Apakah Daya Beli Turun Jika Redenominasi Rupiah, dilaksanakan..??

Redenominasi, akhir-akhir ini menjadi sebuah bahasan menarik di kalangan ekonom di negeri ini, begitu Bank Indonesia memunculkan tentang Redenominasi terjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat akan perlu tidaknya kebijakan ini harus di keluarkan, sejauhmana positif dan negarifnya jika kebijakan moneter ini benar-benar di berlakukan di negeri ini. Hal ini dipicu salah satunya adalah karena nilai uang ktia sudah begitu gemuk-nya dan menjadikan transaksi keuangan tidak efisien lagi. Sebenarnya redenominasi mata uang (currency redenomination) adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misal Rp 1.000 menjadi Rp 1, hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang dan jasa, sehingga daya belu masyarakat tidak berubah.

Tentu saja hal tersebut sangat berbeda dengan Sanering , karena Sanering adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat menurun.

Redenominasi dan Sanering dapat kita bedakan sebagai berikut :

Berdasarkan pada tujuan pelaksanaannya;

Jika Redenominasi dilaksanakan memiliki tujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi.Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan negara regional. SEDANGKAN Sanering bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).

Pengaruh Nilai uang terhadap barang.

Pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah, karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan. SEDANGKAN pada Sanering, nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.

Kapan pelaksanaannya..??

Redenominasi dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil. Ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali. Untuk Sanering dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).

Masa transisi pelaksanaan kebijakan
Redenominasi dipersiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap, agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat. SEDANGKAN Sanering tidak ada masa transisi dan dilakukan secara tiba-tiba.

Bagaimana redenominasi dilaksanakan .?

Sebagai contoh harga 1 kg beras seharga Rp 10.000;
Pada redenominasi, bila terjadi redenominasi tiga digit (tiga angka nol), maka dengan uang sebanyak Rp 10 tetap dapat membeli 1 kg beras. Karena harga 1 kg beras juga dinyatakan dalam satuan pecahan yang sama (baru). SEDANGKAN pada sanering, bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 4,5 hanya dapat membeli 1/1000 atau 0,001, 1 Kg Beras.

Dampak bagi masyarakat.
Pada redenominasi, tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama. Dan pada sanering, menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.

Secara matematika, redenominasi rupiah tidak memiliki implikasi yang berarti bagi masyarakat. Masyarakat yang memiliki uang Rp 1.000.000 diganti dengan uang Rp 1.000. Masyarakat tidak perlu khawatir soal uang tersebut. Sebab, keduanya memiliki nilai intrinsik atau daya beli yang sama. Misal, merek handphone tertentu seharga Rp 1.000.000 sebelum redenominasi sama dengan Rp 1.000 setelah redenominasi. Jadi, daya beli Masyarakat secara matematika tak berubah karena redenominasi rupiah.

Tetapi, secara psikologis, kebijakan itu bisa mengakibatkan daya beli uang berbeda antara sebelum dan sesudah redenominasi. Dampak psikologis merupakan reaksi pelaku bisnis terhadap redenominasi rupiah. Jika pelaku bisnis yakin bahwa ekonomi berkinerja baik, redenominasi bisa berjalan sesuai dengan harapan. Tetapi, redenominasi mengakibatkan angka inflasi meningkat apabila pelaku bisnis berpersepsi ekonomi melambat atau memburuk ketika kebijakan itu diterapkan.

Melejitnya angka inflasi itulah yang membuat daya beli keluarga berkurang dengan drastis. Di samping itu, stabilitas politik sangat dibutuhkan untuk memunculkan dampak psikologis yang positif kepada pelaku bisnis dalam menyikapi redenominasi. Ekonomi yang kuat dan politik yang stabil akan memudahkan proses redenominasi. Alhasil, nilai mata uang sama, baik sebelum atau sesudah redenominasi. Karena itu, BI harus menyamakan persepsi dengan pelaku bisnis dalam menentukan periode (timing) kinerja ekonomi dikatakan baik. Tujuannya, redenominasi rupiah tidak menurunkan daya beli masyarakat Indonesia.

Redenominasi jelas berbeda dengan sanering. Sanering merupakan upaya memotong rupiah karena melejitnya angka inflasi yang tak kunjung turun atau inflasi tidak terkendali. Indonesia memiliki pengalaman tiga kali melakukan sanering. Pertama, sanering dilakukan pada 19 Maret 1950 dengan memangkas Rp 5 menjadi Rp 2. Sanering kedua dilakukan pada 25 Agustus 1959 dengan memangkas Rp 1000 menjadi Rp 100. Sanering terakhir terjadi pada 13 Desember 1965 dengan memotong Rp 1000 menjadi Rp 1. Pengalaman pahit masa lalu itu jelas merugikan keluarga Indonesia. Semoga pengalaman sanering masa lalu tidak membuat masyarakat Indonesia trauma terhadap redenominasi rupiah.

Masyarakat Indonesia harus memahami bahwa sanering dan redenominasi dilakukan pada angka inflasi yang berbeda. Sanering dilakukan saat angka inflasi tinggi, sedangkan redenominasi diterapkan saat angka inflasi rendah. Sanering dilakukan saat kinerja ekonomi memburuk, sedangkan redenominasi dijalankan saat kinerja ekonomi prima. Perbedaan itulah yang perlu dipahami masyarakat Indonesia, jadi perlukah kita khawatir jika Bank Indonesia me-redenominasi Rupiah kita.

Demikian tulisan ini semoga bisa dipergunakan sebagai bahan perenungan bersama, sekian dan terima kasih

3 comments for “Apakah Daya Beli Turun Jika Redenominasi Rupiah, dilaksanakan..??

  1. 30 September 2010 at 14:49

    wah, penjelasannya terperinci..
    terima kasih mas, info menarik..
    salam kenal,

    • admin
      18 October 2010 at 00:35

      salam kenal kembali mas.. terima kasih sudah mau berkunjung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *