Budaya

Pintar Saja Tindak Cukup, Karena Bijaksana Jauh Lebih Baik

Setiap kita sebagai manusia, tentu akan merasa puas dan bangga ketika kita dianggap lebih pintar, lebih tahu dan lebih mengerti dibandingkan dengan yang lain, tentu itu sebuah hal yang wajar karena sifat dasar sebagai manusia. Tapi sebenarnya rasa bangga tersebut terkadang akan menjadi hal negatif, saat kita tidak memahami dan mengerti bagaimana sebenarnya orang lain menerima apa yang telah kita lakukan. Dalam menjalin hubungan sosial, kita seringkali punya pandangan sendiri terhadap berbagai orang yang dikenal. Keluarga, teman-teman, dan rekan kerja adalah beberapa di antaranya. Penilaian ini secara tak langsung berpengaruh pada cara kita berinteraksi dengan mereka.

Akan menjadi begitu indah kehidupan saat semua orang pintar bisa bersikap bijaksana dalam kehidupan sehari-harinya, karena saat kepintaran yang diimbangi dengan kebijaksanaan akan hadir sebuah komunikasi yang sehat dan tentu juga akan bertindak berdasarkan perasaan serta intuisinya, tidak sekedar berdasarkan logika dan hitungan untung rugi, maka saat kita sudah pintar, beberapa hal tersebut dibawah ini dapat kita lakukan, agar kita mampu menjadi manusia yang bijaksana :

  1. Jujur pada diri sendiri, Hal ini tidak semudah mengatakannya karena jujur kepada diri sendiri membutuhkan tingkat kesadaran diri yang tinggi. Artinya kita harus belajar mendefinisikan emosi diri, mengenali nilai-nilai pribadi, mengetahui apa yang diinginkan, mengakui kesalahan, berani bertanggung jawab atas setiap keputusan dan tindakan.
  2. Jujur kepada orang lain, Kejujuran pada diri sendiri akan menolong kita untuk jujur kepada orang lain. Hal ini bisa terjadi karena kejujuran merupakan tentang mengungkapkan apa yang dipikirkan dan diyakini dengan terbuka. Kejujuran pada orang lain akan membuat seseorang tampil apa adanya tanpa berusaha menutup-nutupi diri. Ketidakjujuran pada orang lain akan membuat hidup Anda sangat palsu dan tentu saja hidup dalam kepalsuan sangat melelahkan.
  3. Fokus pada proses, bukan hasil, Dalam hidup ini, orang banyak berorientasi pada hasil. Namun, orang yang bijaksana melakukan yang sebaliknya. Pendekatannya terhadap sesuatu berdasar kepada prosesnya. Mereka menghargai proses, lebih dari pada menghargai hasil. Dengan melakukan ini, hidup dapat menjadi lebih fokus pada saat ini tanpa khawatir berlebih akan masa depan.
  4. Mendengarkan perubahan dalam diri, Manusia pada dasarnya selalu berubah karena berbagai faktor, entah itu sukacita, dukacita, kehilangan, kemenangan, kekuasaan, dan sebagainya. Manusia yang bijaksana menyadari perubahan-perubahan kecil maupun besar dalam dirinya, sehingga dia mampu menghadapi dirinya sendiri dalam perubahan itu.
  5. Belajar dari kesalahan, Orang yang bijaksana mau belajar dari kesalahan dan masalah. Mereka belajar untuk menghadapi masalah dan menyelesaikannya, bukan malah menghindarinya. Bagi mereka tidak ada gunanya menyalahkan keadaan atau orang lain ketika masalah timbul. Dia juga tidak membiarkan dirinya mengasihani diri sebagai korban, tetapi menarik pelajaran penting dari setiap kesalahan atau masalah yang menimpa.
  6. Memiliki perspektif yang baik, Orang-orang bijaksana memiliki kemampuan untuk tetap tersenyum dan tertawa dalam proses hidupnya. Dengan perspektif yang baik mereka menempatkan masalah dan tragedi sebagai bagian hidup yang harus diterima dan dijalani. Mereka tidak ingin hidup ini dijalani dengan kaku tanpa kelonggaran pada diri sendiri.
  7. Memiliki tujuan, Orang bijaksana memiliki tujuan dalam segala sesuatu sebagai bagian dari tujuan hidupnya. Dia tidak ingin hidup apa adanya. Dia sadar bahwa setiap manusia memiliki talenta, bakat, kemampuan, dampak, dan kontribusi untuk dunia ini, tidak peduli besar maupun kecil. Oleh sebab itu, dia berupaya memberikan kontribusi terbaik yang dia miliki untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan.
  8. Bersikap baik kepada orang lain, Berbuat baik bukan saja mengenai sikap kita untuk memperlakukan orang lain, tetapi bagaimana kita melihat dunia dan orang-orang di dalamnya dengan kebaikan. Orang yang bijaksana tidak melihat orang lain sebagai kompetitor yang akan mengusik hidupnya. Sebaliknya, mereka memandang manusia lain sebagai sesama manusia yang sama berharganya dengan dirinya sendiri.

Delapan hal diatas, tentu dapat dilakukan secara perlahan dan bertahap semua sesuai dengan kemampuan dan kemauan kita untuk menjadi bijaksana dalam berpikir dan bertindak di kehidupan ini, karena kebijaksanaan seseorang bukan diri sendiri yang akan menilai dan mengukurnya, akan tetapi orang lain yang akan mengetahui sejauhmana kita menempatkan diri sebagai “manusia”. Untuk benar – benar menjadi bijaksana, maka ubahlah dirimu sendiri sebelum engkau merubah orang lain, bahkan sebuah peradaban, hal yang bisa dilakukan untuk bisa mengubah diri sendiri, lalu perlahan menjadi bijaksana, adalah sebagai berikut :

Pertama, definisikan “kebaikan” dengan benar, seperti layaknya seorang idealis, dan mempraktikkannya secara nyata. Keputusan mengenai tindakan baik atau buruk ini perlu datang dari hati, sesuai dengan nilai yang dianut individu.

Kedua, Temukan esensi dari setiap kejadian atau situasi, seperti layaknya seorang filsuf. Kita tidak perlu mengelak, marah, atau bahkan mengabaikan kenyataan pahit di lingkungan. Kita mesti belajar menerima kenyataan yang ada.

Ketiga, latihan berhipotesis seperti seorang ilmuwan professional. Kita perlu melakukan sesuatu berdasarkan keyakinan kita tentang apa yang terjadi di depan. Bila kemudian meleset, kita akan merasakan kegagalannya dan belajar dari kesalahan. Ini lebih baik daripada tidak pernah melakukan sesuatu berdasarkan perkiraan kita.

Keempat, belajar dari satu sama lain. Kita tidak bisa belajar meningkatkan kebijaksanaan kita secara mandiri. Jadi, mengobrol dengan pelanggan, pasangan, rekan kerja, atau teman seprofesi sangat dibutuhkan. Dalam budaya Jepang, kegiatan ini dinamakan ba, kegiatan mengobrol yang dilakukan sesudah jam kerja.

Kelima, mengkomunikasikan apa yang kita yakini dalam bentuk cerita yang menarik, seperti seorang novelis. Kita bisa menggunakan metafora maupun perumpamaan, untuk membuat ide diterima dan menggugah orang lain bertindak. Di sini, kita belajar bahwa belajar itu tidak selalu dari hal-hal yang kuantitatif, tetapi juga kualitatif.

Terakhir, seorang bijaksana tidak boleh merasa paling bijak sendiri. Ia juga harus menghargai pendapat dan kebijaksanaan orang lain, maka nikmatilah kenyamanan dalam kehidupan sekarang dan selanjutnya.

Jangan pernah menerjemahkan dan mengartikan kebijaksanaan, karena akan sulit untuk didefinisikan  bijaksana adalah sebuah “rasa”, yang tidak sekedar “PINTAR” namun butuh pengalaman, pengetahuan dan kerendahan hati dalam menyikapi setiap permasalahan, orang bijak akan menghadapi setiap masalah yang ada dengan ketenangan dan tidak meledak – ledak dengan mencari kesalahan pada dirinya bukan dengan menyalahkan orang lain, dia selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran. Jadilah manusia yang terus berproses agar kita selalu terbuka untuk mau belajar dari setiap kesempatan dengan anak – anak kita sekalipun. Maka JADILAH BIJAKSANA, karena itu jauh lebih baik dari sekedar PINTAR.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat paling tidak untuk diri saya sendiri, agar selalu mampu mawas diri, merendahkan diri dan mema’ afkan.

sumber :

  1. Orang Cerdas Belum Tentu Bertindak Bijak
  2. 8 Perbendaan Khas Utama Orang Pintar dan Orang Bijak Ala Mery Riana
  3. 8 Ilustrasi Yang Bikin Kamu Paham Perbedaan Orang Pintar dan Bijak
  4. Pengen Jadi Orang Bijak Berpikir Simple dan Ikuti Tujuh Tips Ini

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.