Garwa .. Sebutan Yang Begitu Romantis

images1Romantis dari kata itu terbayang sepasang muda-mudi yang lagi dilanda asmara memadu kasih bersama, yang ada adalah kata-kata indah penghias pertemuan mereka, yang terus dipupuk untuk kemudian diharapkan akan menuju ke jenjang pernikahan, mereka berusaha untuk memahami perbedaan-perbedaan yang ada agar tercipta saling pengertian dan saling menghargai sebagai landasan menuju ke pernikahan. Seperti dalam tulisan saya sebelumnya klik disini, bahwa menikah terjadi karena sebuah keberanian untuk menerima setiap perbedaan dari pasangannya bukan mencari persamaan dari pasangannya. Suami isteri adalah sebuah sebutan pagi mereka yang telah resmi menikah, namun dalam bahasa jawa disebut dengan BOJO, SIMAH, GARWA .. tiga sebutan yang penuh makna dan pesan yang medalam bagi pasangan hidup, kita coba bersama-sama untuk bisa memahaminya satu persatu dari ketiga sebutan tersebut :

B-ermula dari pandangan pertama menuju ke pernikahan
O-rang tua, agama dan negara harus merestui ..
J-adikan teman hidup hingga akhir hayat ..
O-leh karena itu jangan disiksa lahir bathinnya .

 

Sengaja saya awali dengan Bahasa Indonesia terlebih dahulu bahwa BOJO itu ada arti yang sedemikian rupa, sehingga jika sudah ada sebutan BOJO; tentunya masing-masing pasangan akan selalu berusaha untuk menjaga keutuhan dan kebersamaan tersebut.

SIMAH yen di jarwakaken iku pancen = Isi-isine omah, ananging mengku teges, yen to Garwa, Bojo iku :
Sisihan ing jejodohan donya lan akherat
Imbanganing manah kui sak kloron ora iso dewe
Mulya bebrayan bebarengan ora siji seneng siji nelangsa
Agemaning kakung iku pawestri agemaning pawestri yo kakung-e
Hanresnani opo anane dudu ono apane …

Iku isi-isinen omah kang sejati, kang iso kanggo nggayuh kamulyaning ngaurip; maksudnya adalah isi rumah disini bukan berbentuk fisik,rumah sebagai tempat tinggal bersama, akan tetapi isi rumah disini adalah rumah jiwa, rumah hati; jadi rumah hati bagi isteri adalah jiwa suami dan rumah hati bagi suami adalah hati isteri, jika masing-masing mampu dan mau menerima itu semua, perselingkuhan, perceraian, pertengkaran atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga akan bisa dihindari.

 

GARWA; inilah sebutan bagi suami isteri yang paling tinggi derajatnya di kebudayaan jawa, sebutan yang tidak sekedar memiliki kadar romantisme yang tinggi, namun ada arti yang sangat mendalam dari rangkaian 5 huruf tersebut diatas, dimana GARWA itu singkatan dari “sigaring nyawa”; yang menjadi “belahan jiwa” dalam Bahasa Indonesia, tidak ada yang menyebut suami atau isteri dalam percakapan sehari-hari kita dengan “belahan jiwa”-ku atau disingkat sekalipun, namun di kehidupan jawa hal itu akan terucapk berulangkali dalam sehari. Dan secara tidak langsung jika kita mampu memahaminya adalah sebuah ungkapan tulus dan romantis dari suami atau isteri yang terucap dengan ikhlas tanpa dibuat-buat;  padahal jika kita jabarkan dari sebutan GARWA adalah sebagai berikut :

Gondelaning ati kanggo bebrayan agung
Asmara suci limbaran tresna kang tulus
Rengkuhen badan lahir lan bathin-e, elek lan apek-e, susah lan senenge
Wujud loro kang nyawiji sing bisa nyimpen wadi siji lan siji-ne
Ateges iku kang sinebut “AKRAMI” dudu bondo-rupo-pangkat-drajat …

Ada kepasrahan yang luar biasa jika sepasang manusia sudah ada ikrar janji dalam sebuah pernikahan, sehingga tidak akan malu dan segan mengumbar romantisme, dengan menyebut GARWA-ku, “sigaring nyawa”-ku –, belahan jiwa-ku, tidakkah itu sebuah romantisme alami, semoga kita senantiasa menerapkan budaya-budaya baik dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

1 comment for “Garwa .. Sebutan Yang Begitu Romantis

  1. Ghofar baidhowi
    23 July 2018 at 08:03

    Kalo simah dan garwo ada penjabaran aksara jawa nya, lalu apa penjabaran bojo secara jawa nya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *