adu jago, toh-tohan, kertu, lan sak panunggalanipun;</li>
<li><strong>MA</strong> ingkang kaping ketiga <strong>MADAT</strong> (konsumsi obat terlarang), rikala rumiyin kasebat candu, jenewer umpami wonten-ing jaman modern niki MADAT sami kaliyan nyimeng, nganjan, nyabu lan ngepil, tumindak ingkang ngunsumsi NARKOBA;</li>
<li><strong>MA</strong> ingkang kaping sekawan <strong>MABUK</strong> (minum-minuman keras), tumindak nginum ngantum mendem, mabuk lan sak panunggalanipun;</li>
<li><strong>MA</strong> angka gansal inggih meniko <strong>MADON</strong> (main perempuan/selingkuh), tumindak cumanthoko ngrusak pager ayu, utami asring dolanan pinyantun pawestri, remen nglampahi hubungan lanang wadon ingkan mboten ngagem paugeraning agama lan negara, sex bebas.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>MALIMA</strong> ingkang kasebat ing nginggil ingkan kedah dipun singkiri wonten ing bebyaran kita sami, ampun ngantos dipun lampahi, njih gangsal perkawis ingkang ndamel rusak-ipun tatatanan ugi paugeranipun ngagesang, ndados-aken piyantuk ingkang numindakaken <strong>MALIMA</strong> gesang-ipun mboten saget tentrem, dipun tebihaken saking kebahagiaan donya lan akherat.</p>
<p style="text-align: justify;">Lajeng MALIMA kagem ngupadi tentreming bebrayan ingkang kulo kajengaken inggih meniko :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping sepindah <strong>MA-NEMBAH</strong> (berdoa) tansah nyenyuwun dumateng Gusti numindakaken sedoyo ingkang dipun wajib-aken dumateng titahipun menungsa supados tansah eling dumateng Penciptanipun, inggih Gusti Ingkang Akarya Jagad, agama menopo kemawon;</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping kaleh <strong>MA-KARYA</strong> (bekerja), nyambut damel kanthi sregep ugi halal kagem sangu gesang wontenipun ngalam donya ugi akherat, makarya kangge numindakaken jijibahan agung ing agesang.</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping tiga <strong>MA-NGABEKTI</strong> (berbakti), kita saget ngrasosaken gesang ing alam donya lumantar saking bapa biyung, sampun sak trepipun bilih darma-nipun putra dumateng tiyang sepah meniko wajib hukum-ipun.</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping sekawan <strong>MA-KUMPUL (srawung)..</strong> (bermasyarakat) tumrap sapadha-padha, gesang meniko mboten piyampak wonten rencang, sederek, keluarga ugi masyarakat, meningko makhluk sosial tamtunipun kedhah saget gesang kaliyan tiyang sanes, lir-ipun gesang wonten ing ngalam donya kedah saget srawung sae kaliyan sesami.</li>
<li><strong>MA</strong>, ingkang kaping gangsal <strong>MA-NGERTINI</strong> (mengerti, memahami) anak bojo lan keluarga, supados langkung tentrem wontening bebyaran meniko tamtunipun kedah saget, mbangun bale somah kanthi paugeran lan tatanan ingkang sae, kanthi rasa sih tresno ingkang tulus lan ikhlas hubungan antawis sederek ndadosaken pondasi ugi landasan kagem sesrawungan wontening masyarakat.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">MALIMA meniko ingkang saget dados landasan kagem ngupadi tentreming bebrayan wonten ing ngalam donya ing tembenipun kagem sangu wonten ing alam kelanggengan samangke. Kanthi mekaten MALIMA mboten mesti nggadahi pemanggih ingkang awon amargi MALIMA ingkang kula maksud meniko ingkang mengku karep sae. Mugi kita sami saget nglampahi kanthi sae lan ikhlas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mugi-mugi seratan meniko wonten manfaatipun dumateng kula ugi ingkang maos, wonten kirang langkung anggep kula nyerat mbok bilih namung agunging sih samudra pangraksami ingkang kathah dumateng para maos sedaya, matur suwun..</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/nglampahi-malima-ngupadi-tentreming-bebrayan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seberapa Perlu Prenuptial Agreement Dilaksanakan.. ??</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/378/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/378/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 00:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistiyana.web.id/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #000000;"><strong><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/wedding.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-379" title="wedding" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/wedding.jpg" alt="wedding" width="127" height="95" /></a>Prenuptial Agreement</strong></span><span style="color: #000000;"> secara singkat dapat kita definisikan sebagai <em>perjanjian yang dibuat oleh calon pasangan suami isteri yang akan menuju pada jenjang pernikahan</em>; Dan mungkin diantara kita </span><span style="color: #000000;">belum melakukannya</span><span style="color: #000000;"> atau bahkan </span><span style="color: #000000;"><strong>tabu untuk melakukannya.</strong></span><span style="color: #000000;">; tentunya sebelum melangkah pada jenjang pernikahan tanpa kita sadari sudah ada perjanjian pranikah tersebut meskipun secara tidak tertulis, nggak akan mungkin terjadi pernikahan tanpa ada kesepahaman dan kesepakatan antara calon pengantin khan. Nah.. yang dimaksudkan disini adalah perjanjian secara tertulis.<br />
<span id="more-378"></span><a href="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Tomy-tata.jpg"><img class="size-full wp-image-380 alignright" title="Tomy tata" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/12/Tomy-tata.jpg" alt="Tomy tata" width="124" height="99" /></a>Mungkin jika kita simak dan kita amati pada pemberitaan baik media elektronik atau surat kabar, banyak memberitakan tentang bagaimana para selebritis kita mengalami kegagalan dalam rumah tangga-nya sehingga berakhir pada perceraian; dan ternyata tidak berhenti sampai disitu saja, setelah cerai masih menyisakan masalah </span> <span style="color: #000000;"><strong>pembagian harta, hak pengasuhan anak,</strong></span><span style="color: #000000;">; Bisa jadi perceraian terjadi karena </span><span style="color: #000000;"><strong>ada kekerasan dalam</strong></span><span style="color: #000000;"><strong> rumah tangga merasa dikhianati dan sebagainya</strong></span><span style="color: #000000;"> mungkin hal ini tidak terjadi jika dibuat </span><span style="color: #000000;"><strong>prenuptial agreement.</strong></span><span style="color: #000000;">, tentunya masih hangat dalam ingatan kita kasus Pasha Ungu  dan Oky; Ahmad Dhani VS Maia; Anang VS  Krisdayanti, atau bahkan kasus-kasus para selebritis kita yang lainnya dan masih banyak lagi, dimana hal tersebut bisa dihindari dan diselesaikan jika ada kesepakatan antara kedua-nya sebelum menikah;</span></p>
<p style="text-align: justify;">Yang jelas  <span style="color: #000000;"><strong>Perjanjian Pranikah</strong></span><span style="color: #000000;"> tersebut dapat dipergunakan sebagai landasan dan rambu-rambu bagi setiap pasangan dalam mengarungi bahtera rumah tangga selain cinta, kasih dan sayang tentunya.  Jadi secara garis besar sebenarnya perlukah </span> <span style="color: #000000;"><strong>Prenuptial Agreement</strong></span><span style="color: #000000;"> dibuat : Jawabnya ada pada diri masing-masing individu khan; </span><span style="color: #000000;"><strong>May Be (Yes) May Be (No)</strong></span><span style="color: #000000;">, akan tetapi yang jelas dengan adanya <strong>Perjanjian Pranikah <em style="color: #ffff00;"></em></strong>menimal setiap pasangan mampu menjalani bahtera rumah tangga dan akan terhindar dari masalah-masalah yang terkadang mengganggu pada perjalanan bahtera itu, sehingga adanya <em>prenuptial agreement</em> dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada pernikahan (cerai contohnya).</span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apa yang bisa dimasukkan dalam  <span style="color: #000000;"><strong>perjanjian pranikah (prenuptial agreement)</strong></span><span style="color: #000000;">:</span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Tentang perlindungan hukum pada harta dan benda bawaan masing-masing;</li>
<li>Kesepakatan untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga;</li>
<li>Kesempatan untuk menghindari adanya poligami;</li>
<li>Hak perwalian anak jika terjadi perceraian;</li>
<li>Bisa juga berisi tentang kemungkinan perkembangan karier masing-masing.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Yang terpenting adalah isi yang dimasukkan dalam prenuptial agreement antara lain : <strong><span style="color: #000080;">&#8220;&#8221;semua hal yang menjadi kesepakatan antara dua pihak yang ingin menikah, yang tidak bertentangan dengan hukum agama, adat istiadat, kesusilaan dan tentunya tidak bertentangan dengan Undang-undang Perkawinan yang ada di negeri ini&#8221;"</span></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun pada kenyataannya  <span style="color: #000000;"><strong>prenuptial agreement</strong></span><span style="color: #000000;"> belum membudaya dinegeri ini, hal ini terjadi mungkin sebagian masyarakat di negeri ini memiliki beberapa alasan antara lain </span><span style="color: #000000;"><strong>karena masih dianggap kasar, materialistik, dan tidak etis pada adat ketimuran, belum mengganggap sebagai satu kebutuhan dan masih beranggapan bahwa hal itu hanya menumbuhkan rasa egoisme pribadi</strong></span><span style="color: #000000;">. Yang tentunya benar tidaknya </span><span style="color: #000000;"><strong>prenuptial agreement suatu kebutuhan dalam pernikahan atau memang hanya menifestasi egoisme pribadi akan tergantung pada masing-masing individu.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah.. tentunya bagaimana kita menyikapi dan melaksanakannya akan tergantung pada masing-masing individu.. mau mencoba&#8230; jika demi kebaikan  <span style="color: #000000;"><strong>Why Not.</strong></span><span style="color: #000000;"> Semoga memberi manfaat dan terima kasih</span></p>
<p><a rel=”nofollow” href=”javascript:window.print()”>Print This!</a></p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/378/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/ajining-dhiri-gumantung-saka-lathi/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/ajining-dhiri-gumantung-saka-lathi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 02:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-271" title="gambar-lambe1" src="http://www.ekasulistiyana.web.id/wp-content/uploads/2009/05/gambar-lambe1.jpg" alt="gambar-lambe1" width="129" height="129" />Sak jatosipun judul ingkang kasebat ing nginggil namung saperangan saking komplet-ipun ukara lan petuah Jawi ingkang mengku karep ugi pitutur sae, jangkep-ipun seratan ing nginggil inggih meniko <strong>Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi, Ajining Raga Gumantung Saka Busana, Giri Lusi Janmo Tan Keno Ingino. </strong>Pitutur ingkang maknanipun sae sanget menawi kita saget nglampahi kanthi lelandesan manah ingkang sareh lan welas. Sinten kemawon ingkang saget nglampahi pitutur meniko,  wontenbebrayan agung ing ngalam donya meniko badhe manggihi kesaenan lan ugi raos tentrem lan ayemipun manah.</p>
<p style="text-align: justify;">Raos tentrem ayem manah kagem sangu gesang, tamtunipun kanthi nglampahi pitutur ingkan kasebat ing ngajeng. Supados kulo panjenengan sami saget nyinaoni sesarangan, punapa jarwanipun seratan lan pitutur meniko, mboten wonten niat guroni menopo maleh minteri, namung sadermi tansah saget ngemutaken dumateng diri pribadi kulo. Lan setunggal-setunggal ukara mangga dipun udari jarwanipun sesarengan :</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-268"></span><strong>Ajining Dhiri Gumantung Saka Lathi, </strong>ukara meniko jarwanipun kirang langkung mekaten sak sinteno kemawon badhe gadah raos wuh pekewuh, raos sungkan lan ngajeni dumateng kulo panjenengan sami menawi sedaya rembag lan wicanten kula panjenengan sami tansah sareh, menawi ngendikan dumateng rencang, sederek ingkang enem utawi ingkah sepuh tansah nglembah manah. Tamtunipun kula panjenengan sami saget ngraosaken menawi rembakan kanthi intonasi ingkang inggil,wontenipun namung nesu kemawon lajeng menopo ingkang dipun aturaken tansah ngapusi lan ngelek-ngelek tiyang sanes. Lathi saget ndadosaken pancakara (=perang), padudon, namun lathi saget ugi ndadosaken raos ketremanipun gesang, kabagyanipun gesang lan ndamel manah tansah ayem tentrem.  Mugi-mugi kula panjenengan sami tansah saget njagi tutur lan atur ingkang sae dumateng sinten kemawon amrih gesang saget ayem tentrem lan ugi tansah sami-sami ngajeni wonten bebrayan ing ngalam donya meniko.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ajining Raga Gumantung Saka Busana</strong>, ukara meniko mengku karep bisa raga kula lan penjenengan sami meniko wadahipun rasa, raga utawi badan meniko ingkang dipun pirsani sok sinteno kemawon, pramila busana penting sanget tumrapipun raga, busana kagem nutupi aurat, busana saget ndadosaken raga ketawis sae dipun pirsani, busana ndadosaken raga aman, namung busana meniko pantas lan mboten-ipun, sae menopo mboten tumrapipun raga kedhah selaras lan serasi antawisipun raga lan busana, kekajenganipun menungsa tansah gadhah gegayuhan ingkang agung, gegayuhan ingkang inggil, semanten igu babagan busana (=rasukan), lha menawi gadhah kekajengan bilis raga meniko tansah rumaos ayem tentrem, njih kedah ngagem busana ingkan saktrep-ipun. Pramila bilih raga meniko tansah dipun ajeni, raga kedah dipun dandani lang diasi dipun busana-ni kathi ingkang sae,  mbok pilih piyantu ningkang ngagem busana sak wontenipun menawi dipirsani benten kaliyan piyantun ingkang  ngagem busana ingkang sae-sae.<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Giri Lusi Janmo Tan Keno Ingino</strong>, bebrayan ing ngalam donya mboten saget piyambak amargi menungsa meniko makhluk sosial, ingkang mbetahaken rencang lan srawung babagan srawung meniko kedhah wonten raos ngajeni, raos ngurmati lan mboten nyepeleaken tiyang sanes, mboten rumoas saget lan pinter piyamak, mboten rumaso gatheng, bagus, utami ayu lan manis piyambak, mboten rumoas sugih, rumaos pangkat lan jabatanipun inggil. Gusti Kang Murbeng Dumadi ndadosaken menungsa kanthi kekiyatan, kanthi keluwiha ingkang mboten sami antawis setunggal lan setunggalipun, pramila Giri Lusi Janmo Tan Keno Ingino meniko saget kagem pepeling lan pitutur bilih sampun ngantos nyepelekaden dumateng  tiyang sanes, sampun ngantos ngicalaken raos ngurmati dumateng tiyang sanes.</p>
<p style="text-align: justify;">Mugi-mugi kula panjenengan sami tansah ngupadi pitutur luhur meniko supados gesang ayem tentrem kanthi sesanti Ajining Diri Gumantung Saka Lathi, Ajining Sarira Saka Busana, Giri Lusi Janmo Tan Keno Ingino.. suwun.. wonten kirang langkungipun nyuwun agunge pangraksami.. wassalam</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/ajining-dhiri-gumantung-saka-lathi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Werdine Jawa</title>
		<link>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/werdine-jawa/</link>
		<comments>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/werdine-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 01:03:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filosofi Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kejawen]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Pitutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ekasulistyana.co.cc/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Apa ta, Jawa iku Jawa iku mengku karep utawa makna genah cetha utawa jelas, Jawa menawa ditrapake kanthi becik lan tumata bakal ndadek-ake urip iki ayem tentrem ora kemrungsung lan tansah guyub rukun ing berbrayan samubarang ditindakake kanthi ngati-ati, di-etung kanthi temen lan pener, tangga siji lan sijine masiyo iku adoh jarake isih kenal, kabeh mau mergo srawunge karo tangga teparo tansah rumaket, sanjan sinanjan (ngutamaake silaturahim), opo bot repote padha di songgo bebarengan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-257"></span>Bangsa Indonesia iki terkenal bangsa kang paling murah esem lan tansah sabar ngadepi samubarang perkoro, ono pengaruhe soko kabudayan Jawa dhewe, iku mono ora iso di selak-i maneh amarga ing bebrayan Jawa Tata Sasmita iku tansah digatekake lan dtindakake. Tata Sasmitane wong Jawa ing samubarang tumindak tansah ana, rikala mertamu mestine ora lalu uluk salam dhisik, yen caturan ana ungah-unguhe ana tatane, piye rembukan antarane sing enom karo sing tuwa, apa sewalik-e, piye rembukan karo sing umure podho lan sak piturute. Iku mana mengku karep lan teges menawa wong urip ing ngalam donya kuwi kudu tansah andhap asor lan iso upan papan.</p>
<p style="text-align: justify;">Wong Jawa kuwi yen caturan ora grusa-grusu tansah dipikir kanthi matheng dhisik lagi diaturake sak mestine tujuane supaya ora nglarani atine sing dijak rembukan utawa wong sing krungu supaya ora ndadek-ake klirune gunem. sik&#8230; arep olahraga bubar olah raga di terusne meneh.. nyuwun sewu&#8230;. alhamdulillah dilanjut.. Jawa iku kanggo tulodho ing samubarang bebrayan, Jawa iku pitutur becik kanggo sapadha-padha.. wiwit saka perilaku, budaya, srawung, kepemimpinan lan liya-liyane. Mula dadi Jawa iku kudu monggok (berbangga hati), dadi wong Jawa kudu iso ngopeni lang ngrungkepi kanthi temen Jawa-ne, tinggalane leluhur kang adiluhung amreh bisa lestari raharja, wus sak mestine yen diwiwiti seka genarasi kulo lan panjenengan sami ingkang kedhah tumidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ora ono tembung angel, sing ono mung karep karo sregep, ora ono tembung ora iso, sing ono mung aras-arasen ora gelem tumandang.. Ojo nganti Jawa pindah nang njaban Rangkah, ojo sampe budaya adiluhung iki puthes amarga puthesen Jawa bisa ndadekake salah sijine jatidiri bangsa iki ilang, mungkin anak putu, canggah wareng udek-udek siwur,besok mung iso moco ing buku-buku sejarah menawa Jawa iki wis ora nJawa maneh, amargo kathut undak-undakaning jaman, tanpa iso ngondeli dan ngrungkepi rasa Jawa-ne&#8230;</p>
]]></description>
		<wfw:commentRss>http://www.ekasulistiyana.web.id/budaya/kejawen/werdine-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

