Branchless Banking, Salah Satu Upaya Mensukseskan Financial Inclusion

images1Branchless Banking, mungkin belum semua-nya tahu apakah itu .. ??; sebenarnya branchless banking sudah mulai di ujicoba oleh Bank Indonesia pada bulan Mei 2013 kemaren, yang pelaksanaan ujicoba ini di akhiri pada bulan Nopember 2013; dengan harapan pada akhir tahun ini akan diterbitkan aturan yang pasti mengenai pelaksanaan Branchless Banking. Sejauh ini beberapa perbankan sudah menerapkan dan melaksanakan kegiatan ini. Branchless Banking adalah jaringan distribusi yang digunakan untuk memberi layanan finansial di luar kantor-kantor cabang bank melalui teknologi dan jaringan alternatif dengan biaya efektif, efisien, dan dalam kondisi yang aman dan nyaman. Dalam transaksi perbankan tidak tergantung keberadaan kantor-kantor bank, karena layanan dan kegiatan keuangan dapat dilakukan hanya dengan menggunakan ponsel atau bentuk lainnya.

Sebanarnya branchless banking ini dalam kerangka menuju suksesnya pelaksanaan dari financial inclusion  yang ditujukan untuk meningkatkan akses keuangan bagi masyarakat unbanked, Branchless banking, adalah kegiatan jasa layanan sistem pembayaran dan keuangan terbatas yang dilakukan tidak melalui kantor fisik bank, namun dengan menggunakan sarana teknologi seperti EDC dan telepon seluler, juga jasa pihak ketiga terutama untuk melayani masyarakat unbanked. Hal ini sebenarnya sangat cocok untuk wilayah seperti Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau sehingga menjadi salah satu sebab mengapa akses perbankan masih terasa begitu sulit.  Branchless banking menjadi solusi untuk menjangkau masyarakat yang tinggal di daerah pelosok, dengan berbagai kondisi geografis. Di Indonesia, banyak daerah yang sulit diakses dengan kendaraan bermotor. Tak sedikit masyarakat yang harus menempuh perjalanan selama beberapa jam atau berhari-hari, untuk mendatangi kantor cabang sebuah bank.

Mengapa branchless banking dilakukan .. ?? selain dari hal tersebut diatas salah satu alasan pentingnya implementasi layanan branchless banking adalah masih rendahnya akses masyarakat terhadap layanan jasa keuangan formal. Indonesia, bila dibanding negara sekawasan, memiliki persentase akses layanan jasa keuangan yang rendah. Rasio orang dewasa Indonesia yang bertransaksi di bank hanya 19,6 persen. Sementara itu, Malaysia jauh di atas kita dengan 66,7 persen dan Filipina 26,5 persen (source). Disisi lain bahwa masyarakat Indonesia telah banyak yang menggunakan telepon seluler dan pemahaman tentang internet yang tinggi sehingga hal ini akan sangat mendukung adanya pelaksanaan kegiatan ini.

Perkembangan yang cukup baik dari uji coba branchless banking ini dimana dari lima bank yang ikut berpartisipasi dalam pilot project gagasan BI ini. Bank-bank adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk dan PT Bank Sinar Harapan Bali, serta dari keterlibatan perusahaan telekomunikasi seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indosat Tbk, dan PT XL Axiata Tbk, dan hingga Agustus lalu, tercatat telah ada 128 agen bank resmi yang tersebar di Indonesia. Porsi terbesar masih berada di wilayah Jawa. Dari 128 agen tersbut tercatat telah menghasilkan jumlah rekening baru sebanyak 170 rekening dengan transaksi per bulannya sebanyak 1600 transaksi (source).

Ini merupakan peluang baru bagi perkembangan ekonomi masyarakat dan tentunya juga akan terbuka sebuah lapangan pekerjaan baru, jika hal ini benar-benar dapat terealisasi dengan baik, sebenarnya landasan dalam pelaksanaan branchless  bangking ini sudah ada sejah 12 tahun lalu di Indonesia, karena terknologinya sudah ada dimana kita bisa memakai SMS, USSD, aplikasi lewat jalur internet, sampai alat Electronic Data Capture (EDC). Namun tentunya hal ini masih diperlukan beberapa hal agar pelaksanaannya nanti ada jaminan keamanan dalam pelaksanaan transaksi dan sebagainya. Yang jelas harus terjalin kerjasama antara perusahaan telekomunikasi dengan perusahaan perbankan. Menurutnya, sejauh ini sudah ada upaya dari perusahaan perbankan dan telekomunikasi, namun kurang sungguh-sungguh dan cenderung berjalan masing-masing. Mungkin antara perbankan dengan telekomunikasi bisa membentuk perusahaan patungan untuk memberi layanan branchless banking ini. Semuanya saling membutuhkan, dan harus bersinergi untuk membentuk ekosistem. Dan saat ini istilah dari branchless banking oleh Bank Indonesia telah diubah menjadi mobile payment service (MPS). Hal ini dilakukan untuk memperluas jaringan penggunaan layanan perbankan tanpa kantor cabang yang bertujuan untuk menciptakan layanan perbankan yang efektif dan efisien dari sisi pembiayaan. Sehingga tidak terkesan bahwa yang boleh melaksanakan kegiatan ini adalah perbankan saja.

Demikian tulisan sederhana ini semoga bermanfaat terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *