EVA .. .. ya.. EVA jangan dulu membayangkan itu sebuah sosok gadis cantik dan molek; karena EVA yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Economic Value Added, sebuah pengembangan konsep biaya modal yang di perkenalkan oleh Stewart & Stern seorang analis keuangan dari perusahaan Stern Stewart & Co pada tahun 1993. Model EVA menawarkan parameter yang cukup objektif karena berangkat dari konsep biaya modal (cost of capital) yakni mengurangi laba dengan beban biaya modal, dimana beban biaya modal ini mencerminkan tingkat resiko perusahaan. Beban biaya modal ini juga mencerminkan tingkat kompensasi atau return yang diharapkan ivestor atas sejumlah investasi yang ditanamkan di perusahaan. Hasil perhitungan EVA yang positif merefleksikan tingkat return yang lebih tinggi daripada tingkat biaya modal. Continue reading
Penerapan Balance Scorecard Pada Perusahaan
Berdasarkan pertanyaan dari rekan Choirul Anam, di tulisan sebelumnya pada blog ini “Empat Prespektif Dalam Penerapan Balance Scorecard”, tentang bagaimana menerapkan Balance Scorecard pada perusahaan atau organisasi yang profit oriented, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan saya coba untuk memaparkan disini, semoga mampu memberikan gambaran dan keterangan yang memuaskan. Dan tentunya saya ucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada rekan Choirul Anam yang telah sudi mampir dan membaca tulisan-tulisan di blog ini, sekaligus saya minta maaf karena baru bisa memberikan jawaban atas pertanyaan anda saat in. Yang perlu kita pahami bersama agar mencapai kesamaan persepsi bahwa “Balance Scorecard” adalah sebuah “Strategi” hal ini muncul bukan serta merta, diawali dalam studi yang dilaksanakan oleh Kaplan dan Norton (1992) terhadap 12 korporasi, didapat sebenarnya bahwa korporasi tersebut telah mengadopsi scorecard. Kapalan dan Norton melihat ada kelemahan kepada pengukuran kinerja yang dapat menonjolkan pencapaian tujuan secara terpisah, bahkan cenderung kompetitif yang pada akhirnya mengakibatkan konflik korporasi. Continue reading
Perlunya Benchmarking Dalam Penentuan Strategi Usaha
Membicarakan masalah strategik adalah sebuah hal yang menarik, bahkan sangat menarik, dalam kegiatan apapun akan selalu membutuhkan strategi untuk mencapai sebuah tujuan akhir dari kegiatan yang kita laksanakan, demikian halnya dalam sebuah pengelolaan manajeman atau mungkin jika boleh disebutkan bagaimana mengelola kualitas management itu (Total Quality Management), sehingga konsep-konsep dari sebuah kegiatan akan dapat terlaksana dan teraplikasikan dengan baik, sehingga maksud dari kegiatan dilaksanakan memperoleh hasil yang semaksimal mungkin. Jika pada tulisan yang lalu yang membahas tentang Balance Scorecard, maka pada tulisan ini akan coba kita sajikan tentang Benchmarking.
Financial Inclusion Sebuah Konsep dan Pemahaman Sederhana
Financial Inclusion, sebuah hal baru dan masih belum dapat dipahami secara luas oleh semua lapisan masyarakat, financial inclusion bukan hanya sekedar “kemudahan akses perbankan” bagi masyarakat, karena jika kita cermati secara seksama bahwa semua perbankan di negeri ini sudah memberikan akses yang luar biasa bagi masyarakat, hal ini terbukti dengan semakin maraknya perbankan nasional merambah ke desa-desa dan memberikan kemudahan akses bagi pelaku usaha di desa-desa. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa masyarakat terutama warga pedesaan belum dapat memanfaatkan kemudahan akses perbankan tersebut dengan optimal dan nyaman.
Masih banyak kendala yang tentunya perlu di sikapi terkait dengan pelaksanaan financial inclusion itu sendiri, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya di pembukaan The First International Islamic Financial Inclusion Summit di Solo Jawa Tengah pada tanggal 13 s/d 18 Juli 2012, bahwa Financial Inclusion di artikan sebagai “Keuangan untuk Bersama“. Sebuah makna yang sederhana namun begitu dalam untuk kita cermati dan sikapi. Keuangan untuk bersama disini mengandung makna bahwa sistem keuangan mulai dari birokrasi keuangan dan ketermanfaatan keuangan tidak hanya menjadi milik dan hak orang-orang kaya (baca konglomerat) namun harus dapat di nikmati oleh semua lapisan masyarakat tidak peduli bahwa ia adalah orang miskin. Yang tentunya konsep ini harus dapat di laksanakan dengan kebijakan-kebijakan yang memihak pada si miskin. Continue reading